" Ken, maaf kan aku ! " ucap Jonathan
Kendra tersenyum mencibir.
" Selama aku belum menikah, jangan mimpi kau mendapatkan maafku, dan asal kau tahu, aku tidak gampang menyukai seseorang dan selama aku belum memaafkanmu, kebahagiaan yang kau punya akan kosong dan rapuh seperti cangkang, camkan itu ! " pada kata terakhir, Kendra menunjuk dada Jonathan dengan ujung telunjuknya.
Ig.rii.ena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Aku berani menjamin
Jo dan Ken datang bersamaan, tepat ketika ibu Lastri keluar dari ruangan dokter.
" Bu, Rai dimana ? tanya Jo dengan wajah kecemasan dan kelegaan yang berbaur.
Cemas karena kenapa Rai ada di rumah sakit, lega disebabkan Rai sudah ditemukan.
" Ibu tahu dari siapa Rai ada disini ? " Ken bertanya penasaran.
" Nanti ibu ceritakan, yang paling utama, apa yang menyebabkan Raisa masuk rumah sakit " Ibu Lastri menatap kedua putranya secara bergantian.
Jo dan Ken juga saling menatap, dihati mereka hanya ada satu nama, tetapi mereka tidak bisa sembarangan menuduh sebelum mendengar keterangan dari Rai.
" Dia hampir kehilangan bayinya, kondisi rahimnya sangat lemah, ketakutan dan tekanan mental penyebab utama, itu yang dokter katakan "
Jo terkejut mendengar Rai hampir kehilangan anak mereka.
" Harusnya ketika ibu keberatan, kau bisa membaca makna yang tersirat dari ucapan ibu, Jo, ini yang ibu takutkan, makanya ibu tidak mau kalian pindah untuk sementara ini "
" Maaf, Bu ! aku tidak berpikir sejauh itu, sekarang dimana istriku ? "
Terlihat Jo sangat tidak sabar ingin bertemu dengan Raisa
" Ayo ikut Ibu ! " Bu Lastri jalan mendahului, bagaikan anak kecil, Jo dan Ken mengikuti ibunya berjalan dari belakang.
" Rai " Jo langsung memegang tangan Raisa begitu sampai di ruang perawatan dan berdiri di samping ranjang dimana Raisa berbaring.
Melihat suaminya, hati Raisa semakin terpukul, ia melihat ke arah ibu mertuanya dan menangis semakin kencang.
Ibu Lastri, Ken dan Jo sendiri sedikit bingung dengan reaksi yang Raisa perlihatkan, ia tidak menatap suaminya, tetapi justru menatap ibu mertuanya.
" Ibu..." ucapnya dengan bibir bergetar ditengah tengah tangisannya.
" Rai, kenapa kamu tidak menatap Abang ? katakan jika Abang melakukan kesalahan " Jo seperti orang yang kebingungan menatap ibunya dan Ken bergantian, kenapa Raisa justru semakin menangis begitu Jo sudah datang.
" Rai " Ibu Lastri mengusap punggung tangannya.
Raisa hanya menggeleng dengan kedua bola mata yang penuh dengan air mata, pelan ia melepaskan telapak tangannya yang berada di dalam genggaman tangan Jonathan.
Jonathan membeku melihat gerakan Raisa.
Raisa menarik tangan ibu mertuanya, ia kembali menangis kencang.
Ken yang melihat semuanya hanya bisa diam, hatinya tertusuk melihat Raisa yang sepertinya sangat terpukul, walaupun mereka belum ada yang tahu, ada apa dibalik semua itu.
Tetapi baik Ibu Lastri dan Ken tahu jika penyebab tangisan Raisa adalah Jo.
" Sudahlah Nak, jangan menangis lagi, lihatlah matamu semakin membengkak.
Kau tidak ingin Jo ada di sini ? " tanya ibu Lastri pelan.
Raisa mengangguk lemah.
" Rai " panggil Jo tidak percaya.
Jo benar benar tidak mengerti, selama ini, ia dan Raisa baik baik saja, jika Rai sedang tidak ingin di dekati karena faktor perubahan hormon kehamilannya, Rai tidak pernah sesedih itu sampai menangis, apalagi hingga menolak kehadiran Jo.
Jo tahu pasti bukan karena yang namanya mengidam.
" Jo " Ibu Lastri memberikan isyarat agar Jo keluar dari kamar perawatan.
Jo terlihat keberatan tetapi ia tidak punya pilihan, Ken juga mengikuti Jo keluar dari kamar.
" Kamu sudah bisa cerita apa yang terjadi ? " Bu Lastri menggeser kursi sedikit mendekat ke kepala ranjang.
" Bu, kalau aku bercerai dengan bang Jo, ibu tidak membenci aku kan ? aku tetap anak ibu kan ? " suara Raisa begitu menyedihkan, sehingga ibu Lastri ikut menangis.
" Kamu bicara apa Nak ? itu pamali ? jangan pernah terbersit dalam hati, apa lagi diucapkan " ibu Lastri mengusap air mata yang terus menganak sungai.
Jo dan Ken yang berada di dekat pintu, yang memang dengan sengaja tidak menutup rapat daun pintu, mencuri dengar apa yang Raisa ucapkan
Bukan hanya Jo yang terjengkit kaget, Ken juga tidak kalah terkejutnya dengan apa yang diucapkan Raisa.
Jo ingin menerobos masuk ke dalam kamar tetapi cepat di cegah oleh Ken.
" Kau mau kemana ? mau masuk ? " tanya Ken pelan
" Apa lagi, apa kau tidak mendengar ? Rai ingin bercerai dariku, dia sedang mengandung anakku, dan aku juga sudah mencintainya Ken, apa salahku ? " Jo panik bercampur emosi.
" Aku tahu, sabar dan dengarkan apa yang yang akan di ucapkan selanjutnya " suara Ken menggeram, tangannya menahan lengan Jo agar tidak masuk ke dalam kamar.
" Jo berbuat kasar padamu ? " tanya Bu Lastri pelan.
Raisa menggeleng.
" Jo menyakiti hati mu "
Raisa kembali menggeleng.
" Lantas apa yang membuatmu ingin bercerai dari Jo ? boleh ibu tahu alasannya ? "
" Mbak Lisa hamil, Bu " Raisa kembali menangis.
" Kau tadi bertemu dengan Lisa ? dan mengatakan padamu jika dia hamil anak Jo, begitu ? " Bu Lastri bisa menebak jika Raisa mengalami semua ini karena ia bertemu dengan Lisa
Raisa dengan tersendat sendat karena sisa tangisannya, menceritakan apa yang terjadi tadi sore.
" Dia kan tidak mengatakan jika itu anak, Jo, kamu hanya menduganya, kita bisa menanyakan kebenarannya pada suamimu, ibu yakin Jo tidak seperti yang kamu pikirkan " ibu Lastri berusaha menenangkan Raisa.
" Abang berani bersumpah, itu bukan anak Abang, Abang juga tidak pernah melakukan hal seperti yang ada dalam pikiran mu " ucap Jo melangkah mendekat.
Rai hanya menatapnya, terlihat jika dia belum bisa mempercayai apa yang Jo katakan.
" Iya Rai, benar apa yang dikatakan Jo, aku berani menjamin " ujar Ken menambahkan.
" Percaya pada abang Rai, bukankah Abang sudah mengatakan jika ada berita buruk yang kamu dengar, kamu harus bertanya dulu pada abang ? dan Abang juga sudah berjanji akan mengatakan yang sejujurnya ? "
Jo berdiri di dekat Raisa yang duduk setengah berbaring
" Abang tidak berbohong padaku kan ? " tanya Raisa yang mulai mau menatap Jo.
" Tidak, demi Allah Abang bersumpah, yang telah menitipkan calon anak kita di rahim mu dan demi cinta Abang padamu " Jo mulai melancarkan rayuan gombalnya.
Ibu Lastri hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, sempat sempatnya Jo mengungkapkan cinta, ibu Lastri jadi malu mendengarnya.
( Jika ada yang mau mengakui Jo sebagai anak, ambilah ! ibu Lastri rela ^_^ )
Sementara Ken, hatinya mencelos mendengar pernyataan cinta yang seakan sengaja Jo katakan di depannya.
Karena Raisa harus istirahat total sampai kondisi kandungan baik baik saja malam ini dan beberapa hari ke depan, Dokter menyarankan agar ia dirawat di rumah sakit dahulu.
Ken dan Bu Lastri kembali pulang ke rumah, hanya Jo yang menginap dan menjaga Rai dirumah sakit.
*
*
*
🌹🌹🌹🌹🌹
Andai cinta yang ada di dalam dada bisa kita kuasai sekehendak hati kita.
Tentu aku akan membuang rasa yang ada jauh jauh ke dasar samudra, agar cinta untuknya tidak ada lagi, yang ada cinta untuk istriku.
Tetapi aku bukan penguasa kehidupan, kapan cinta datang dan pergi , hanya sang pemilik hati yang punya kekuasaan mutlak.
( Kendra )
baru awal bab aja udah terasa bedanya... 👍👍👍
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
setelah baca mengejar cinta suamiku & menikah dengan sahabat