Kau hadir dengan sebuah alasan klise yaitu cinta untukku si pemain cinta.
Dan kini setelah semua yang kita alami,kau memberiku sejuta alasan untukku tetap Mencintaimu.
Setelah merasakan cinta kini aku tau kenapa kau menolakku KARINA. Tapi kini kau menarikku jauh kedalam sayap kerinduan. Dan aku tidak akan membiarkan masa lalu mendorongmu jauh dari cintaku karena tanpamu cintaku tak kan sempurna KARINA ADESTA.
Meskipun kau memberiku pelangi dan hujan secara bersamaan tapi entah kenapa hatiku tak bergeming sedikitpun dari ruang cinta ini.
Aku tidak menyangka akan bisa bertahan sampai akhir dengan cinta yang seperti air di samudera luas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ang lin Hua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku baru menyadari kau begitu berharga bagiku
Pagi waktu Indonesia. Gerald langsung merogoh ponselnya di saku jas dan segera menghubungi nomor Anggi, sahabat Karina.
"Anggi, lo bantuin gue sekarang!"
"Bantuan apa, sih? Lo Subuh begini udah ganggu tidur orang."
"Dah, jangan ngomel! Bentar lagi Tomi ke tempat lo bawa minuman anggur. Minta Karina temui lo dan pura-pura ajak dia mabuk."
"Hah? Stres lo? Nggak! Nggak! Gue nggak tega!"
"Please, kali ini aja! Sisanya serahin ke gue, please."
"Emang ada apa? Karina bikin salah apa sama lo sampe hukum dia kayak gini?"
"Dah, ntar gue jelasin! Sekarang lo kerjain aja perintah gue."
TUTTT … TUTT ....
Dengan malas Anggi beranjak dari duduk lalu menekan nomor Karina. “Ahh, dasar Gerald! Kalau cinta, ya, cinta! Nggak, ya, nggak! Pake acara ngetes segala! Aaahhh! Stres gue sama nih anak!” gerutu Anggi.
"Halo, Ang. Ada apa?" Terdengar suara Karina dari seberang.
"Lo di mana?"
"Gue di Paris. Ada apa?"
"Lo bisa pulang sekarang, nggak? Langsung ke tempat gue, penting. Gue butuh lo sekarang."
"Lho? Kenapa? Ada masalah?"
"Ya, gue lagi broken nih. Udah cepetan! Gue tunggu," ucapnya dengan mimik menangis yang dibuat-buat.
Tak lama ia mengirim chat lagi ke Gerald.
**Me: Dah gue telepon dia, katanya lagi otw.
Gerald: Bagus, Tomi lagi otw juga ke tmpat lo, sekarang.** read.
Tak lama Anggi menutup ponselnya, suara ketukan pintu terdengar juga.
"Gila! Cepet banget nyampenya! Kayak paket ekspres kilat aja!" omelnya.
Anggi membuka pintu dan menemukan wajah Tomi yang tersenyum geli memajang di depan pintunya.
"Nggak usah ketawa lo! Serem tau."
Sontak Tomi langsung terdiam, lantas menyerahkan botol minuman lalu berpamitan dan pergi.
***
Di Paris, Ragep mengantar putrinya dan Leo sampai ke landasan pribadi keluarga Adesta. Ia merangkul erat putri kesayangannya itu seakan tak rela untuk melihatnya pergi. Seperti halnya dengan Karina apalagi di tengah suasana hatinya yang kacau, ia sangat membutuhkan ayahnya untuk bermanja seperti biasanya.
"I miss you so much, my dear," ujarnya.
"Me too, Dad. Aku langsung ke Anggi Papi, dia telepon sepertinya dia butuh aku."
"It's oke. Asal bisa jaga diri, oke?"
"Sure, Dad."
Karina dan Leo duduk di dalam pesawat pribadi milik keluarga Adesta. Leo masih tak percaya bahwa ia pernah menjadi pacar gadis cantik yang ada di depannya itu, bahkan kini memberinya tumpangan hidup Karina. Gue nyesel udah campakkan lo dulu, gerutunya dalam hati.
Karina yang khusyuk membaca majalah bisnis hanya diam santai dan menjaga jaraknya dengan Leo. "Dah, nggak usah lama-lama ngelihat gue. Nggak ngaruh tau!" ketusnya yang menyadari tatapan Leo.
Leo hanya terkekeh mendengar kata-kata Karina yang ringan. "Lo jangan ke-GEER-an. Gue cuma heran aja, kenapa lo mesti bersembunyi di balik kesederhanaan lo itu?"
"Dulu gue pernah ngucapin kalimat ini ke seseorang dan sekarang giliran lo yang dengerin. ‘Seorang nona muda dikatakan princess, bukan karena gaunnya atau kemewahan keluarganya, tetapi seorang nona muda dikatakan princess karena memang dia pantas menjadi princess, bahkan meskipun dia berpakaian lusuh atau hidup sederhana’."
"Waah! Tau dapat ceramah malam-malam gini gue ogah duduk deket lo," celetuk Leo.
"Ya udah, lo minggir sana!" sungut Karina.
Pesawat Karina mendarat di landasan pribadi keluarga Adesta. Beberapa pengawal pribadi sudah menyambut kedatangan mereka.
"Pak Jeje, antar Tuan Leo ke tempatnya. Saya akan pergi sendiri dengan taksi. Saya ada perlu penting," pinta Karina dengan suara tegasnya.
"Lho? Kok pisah di sini, sih?" protes Leo.
"Telinga lo ke pake apa nggak, sih? Lo nggak denger gue ada perlu? Jadi gue mau kerjain urusan gue. Mending lo langsung pulang aja deh sana!" seru Karina dengan nada ketus seraya mengibas tangannya.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa