Memet dan Bety telah menikah. Dan mereka menikmati kehebohan menjalani bahtera rumah tangga karena menikah muda.
Keduanya kerab kali cek-cok mempermasahkan hobi Memet yang suka main game online.
Sementara Bety, ia sangat kesal diabaikan oleh suaminya itu.
Suatu ketika Bety membuat rencana, memberi obat pada minuman Memet, sehingga lelaki itu mabuk tak sadarkan diri.
Bety memutuskan untuk pergi meninggalkan Memet setelah malam pertama mereka.
Tak ada angin tak ada hujan, di saat Memet pusing memikirkan istrinya, sembilan bulan kemudian tiba-tiba saja orang mengantarkan bayi laki-laki kepadanya. Orang itu mengatakan kalau Bety telah meninggal setelah melahirkan anaknya.
Lima tahun kemudian Bety kembali dari luar negeri. Ia menyamar dengan dua anak kecil berumur lima tahun.
Ia melakukan itu untuk menghindari Memet, ia yakin kalau Memet masih marah kepadanya karena telah berani membohonginya.
Tetapi penyamarannya terbongkar, ia ketahuan oleh Memet, hingga membuat lelaki itu murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kulid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
serangan siber
Benar saja, Memet berkata dengan suara marah, “Banzai, sepertinya kau sangat mengenal Aley. Mengapa aku tidak menyerahkan tanggung jawab menjaga Aley kepadamu?”
Setelah Memet mengatakan itu, wajah Banzai langsung menunduk takut dan kemudian ia memohon ampun.
“Pak, saya harus mengurus semua keluarga saya. Maafkan saya. Tuan Aley telah membuat sepuluh orang sopir mengundurkan diri dalam setengah bulan ini. Tiga orang mengalami tekanan darah tinggi karena penyakit jantung koroner, mereka semua frustasi. Dan lima orang dari mereka sekarang menjadi bodoh dan lupa jalan pulang. Dan yang terakhir bahkan mengidap skizofrenia karena trauma…”
Memet membantah tuduhan itu, “Kalau mereka sudah sakit dari awal, kenapa mereka mau menerima tawaran pekerjaan itu. Pekerjaan sebagai sopir jelas tidak cocok untuk mereka.”
Banzai berkeringat cemas mendengar tuturan dari Memet, yang jelas ia tidak ingin mengorbankan dirinya untuk merawat anak autisme seperti Aley.
Banzai mencoba memberikan keterangan yang benar sesuai dengan fakta yang ada, “Pak, bagian berbahaya dari pekerjaan ini bukanlah mengemudi, melainkan tuan Aley yang sangat nakal.”
“Contohnya?” kata Memet dengan santai.
Memet sangat senang mengetahui apa saja perubahan dan tindakan yang dilakukan putranya.
“Contohnya, waktu itu Ismail yang mempunyai riwayat tekanan darah memuji kepintaran tuan Aley, tetapi Tuan Aley malah mengatakan kalau Ismail adalah orang yang paling pintar. Semua itu jelas terlihat karena kepala Ismail yang botak. Oleh karena itu, ketika mendengar kata-kata tuan Aley, tekanan darah tingginya kambuh.”
Alis Memet berkerut. Lidah tajam Aley itu benar-benar harus segera diperhitungkan. Memet berpikir keras mengapa Aley bertindak seperti itu.
Selama ini Aley tidak menyukai adanya orang asing yang mendekatinya. Anak itu selalu bergantung kepada Memet, dan membeci orang lain.
Memet harus memikirkan cara agar bisa menyembuhkan pola pikir Aley. Ia tidak ingin putranya berbeda dari semua anak-anak seumurannya.
“Banzai aku akan mengikuti rencanamu,” kata Memet tiba-tiba.
“Pikirkan cara untuk menemukan Bety sebagai pengasuh Aley.”
Banzai tampak agak malu-malu dan bergumam, “Tapi nyonya Bety telah kabur. Mencoba untuk menangkapnya kembali mungkin akan membutuhkan usaha yang sulit, seperti lima tahun yang lalu.”
Memet mendesah lelah. “Oh, ya?”
Mata Banzai langsung bersemangat setelah mengingat pendaftaran ibu Bety yang belum selesai. Dengan alasan itu, Bety tidak akan bisa melarikan diri lagi.
“Aku rasa kita tidak perlu mengeluarkan tenaga yang banyak untuk menemukannya.”
Di rumah Bety.
Begitu tiba di rumah, Bety bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sangat berantakan karena penyiksaan Memet. Setelah itu ia berganti pakaian.
Ketika ia keluar dari kamar, ia melihat kedua anak-anaknya yang sedang asik menonton televisi di ruang belajar, ia tidak memperdulikannya. Sebaliknya, ia berjalan ke dapur untuk membuatkan makanan.
Di ruang belajar, kedua anak kecil itu berbaring-baring di lantai, menatap layar monitor dengan seksama. Setelah memastikan ibu mereka pergi ke dapur, Celo segera memerintahkan adiknya.
“Cepat tutup pintunya. Aku punya sesuatu yang bagus untuk kuberitahukan kepadamu.”
Celine berlari cepat untuk menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Setelah itu ia berlari menghampiri kakaknya.
“Apa yang ingin kau katakan padaku?” kata Celine memandang Celo dengan penuh semangat.
Celo mengulurkan tangan kanannya yang terkepal erat. Ketika ia membuka jari-jarinya, ada jepitan dasi dalam telapak tangannya.
Celine menggerutu karena merasa itu tidak spesial, “Bukankah ini hanya penjepit dasi biasa?”
“Bukan, ini bukan penjepit dasi biasa.”
“Palingan ini hanya penjepit dasi yang sangat mahal,” Celine mencibirkan bibirnya meremehkan Celo.
Celo berkata dengan memprovokasi, “Apa kau tahu? Jepitan dasi ini diambil dari orang jahat yang menculik mami. Ini adalah barang bukti. Kita bisa menggunakan jepitan dasi ini untuk menemukan penjahat yang menculik mami.”
Celine menatap kakaknya dengan wajah kagum.
“Jika kita menemukan orang jahat itu, bisakah kita membalaskan dendam mami?”
Mata Celo berkilat marah.
“Tentu saja. Aku sudah besar, dan sebagai pemuda, aku bersumpah akan selalu melindungimu dan mami selamanya.”
Celine mengambil jepitan dasi itu dan memperhatikannya dengan seksama.
“Bagaiman kita bisa mengetahui siapa pemilik dari jepitan dasi ini?”
Celo tersenyum licik. “Lihat nama yang terukir di jepitan dasi itu.”
Celine membalikan benda itu dan ia melihat tulisan yang terukir di sana.
“Memet Baskara!” Celine membacakan nama itu dengan jelas.
Celo menambahkan volume tontonannya lalu ia berjalan ke meja komputer, mengetik nama Memet di mesin pencarian. Dari sepertiga detik, munculah hasil penelusuran itu.
“Aku rasa dia adalah orang jahat yang menganiaya mami. Lihatlah Celine. Orang itu adalah pemilik rumah sakit itu, ia juga mempunyai banyak perusahaan. Berarti dia adalah orang kaya.”
Celo menjelajahi halaman profil Memet di mesin pencarian, “Sayang sekali tidak ada fotonya.”
Celine berkata dengan bijak, “Penjahat seperti dirinya tidak akan berani memasang foto mereka.”
Celo tiba-tiba saja tersenyum jahat. Ia sudah memikirkan satu cara untuk membalas kelakuan Memet terhadap ibunya.
Setelah beberapa saat mengutak-atik komputernya, Celo menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia menggunakan nama samaran “Tuan Celo” untuk meretas jaringan gedung perusahaan Memet tempat ia merusak keamanan jaringan. Ia juga mengubah tatanan kata sandi menjadi sistem macet dalam bentuk tantangan yang berbunyi:
“Tuan Memet, beraninya kau mengganggu gadis cantik? Tunjukkan wajahmu agar kita bisa bertarung dengan adil, sebagai sesama pria! Cobalah jika kau bisa berhasil menantangku. Oh ya, apakah kau sudah tahu aku masih berusia lima tahun?”
Ketika selesai, Celo mematikan komputernya dan mereka berdua keluar dari ruang belajar untuk segera makan malam bersama ibu mereka.
Seketika semua orang di gedung rumah sakit itu panik setelah mendapat serangan dadakan dari peretas professional. Mereka menghubungi Memet untuk memberitahukan keadaan yang darurat itu.
“Pak Memet, kabar buruk! Jaringan keamanan gedung kita telah dirusak oleh seseorang!”
Begitu menerima pemberitahuan itu, Memet langsung membuka beranda gedung rumah sakit. Saat ia melihat tantangan provokatif, raut wajahnya langsung berubah seperti hendak ingin membunuh orang.
“Tuan Celo?” Memet menyipitkan matanya.
“Apakah aku terlalu baik selama ini? Sehingga ada orang yang berani menantangku untuk berduel?”
Suhu di ruangan itu tiba-tiba berubah dingin, dan aura dari wajah Memet seketika berubah suram. Orang-orang yang hadir di sana menahan napas takut. Mereka semua takut akan menjadi korban kemarahan berikutnya.
Terlalu baik, pikir Banzai mencerna kembali ucapan Memet. Siapa yang tidak tahu bagaimana sifat bos mereka itu selama lima tahun belakangan ini. Semenjak ia ditipu oleh istrinya, lelaki itu telah bereinkarnasi menjadi raja iblis. Tidak ada yang berani menyentuhnya sedikitpun.
Tentu saja, kecuali Bety.
Tatapan tajam Memet beralih pada Banzai dan layar monitor. “Apa kau sudah menemukan siapa dalang di belakang ini?”
Banzai menunduk dengan wajah takut dan cemas, lalu ia berkata, “Departemen jaringan kami telah mengirimkan peretas terbaik, tetapi belum ada yang melewati dinding pengaman si penyerang. Saat ini kami belum dapat menemukan informasi apapun tentang Tuan Celo.”
“Aley?”
Banzai langsung menggigil mendengar nama Aley.
Aley memang mewarisi bakat Memet dan digabungkan dengan latihannya yang ketat sejak masih kecil, Aley adalah anak yang mempunyai bakat terhebat di dalam dunia peretas. Tetapi, untuk mencari bantuan dari iblis Aley? Tidak mungkin akan menghindari irisan lidahnya yang tajam. Banzai juga harus menerima sarkasme yang mematikan dari anak itu dan juga kejutan lainnya.
ayo promo thor, jangan biarkan karya anda terbengkalai