Cerita kedua setelah kisah Anjani dan teman-temannya...
Dua tahun setelah kejadian menyeramkan di rumah tersebut,Sang pemilik rumah akhirnya mendapatkan kembali pelanggannya.
Di malam hari,Sang pemilik nampak dikejutkan oleh sepasang pengantin baru yang ingin membeli rumah tersebut.Merekapun tidak mempermasalahkan harga murah yang dilontarkan.Wajah mereka terlihat begitu kagum,ketika mengetahui rumah tersebut memliki desain yang unik.
Rumah itu berada di penghujung kota,sendirian,tanpa adanya tetangga sama sekali.Namun nyatanya,lingkungan yang sangat berteman dekat dengan suasana hutan tersebut,sangat diidam-idamkan oleh Sang isteri.Hal itu membuat Sang suami langsung menyetujui pembelian rumah itu.
Sang pemilik nampak tersenyum manis,ikut bergembira dengan perasaan mereka,hingga tak sampai hati untuk memberitahukan tentang apa yang terjadi pada rumah ini di dua tahun yang lalu.
Ralat,bukan tak sampai hati,namun ia memang sengaja untuk menutupinya.Keinginan akan uang,membuat hati nuraninya buta.Bahkan,ia tak tanggung-tanggung untuk meminta bantuan dari golongan iblis.
Rasa menyesal mendadak hadir,saat dirinya sudah menemukan sebuah kenyaman dari orang-orang baru.Hal itu membuatnya merasa bersalah.Ia bertekad,akan melindungi orang-orang tersebut dari kejahatan Sang raja iblis.Disinilah, kejadian-kejadian di luar nalar,mulai memasuki kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara Sulistia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.7
"lalu,apa yang akan kau lakukan jika sosok itu muncul lagi??"
Wulan nampak berpikir,mencari jawaban dari pertanyaan Amer tersebut.Sebelumnya,ia sudah merencanakan sebuah kata sandi yang nantinya akan diketahui oleh mereka saja.Namun,Wulan sepertinya ragu dengan idenya tersebut.Ia takut,jika rencananya ini tidak berhasil dan ia akan kembali menyesal saat bercengkrama dengan orang yang salah.
"Kita harus mempunyai Masing-masing kata sandi.nantinya,kita akan menggunakan kata sandi itu untuk menjebak sosok yang selama ini menghantuiku.jika dia tidak bisa menjawab,itu tandanya sosok tersebut tengah menyamar menjadi kau." Jelas Wulan dengan serius.
"Bagus,idemu itu tidak terlalu buruk." Balas Amer. "lalu,bagaimana dengan kata sandinya?kalimat apa yang akan kita gunakan nantinya??" Tanyanya kemudian.
Wulan nampak kembali berpikir.Ia bergumam pelan saat menemukan kata-kata yang mampu memancing otak siapa saja untuk membantunya menemukan jawabannya.
"Kalimat apa yang menurutmu sangat sulit,namun terdengar mudah saat diucapkan??" Tanyanya kemudian.
"Nama-nama hewan,Mungkin??" Ucap Amer yang malah terdengar seperti sedang bertanya.Mendengar hal tersebut,Wulan jadi teringat sesuatu.
"Momimia lozatos!"
Wulan tiba-tiba saja berteriak girang,membuat Amer terkejut dan nyaris terjatuh dari sisi kasur.
"Kau kenapa??"
"Itulah kata sandi kita!" Ucap Wulan. "mulai sekarang,aku akan memanggilmu dengan sebutan 'Momimia' terlebih dahulu.sedangkan kau akan menjawabnya dengan kata 'lozatos'.jika kau tidak menjawab 'lozatos',maka akan kuputuskan,jika kau bukanlah suamiku yang asli."
Amer menaikkan kedua alisnya heran.Ia hendak tertawa,namun sebisa mungkin ia juga akan menahannya.Kata sandi yang diciptakan Wulan,memang terdengar sangat aneh,namun sangat efektif bila ingin dijadikan sebagai password untuk mengunci sebuah brangkas.Amer yakin,sosok yang menyerupai dirinya itu akan kewalahan karena mendengar kata sandi tersebut.
"Baiklah,aku setuju." Balas Amer akhirnya. "tapi,sayang,sepertinya diskusi kita harus berhenti sampai disini.sebentar lagi,aktivitas di kantor akan segera dimulai." Sambungnya kemudian sembari melirik jam di pergelangan tangannya.
"Oh,baiklah,tidak mengapa!silahkan bekerja dengan tenang,Suamiku~"
Wulan berusaha untuk terlihat baik-baik saja.Saat ini,ia tidak ingin membuat Amer kembali merasa khawatir.Lagipula,mereka sudah membuat sebuah kata sandi.Wulan yakin,jika rencananya itu benar-benar akan berhasil.
Wulan lalu mengantar Amer hingga ke pekarangan rumah.Ia melihat dengan kedua matanya sendiri,bahwa Amer benar-benar masuk ke dalam mobilnya.Mulai saat ini,Wulan juga akan meneliti semua kegiatan yang dilakukan Amer.Dengan begitu,ia akan lebih waspada saat Amer yang palsu kembali membodohinya lagi.
BRUUUMM
Setelah memberikannya suara klakson,mobil hitam yang dikendarai Amer perlahan demi perlahan menjauh,hingga akhirnya menghilang dari pandangannya.Tanpa sadar,Wulan menurunkan senyum bahagianya begitu Amer tidak berada di hadapannya.Dengan menipunya sedikit,akhirnya Wulan berhasil membuat Amer kembali segar.
Kini,Wulan benar-benar sendirian.Ia lalu kembali masuk ke dalam rumahnya,kemudian menutup pintu dengan rapat.Seperti hari-hari sebelumnya,Wulan akan kembali melakukan semua kegiatan bersih-bersih di rumah tersebut,dimulai dari menyapu,hingga mengepel.Setelah semuanya terlihat rapi dan kinclong,Wulan akhirnya dapat beristirahat sembari memainkan ponselnya di ruang tamu.
TOK
TOK
TOK
Wulan mendadak bangkit,menengadahkan kepalanya untuk menerka-nerka tentang apa yang sedang terjadi.Suara ketukan itu terdengar keras,keras sekali seperti seseorang yang mencoba untuk masuk dengan paksa.
Wulan kembali takut.Namun,ia tetap mengintip melalui jendela dengan tangan yang sudah bergemetar.
TOK
TOK
TOK
"Cepat buka pintunya!kami tau kau ada di dalam!"
Wulan melebarkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan rumahnya.Di teras rumahnya kini,ada dua orang polisi yang tengah berdiri di sana.Entah mengapa,wajah mereka terlihat sangat marah.Merasa dirinya tidak bersalah,Wulan akhirnya membuka pintu tersebut dengan gerakan cepat.Mendapati pintu lebar itu terbuka dengan tiba-tiba,kedua orang yang diduga polisi tersebut kemudian beralih pandang menatap dirinya.
"Maaf,cari siapa?"
Wulan bertanya dengan nada yang terdengar bingung.Ia juga berharap,jika pertanyaannya itu segera mendapatkan respon dari mereka.Namun,harapan Wulan ternyata salah.Mereka sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.Tanpa permisi,mereka bahkan langsung masuk begitu saja ke dalam rumah Wulan,seolah menganggap Wulan tidak ada di ambang pintu.
"Keluarlah,Ben!!kau terkepung sekarang!"
Mereka berteriak,menyebut-nyebut nama seseorang yang bahkan tidak Wulan kenal.Panik,Wulan akhirnya kembali menghalangi mereka dengan balas berteriak dihadapan mereka.
"Hey,ada apa ini?!"
Wulan menarik salah satu baju seragam petugas polisi tersebut dengan kuat.Karena tidak siap,satu dari dua pria itu mendadak terhuyung karena dorongan tiba-tiba yang ditimbulkan oleh Wulan.Kesal,pria itu kemudian berdecak lalu melotot pada Wulan.
"Aku sedang mencari seorang buronan!" Ucapnya memberi tau. "...kau sembunyikan dimana dia??" Tanyanya sembari memandang Wulan dengan tatapan mengintrogasi.
"B-buronan?!apa maksudmu??"
Pria itu menghela nafas,kemudian kembali berdecak malas.Ia tidak ingin mengeluarkan emosinya.Tapi,wanita dihadapannya ini benar-benar membuat darahnya seakan mendidih.
"Andri,cepat geledah tempat ini!aku yakin,dia sedang bersembunyi sekarang." Pria itu melirik Wulan.Dengan pandangan sinisnya,ia kembali berbicara. "cepat,jangan biarkan dia kabur lagi."
"Apa-apaan ini?!kau bahkan tidak punya sopan santun saat masuk ke rumah orang!"
Pria yang diketahui bernama Andri itu mendadak menghentikan langkahnya.Kedua telinganya tiba-tiba panas saat mendengar atasannya diremehkan.Ia hendak memberi pelajaran kepada Wulan.Namun,pria yang diduga sebagai atasannya tersebut mendadak menghentikannya,membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.Atasannya itu kemudian kembali menyuruh dirinya untuk melanjutkan apa yang ia perintahkan.Mengenai Wulan,maka atasannya lah yang akan menghadapinya.
Abi,pria yang menjadi atasan Andri itu nampak memasang wajah datar.Perlahan,ia melangkah mendekati Wulan dengan sorot mata yang terlihat tajam.
"Kau buta,Ya??kami adalah polisi!kami diperintahkan untuk mencari seorang penjahat yang kabur-"
"Lalu kenapa?!apa etika dan sopan santunmu mendadak hilang saat mencari buronan?!" Wulan berteriak lantang,membuat Abi mendadak terdiam. "lagipula,aku tidak mengenal penjahat itu.siapa itu Ben,aku tidak pernah mendengar namanya!"
"Bohong..." Abi membalasnya dengan cepat. "...kau bisa dipasal jika melindungi penjahat.sekarang katakan,dimana dia?!"
Wulan mengusap rambutnya gemas,mendadak pusing dengan semua ucapan pria tersebut.Ia sama sekali tidak mengerti tentang apa yang bicarakan oleh Abi.Namun,Abi terus memaksanya, membuat dirinya hampir keceplosan untuk berucap kata-kata kasar.
"Cukup,Komandan!sepertinya,dia memang tidak tau apa-apa.sebaiknya,kita pergi saja dari sini.aku juga tidak menemukan dia di rumah ini,bahkan bukti-bukti tanda keberadaannya sekalipun."
Andri menengahi,menyadarkan atasannya untuk tidak bertindak di luar batas.Meskipun kebenaran tengah berada di pihak Wulan,Abi nyatanya tidak akan menyerah.Ia bahkan berjanji untuk kembali datang dan memergoki mereka yang dalam keadaan bersama.Disaat itu,Abi juga berjanji akan memenjarakan Wulan,karena Wanita itu terbukti melindungi seorang buronan.
Wulan hanya menanggapinya dengan malas.Ia lalu menyuruh mereka untuk segera keluar dari rumahnya.Meskipun tidak terima diperlakukan seperti bawahan,Abi nyatanya menuruti semua perkataan Wulan.Abi mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah tersebut,kemudian menghampiri mobilnya yang terparkir bebas di pekarangan.
Sebelum benar-benar pergi,Abi kembali memandang Wulan dengan tatapan tajamnya,berharap wanita itu akan takut kepadanya.Namun,melihat tatapan Wulan yang berbalik memandangnya,malah membuat Abi merasa tidak nyaman.Dengan perasaan yang campur aduk,Abi lalu masuk ke dalam mobilnya,kemudian membanting pintu mobilnya dengan keras.Ia lalu menghidupkan mesin mobil,kemudian menginjak pedal gas tanpa perhitungan.
"Dasar bocah!!"
Wulan berteriak pada mobil polisi yang mulai menjauh itu,kemudian berdecak sangat kuat.Ia benar-benar heran dengan kelakuan manusia kota di zaman sekarang.Semakin hari,banyak diantara mereka semakin kehilangan sopan santun dan tata krama.Terus memikirkan kedua manusia itu,membuat Wulan merasa jengah sendiri.Ia lalu memutuskan untuk kembali masuk ke rumahnya.Wulan juga tak lupa untuk mengunci pintu rumahnya,guna mencegah berbagai manusia tak waras yang mungkin saja akan kembali datang.
---
Suasana hiruk-pikuk keadaan kota,kembali menimbulkan kemacetan di area jalan raya.Suara deru mobil dan motor,teriakan para penjual ikan dan pembeli,hingga aroma menggiurkan dari masakan para pedagang pinggir jalan,membuat pusat kota menjadi tempat ter-ramai di pagi hari.
Dari balik jendelanya di lantai gedung nomor dua,Amer terlihat diam sembari memandang orang-orang yang berlalu lalang di bawah sana.Walaupun ruangannya sudah dilengkapi AC dan beberapa peralatan elektronik lainnya,Amer tetap saja tidak merasa tenang.Wajah ramah yang selalu ditampilkannya,mendadak luntur saat dirinya keluar dari area parkir.Bukan tanpa alasan,Amer bersikap seperti itu karena otaknya terus-menerus memikirkan keaadan Wulan di rumah.
Walaupun Wulan sudah bersikap normal sebelum ia berangkat kerja,tetap saja ia terus kepikiran.Kejadian-kejadian aneh yang menimpa Wulan,membuat Amer turut memikirkannya.Sejujurnya,Amer sangat tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mistis.Namun,terus melihat reaksi Wulan yang tidak main-main,membuat Amer mendadak kembali berpikir dengan sungguh-sungguh.
Terlepas dari semua kisah rumah tangganya yang terus-menerus diganggu,Amer nyatanya juga menaruh rasa curiga kepada Irawan.Dimulai dimana Irawan memaksa mereka untuk datang dan makan malam dirumahnya,hingga saat Irawan mengatakan hal-hal mencurigakan kepadanya,sewaktu mereka hendak kembali ke rumah untuk membawa Wulan pergi dari rumahnya tersebut.Sampai saat ini,Amer benar-benar sangat penasaran.Ia ingin menanyakan lebih lanjut mengenai maksud dari semua kejadian tersebut.Namun,ia tidak bisa menemuinya sekarang,dikarenakan terhalang oleh jadwal kerjanya saat ini.
Amer menghela nafas,meremas rambut cepaknya dengan perasaan bingung.Ia tidak tau harus bagaimana,dan ia juga bingung ingin meminta bantuan dengan siapa.
TOK
TOK
TOK
Pintu tiba-tiba diketuk,mengagetkan Amer yang tengah berguling-guling malas di atas mejanya.Dengan cepat,ia kembali duduk tegak,kemudian mengubah ekspresi wajahnya yang letih itu untuk menjadi lebih berwibawa.kemudian,ia mempersilahkan orang tersebut untuk masuk ke ruangannya.
"Permisi,Pak!saya hanya ingin menyerahkan berkas."
"Ya,letakkan saja di tempatnya."
Sembari pura-pura memeriksa berkas-berkas yang lainnya,Amer rupanya diam-diam memantau pemuda tersebut.Menurut isu yang beredar,pemuda dihadapannya ini mempunyai kemampuan supranatural.Ia bisa melihat hal-hal ghoib yang tidak bisa dilihat dengan mata manusia biasa.Ia juga dijauhi oleh orang-orang kantor,karena sikapnya yang aneh dan misterius.
Otak Amer yang tadinya membeku,kini mendadak cemerlang.Terbesit dipikirannya,Amer hendak mengajak pemuda tersebut untuk mengobrol sebentar.
"Um...,siapa namamu?" Tanya Amer kemudian.
"Ius,Pak." Balas pemuda itu dengan tegas.
Amer mengangguk,kemudian kembali membaca berkas-berkas yang dibawa Ius.Tentu saja,Amer tidak benar-benar memeriksanya.Sepasang matanya diam-diam masih memantau pergerakan pemuda tersebut.
"Kalau begitu,saya permisi dulu,Pak."
Pemuda bernama Ius itu berbalik,melangkah menuju pintu dan hendak keluar dari ruangan Amer.Namun,Amer terlihat kaget begitu ia hampir kehilangan orang yang mungkin saja bisa membantu isterinya tersebut.Dengan cepat,ia lalu berdiri dan sedikit berteriak hingga membuat Ius kembali diam ditempat.Dengan perasaan bingung,Ius kemudian bertanya mengenai sikap Amer yang menurutnya tidak biasa tersebut.
"Ius..." Panggil Amer. "...aku butuh bantuanmu." Sambungnya kemudian.
---
"Begitulah..." Ucap Amer setelah selesai menceritakan semua masalah yang terus menghantui pikirannya. "...seperti saat ini,aku tidak berada di rumah,kepalaku terus memikirkan keadaannya di sana."
Amer menghela nafas.Ia bingung dengan semua keadaan ini.Di satu sisi,ia terus menguatkan Wulan dengan berkata hal-hal yang positif.Namun,dirinya sendiri bahkan lebih mengalami hal berat yang mungkin juga harus mendapatkan kata-kata nasihat seperti itu.Amer ingin berkeluh-kesah,berharap ada seseorang yang bisa menampungnya,atau bahkan bisa membantunya.
Ius terdiam.Seperti biasa,ia hanya bisa menunduk.Bukannya takut,ekspresi itu merupakan ciri khasnya.Ia nampak berpikir,berusaha mencari jawaban yang tepat dan tidak menimbulkan persinggungan hati.
"Sebelum saya menjawab,'ya',apa saya boleh berkunjung ke rumah bapak?saya tidak bisa memberikan jawaban,jika saya belum
melihat kondisinya." Ucap Ius.
"Ya,Ya!silahkan saja!aku akan membawamu setelah pulang kerja nanti!"
Karena terlalu semangat,Amer menepuk bahu Ius dengan sangat keras.Amer bahkan tidak menyadari reaksi kesakitan yang sengaja disembunyikan oleh Ius.Ia hanya melihat wajah tersenyum paksa Ius,sembari mengelus pundaknya yang mendadak berdenyut.
Terlepas dari perasaan Ius,Amer nampak tersenyum gembira.Ia sangat berharap,jika Ius benar-benar bisa menyelesaikan masalahnya.Hingga waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba,Amer langsung menarik Ius untuk masuk ke dalam mobilnya.Tak tanggung-tanggung,Amer juga memberikan Ius beberapa camilan ringan untuk menemani perjalanannya nanti.
Ius yang merasa tidak enak,hanya bisa mengucapkan terima kasih.Ia bahkan menyarankan,jika Amer tidak begitu berlebihan kepadanya.Ia takut,jika apa yang akan dilakukannya,belum tentu akan seperti apa yang diinginkan oleh direkturnya tersebut.
"Hey,Kau!" Amer tiba-tiba berbicara. "kenapa diam saja??ayo dimakan makanannya!aku bahkan rela mengantri untuk membeli ini,Loh!"
Ius hanya bisa tersenyum.Ia tidak menyangka,jika kepribadian Amer sangatlah ramah.Selama ini,ia dan orang-orang yang sekantor dengannya,menganggap Amer adalah pria yang serius dan tegas.Hal itu dibuktikan,ketika melihat Amer bekerja di perusahaan mereka.
"Apa kau tinggal sendiri,Ius?"
Amer kembali berbicara,mencoba untuk mengusir rasa canggung yang dihadapi mereka saat ini.
"Tidak,saya tinggal bersama adik saya." Balas Ius kemudian.
"Adikmu ada berapa?"
"Satu."
Amer terus bertanya berbagai hal.Entah itu umur,tempat tinggal,ataupun makanan yang selama ini mereka makan.Walaupun terdengar aneh dan menyebalkan,namun Amer melakukan itu,hanya semata-mata ingin lebih dekat dengan Ius.
"Ah,bukan begitu,Pak!" Balas Ius sembari tersenyum malu,saat mereka berbincang mengenai dunia percintaan.
"Kau ini,kaku sekali!" Ucap Amer sembari berdecak. "jangan panggil aku bapak,panggil saja aku,Amer!"
Ius membulatkan matanya.Ekspresi Amer memang terlihat santai.Namun,Ius malah kembali merasa tidak enak.
"Tapi,Pak-"
"Amer." Potong Amer tegas. "tidak ada penolakan.jika kau masih memanggilku dengan sebutan 'bapak' di luar kantor,aku akan segera menurunkan gajimu!"
Ius hanya bisa tersenyum.Selain menyebalkan,Amer ternyata juga memiliki sifat lawak.Walaupun sedikit susah jika harus memanggil Amer dengan sebutan nama,nyatanya Ius terus dipaksa,hingga membuat lidah pemuda itu perlahan terbiasa.
Waktu terus berputar,langit senja pun sedikit demi sedikit menghilang.Hingga saat mereka telah masuk ke pekarangan,langit senja itu benar-benar meninggalkan mereka,kemudian tergantikan oleh langit malam yang gelap.
Amer dan Ius turun dari mobil.Seperti biasa,Amer akan mengetuk pintu dahulu,hingga membuat Wulan merasa terpanggil,dan kemudian wanita itu akan membukakan pintu untuknya,seperti saat ini.Namun,ada kejadian yang sedikit berbeda hingga membuat Amer maupun Ius mendadak bingung karenanya.
"Momimia?" Ucap Wulan sembari menatap Amer sarkas.Ia terus bersikap seperti itu walaupun Amer terlihat bingung sekalipun.
"Wulan-"
"Momimia??"
Wulan mundur perlahan begitu Amer hendak mendekat padanya.Tatapannya semakin tajam begitu ia tidak mendengar jawaban yang paling tepat dari mulut Amer.Hingga saat Amer berpikir dan kemudian kembali teringat,pria berambut cepak itu seketika tertawa sembari mengusap wajahnya.
"Lozatos!" Balasnya dengan girang.
Mendapati jawaban yang benar-benar tepat,Wulan seketika tersenyum saat itu juga.Ia lalu hendak mendekat sesaat sebelum memandang Ius yang semakin bingung dengan tingkah mereka.
---
btw luka bakar itu smpai separuh badan, kenapa gak dirawat di UGD? bahaya lho