Setelah lima tahun berlalu, takdir cinta mempertemukan mereka kembali. Sayang, wanita yang disebut gadis purple olehnya saat menjalani kasih dahulu dan sangat dicintai Azka memilih mengganti identitasnya. Cinta yang begitu kuat dalam diri Azka, tak akan bisa dibohongi. Kenapa dan apa alasannya, wanita yang dulu dicintai kini begitu tak ingin bersamanya kembali. Rahasia apa yang dia sembunyikan, hingga Azka harus berjuang mencari tahu kebenarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emmy Liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak ingin diketahui
Pria yang terbaring di atas ranjang ruangan ViP ini sepertinya masih lemah. Tulang pundaknya baru saja di operasi. Wajahnya diperban, hanya kedua matanya masih belum terbuka sempurna. Jasmine melangkah pelan menuju ranjang itu.
Ada rasa khawatir, jika pria ini benar- benar sadar dan memanggil namanya di hadapan para keluarganya. Di ruangan ini ada mama dan adik laki-laki Azka, nyonya Farida dan seorang wanita berpenampilan cantik dan glamor dengan tampilannya. Yang Jasmine tak tak tahu siapa dia.
"Bagaimana dok, keadaan putra saya?" tanya nyonya Gloria, ibu kandung sang pasien.
Aku enggan menjawab, namun hanya mengangguk kecil. Tanda aku meminta ijin untuk memeriksa keadaan pasien. Aku mulai memeriksa keadaannya, namun hatiku tetap saja merasa khawatir. Takut jika nyonya Farida akan mengenal diriku, dan akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan hidupku. Sebenarnya aku tak terlalu memikirkan keselamatan aku sendiri. Tapi keselamatan putraku Naka akan terancam jika nyonya Farida mengetahuinya.
Sebisa mungkin, aku tenang memeriksa pasien. Beruntung aku diselamatkan dengan masker yang menutupi mulut hingga aku tak bisa dikenali. Setelah memeriksa bagian tubuh pasien, aku meminta dokter Fino mengikuti aku ke ruangan.
"Gwen,"
Suara Azka terdengar jelas sekali membuatku berhenti melangkah.
"Berhentilah menyebut nama itu Azka, Gwen sudah pergi meninggalkan kamu bersama pria lain. Lihatlah Bianca yang sudah selama empat tahun setia menunggu kamu," ucap Nyonya Farida.
"Gwen," panggilnya lagi.
Semua pembicaraan mereka terdengar sangat jelas di telingaku.
Membuat aku terpaku, suara yang pernah sanggup membuat aku jatuh dalam perasaan terdalam di masa lalu. Yang pada saat ini, aku berusaha sekuat tenaga, tak boleh ada lagi yang mengenalku di sini.
"Gwen.." panggil Azka kembali.
"Nek," wanita di samping nyonya Farida merengek.
"Nggak apa-apa sayang, jangan dengarkan , Azka cuma mengigau," ucap nyonya Farida menenangkan cucunya itu.
Akh
Ternyata dia sedang mengigau, aku pun keluar dari kamar itu.
Berada di dalam kamar itu terlalu membuat sesak di dada.
Aku melihat dokter Fino yang akan masuk ke kamar Azka.
"Dokter Fino, bisa ikut aku sebentar?"
Dokter Fino menghentikan langkahnya, dan tanpa menjawab dia mengikuti langkahku ke ruangan milikku.
"Ada apa kamu meminta aku mengikuti kamu?"
Setelah masuk ke ruangan milikku, Dokter Fino duduk di hadapanku.
"Aku mau minta tolong sama kamu, kak Fino."
"Minta tolong apa?" tanya dokter Fino serius.
"Tolong, aku tak ingin memeriksa pasien itu lagi," ucapku sambil memohon.
"Tapi kenapa kamu kenapa tiba-tiba berubah seperti ini?" tanya dokter Fino semakin tak mengerti.
"Aku tak bisa kak , kalau kamu yang menanganinya hingga dia sembuh dan keluar dari rumah sakit ini cukup kamu memberitahukan aku perkembangannya setiap hari hingga dia sembuh."
"Apa alasan kamu, kamu menolak untuk menangani perawatannya, namun masih ingin tahu perkembangan kesehatannya," ucap dokter Fino penuh curiga.
Aku terdiam, mulut terasa kelu hanya tetes air mata yang keluar dari mata.
Aku menghirup nafas dalam lalu menghembuskan yakni kasar.
"Kamu ingat, cerita tentang Gwen oleh Anet adik kamu?"
Dokter Fino mengangguk.
"Kamu ingat nama Azka yang terus dibawa oleh Gwen?"
Dokter Fino kembali mengangguk.
"Gwenuella itu adalah Aku," ucapku datar.
Mata dokter Fino terbelalak, kaget. Tak menyangka selama ini sebuah kisah sedih yang selalu diceritakan oleh adiknya Aneta adalah kisah hidupku yang kini mengubah nama menjadi dokter Jasmine. Aneta selalu bercerita tentang kisah pilu itu, yang mereka mengira itu adalah cerita akal-akalan Aneta saja.
"Maaf aku tak pernah tahu soal itu." Dokter Fino menyesal.
Aku mengangguk.
"Kamu tahu, pasien yang ku tolak itu adalah pasangan di masa lalu Gwen?"
Lagi dengan nada datarnya berhasil membuat dokter Fino mengelus dadanya.
"Oh tidak. Betapa malang sekali nasibmu Jamie."
"Ya, sangat malang," ucap Jasmine sambil menghapus air matanya.
"Baiklah, serahkan padaku semuanya. Aku akan menanganinya. Kamu tenanglah, dan aku akan mengurus semuanya, hingga nyonya Farida tak akan bisa mengenal kamu. Aku sudah menganggap kamu sebagai adikku sendiri. Jadi jangan takut."
"Terima kasih kak."
Huhuhuhuhu Aku menangis tersedu sedu, lalu dokter Fino merangkul aku dan menenangkan diriku. Sambil mengelus pelan punggungku, aku ingin menumpahkan semua kesakitanku ini.
Dokter Fino adalah kakak kandung Aneta sahabat aku. Dia sudah dianggap seperti ayah buat Aku dan Anet. Apalagi setelah lima tahun yang lalu, saat Jasmine kembali pulang dengan gelar dokternya. Kedua orang tuanya murka saat mengetahui aku telah menikah diam diam lalu hamil, tanpa persetujuan mereka.
Aku diusir dari rumah orang tuaku, setelah mereka tahu aku mengandung. Membawa luka, dan berusaha bangkit, aku berusaha tanpa topangan kasih dari orang tuaku. Namun kecelakaan lima tahun yang lalu, membuatku bersumpah, suatu saat akan membalas kejahatan nyonya Farida padaku. Beruntung saat itu, Anet membantuku. Aku diterima di keluarga kak Fino. Bahkan direkomendasikan bekerja di rumah sakit tempat kak Fino bekerja. Hingga aku melahirkan seorang putra yang tampan bernama Naka putra Azka.
Dokter Fino menepuk pundakku.
"Kamu tetap tenang, jangan dulu menampakan diri di hadapan keluarga Azka. Biarkan aku dan suster Dian yang akan keluar masuk di ruangan Azka."
Aku mengangguk, air mataku masih deras mengalir di pipi.
"Untuk perkembangan kesehatan Azka, kamu minta aja laporannya di suster Dian."
"Terima kasih kak, aku tak tahu harus minta bantuan ke mana."
"Jamie, kamu aalah dokter bedah tulang yang paling hebat di rumah sakit ini. Aku yakin Azka pasti akan cepat sembuh."
Aku menghela napas panjang, dia sangat beruntung memiliki orang orang baik di sekelilingnya. Dan juga orang orang baik yang mau mengerti dengan kepahitan di masa lalunya. Semua luka di masa lalu sudah berangsur sembuh. Namun kini firasatku merasakan akan ada sesuatu yang menimpa diriku.
"Ya sudah, aku akan ke kamar Azka. Aku akan memeriksa keadaannya."
Aku mengangguk dan terdiam di tempat duduk.
Ada rasa tak nyaman di dalam hatiku saat ini.
Drrttt drrtt
Ponsel milikku berbunyi, aku tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponsel.
[Halo sayang.]
(Halo mommy, Naka kangen sama mommy.)
[Sama, mommy juga kangen sama Naka. Naka udah makan?]
(Udah ma)
[Anak pintar.]
(Cepat pulang ya mommy)
[Iya sayang, bye]
Aku menutup sambungan telponnya.
Sudah lima tahun, Aku tinggal bersama Naka. Dia tak ingin jika suatu saat nanti Naka akan dicelakai oleh nyonya Farida. Tak boleh dibiarkan, Aku berpikir keras untuk mencaci cara mengamankan keberadaan Naka.
🏥🏥🏥
Dokter Fino memeriksa keadaan Azka.
"Gimana dok?" tanya nyonya Gloria.
Raut wajahnya kelihatan letih dan sedih melihat keadaan putra kesayangannya.
"Untuk saat ini, kami masih harus terus memantau keadaan pasien nyonya. Masih butuh beberapa hari lagi, agar kami bisa melihat kemajuan kesehatan pasien. Dia sudah ditangani oleh tangan profesional di meja operasi, dan saya yakin tuan Azka pasti akan bisa cepat sembuh."
"Terima kasih dok," ucap nyonya Gloria.
"Dokter," panggil Azka pada dokter Fino.
Setelah kesadarannya pulih, dan sedikit bisa berbicara.
"Iya tuan Azka, apa ada yang sakit?"
"Boleh saya bertanya?" Lirih Azka, mencoba bersuara dengan keadaan tubuhnya yang tak bisa digerakkan. Dengan kekuatan tenaga yang dimiliki olehnya, dia berusaha untuk bersuara.
"Apa yang ingin tuan tanyakan?"
"Apa dokter wanita yang mengoperasi aku kemarin bernama Gwen?" tanya Azka, dalam rasa remuk tubuhnya dia ingin tahu.