Anna tau bahwa ayahnya adalah orang kaya, dan semua kakaknya tampan tapi ia tak pernah menyangka jika keluarganya cukup populer bahkan ia di sebut-sebut sebagai putri yang di sembunyikan sampai ia pindah ke sekolah baru yang terkenal.
Bukan hanya itu saja, ia juga baru tahu bahwa dia bukan manusia biasa dan cinta pertamanya juga bukanlah manusia.
Siapakah keluarga Anna sesungguhnya?
Misteri apa saja yang baru di ketahui Anna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba, buah kesabaran dan kerja keras bisa berbuah manis di hari yang paling dinantikan. Mina sudah tak bisa tidur sejak semalam, tiket yang ia dapat lima menit sekali ia pandang seolah memandang pangerannya.
Meski hari itu sekolah tak libur tapi untuk para murid yang ingin menonton turnamen di persilahkan tidak mengikuti pelajaran, namun guru akan tetap memberi tugas yang harus di selesaikan.
Beruntung hari itu kondisi Anna sudah membaik sehingga ia juga bisa ikut menonton turnamen, Mina yang sudah menyiapkan dua tiket berbahagia tatkala mereka bertemu di sekolah.
Sebelum pergi ke tempat turnamen di gelar para murid memang wajib ke sekolah terlebih dulu untuk absensi baru mereka pergi, Anna dan Mina yang sudah mengabsen pun juga segera pergi.
" Aku sudah tidak sabar menonton, untung aku berhasil mendapat tiket dengan kelas VIP jadi kita bisa duduk di tempat yang paling bagus " ujar Mina saat mereka dalam perjalanan.
" Hhhhhh, apa hebatnya VIP bukankah semua tempat duduk sama saja " ucap Anna.
" Ckckck tidak Anna, dengan duduk di kursi VIP kita bisa menonton tanpa terhalang apa pun. Jaraknya juga cukup dekat sehingga kita bisa melihat dengan jelas "
" Sudahlah, bagiku sama saja " jawab Anna cuek.
Begitu sampai mereka segera menuju toilet, rupanya Mina ingin mengganti seragam sekolahnya dengan kaus yang sudah ia siapkan untuk menyemangati tim sekolahnya atau lebih tepatnya Colt.
Orang-orang sudah ramai masuk ke dalam gedung yang di dominasi perempuan, mereka adalah penonton dari berbagai sekolah terlihat dari seragam yang mereka kenakan.
Mina yang tak ingin melewatkan acara sedetik pun mengajak Anna berlari masuk ke dalam dan duduk di tempat yang sesuai dengan tiket mereka.
" Astaga, padahal tim sekolah kita belum bertanding " gumam Anna.
Acara di buka dengan penampilan cheerleaders yang mengagumkan, mereka menari, bersorak dan melompat-lompat layaknya akrobatik. Tepuk tangan dan sorak-sorai penonton bergemuruh di seantero gedung.
Anna yang lebih suka ketenangan merasa sedikit terganggu namun ia harus tahan dengan semua itu. Setelah para cheerleaders selesai tampil seorang MC datang ke tengah lapangan untuk menyambut para penonton, sekaligus mengumumkan sekolah mana saja yang akan ikut turnamen.
Total ada enam sekolah, di babak awal ini mereka akan bertanding untuk bisa melanjutkan ke babak selanjutnya.
" Baik para hadirin sekalian yang saya hormati untuk memulai babak awal ini maka saya meminta masing-masing pelatih dari tim sekolahnya untuk maju ke tengah lapangan " umum sang MC.
Tak lama maju enam pria yang sudah pasti adalah para pelatih, di susul dengan seorang wanita yang memberikan sebuah kantong hitam kepada MC.
" Demi melaksanakan pertandingan yang adil dan jujur kita akan menentukan lawan secara acak dengan kantong yang saya pegang. Saya akan jelaskan cara kerjanya, di dalam kantong ini ada enam bola bertuliskan tiga digit angka yang sama yaitu dua bola berangka satu, dua bola berangka dua dan dua bola berangka tiga.
Semua pelatih akan mengambil satu bola dari dalam kantong dan menunjukkannya kepada kita semua, dan pelatih yang mendapatkan nomor yang sama maka tim mereka akan bertanding di babak pertama ini " jelasnya.
" Baiklah, tanpa menunggu lagi! pelatih silahkan ambil bola kalian! " teriak sang MC.
Para pelatih itu maju dan mengambil bola sesuai perintah, setelah mendapatkannya mereka memperlihatkan berapa nomor yang di dapat.
Anna melihat pelatih sekolahnya mendapat nomor satu dan seorang pelatih dari sekolah lain ada yang mendapat nomor sama, maka sudah di pastikan timnya akan melawan tim sekolah itu.
Karena tim sekolahnya mendapat nomor satu maka mereka juga adalah tim pertama yang akan bertanding, sorak-sorai para penonton kembali bergemuruh setelah MC mengumumkannya.
Tak lama terlihat para pemain basket itu memasuki area lapangan, Mina semakin bersemangat melihat Colt berada di lapangan itu memakai seragam olahraga. Di tambah lagi Colt rupanya di percaya sebagai pemimpin dalam tim.
" Astaga apa yang di pikiran pak pelatih? hanya karena ia tampan bukan berarti dia bisa menjadi kapten kan? " tanya Anna lebih ke diri sendiri.
Dari tempat duduknya ia bisa melihat Colt tersenyum dan melambai-lambaikan tangan ke arah penonton, tentu hal ini membuat kegaduhan dengan teriakan para penonton wanita.
" Ck tebar pesona di tengah lapangan, apa dia pikir ini panggung hiburan? " gumam Anna sinis.
Kadang ia merasa heran sendiri mengapa ia bisa begitu benci kepada Colt padahal dia dan Colt tidak saling mengenal, Mina pun sudah membuktikan kalau Colt pria yang baik. Tapi firasat jelek tentang Colt membuat Anna membencinya.
Peluit berbunyi tanda permainan akan segera di mulai, masing-masing kapten saling berhadapan dengan bola di tengah mereka yang di pegang wasit. Dalam hitungan ketiga wasit melempar bola itu ke atas dan Colt berhasil mendapatkan nya, permulaan yang cukup bagus bagi tim mereka.
* * *
Semilir angin berhembus menebarkan wangi bunga lavender, bercampur dengan aroma teh yang wangi tatkala cangkir itu dekat ke hidung saat menyeruput.
Wanita paruh baya dengan keanggunan bangsawan nya meletakkan cangkir itu di meja, mata sayunya menatap lurus ke depan dimana sang suami melakukan hal yang sama.
" Aku masih bisa mencium wangi bayi, bahkan tangisannya yang membuatku terharu. Aku masih tak percaya hal itu sudah berlalu dua puluh enam tahun yang lalu " ujarnya, suaranya lembut mengalun bak nyanyian burung di pagi hari.
" Ya, sudah dua puluh enam tahun yang lalu. Mungkin setahun kemudian aroma bayi itu dan tangisan bayi itu akan terdengar lagi, lalu haru dalam batinmu akan menguraikan air mata namun kau akan memanggilnya ' cucuku ' " jawab Jack.
" Aku berharap itu akan segera terjadi " balas Yuki.
Ia teringat masa-masa Shigima lahir dan waktu dia kecil, kala itu orang-orang memanggil Shigima dengan sebutan pangeran muda. Bagaiman tidak? dia lahir dengan DNA bangsawan dan orang kaya, meski begitu tetap saja Shigima bukanlah pewaris sesungguhnya Hermes.
" Aku tak menyangka anak itu bisa menikah dengan wanita yang ia cintai, ku pikir perjodohan ini hanya semata-mata kesepakatan bisnis. Mengingat sifatnya yang selalu menomor satukan keluarga dan pekerjaan " ujarnya.
" Dia putera kita Yuki, kau membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan cinta mana mungkin ia tidka memiliki cinta " kata Jack.
" Lalu bagaimana dengan persiapan pertunangannya? "
" Sudah 80% sisanya pasti akan beres sebelum hari H "
" Kau mempercayakan kelangsungan acara pada Ryu dan Ken, aku percaya semuanya akan berjalan dengan baik "
" Ya, mereka memang bisa diandalkan " jawab Jack.
" Tapi.... aku tak menyangka bahkan mereka pun bukan pewaris Hermes yang sebenarnya, Jane berhasil memberimu tiga orang putera ku pikir salah satunya akan menjadi pewarismu tak ku sangka ternyata malah Maria yang bahkan pernikahan kalian pun tak bisa ku duga "
" Kau tahu apa yang terjadi, bahkan aku pun tak menyangka Maria bisa memberikan pewaris untuk ku. Berkat dirimu juga aku mengetahui hal ini "
" Yang lalu biarlah menjadi guru dan yang datang biarlah menjadi tamu, setelah pertunangan Shigima kau harus segera membawa Anna ke akademi. Jangan menundanya lagi Jack " titahnya.
" Itu yang aku inginkan, tapi aku ragu Anna akan mengerti bahkan mungkin dia tidak akan percaya " jawab Jack murung.
" Ikuti perintahku, aku yakin dia pasti akan menerima semua ini ".
Two Worlds