"Aku harus menikahi Maura dan membalaskan dendamku kepadanya," Dave mengepalkan tangannya geram setelah ia dinyatakan bebas dari jerat hukum yang menderanya.
Beberapa waktu lalu, dalam keadaan mabuk, Dave menabrak seorang pemuda dan meninggalkannya terkapar seorang diri.
Leo adalah ayah dari Maura yang juga seorang jaksa yang menyelidiki kasus tabrak lari Dave. Leo menyuruh Maura untuk mendekati Dave dan mendapatkan barang bukti agar Dave bisa dijebloskan ke jeruji besi.
"Aku akan menceritakan semua rahasiaku kepadamu, tetapi dua hari lagi kita harus bertunangan," ucap Dave yang sudah tergila gila pada Maura. Tanpa ia sadari, Maura merekam semua ucapannya.
Bagaimanakah kisah cinta antara Dave dan Maura Sanggupkah Dave balas dendam kepada wanita yang masih ia cintai?
Cover Source : Pinterest.
Setting tempat : Paris, Perancis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zinnia Azalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengenalkan
Dave menggandeng lengan Maura dengan begitu mesra, mereka sudah berada di depan rumah milik keluarga Abellard. Dave begitu deg-degan saat akan mengenalkan Maura kepada keluarganya, karena menurutnya ini yang pertama kali ia memperkenalkan secara resmi gadis yang akan segera ia lamar itu. Dengan Becca ia tidak pernah secara resmi mengenalkan Becca sebagai kekasihnya, apalagi kepada ayahnya. Maura menggenggam tangan Dave yang terasa dingin, ia begitu memahami Dave sedang cemas.
"Apa kau berubah pikiran? Jika iya, kita bisa membatalkan ini," Maura melepaskan genggaman tangannya dari tangan Dave.
"Tidak. Kita lanjutkan ini! Lagi pula aku akan membuktikan bahwa aku memang serius padamu," Dave tersenyum, tangannya menyelipkan rambut Maura ke belakang telinga.
Dave segera membuka pintu rumah mewah itu, tampak Albert bersama istrinya sedang menikmati Teh hijau ditemani dengan cemilan khas Perancis. Valerie sedang duduk disamping ibunya, tak lupa ada Sekretaris Keenan yang menemani Albert.
"Malam semuanya!" Sapa Dave dengan grogi.
Semua orang yang ada di dalam rumah mengalihkan pandangannya kepada Dave dan Maura. Mereka tampak terkejut melihat tangan Dave yang menggandeng lengan Maura dengan mesra. Valerie segera berhambur memeluk Maura.
"Maura, kau tidak bilang akan ke rumah. Mengapa kau memakai baju seformal ini ? Tapi malam ini kau sangat cantik sekali!" Valerie berbicara tanpa jeda.
"Emm.. Val, aku.."
"Biarkan Maura duduk dulu!" Potong Dave agak kesal melihat Valerie menggelayuti tangan Maura dengan manja.
"Maura sayang?" Sapa Elline seraya menghampiri dan memeluk Maura, kemudian Elline mencium pipi gadis mungil itu.
Elline dan Valerie segera menggandeng lengan Maura, mereka mempersilahkan Maura untuk duduk di sofa ruang tamu. Sementara Dave hanya berdiri dengan tatapan bingung, ia begitu bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
"Dave, duduklah!!" Titah Albert.
Tampak empat orang pelayan menyajikan cemilan dan teh hijau di meja ruang tamu, masing-masing dari mereka ada yang menuangkan teh, dan membuka toples-toples kue. Setelah selesai dengan tugasnya, mereka segera beranjak meninggalkan ruang tamu.
"Dad, aku ingin mengenalkan Maura sebagai calon pendamping hidupku," Dave memulai pembicaraan
Valerie yang sedang menikmati tehnya langsung batuk tersedak, ia segera memukul dadanya pelan. Albert yang sedang meminum tehnya pun langsung menyimpan gelas itu dengan berwibawa. Elline terlihat menutup mulutnya, ada rasa kaget dan juga senang membuncah di dadanya. Bagaimana pun ia sudah mengenal Maura dalam cukup waktu yang lama dan menurut penilaiannya Maura adalah sosok gadis yang berkepribadian baik.
Sementara Sekretaris Keenan hanya menatap Dave dengan tanpa ekspresi, karena ia sudah tahu hubungan tuan mudanya dengan Maura. Namun ia juga tidak menyangka, Dave akan secepat itu memperkenalkan Maura kepada keluarganya.
"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu itu?" Albert menatap Dave dengan serius.
"Iya, Dad. aku yakin. Aku ingin segera melamar Maura."
"Ay, sebentar lagi kau akan jadi kakak iparku. Ah, aku tidak sabar menanti hari itu tiba!" Valerie bersorak gembira.
Sementara semua orang melihat Valerie dengan tatapan serius. Valerie langsung tersenyum kaku, dan menutup mulutnya. Kemudian ia langsung mengambil beberapa kue dan segera melahapnya, tampak mulutnya penuh dengan makanan. Maura hanya menahan tawanya, melihat tingkah sahabatnya itu.
"Iya, Dad. Sejak Valerie mengenalkanku dengan Maura, aku sudah tertarik padanya dan saat aku mencoba mengenal Maura lebih jauh aku semakin serius untuk menjalin hubungan dengannya," tutur Dave tegas namun sangat sopan.
Lagi-lagi semua menatap Valerie, jadi Dave bisa mengenal Maura karena Valerie. Valerie hanya tersenyum dengan wajah sok imutnya.
"Maura, apa kau serius dengan Dave? Apa kau tidak akan menyakiti putraku?" Albert mengintegorasi Maura dengan tegas dan berwibawa.
Maura menatap Albert dengan sedikit menciut, sebelumnya ia tidak pernah berfikir untuk diperkenalkan kepada keluarga Dave. Ia juga tidak pernah berharap akan menjadi pendamping hidup seorang Dave Abellard. Namun ia sudah melangkah sangat jauh, ia tidak boleh mundur kembali. Saat mengingat kondisi Razel, Maura seperti mempunyai keberanian untuk menatap Albert, bagaimana pun ia harus membantu misi ayahnya.
"Iya, paman. Maura akan mencoba menjadi yang terbaik untuk Dave," jawab Maura dengan mantap
Mendengar perkataan Maura, ada rasa bahagia yang menyelimuti hati Dave. Dave semakin mempunyai harapan yang besar untuk menjadikan Maura sebagai istrinya. Dengan perkataan Maura, bukankah itu sudah mewakilkan jika Maura mau menjadi pendamping hidupnya? Ia tak sabar untuk menantikan hari itu segera tiba.
"Baiklah. Paman akan merestui hubunganmu dengan Dave. Tolong jangan sakiti dia dan dampingi anakku dalam keadaan suka maupun duka!" Albert melunak, ia tersenyum ke arah Maura dan Dave.
"Maura, akhirnya!!" Valerie segera menghampiri Maura dan memeluk sahabat kesayangannya itu.
"Maafkan aku Val!"
**
Saat acara pertemuan sudah selesai, Dave segera mengajak Maura ke atas balkon. mereka tampak duduk bersisian di kursi yang ada di balkon itu. Tampak salju turun dengan itensitas agak lebat.
"Maura?" panggil Dave sembari menggenggam jemari gadis itu.
"Ya?"
"Yang kau katakan tadi itu apakah semuanya benar? Apa kau mau menjadi pendamping hidupku?" Dave menatap Maura dengan tatapan penuh cinta. Maura menganggukan kepalanya pelan.
Dave segera bangkit dari duduknya, ia berjongkok di hadapan Maura yang sedang terduduk.
"Apa kau mau menjadi kekasihku? Aku akan membuktikan kepadamu, aku bisa membahagiakanmu," Dave menggenggam kedua lengan Maura.
Maura menatap Hwan, tampak tidak ada kebohongan di manik mata hijau itu. Jika hatinya mencintai Dave tentunya moment inilah yang akan membuatnya bahagia. Namun justru kenyataan begitu berbalik dengan apa yang ia pikirkan. Ia harus selalu mengingat misi dan tujuannya mendekati Dave.
"Iya, aku mau," Maura tersenyum
Dave tersenyum bahagia, ia segera menarik Maura ke dalam pelukannya. Ia memeluk Maura dengan begitu penuh kasih sayang, Ia tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba, di mana hari ia benar-benar bisa melupakan Rebecca dan memeluk seorang gadis yang ia cintai dengan sepenuh hati.
"Aku berjanji akan membahagiakanmu!" Bisik Dave ditelinga Maura.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗