bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.
sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.
namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?
novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Melahap
Malam itu, Alessandra tidak bisa tidur.
Bukan karena ranjang Allegra yang keras dan sempit karena dia pernah tidur di lantai batu selama misi di medan perang. Bukan juga karena suara-suara aneh di rumah Sunjaya dan dia sudah terbiasa dengan lingkungan yang tidak bersahabat.
Tapi karena perasaan itu.
Sejak jam pulang sekolah, dia merasa ada yang mengikuti. Bukan Kinan karena mobil Kinan selalu di belakang dengan jarak aman. Bukan juga teman-teman sekolah yang iseng. Ini berbeda.
Ada mata-mata.
Alessandra buka matanya. Kamar Allegra gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang menyusup lewat tirai tipis. Pukul 02.00 dini hari. Waktu di mana manusia biasa terlelap.
Tapi Valeria Alessandra tidak pernah lelap.
Dia duduk di ranjang, merapikan rambutnya yang terurai. Kacamatanya tetap di hidung suatu kebiasaan yang tidak pernah dia tinggalkan. Jari kelingkingnya menyentuh cincin komunikasi, memberi kode pada Kinan.
"Kinan, ada yang mengintai rumah Sunjaya. Saya akan urus sendiri. Kamu tetap di posisi."
"Baik, Nona. Hati-hati."
Alessandra melepas selimut. Kakinya menyentuh lantai dingin tanpa suara. Dia berjalan ke jendela, menyibak tirai tipis dengan satu jari.
Di luar, di balik pagar rumah Sunjaya, sesosok bayangan berdiri di bawah pohon rindang. Tubuhnya hampir menyatu dengan gelap tapi mata Alessandra terbiasa melihat yang tidak kasat mata.
Seorang pria. Tinggi sekitar 175 cm. Pakaian serba hitam. Wajah tertutup topeng kain.
Bukan manusia biasa. Pemilik bintang. Mungkin tingkat tiga atau empat.
Alessandra tidak panik. Dia justru tersenyum kecil sebuah senyum yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun kecuali saat akan membunuh.
"Kamu pikir kamu bisa mengawasiku?" bisiknya. "Kamu tidak tahu siapa yang sedang kau intai."
Pria bertopeng itu tidak menyadari adanya bahaya.
Tugasnya sederhana: mengawasi rumah keluarga Sunjaya, terutama gadis bernama Valeria Allegra yang baru kembali setelah seminggu hilang. Majikannya ingin tahu apakah gadis itu benar-benar Allegra asli atau ada yang aneh.
Dia sudah bertugas sejak tiga hari lalu. Malam pertama dan kedua biasa saja. Tapi malam ini... ada yang berbeda.
Udara terasa lebih dingin.
Dan kegelapan di sekitarnya... terasa hidup.
Pria itu bergidik. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada siapa pun. Tapi bayangannya sendiri di tanah... terlihat lebih hitam dari biasanya? Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalamnya?
"Kamu merasa ada yang salah?"
Suara itu.
Dingin. Halus. Dan terdengar dari bayangannya sendiri.
Pria itu tersentak. Dia memutar tubuh, tangannya meraih pisau di pinggang. Tapi sebelum jarinya menyentuh gagang pisau—
Gelap.
Total.
Bukan kegelapan biasa, seperti lampu padam. Tapi kegelapan yang hidup. Yang merayap. Yang menyelimuti seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Dia tidak bisa bergerak. Tidak bisa berteriak. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara keluar.
"Kau pikir kau bisa mengintai rumah ini?" Suara itu datang dari semua arah. Dari bayangan yang melilit tubuhnya. Dari tanah yang gelap. Dari udara yang membeku. "Kau pikir kau tidak akan ketahuan?"
Bintang di tubuh pria itu berdenyut sepertinya dia tingkat tiga dengan elemen fisik. Dia berusaha mengaktifkan kekuatannya, berusaha melawan belenggu kegelapan.
Tapi tidak ada gunanya.
Kegelapan Valeria Alessandra bukan kegelapan biasa. Itu adalah elemen murni yang sudah mencapai tingkat sepuluh. Sebanding dengan menahan badai dengan kipas tangan.
"Siapa yang mengirimmu?" tanya suara itu.
Pria itu berusaha menggeleng. Tidak bisa.
"Tidak mau jawab? Itu tidak masalah. Karena aku tidak butuh jawaban dari mulutmu. Kegelapanku bisa membaca ingatanmu."
Rasa sakit yang tak terlukiskan menjalar di kepala pria itu. Seolah ada ribuan jarum menusuk otaknya, mengorek-ngorek setiap memori, setiap rahasia, setiap nama.
Dia ingin berteriak. Tapi kegelapan telah mencuri suaranya.
Dan dalam hitungan detik, Alessandra menemukan apa yang dia cari.
Perintah dari seseorang... bernama Master Bayangan. Bukan nama asli. Mungkin nama sandi. Perintah untuk mengawasi Valeria Allegra dan melaporkan setiap gerak-geriknya ke sebuah alamat di distrik gelap Acelia.
"Master Bayangan," ulang Alessandra dalam hati. "Tidak kukenal. Tapi nanti akan kukenal."
Pria itu kini lemas. Tubuhnya menggantung di dalam cengkeraman kegelapan, matanya kosong dan pikirannya sudah hancur setelah diobrak-abrik oleh kekuatan tingkat sepuluh.
Alessandra muncul dari bayangan.
Ya, benar-benar muncul dari bayangan.
Wujudnya terbentuk dari kegelapan yang mengental, dari bayangan pohon yang bergerak, dari ketiadaan yang berubah menjadi sesuatu. Kini dia berdiri di hadapan pria itu, tingginya 170 cm, pita merah masih terikat rapi di rambut, kacamata dengan rantai emas bergelantung di wajah dinginnya.
Kali ini, tidak ada topeng.
Wajah aslinya yang mirip dengan Allegra menatap pria itu dengan mata yang tidak memiliki belas kasihan.
"Kamu tahu," ucapnya pelan, "seharusnya aku bisa menginterogasimu lebih lama. Tapi aku malas. Dan aku tidak suka diganggu saat tidur."
Kegelapan di sekitarnya bergolak.
"Aku akan mengirimkan pesan untuk majikanmu."
Tangan Alessandra terangkat. Dari telapak tangannya, kegelapan mengalir pekat, kental, lapar. Cairan hitam itu merayap ke tubuh pria itu, membungkusnya dari kaki hingga kepala.
Pria itu tidak berteriak. Tidak bisa.
Dalam lima detik, tubuhnya lenyap.
Bukan terbakar. Bukan meledak. Tapi dimakan oleh kegelapan. Dihancurkan menjadi partikel terkecil, lalu diserap ke dalam elemen Alessandra seperti makanan yang ditelan.
Tidak ada darah. Tidak ada mayat. Tidak ada bukti bahwa seorang pria pernah berdiri di bawah pohon itu.
Hanya rumput yang sedikit layu di tempat tubuhnya dulu berada.
Alessandra menghela napas.
Energi dari tubuh pria itu sekecil apa pun mengalir ke dalam sepuluh bintangnya. Bukan memperkuat, hanya... memberi rasa kenyang. Seperti camilan kecil di tengah malam.
"Master Bayangan, ya," gumamnya. "Kurasa aku harus mencari tahu siapa namamu. Tapi tidak sekarang."
Dia melangkah mundur ke bayangan pohon, dan melebur ke dalamnya.
Dalam hitungan detik, halaman rumah Sunjaya kembali sunyi. Gelap. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Alessandra muncul kembali di kamar Allegra, tepat di sudut ruangan yang paling gelap. Dia berjalan ke tempat tidur, duduk, lalu merapikan kacamatanya.
Jari telunjuk menyentuh rimless glasses.
Satu mata-mata lenyap. Tapi siapa yang mengirimnya? Apakah hanya satu? Atau ada yang lain?
Cincin di kelingkingnya bergetar.
"Ale? Kinan lapor ada gangguan di luar. Tapi sudah reda. Kamu baik-baik saja?" Suara Purnomo.
"Aman, Papa. Ale sudah urus."
"Mati?"
"Mati. Dimakan kegelapan."
Hening sejenak.
"Papa bangga kamu bisa mengendalikan diri. Dulu kamu sering meninggalkan bekas."
"Papa, itu dulu. Ale sekarang lebih dewasa."
"Iya, Papa tahu. Tapi jangan kebanyakan 'makan' orang, nanti kenyang dan malas sekolah."
Alessandra hampir tertawa. Hampir.
"Papa aneh."
"Papa hanya bercanda untuk menghilangkan tegangmu. Sekarang tidur. Besok masih sekolah."
"Baik, Papa. Ale pamit."
"yaudah selamat malam. Sayang kamu."
"Sayang Papa juga."
Hubungan terputus.
Alessandra merebahkan tubuhnya di ranjang sempit itu. Matanya menatap langit-langit kamar Allegra yang retak di sudut.
Master Bayangan.
Siapa kau?
Apakah kau tahu tentang Allegra?
Atau... mafia lain yang menginginkan bintangku?
Dia menutup mata.
Nanti akan kucari tahu. Satu per satu. Semua akan kuhancurkan.
Di luar, angin malam berembus pelan. Rumput di bawah pohon tempat pria itu mati mulai pulih seolah alam sendiri melupakan bahwa kematian pernah singgah.
Tidak ada yang tahu.
Kecuali kegelapan.
Dan kegelapan tidak pernah berbicara.