Hanya membangunkan sang kaisar yang tertidur akibat sihir, hidupmu akan berubah drastis dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loserpryyy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marry Me That's Just Prank
Alice memelankan langkah setelah cukup jauh dari lokasi tumbangnya batang pohon tadi, "Dari awal, terornya sudah menyangkut nyawa. Aku khawatir kalau yang kali ini juga akan membunuh salah satu dari kita."
Jonathan yang berjalan di belakang, sedikit mempercepat langkah menyamai Alice, sesekali melirik ke belakang, "Tidak akan, berjanjilah untuk saling melindungi. Lihat yang tadi kan? Karena aku melindungimu, kesialan tidak jadi datang. Mungkin konsepnya begitu."
"Bagaimana kalau yang tadi hanya kebetulan? Kita tidak bisa terus menghindari bahaya. Buku itu mengikuti kemanapun kita pergi."
"Ya sudahlah, itu berarti tandanya kita harus terus waspada akan hal sekitar. Karena nyatanya yang jadi ancaman adalah hal-hal tak terduga," tak hanya waspada ke arah belakang, Jonathan juga mendongak untuk memeriksa situasi, bisa saja tak jauh beda dari yang sebelumnya mereka alami.
Melihat lelaki di sampingnya terlampau bersiaga, Alice ikut memutar kepalanya ke segala arah, seraya berceletuk, "Apa menurutmu buku itu akan mengikuti kita lagi?"
"Entah, mungkin saja iya. Karena apa yang ada dalam buku itu memang tidak main-main."
Sontak ia menghentikan langkah, membuat Jonathan terheran menatapnya, "Kau tidak berniat bertanya pada ayahmu dari mana benda itu berasal? Tidak mungkin kalau ayahmu yang memberikannya secara langsung, dia pasti tidak berniat melukaimu. Siapapun pemilik buku itu, adalah pelaku sebenarnya terkait kematian Kaisar Enrique."
Lelaki itu ikut terdiam, tapi matanya masih berwaspada keadaan sekitar.
Alice bergumam, "Tapi, tidak mungkin ayahmu kan, pelakunya?"
Jonathan menundukkan kepala dalam, "Bisa saja memang begitu kenyataannya, sejak ayah menikah lagi, aku sudah tak berharap keberuntungan hidup terutama tentang kepedulian ayahku. Seperti kebanyakan ibu tiri dalam cerita-cerita luaran sana, wanita itu tidak tulus. Mana mungkin ada yang menyukai pria tua yang punya anak seusianya sendiri, meski dia tidak menunjukkan sikap benci tapi... aneh saja dia mau menganggapku anak. Usianya bahkan hanya berjarak dua tahun di atasku."
"Bisa saja dia memang tulus, jangan terlalu berburuk sangka. Kau termakan cerita tentang ibu tiri."
"Huh, tidak ada yang seperti itu. Ya kalau usia ayahku belum terlalu tua, mungkin wajar saja, dan aku pun bisa menerima lebih baik. Tapi jarak usia ayah dan ibu tiriku hampir dua puluh lima tahun, sedangkan jarak usiaku dan ayah dua puluh tiga tahun," kini hanya satu hal yang terlintas di kepalanya, apakah ayahnya memanv sengaja melakukan hal ini padanya dan berusaha menjebak. Tapi, apa gunanya melakukan hal itu, walaupun sekarang keduanya tidak cukup dekat, sang ayah tidak mungkin membencinya. Tak ingin berburuk sangka pada orang tua yang tersisa satu-satunya, Jonathan berusaha melupakan apapun hal aneh yang berasal dari ayahnya.
"Seharusnya dia yang jadi istrimu," celetuk Alice.
Beruntung teman perempuannya juga tidak membahas tentang ayahnya, Jonathan tersenyum kecil seraya membalas, "Oh maaf, tapi aku lebih suka gadis yang lebih muda dariku."
Gadis itu berdecak, "Kalau begitu jangan mengeluhkan istri kedua ayahmu, mungkin saja selera kalian sama. Ingin punya istri yang muda."
"Bukan semuda itu, ya yang hanya berjarak beberapa tahun saja di bawahku."
Alice sontak berseru keras, kedua bola matanya juga berbinar, "Hey, kalau begitu aku diterima dalam kriteriamu."
Hal itu membuat Jonathan sedikit panik, ia berpikir terjadi sesuatu yang mengancam, ternyata Alice belum keluar topik sebelumnya, "Hanya usia. Sayang sekali tipeku gadis pemalu yang pasif dan lembut, bukan yang terlalu aktif sepertimu."
Alice menjulurkan sikunya, sementara matanya beralih memicing sinis sekaligus sombong, "Maaf ya, aku bukan aktif tapi pekerja keras. Kau tahu itu, perempuan sepertiku lebih bisa dihandalkan karena lebih tangguh. Kami bahkan bisa hidup tanpa laki-laki, sejujurnya aku pun tidak berminat menikah."
"Jangan bilang kau.." Jonathan menatapnya curiga.
Kepalanya menggeleng ribut, untuk satu hal yang dipikirkan Jonathan terhadap kalimat terakhirnya yang memang agak aneh dalam pengertiannya, "Tidak, aku bukan penyuka sesama jenis. Tapi menurutku, membangun hidup baru bersama seseorang akan semakin merepotkan kedepannya, harus mengatur keuangan, mengurus rumah, belum lagi kalau punya anak. Tidak masalah kalau suaminya kaya, tapi selama hidup aku tidak pernah bersekolah karena biaya. Takutnya nanti, jika anakku lahir dalam kondisi hidupku yang belum berubah, dia akan ikut merasakan imbasnya."
Lelaki itu tertawa dengan penjelasan Alice. Sebenarnya dia masih panik dan takut akan keadaan, tapi teman perempuannya mampu mengubah suasana dan membuatnya tidak terus khawatir, "Sebenarnya pemikiranmu terlalu jauh, mengapa tidak bekerja keras mulai sekarang untuk hidup yang lebih baik nantinya."
Gadis bersurai panjang itu tampak mendesah kecewa sekaligus terlihat lelah, "Kau tahu sendiri, orang yang kurang pendidikan sangat kesulitan mendapat pekerjaan bergaji besar, jadi aku hanya mengandalkan keringat, yang hasilnya nanti juga tidak seberapa. Dari pada memikirkan masa depan yang tidak jelas, lebih baik menghabiskan uang yang ku punya untuk hidup saat ini."
"Kalau begitu cari saja lelaki kaya, menjamin hidupmu mapan terus," ujar Jonathan memberi saran, tapi malah mendapat pukulan.
"Iya kalau mereka mau, biasanya orang kalangan atas sepertimu masih menggunakan adat perjodohan dan satu kasta, istilahnya orang yang se-level."
"Tidak juga, ibu tiriku itu bukan orang kaya," ibu mudanya, Lydia Glade memang berasal dari kalangan paling bawah. Wanita itu bahkan sempat tinggal di panti asuhan sebelum keadaan hidupnya membaik karena bertambahnya usia yang bisa digunakan untuk dukungan bekerja.
Alice berucap pelan, khawatir jika seolah akan menyindiri, "Hanya ada beberapa pria bangsawan yang mau menikahi gadis miskin, dan pasti gadisnya sangat cantik, makanya mereka rela tidak mengedepankan kasta."
Tanpa diduga, dan tanpa aba-aba atau bahkan jeda. Jonathan tiba-tiba mengucapkan kalimat yang membuat Alice hampir terkena serangan jantung, "Kalau begitu, apa kau mau ku nikahi?"
"Hah! Bicara apa kau ini, bodoh!" Gerutunya kesal, bagaimana kalau Jonathan hanya bercanda, "Kenapa kita jadi membahas hal-hal tidak penting."
Bukannya membalas, Jonathan justru semakin gencar, "Alice, bagaimana kalau kita mulai saling mengenal lebih dekat satu sama lain?"
Alice sontak tertawa, "Ini pasti karena ada yang merasukimu lagi, ah sebaiknya kau terus berdoa agar terjaga."
Sementara itu, Jonathan menampakkan wajah kakunya, membaut si gadis semakin tak karuan bingung menyikapi, "Aku serius, selama ini aku hanya tertarik pada Celine, dan itu pun tidak terlalu serius. Makanya jadi kecolongan Enrique. Kalau kau mau, aku menjamin hidupmu akan lebih baik lagi kedepannya, sekalian membantuku melupakan gadis itu."
Gadis itu tertawa canggung, "Ah, haha. Pikirkan saja masalah yang sekarang belum selesai, apalagi hubunganmu dengan ayahmu. Ingat, kasta yang kau punya sekarang bukan milikmu, tapi berasal dari ayahmu."
...Tale of The Sleeping Emperor...
nagis aja gak akan ada hasil
ada lanjutnya ga thor