Aku mencintai sahabat ku sendiri memang Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini apakah aku hanya bisa mempertahankan perasaan ini atau mungkin membuang perasaan ini jauh-jauh
Apakah ini perasaan salah atau Mungkin takdir Tuhan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tania22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 Perpisahan Raga
Raga melongok ke dalam kotak pos dan menemukan beberapa amplop di dalam nya tagihan kartu kredit kak Devan undangan kedua Orang tua nya lalu sepucuk surat beramplop putih yang di tujukan kepada dirinya
Nama sekolah yang tertera di sudut amplop membuat hatinya bergejolak beberapa bulan lalu Raga pernah mengirimkan beberapa lagu di sekolah di Amerika Raga tidak terlalu berharap dapat terima di sana Raga saat gelisah
Raga mengumpulkan surat itu dan menyelipkan ke dalam saku dan mencoba melupakan nya
Raga
sebuah tangan mungil dikibaskan di hadapan wajahnya membuat nya tersadar dalam lamunannya
Raga
suara itu kian tak sabaran Raga mengerjapkan mata dan memfokuskan pandangannya pada Senja yang sedang menatapnya dengan aneh
" kamu kenapa sih bengong dari tadi "
" nggak apa-apa senja aku lagi gak nafsu aja buat makan ! sahut raga
" apa kamu lagi sakit ! tanya senja yang khawatir
" nggak senja aku Cuma lagi nggak mau makan aja ! jawab Raga
" Oh kirain kamu lagi sakit ! sahut Senja
Devan menemukan gumpalan surat itu di tepi tong sampah ketika sedang berkunjung di kamar Raga Rasa penasaran nya membuat nya meraih lembaran lecek itu dan meluruskan untuk membaca isinya
" Raga kamu daftar di universitas luar negeri ! tanya Devan
" iya Kak aku di suruh sama Guru musik jawab Raga
" Dan kamu di terima lalu kenapa surat nya di buang ! tanya Kak Devan
Raga menyambar Surat itu " bukan di buang kak tapi jatuh "
Kak Devan tidak percaya " apa kamu mau pergi
" Masih belum tahu Kak"
" Raga ini kesempatan yang jarang datang lho
" tapi kak aku belum bisa memutuskan secepat itu "
" Apa karena Senja kamu nggak mau mengambil kuliah di luar negeri
" Raga senja itu udah dewasa Kak Devan melanjutkan seakan-akan Bisa membaca pikiran Raga " membuat pilihan bukan berarti harus meninggalkan Salah satu kamu bisa memiliki keduanya persahabatan atau Cita-cita "
Raga menatap kakak nya sangat datar tidak semudah itu baginya, pilihan adalah menentukan mana yang lebih penting dirinya
Bagaimana jika Raga kembali Senja udah berubah ! atau Senja sudah di miliki oleh orang lain
" Pergilah lah Raga it ' i be silly to waste such a big opportunity
Raga sudah mengira Bianca akan berkata seperti itu
" kenapa memang kamu nggak kepengen pergi kenapa kamu harus ragu ! tanya Bianca
" jangan bilang ke Senja dulu ia Bianca sebelum gue memutuskan ya Bianca gue butuh waktu untuk jelasin ini ke Senja ! pinta Raga kepada Bianca
" iya "
akhir-akhir ini Senja melihat Raga kurang bersemangat dia sering bengong kalua di ajak bicara tentang ujian akhir Gitarnya di letakkan jauh-jauh dari sudut lemari nya
" Raga sebenarnya kamu itu kenapa sih tanya senja yang penasaran
" Nggak ada apa-apa ! jawab Raga
Namun ketika memandang wajah Senja yang sedang bahagia Raga sadar akan sangat nggak tidak adil jika tidak segera memberitahukan semua ini ke Senja
" Senja ? panggil Raga
Senja pun menoleh ke arah Raga " ada apa Ga ! sahut Senja
" Gue mau kasih sesuatu sama Lo ini Raga memberikan surat itu ke Senja
Senja menerimanya dengan eksepsi bingung Diluruskan lembaran tersebut dan di baca sekilas Raga menunggu perubahan Raut Wajah Senja seperti yang telah dugaanya Perubahan itu datang Terkejut pada awalnya lalu gembira, lalu sedih berubah kecewa
" ini surat apa Ga ! tanya Senja
" itu suara menyatakan gue di terima di kuliah di new York ! jawab Raga
" kok aku nggak tahu kamu kan kuliah di new York
Raga menggangguk " Beberapa bulan belakangan gue di remodaksikan sama guru musik gue itu mendapatkan beasiswa di luar negeri gue nyaka akhirnya gue terima di sana
" apa kamu mau pergi ke sana ! tanya Senja
" gue nggak tahu Senja Raga meringis dalam hati dia tidak ingin berbohong pada Senja bahwa ada sebagian besar dari dirinya yang sudah memutuskan bahwa dia ingin mengambil kesempatan langkah ini "
" Semua Orang udah tau ! termasuk kak Devan dan Bianca
Raga menunduk tidak dapat menjawab di tidak menemukan berkata-kata untuk memperbaiki kesalahannya karena telah berbohong kepada Senja
Senja tersedak dengan tawanya sendiri tetapi kedua matanya berlinang air mata Selamat iya Ga kamu memang hebat"
Raga merasa hatinya hancur ketika melihat air mata nya Senja membasahi pipi Senja Raga telah membuat Senja menangis selama ini Raga berjanji akan menghajar siapa yang berani membuat Senja menangis tapi ternyata dialah yang berengsek
Raga memandang Senja sedang meremukkan surat penerimaan nya sekali lagi Senja pun langsung beranjak keluar dari kamar Raga tanpa sepatah kata pun
Senja meremas-remas surat di kepalan tangannya dengan gemas lalu melemparkannya ke tong sampah
...patut kan Gue kesal? ini adalah mimpi Raga Selama itu kuliah di luar negeri...
Senja di menghiraukan ketukan samar di pintunya didengarnya pintu berderit terbuka juga langkah kaki yang berjalan mendekati Senja
Senja menoleh bekas air mata masih menodai wajah nya Bianca mengulurkan sebelah tangan nya untuk menghapus air mata Senja " kamu marah karena Raga akan pergi atau karena dia memutuskan tanpa memberitahu kan kamu ! tanya Bianca
" aku marah karena akan jadi Orang yang terakhir yang tahu bahwa Raga akan pergi ke luar negeri lebih egois lagi karena aku nggak mau Raga Pergi
Raut Bianca berubah muram " kita Semua nggak mau Raga pergi dan Raga nggak berani memutuskan kepergian nya karena mikirin kita terutama kamu Senja Tapi terkadang kita harus membiarkan dia membuat pilihan terbaik buat masa depan Raga"
Sudah tengah malam Raga bolak-balik berjalan mengelilingi kamarnya menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur melongok keluar jendela bahkan Raga mencoba tidur tapi tidak berhasil akhirnya Raga menyerah Raga langsung menyambar Hp nya jika tidak menyadari bahwa ini sudah terlalu malam baginya untuk menelpon Senja
" Oh iya gue ingat kalau Senja sedih atau marah kepadanya pasti dia ada di taman belakang rumah nya
Di taman belakang Rumah Senja
Raga tidak menyangka akan menemukan Senja di sana
" Senja ngapain kamu malam - malam sendirian di sini ! tanya Raga
" mau ngerasain Gimana Rasanya duduk sendirian di sini setelah kamu pergi nanti ! jawab Senja
Entah mengapa jawaban itu membuat Raga sedih
" Senja aku minta maaf karena aku terlalu egois dan gue berengsek untuk pertama kalinya gue bikin kamu sedih seharusnya waktu itu aku langsung kasih tahu kamu tentang aku mau kuliah di new York tapi sebelumnya aku sudah mikirin keputusan ini secara matang matang supaya aku nggak menyesal di kemudian hari aku nggak bisa bilang karena aku takut kamu akan kecewa
" kamu ke pengin kan kuliah di sana ! ketika Raga tidak menjawab Senja menatapnya dengan Senduh " aku ngerti kok aku minta maaf karena aku jadi alasan yang ngebebanin kamu dalam ngambil keputusan
Raga tercekat saat mendengar ucapan Senja " Senja jangan bilang begitu !
Senja tersenyum walau masih menangis di pelupuk matanya " Bodoh aku kan selalu dukung kamu apa yang kamu pilih selama ini adalah impian kamu
Raga tidak bisa menahan diri untuk beranjak mendekat dan memeluk Senja dalam pelukannya mereka berpelukan dalam diam dua sahabat yang saling mengerti dan menerima mimpi yang berubah menjadi kenyataan adalah hal terbaik yang dapat seorang walaupun salah satu mereka harus berkorban untuk itu
hari ini Senja Dan Raga berjanji untuk menghabiskan hari terakhir Raga Di Jakarta berdua Saja Senja berjanji Pada Dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menangis apa pun yang telah yang terjadi tapi janji itu sepertinya tidak mudah diucapkan daripada di laksanakan
Menjelang kepergian Raga berusaha keras untuk tampak gembira memasang ekspresi bangga walupun sejujurnya Raga masih menyimpan sedikit luka di hati puncaknya adalah ketika dia dan Bianca membantu mengepak barang-barang Raga melihat separuh isi kamar Raga yang kini berpindah ke dalam koper entah mengapa Senja merasa tertekan Dia tidak menyadari bahwa dia sedang menangis hingga Bianca menegurnya lembut
buru-buru Senja menyusut air matanya berharap teman-temannya tidak akan mempermasalahkan lebih lanjut tapi Raga meletakkan tumpukan pakaian yang telah di lipat rapi berjongkok di hadapannya dan berkata dalam nada lembut yang jarang di gunakannya
"Lo nggak perlu ngerasa harus pura-pura senang di depan gue Senja Gue juga ngerasain hal yang sama dengan Lo
Senja menggangguk mati-matian berusaha menghapus air matanya yang kini mengucur deras dan tidak bisa di hentikan Bianca merasakan matanya sendiri basah dan ia menyelinap keluar meninggalkan dua sahabatnya sendirian dia juga butuh waktu untuk menata perasaan nya
selagi bergerak ke arah dapur untuk membuat secangkir teh hangat Ghea berpapasan dengan kak langit yang memegang secangkir kopi di tangannya
" hai "
" Kak Devan "
mereka berdua berdiri di teras depan rumah sambil memandang keluar jendela matahari bersinar cerah
" besok Raga akan pergi "
Bianca menggangguk kaku
" kamu juga kan nggak ingin Raga Pergi"
Bianca mendekatkan Cangkir ke bibir sesekali meniup minuman di dalamnya supaya cepat dingin sengaja mengulur waktu untuk menjawab " Semua Orang nggak mau Raga pergi Kak ! jawab Bianca
" tapi kamu sayang kan sama Raga"
"ini bukan pertanyaan Hanya pertanyaan yang membuat hatinya miris lagi " Gimana perasaan Kak Devan ketika Orang yang Cintai Kak Devan pergi
Devan berusaha menghindari pembicaraan ketika mendengar pertanyaan tersebut tidak Juga memasang Wajah eskpresi sedih di hanya tersenyum senyum seorang yang sedang mengenang masa lalu tanpa menganggap nya sebagai sesuatu yang harus di sesali
" Sheila itu Orang nya keras orang yang memiliki mimpi lalu dia memilih untuk mengejar mimpinya sampai dapat orang yang memiliki mimpi, tapi tidak melakukan apa-apa untuk menjadikannya nyata dan Orang yang sama sekali tidak memiliki mimpi sejak kecil dia tahu kalua dia akan pergi jauh dari sini dan aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi selain membiarkan dia pergi.
" Apa Kak Devan pernah meminta nya untuk dia untuk tidak Pergi"
" Ya tapi dia bilang bahwa kak terlalu egois kalua memaksanya untuk tetap di sini bodoh kalua mengorbankan diri sendiri untuk mengikuti dia kesana karena kami mempunyai mimpi yang berbeda dia ingin sekali menjadi seorang dokter sedangkan kakak nggak tahu apa yang kakak inginkan kalua mengikutinya aku tahu kakak Hanya jadi beban Buat dia begitu pun sebaliknya perasaan kami saat itu tidak cukup kuat untuk mempertahankan apa yang kami punya.
" Mengapa saat mudah bagi seorang untuk mengorbankan Cinta dan dan demi cita- cita ! tanya Bianca ingin tahu
Devan menatap Bianca dengan tenang " karena cinta tidak ingin bertahan dalam hati dua orang yang tidak menginginkan hal yang sama karena jika salah satu nya tidak memiliki ruang yang Cukup untuk Cinta maka Cinta itu akan beranjak pergi
Senja Dan Raga duduk sebelahan sambil mendengarkan musik dan memandangi hangat kulit Raga bergesekan dengan lengannya membuatnya merasa aman sesekali Senja melihat kerlip siluet pesawat yang melintas di kejauhan dan Senja merasakan tendangan kecil dalam hati teringat bahwa besok pagi sahabat nya akan juga di bawah pergi oleh salah satu benda itu
" Senja ? panggil Raga
Senja menatap Raga " Sebelum aku pergi aku punya lagu buat kamu...aku harap kamu selalu ingat sama aku
Raga pun langsung memetik Gitarnya
...SUNGGUH MENCINTAIMU...
...Kekasih, hati ini tak terganti...
...'Tuk memilih bahagia denganmu...
...Yang telah berikan dunia...
...Tak perlu kau tanyakan...
...Arti Cinta di hatiku...
...Besarnya rasaku...
...Yang ku berikan untukmu...
...Inilah diriku sepenuhnya untukmu selalu...
...Mencintaimu, sungguh-sungguh aku mencintaimu...
...Takkan ada yang bisa menggantikanmu...
...Di hatiku satu untukmu...
...Menyayangimu, sungguh-sungguh aku menyayangimu...
...Takkan pernah ku berpaling dari kamu...
...Itulah janjiku untukmu...
...Aa-aa-ha...
...(Ha-aa-aa) Ho-oo-oo...
...(Ha-aa-aa)...
...Inilah diriku sepenuhnya untukmu selalu (selalu), selalu...
...Mencintaimu, sungguh-sungguh aku mencintaimu...
...Takkan ada yang bisa menggantikanmu...
...Di hatiku satu untukmu (untukmu)...
...Menyayangimu, sungguh-sungguh aku menyayangimu...
...Takkan pernah ku berpaling dari kamu...
...Itulah janjiku, ho-oo-oo...
...Menyayangimu, sungguh-sungguh aku menyayangimu...
...Takkan pernah ku berpaling dari kamu...
...Itulah janjiku (janjiku) untukmu, hmmm...
Raga terus Bermain gitar sambil bersenandung dengan Senja yang mendengarkannya tanpa berkedip seulas senyum Hadir di Wajah keduanya sebentuk tenang yang sangat nyaman Raga Pun meletakkan gitar nya di sampingnya. langsung memegangi tangan Senja dengan penuh Tatapan lembut
"Senja jangan nangis Walaupun aku jauh dari kamu tapi percayalah aku selalu ada di dekat kamu Senja ! sahut Raga sambil Mengusap air mata Senja
Senja tersenyum dan bersandar di pundak Raga sambil memandang langit bintang-bintang di atas
Perjalanan menuju pagi di bandara Soekarno-Hatta Raga dan Senja duduk bersama di kursi belakang tangan Gadis itu erat mencengkeram lengan kemeja nya seakan tidak merelakan Raga pergi Raga pun tidak berkata apa-apa sepanjang perjalanan hanya sesekali mengulurkan sebelah tangan nya untuk menyandarkan kepala Senja di pundaknya
...sesampainya di bandara Soekarno-Hatta...
" Senja Gue harus pergi sekarang "
air mata perlahan-lahan mengalir di kedua wajah Senja walau wajah nya tersenyum " iya Raga aku Kuat kok aku janji"
Raga memeluk Senja " kalau gitu jangan nangis dong " bisik Raga
Raga merasakan anggukan senja pelukannya mengendur dan di Pandangan Wajah Senja dalam dalam Raga merasakan matanya mulai berair tapi Raga berusaha untuk menyembunyikan nya lalu Raga mengulurkan jarinya dan mengaitkan kelingking nya ke jari Senja " Promise kamu jangan Nangis lagi ya dan jaga diri nya baik baik ia Senja aku punya sesuatu buat kamu Raga mengulurkan sebuah kotak besar ini buat kamu aku Udah siapkan buat kamu
Senja pun menerima " Raga ini apa ? tanya senja yang penasaran
Raga tersenyum " Nanti kamu juga tahu isinya Jangan lupa ia di buka
senja mengangguk " iya Raga! sahut Senja
Bianca dan Devan menyentuh lengan Raga mengucapkan selamat jalan mereka saling berpelukan singkat Raga mengenggam tangan Senja mencium kening Senja membekaskan seluruh rasa Cintanya pada Senja
" aku kan segera kembali Senja dan di saat itu aku nggak akan melepaskan Kamu lagi" Bisik Raga
Raga berbalik dan berjalan menjauh berusaha untuk tidak menoleh ke belakang lagi pandangannya kabur oleh air mata yang tidak jadi menetes
Tubuh Raga menghilang dibalik kerumunan Orang yang memadati bandara Senja tidak terlalu merasakan kehadiran orang lain hanya kehampaan yang amat sangat.keningnya masih hangat akibat Ciuman singkat barusan ketika menyaksikan Raga menjauh tiba tiba saja Senja merasakan separuh jiwanya pergi ikut pergi meninggalkan dirinya.
Untuk Pertama kalinya Senja menyadari sesuatu yang penting.Dia menyayangi Raga tidak bukan hanya menyayangi Senja mencintai sahabat nya itu
Senja tidak dapat lagi membendung air mata nya yang sedari tadi berusaha di tahannya Bianca maju dan merangkul erat.mengusap Punggungnya dan memisihkkan kata-kata lembut untuk menenangkan Senja
" Aku sangat sayang sama Raga Bianca ! Senja berkata lirih di antara isikan nya
Gerakan Bianca berhenti ketika mendengar perkataan Senja " kenapa kamu nggak bilang sama Raga sebelum Raga pergi
Senja menggeleng " Karena hanya dengan begini dia akan tetap Pergi untuk mengejar mimpinya
Bianca terdiam menemani Senja yang terus menangis di samping nya air matanya sendiri meleleh tanpa bisa di hentikan
#I'm A Special Girl