Amila Pranadja adalah anak ketiga dari pasangan terkenal Amora dan Dion Pranadja. Di usianya yang masih muda, ia harus menangani bisnis hotel keluarganya. Bahkan ia pun sudah mandiri dengan tinggal di salah satu rumah milik keluarganya.
Kesibukan Amila dengan bisnis, membuatnya melupakan masalah pribadinya terutama soal pasangan hingga membuat orang tuanya khawatir.
Suatu saat ia bertemu dengan pria berkebangsaan Inggris bernama Louis. Pria itu adalah teman dari kakak iparnya Veronica Jukler.
Pada pandangan pertama, Louis langsung jatuh cinta pada Amila. Namun tidak dengan wanita itu, ia justru berusaha menjauhi Louis karena tak ingin menjalin hubungan dengan pria berkewarganegaraan asing.
Lika liku cinta mereka akan menjadi hal menarik karena Louis akhirnya berinvestasi pada bisnis Novotel, yang membuatnya harus terus kembali ke Indonesia. Investasi yang Louis lakukan salah satu alasannya adalah Amila.
Akankah cinta mereka terwujud...???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Helaan nafas panjang Louis lepaskan, ia masih takut untuk menghubungi Amila. Tapi pada akhirnya ia mencari kontaknya lalu segera menghubungi wanita itu. Tanpa ia duga hanya dalam sekali dering, Amila mengangkat ponselnya.
"Apa sudah puas untuk diam?" hardik Amila.
Mendengar suara Amila hati Louis benar benar berbunga bunga.
"Apa kau mendengarkan aku?" tanya Amila lagi.
"Maaf, aku masih takut. Aku takut kau marah sayang." jawab Louis.
"Tentu saja aku marah, kau bahkan tak menghubungiku lagi setelah perdebatan itu."
"Aku hanya tak ingin membuatmu lebih marah lagi nona. Aku menunggu kemarahanmu mereda." jawab Louis.
"Apa kau sudah kembali ke Indonesia atau kau tak ingin menikahiku? Jika kau akhirnya ragu, aku bisa membatalkan..."
"Omong kosong." potong Louis. "Kau pikir aku mengajakmu menikah untuk bermain main Ami. Kau adalah wanita yang ingin sekali aku nikahi bahkan detik ini, mengapa kau berpikir aku tak mau menikahimu." ujarnya kesal.
Mendengar suara Louis yang terdengar kesal, Amila pun menurunkan emosinya. "Aku salah, aku tak bermaksud memaksamu. Apa kau sempat kembali ke Indonesia jika terbang sekarang. Pernikahan kita dua hari lagi, sejujurnya akulah yang takut jika kau berubah pikiran."
"Sayang, aku sudah sampai di Indonesia pagi tadi. Aku sedang duduk bersantai di rumah." ujar Louis.
"Apa?" Amila sangat terkejut. "Jadi kau bahkan melakukan perjalanan kembali dari Inggris tanpa memberitahuku. Apakah aku sudah tak penting lagi buatmu?"
"Ami, aku sudah mengatakannya. Aku hanya ingin membuat kemarahanmu mereda. Intinya aku sudah kembali dengan selamat sayang, dan tidak ada yang bisa membatalkan pernikahan kita. Kita akan melakukannya sesuai rencana." jawab Louis.
Amila ingin sekali bertanya apakah Louis membawa orang tuanya, tapi jika ia lakukan maka mereka akan kembali berdebat dan itu tak ingin ia lakukan lagi.
"Sayang, aku merindukanmu." ujar Louis memecah lamunan Amila. "Sangat sangat merindukanmu, tapi kita tak bisa bertemu karena Kevin mengatakan kau sedang melakukan pingitan, entah apa itu aku masih tak mengerti." sambungnya.
"Kak Kevin, kapan ia mengatakannya padamu?" tanya Amila.
"Ia dan Veronica baru saja pulang dari rumahku. Vero menjadi chef untuk makan siang kami. Mereka juga sedang menuju ke rumah besar Pranadja dengan membawa karyawan restoranku." jawab Louis.
Amila mengumpat, jadi tempat rahasia yang dikunjungi mereka adalah kediaman calon suaminya. Dan Louis ternyata hanya mengajak karyawannya.
"Ami...apa kau mendengarku?" tanya Louis.
"Mereka membohongiku." ujar Amila.
"Mereka membohongimu, apa maksudnya?"
"Kak Kevin tak mau mengatakan jika ingin menemuimu. Tadi pagi aku ke rumahnya, ia terus mengusirku, ia bilang mau pergi ke tempat rahasia. Aku ingin sekali memukulnya jika ia sudah sampai."
Louis melepaskan tawanya mendengar kekesalan Amila. "Maaf sayang, mungkin ini ada hubungannya denganku. Aku hanya ingin memberimu kejutan dengan kepulanganku ke Indonesia."
"Sumpah tidak lucu, aku bahkan tak bisa makan dan tidur karena memikirkanmu. Kalian justru bersekongkol untuk membohongiku."
"Bukan membohongi tapi memberi kejutan sayang."
"Entahlah, aku ingin sekali marah padamu kembali. Tapi Louis, aku pun merindukanmu." ujar Amila.
Louis senang mendengarnya. "Aku mencintaimu sayang."
"Aku juga mencintaimu Louis." jawab Amila.
"Beristirahatlah dengan baik, aku tak ingin pengantinku sakit saat acara pernikahan. Kita akan bertemu lusa sayang." pinta Louis.
"Kau juga, beristirahat lebih awal. Kau pasti lelah karena melakukan perjalanan jauh."
"Ami, kak Kevin dan kak Vero datang membawa tamu." suara teriakan Amora terdengar.
"Sepertinya mereka sudah tiba, aku akan memukul mereka. Kita lanjutkan nanti ya."
"Jangan salahkan kakakmu, akulah yang bersalah sayang." ujar Louis.
"Dan tunggu saja hukuman buatmu." jawab Amila seraya menutup teleponnya.
Louis tersenyum sambil menatap ponselnya. Ia tak bisa membayangkan seperti apa Amila jika marah pada kakaknya. Ia pun akhirnya beranjak dari taman. Lebih baik ia beristirahat untuk memulihkan tubuhnya.
*****
Amila keluar dari kamarnya, ia membawa sebuah alat pemukul bisbol dengan wajah yang geram untuk menemui kakaknya. Tapi kemarahan itu mereda saat melihat ada dua tamu asing bersama mereka.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Amora.
Amila meletakkan pemukul bisbolnya di samping tangga. "Tidak." jawabnya datar.
Kevin justru terkekeh mengejeknya.
"Tunggu saja pembalasanku." gumam Amila.
Kevin menjulurkan lidahnya untuk menggoda adiknya. Sedangkan Amora meninggalkan mereka untuk memanggil Dion.
"Ya Tuhan, kalian seperti anak anak." ujar Veronica. "Ami kemarilah, ini Hilton dan Celine temanku saat di Inggris juga karyawan restoran Louis."
Amila menghampiri mereka lalu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. "Amila..."
"Jadi ini calon istri bos kami?" tanya Hilton.
Mereka semua mengangguk.
"Puji Tuhan, tuan Louis sungguh beruntung." sahut Celine.
"Benar benar cantik." ujar Hilton.
Wajah Amila seketika merona mendapat pujian seperti itu. "Terima kasih, selamat datang di Indonesia."
"Terima kasih nyonya." jawab keduanya.
"Nyonya?" tanya Amila.
"Tentu saja mulai sekarang kami akan memanggil istri tuan Louis dengan nyonya." jawab Hilton.
"Tidak, aku tak setua itu. Panggil saja aku nona Ami." pinta Amila.
Gelak tawa dari Kevin membuat Amila semakin kesal.
"Berhentilah menggoda adikmu Kevin." kata Veronica.
"Aku memiliki adik yang cantik tapi bodoh." ejek Kevin.
"Kau..." ujar Amila sudah mengangkat tangannya. Tapi ia kembali menariknya karena sedang ditatap tamunya. "Lihat saja nanti, aku akan membuatmu tidur di luar kamar." bisiknya.
Kevin mengumpat. "Jangan pengaruhi Vero."
"Itu hukuman buatmu karena berani membohongiku." jawab Amila.
"Kalian sedang ada tamu tapi asyik sendiri." ujar Dion menghampiri mereka bersama Amora.
Keduanya menyeringai setelah mendengar ucapan ayah mereka. Hilton dan Celine berdiri untuk menyapa Dion dengan sopan.
"Selamat datang di Indonesia, aku Dion Pranadja." sambutnya.
Siapa yang tak mengenal Dion Pranadja pemilik Novotel Inggris, bahkan mereka pernah melihat pria itu berkali kali muncul di surat kabar.
"Ya Tuhan kami sangat senang bisa bertemu anda langsung tuan Pranadja." ujar Hilton.
"Benar, ini seperti mimpi bisa bertemu pembisnis terkenal sampai ke Inggris." sahut Celine.
"Kalian berlebihan, duduklah." pinta Dion.
Mereka kembali duduk dan mulai berbincang bincang. Veronica pamit pada mereka untuk menidurkan Nathan. Sedangkan Kevin dan Amila terus saling mengejek membuat mereka terus tertawa.
"Jadi papi dan mami pun tahu jika Louis kembali?" tanya Amila.
"Tentu saja sayang, itulah mengapa kami bilang pernikahanmu tetap berlanjut." jawab Amora.
"Ya Tuhan Yesus, ampunilah dosa mereka karena merahasiakannya dariku. Kalian benar benar tak memikirkan aku." ujar Amila kesal.
"Itu hukuman buatmu karena terlalu keras kepala." ejek Kevin.
"Lalu bagaimana denganmu kak, kau juga keras kepala." jawab Amila.
"Kalian berdua sama sama keras kepala, berhentilah berdebat. Kalian membuat tamu kita takut." ujar Dion.
"Dan sifat keras kepala itu menurun dari siapa?" goda Amora.
"Papi..." jawab Kevin dan Amila bersamaan.
"Aku...?" tanya Dion.
Sontak saja semuanya tertawa mendengarnya. Hilton dan Celine tak menyangka, keluarga Pranadja sangat hangat seperti itu. Baru saja bertemu, mereka sudah merasa seperti keluarga sendiri. Lebih dekat tanpa ada kecanggungan. Keduanya kembali dikejutkan oleh kepulangan kedua anak mereka. Tak ada satupun dari keluarga Pranadja yang memiliki wajah jelek.
Mereka terkagum kagum melihat si kembar yang benar benar memiliki wajah yang cantik dan tampan. Bahkan keduanya sangat sopan untuk memperkenalkan diri mereka sebelum kembali ke kamar masing masing.
"Rumah kami sangat ramai, ada satu putraku lagi. Tapi ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ia lebih pendiam." ujar Amora.
"Anda memiliki keluarga yang sempurna nyonya Pranadja." jawab Hilton.
"Aku sangat bahagia memiliki mereka." jawab Amora. "Rumah ini sangat besar, sebaiknya kalian tinggal disini saja." pintanya.
"Tidak mi, Vero mengajak mereka tinggal bersama kami." ujar Kevin.
"Oh baiklah, tapi jika kalian bosan, kalian bisa kemari." jawab Amora.
"Tentu nyonya." jawab keduanya.
Kevin mendekati telinga Amila. "Kau tak bisa membuatku tidur di luar kamar karena kami memiliki tamu." bisiknya.
"Dan itu akan terjadi setelah mereka kembali ke Inggris." jawab Amila.
"Sialan..." umpat Kevin.
Amila tertawa.
"Ya Tuhan, kalian selalu melupakan orang di sekitar jika sudah bertemu." kata Dion.
"Maaf, kami sedang bercanda." ujar Kevin.
"Tidak apa apa, kami senang disini." jawab Celine.
"Kevin ajak mereka berkeliling jika kau tidak ke Novotel." ujar Dion lagi.
"Tentu jika mereka tak lelah." jawab Kevin.
"Kami tidak lelah." jawab Hilton dan Celine bersamaan.
Keduanya sangat antusias setelah mendengarnya, ini pertama kalinya mereka ke Indonesia. Dan tentu saja melihat seperti apa negara ramah ini adalah tujuan utama mereka.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
Love You
sukses dan sehat terus untuk Miss 🤗🤗🤗