NovelToon NovelToon
Akhir Kisah Cinta Tria

Akhir Kisah Cinta Tria

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:491.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: pecinta hijau

Tria Handayani Marzuki adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama dengan kedua orang tua angkatnya, atas ke inginkan dari ayahnya sebelum beliau meninggal.

Awalnya Tria mengira ia akan hidup bahagia bersama mereka, namun dengan seiring berjalannya waktu yang di dapat Tria hanyalah kesedihan dan kesengsaraan.

Tria di perlakukan seperti seorang pembantu di rumahnya sendiri, Tria mencoba untuk tetap menjalani kehidupannya dengan rasa ikhlas. Keberadaan sahabatnya membuat Tria bertahan untuk hidup, hanya bersama dengan mereka Tria bisa tertawa lepas.

Tria mencintai salah satu dari sahabatnya, Satrio Nugraha yang ternyata ia juga diam diam mencintai Tria. Hingga suatu saat Rio memberanikan dirinya untuk mengutarakan perasaannya kepada Tria, dan Tria menyambutnya dengan bahagia.

Kisah cinta yang baru saja di mulai, harus kandas begitu saja karena Tria di jodohkan dengan pria lain oleh Karmila, mamah angkatnya.

"Aku memilih dia." ucap Tria.

Rio yang mendengarnya sungguh tidak menyangka dengan keputusan yang diambil Tria, Tria mengorbankan kebahagiaannya. Hanya untuk menuruti keinginan Karmila, mamah angkatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta hijau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps30

Di depan ruang rawat Mina.

Fadil tersenyum kecil melihat Rio dan teman-temanya yang duduk dengan posisi masing-masing.

Rio yang sedang berdiri bersandar di dinding, dengan tangannya satu memegang dagu dan satunya bersedekap di dada.

Risno yang duduk di kursi panjang dengan menyandar di dinding, kakinya di selonjor kan dan bersedekap.

Mini yang duduk di samping Risno dan menyandarkan kepalanya di bahu Risno.

Apa mereka berdua sedang berpacaran? Atau.. seperti inilah persahabatan mereka? benaknya.

Ia melihat Nani yang duduk bersandar pada Mini.

”Apa rencana kalian untuk kedepannya?” tanya Fadil, ia memulai membuka pembicaraan untuk mengusir rasa hening yang tercipta.

Mereka semua menegakkan kepala mendengar pertanyaan Fadil, papanya Rio. Mereka semua saling pandang, entah siapa yang berani menjawab pertanyaan dari papanya Rio.

”Em, kami berencana untuk kuliah di salah satu universitas yang ada di sini Pa.” jawab Rio, sekaligus mewakili suara tema-temannya.

”Lalu, selain kuliah, apakah ada rencana lain di benak kalian, bekerja untuk mendapat kan penghasilan, misalnya?” tanya Fadil lagi.

”Untuk itu belum terfikir kan lagi Om.” Risno yang menjawab, ia menjeda ucapannya sebentar. ”Belum terencana, tapi kami tetap akan berfikir tentang pekerjaan nantinya setelah kami berjalan setengah dari masa kuliah Om. Kami bisa pastikan, kami tidak akan menyia-nyiakan masa muda kami dengan sia-sia. Kami tahu akan tanggung jawab kami untuk kedepannya nanti semakin berat.” ucapnya lagi, menjelaskan.

Fadil mengangguk mendengar jawaban Risno.

”Bagus! Paman tidak meragukan kalian. Kalian memiliki pemikiran yang matang untuk ke depannya, Paman salut sama kalian.” ucapnya dengan bangga.

Mereka semua tersenyum mendengar pujian dari Fadil.

”Terima kasih, Paman.” ucap Nani, Mini, dan Risno bersamaan.

”Terima kasih, Pa.” ucap Rio tulus.

Fadil tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan terima kasih dari mereka semua. Sebenarnya, dulu Fadil melarang Rio untuk berteman dengan Risno.

Sebab Risno anak yang selalu membuat ulah semasa SMP dan dia lah yang selalu di mintai tolong oleh kedua orang tua Risno untuk mengurus para orang tua murid yang mengeluh atas sikap dan perbuatan dari Risno.

Risno terkenal sebagai anak yang bandel, berbeda dengan kakaknya. Ia selalu memakai anting di sebelah telinga kanannya, suka memakai celana yang sobek pada kedua lututnya.

Ia juga suka merokok dan meminum minuman alkohol bersama teman gangnya. Jarang sekali untuk pulang ke rumah. Begitulah nakalnya Risno pada masa SMP-nya.

Sifat dan sikapnya berubah total setelah ia bertemu dan berteman dengan Rio, anaknya, Nani, Mini, dan Tria semasa SMA.

Entah sihir apa yang di gunakan mereka untuk merubah tingkah laku Risno menjadi lebih baik seperti sekarang? Padahal untuk merubah sifat dan sikap seseorang membutuhkan waktu yang lama.

Ceklek! Bunyi suara pintu terbuka, mengalihkan semua perhatian mereka. Mereka semua melihat ke arah pintu tersebut.

Tria menutup kembali pintunya dengan pelan, ia menghela nafas. Ia menghampiri Nani dan duduk di sampingnya.

”Apa tante mu sudah tidur, Tria?” tanya Fadil.

”Iya, Om, tante sudah tidur. Jadi, Tria bisa keluar,”

”Oh. Terima kasih, sudah menemani tante mu hingga tertidur.” ucap Fadil, dengan tulus.

”Sama-sama, Om.” sahut Tria.

Tria bersandar di dinding. Tiba-tiba ia teringat akan perkataan Bagas padanya. Jika pendaftaran di universitas yang mereka inginkan telah di buka. Dan pendaftarannya terbatas.

”Em, teman-teman. Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian semua. Ini terkait dengan rencana yang sudah kita sepakati sebelumnya. Aku tahu, mungkin ini bukan waktu yang tepat membahasnya, tapi....”

”Tentang apa itu? Bicarakan saja, jangan ragu-ragu begitu!” tanya Nani, Mini, Rio, dan Risno kompak memangkas ucapan Tria.

Tria terdiam sesaat, Apakah tidak mengapa aku bicarakan ini sekarang? Apa pendapat Rio nanti? Tapi, jika tidak bicarakan sekarang, lalu kapan? benaknya.

Ia menghela nafas, ”Begini, aku dengar pendaftaran di Universitas Negeri Medan sudah di buka dan pendaftaran terbagi menjadi 3 gelombang. Gelombang pertama sudah selesai, gelombang kedua sementara berlangsung dan gelombang ketiga di buka Senin depan hanya untuk dua hari. Jadi, bagaimana? Apakah kita akan mendaftar di gelombang kedua atau di gelombang ketiga?” tanya Tria, dengan serius melihat teman-temannya.

Mereka semua terdiam, nampak memikirkan sesuatu. Fadil, hanya memperhatikan mereka tanpa ingin menyela. Ia ingin melihat bagaimana kekompakan antara Rio dan temannya.

Risno melihat Rio, Kalau ikut di pendaftaran kedua, kasian Rio. Dia pasti tidak akan berkonsentrasi nanti, lebih baik, tunggu mamanya sehat dulu, baru mendaftar. Kalau begitu daftarnya biar di gelombang ketiga saja. benaknya.

”Bagaimana, kalau kita mendaftarnya di gelombang ketiga saja?” ucap Risno, memberi usul.

Pendapat Risno tidak di terima oleh Rio, sedangkan Nani dan Mini hanya mengikuti pendapat dari Risno dan Rio.

”Tidak, aku tidak setuju. Kita akan mendaftar di gelombang kedua saja,” sahut Rio. Ia menolak usulan Risno. Ia tahu, Risno berbicara begitu karena memandang dirinya yang mungkin tidak akan konsentrasi saat mendaftar nanti karena memikirkan Mina, mamanya yang masih di rawat.

Rio memandang Tria. ”Kapan penutupan pendaftaran di gelombang kedua?” tanyanya.

”Lusa, lusa akan di tutup pendaftarannya. Jika kita ingin ikut mendaftar di gelombang kedua, berarti kesempatan kita tinggal hari ini dan besok untuk mendaftarkan diri.” ucap Tria, menjelaskan.

”Kalau begitu, hari ini kita siapkan berkasnya. Besok, kita akan ke sana untuk menyerahkannya. Gimana kalian setuju?” ucap Rio.

”Ok, aku setuju!" jawab Risno.

”Aku ikut kalian saja.” jawab Nani, Tria, dan Mini bersamaan.

”Baik, semua sudah deal, yah? Jangan ada yang tiba-tiba berubah loh.” ucap Rio.

”Iya, deal.” sahut Nani, Tria, Mini, dan Risno bersamaan.

Fadil tersenyum senang mendengar dan melihat pembahasan mereka. Mereka begitu kompak, dan membicarakan sesuatu dengan kepala dingin.

Ia kembali melihat Mini dan Risno yang bergandengan tangan sambil tersenyum mesra. Ia sangat penasaran akan hubungan mereka berdua, sekedar teman kah atau ada hubungan khusus?

”Risno, Mini, apakah kalian berdua punya hubungan khusus selain berteman? Om perhatikan kalian berdua mesra sekali.” tanyanya, penasaran sambil memandang Risno dan Mini bergantian.

Risno dan Mini terdiam sejenak. ”Iya, Om, kami berdua memang berpacaran.” jawab mereka bersamaan.

”Oh, ternyata benar dugaan Om, jika kalian berdua memang memiliki hubungan khusus. Sejak kapan kalian berpacaran? Kalau Rio, Nani, Tria, apa kalian juga sudah punya kekasih?” tanya Fadil lagi.

”Kami berpacaran semenjak kelas 2 SMA Om. Kalau Rio berpacaran dengan Tria, Om, baru empat hari mereka jadian Om. Kalau Nani, dia masih jomblo Om.” ucap Mini, ia tampak gembira menjelaskan hubungan asmara dalam persahabatan mereka.

”Oh, yah?” Fadil berucap sambil melihat Tria dan Rio. Ia tidak percaya, jika anaknya sudah berhasil memenangkan hati Tria.

Deg! Jantung Tria deg degan. Timbul rasa tidak percaya diri dan keraguan di hatinya. Apakah Om Fadil akan merestui hubungan mereka ataukah ia menolak hubungan yang tercipta di antara mereka?

Ia melirik Rio. Rio menyadarinya, namun, ia mengabaikannya. Fadil dan Rio sama-sama tersenyum melihat muka pucat Tria. Rio menahan tawanya, Tria, wanita itu terlihat sangat gugup dan gelisah. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadisnya itu.

”Apa benar kalian berdua berpacaran, Tria, Rio?” tanya Fadil, kemudian.

Rio tidak menjawab, ia melirik Tria, ia menanti wanita itu yang akan menjawab pertanyaan papanya.

Tria kembali melirik Rio, Mengapa Rio bersuara? Apa dia menunggu aku yang menjawab papanya? benaknya.

”I-i-iya, Om. Tria dan Rio ber..berpacaran.” jawabnya dengan gugup.

Rio semakin menahan tawanya.

”Om tidak melarang kalian untuk berpacaran, di usia kalian ini memang seharusnya sudah punya kekasih. Tetapi, kalian harus tetap menjaga diri dan menjaga cinta kalian. Dan Om ingin kalian percaya dengan pasangan kalian. Cinta tanpa kepercayaan tidak akan bertahan lama.” sahut Fadil, menasehati.

Mendengar itu ada kelegaan tersendiri di hati Tria.

Itu artinya Om merestui hubungan kami berdua. Bagaimana dengan Mina? Apa Tante akan merestui hubungan kami juga? benaknya.

Tria melirik Rio. Rio sedang menahan tawa dan itu membuat Tria kesal padanya. Tria melihat Fadil yang masih tersenyum padanya.

”Terima kasih, Om, atas nasehatnya. Kami akan selalu mengingatnya.” ucap Tria.

”Oh, iya Risno, aku sudah bicara dengan mamaku tentang ide mu itu. Dan mamaku mengizinkan aku untuk tinggal bersama bude mu, selama masa kuliah.” ucap Nani, sambil melihat Risno.

”Oh, baguslah kalau begitu. Berarti, besok setelah kita selesai mendaftar, kita singgah sekalian di rumahnya bude. Aku akan mengenalkan kamu pada bude, sekalian meminta izin untuk kamu tinggal di sana.” sahut Risno.

”Ok,” ucap Nani.

Suasana jadi hening seketika.

”Tidak ada lagi yang di bahas kan? Kalau begitu sebaiknya kita pulang untuk mempersiapkan besok. Gimana?” ucap Risno, kemudian sambil melihat teman-temannya.

”Ok,” sahut temannya semua.

Risno melihat Rio dan Om Fadil, ”Om, Rio, kami pamit pulang dulu ya. Nanti baru kami akan datang lagi untuk menjenguk tante.” ucapnya berpamitan.

”Iya, hati-hati di jalan! Terima kasih, sudah bersedia datang menjenguk istriku.” sahut Fadil, tulus.

”Iya, Om. Sama-sama.” jawab mereka kompak.

Mereka bersalaman dengan Fadil sebelum pergi.

”Pa, Rio antar teman-teman Rio dulu sampai ke depan.” ucap Rio, meminta izin. Ia ingin mengantar temannya sampai ke halaman parkir. Tapi tentu saja, itu hanya alibinya. Ia ingin meminta waktu sedikit untuk bisa jalan berdua dengan Tria.

”Iya,” jawab Fadil, mengizinkan.

Rio dan temannya telah pergi. Fadil masuk kembali ke dalam kamar inap istrinya.

Mini, Risno, dan Nani mereka jalan duluan di depan, mereka sengaja membiarkan Tria dan Rio memiliki waktu berdua di belakang.

”Tria, sayang. Terima kasih, untuk hari ini.” ucap Rio.

”Iya, sayang. Mau berapa kali sih ucapin terima kasihnya? Gak bosan apa?”

”Aku gak kan bosan untuk mengucapkan rasa terima kasih ku, padamu. Seperti aku yang tidak bosan mencintai mu di setiap hariku.”

”Sejak kapan kamu pandai menggombal? Ini bukan dirimu yang ku kenal sebelumnya.”

”Aku pandai menggombal semenjak aku mulai tertarik padamu, aku menyimpan kata-kata romantis ku di dalam hatiku. Dan di saat sudah berpacaran dengan mu, aku tinggal mengeluarkan kata-kata itu untuk merayu mu.”

Hati Tria tersentuh. Ia menghentikan langkahnya, Rio ikut berhenti. Tria menatap Rio, Rio juga melakukan hal yang sama, menatap Tria.

”Terima kasih, aku mencintai mu.” ucapnya.

”Aku juga mencintai mu.” sahut Rio.

Ia meraih tubuh Tria dan memeluknya erat.

”Jangan tinggalkan aku Tria, tetaplah bersamaku.” ucapnya lagi.

Tria mengangguk dalam pelukan Rio.

”Sudah peluknya Rio, lepaskan aku! Lihatlah, ini di rumah sakit, nanti kita jadi pusat perhatian orang-orang!” ucapnya.

”Biarkan saja, biar orang-orang tahu kalau kamu dan aku saling mencintai, saling memiliki, saling menyayangi.” sahut Rio, tidak peduli.

”Kata-kata mu memang sangat manis, Rio.”

”Iya, aku akui kata-kata ku memang manis dan kata-kata itu hanya terucap untukmu.” sahut Rio sambil mengecup pucuk kepala Tria lalu melepaskan pelukannya.

”Hum, apakah aku harus senang dan bersyukur karena cintamu yang besar untukku?”

”Hum, itu harus! Kamu harus bersyukur padaku. Karena aku tipe orang yang setia dalam berpacaran. Jadi, jangan ragukan cintaku padamu. Ok?” sahut Rio.

iya, aku tahu kamu memang tipe orang yang setia. Kita berteman cukup lama, kita sudah saling tahu akan sikap dan sifat kita masing-masing. benak Tria.

”Iya, aku tidak meragukan cintamu. Sedikitpun tidak.”

Rio tersenyum senang, ”Ayo, ku antar sampai ke depan, mereka pasti sudah menunggu.” ucapnya sambil memegang tangan Tria.

Tria mengangguk.

Mereka pun melanjutkan langkahnya ke parkiran rumah sakit. Mereka menghampiri Mini, Nani, dan Risno yang sudah menunggu Tria di dalam mobil.

”Tria, sudah datang. Ayok masuk, kita harus pergi, tidak lama lagi hujan Bakan turun.” ucap Risno.

”Ok,” sahut Tria. Ia melihat Rio. ”Aku pulang dulu. Kamu jaga kondisi mu ya, bersemangat lah untuk besok.” ucapnya.

”Ok, sayang.” sahut Rio.

Tria masuk ke dalam mobil.

”Rio, kami pulang dulu. Besok, kita bertemu di universitas. Ok?” ucap Risno, berpamitan.

”Ok,” sahut Rio.

Risno menyalakan mesin mobilnya, perlahan, ia menjalankan mobilnya meninggalkan halaman parkir rumah sakit.

Setelah mobil Risno tidak terlihat lagi, Rio segera masuk ke dalam rumah sakit.

1
Denni Siahaan
"semoga dapat ganjaran Karmila
Kadek Bella
lanjut thoor,nggak ada party nya
Aldin Andi
cerita yang bagus
Rosita Husin Zen
tria hamil apa lgi athor kasih tria hamil sepasang anak kembar alhamduliah banget biar tambah bahagia banget kehidupan rumah tangganya rio dan trià aaamiin
Rosita Husin Zen
tria laki laki masih babyàk banget yg lebih baik dari rio jdi jangan tàkut di tinggal sama di sàkiti sama rio aruh selagi kamu tria masih gadis bàik cantik
Rosita Husin Zen
thor knp ga mampus aja sih orang jahat dan licik seprti yuli dan mamanya
Rosita Husin Zen
cepat cepat kàsih tau thor yg jahatin tria kan kasohan banget tria thor
Rosita Husin Zen
cerita ini ga pakai sholat dan mengaji dan memakai jilbab/pakai baju syari yà thor
pecinta hijau: iya...
total 1 replies
Rosita Husin Zen
ini certa nya tetantang keserakahan licik saudra angkat yg tidak tau diri dan tidak punya malu dengan mengambil hak punya orang lain astagfirllohhalazim
Elmiah
senang aku liat rio sama tria nikah mantao
Elmiah
senang aku tapi air mata ku menetis bacanya ro mane kasih tahu juga dong
Elmiah
tria harus kuat
Elmiah
tria lemah takut jadi gak seru bacanya seandai nya tria kawin sama ismael rio nya lemah gak seru
🌻Ruby Kejora
Salam kenal kk. Sukses bwt kk 🌼🌼❤️
pecinta hijau: salam kenal juga.. aamiin...terima kasih
total 1 replies
Aldin Andi
diam diam cinta... langsung saja katakan kalau cinta...nanti xesel loh kalau Rio mencoba mencintai wanita lain.
Aldin Andi
wah...saingan cintax Rio..
Aldin Andi
benar sekali...rindu itu sangat menyiksa....
Aldin Andi
tenang. Mamanya Rio juga setuju kok
Aldin Andi
dekat dekat Tria hanya untuk seorang pria. Ada maunya saja.
Aldin Andi
kamu salah, seharusnya kamu berbagi suka duka dengan teman mu. apa artinya sahabat kalau kamu tidak berbagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!