NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Proses pemilihan gaun dan diskusi panjang dengan pihak wedding organizer benar-benar menguras sisa tenaga dan emosiku. Setiap detail yang aku pilih seolah hanya formalitas, karena di balik itu semua, aku merasa seperti boneka yang sedang dipersiapkan untuk pertunjukan besar. Ketika akhirnya kami melangkah keluar dari butik, hari sudah mulai sore, dan aku merasa benar-benar lelah.

​Saat G membuka pintu mobil, aku menyadari tidak ada lagi agenda setelah ini. "G," panggilku dengan suara yang terdengar lelah. "Bisakah kita mampir sebentar untuk membeli kopi? Aku benar-benar membutuhkannya saat ini. Kepalaku terasa berat."

​G terdiam sejenak, wajahnya yang kaku tidak menunjukkan simpati sedikit pun. Ia tidak langsung memerintahkan sopir untuk menjalankan mesin mobil, melainkan menatap lurus ke depan.

​"Saya tidak memiliki wewenang untuk mengubah rute, nona," ucapnya dengan nada datar yang memuakkan. "Jika nona ingin berhenti untuk alasan apa pun di luar jadwal yang telah ditetapkan, nona harus meminta izin langsung kepada Tuan Abhinav."

​Aku tertegun di tempat, menatapnya dengan rasa tidak percaya yang mendalam.

Caca " Hanya untuk segelas kopi, G? Aku harus meminta izin padanya hanya untuk hal sesederhana itu? "

​G hanya membalas dengan tatapan dinginnya yang tidak bisa diganggu gugat. " Itu adalah protokolnya. Jika nona ingin kopi, nona bisa memintanya saat sudah tiba di rumah. Sekarang, kita harus kembali. "

​Tiba-tiba, rasa lelahku berubah menjadi kemarahan yang tertahan. Begitu kecil dan tidak berartinya diriku hingga untuk sekadar meneguk kopi saja, aku harus menundukkan kepala di bawah kendali pria itu.

Begitu mobil berhenti di depan teras, aku tidak menunggu G membukakan pintu. Aku mendorong pintu mobil dengan kasar, langkah kakiku menghantam lantai teras dengan amarah yang meluap. Kepalaku terasa akan pecah segala tekanan hari ini dari ancaman, hilangnya Aurora, hingga sekadar segelas kopi yang harus dimintai izin menumpuk menjadi satu gumpalan rasa sesak yang tak tertahankan.

​Aku masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikit pun, menaiki anak tangga dengan napas yang memburu. Begitu sampai di kamar, aku membanting pintu hingga menimbulkan suara dentuman yang keras di seluruh koridor, mencoba menyalurkan segala rasa frustrasi yang tak bisa kukeluarkan lewat kata-kata.

​Namun, saat aku membalikkan badan dan bersandar di balik pintu kayu itu, aku tahu usahaku sia-sia. Dari balik panel pintu yang kokoh, aku bisa merasakan kehadiran G. Ia tidak pergi, ia tidak menjauh. Ia justru berdiri di sana, tepat di depan kamarku, dalam diam yang sangat tegas. Tanpa perlu melihatnya, aku tahu ia sedang bersiaga, menjadi patung pengawas yang akan mematikan setiap percikan keberanian atau rencana "bodoh" yang mungkin muncul di kepalaku.

​Keheningan di luar pintu itu justru jauh lebih menakutkan daripada suara apa pun itu adalah suara dari penjara yang kini mengepungku dari segala sisi.

Aku membiarkan air hangat membasuh seluruh tubuhku di bathtub, mencoba meluruhkan ketegangan yang menempel di setiap inci ototku. Suhu air yang pas sedikit membantu menenangkan detak jantungku yang seharian ini terus berpacu dalam kecemasan. Setelah cukup lama berendam, aku melangkah keluar dan melakukan rutinitas skincare dengan gerakan lambat dan mekanis di depan cermin besar.

​Setelah selesai, aku berjalan menuju ranjang empuk yang terasa seperti satu-satunya tempat persembunyian yang tersisa. Begitu punggungku menyentuh permukaan kasur yang lembut, rasa lelah yang luar biasa menghantamku bagaikan ombak besar. Kelopak mataku terasa sangat berat, seolah ditarik oleh beban yang tak terlihat.

​Di luar sana, aku tahu G masih berdiri di balik pintu, berjaga seperti bayangan yang tak akan pernah lenyap. Namun, rasa lelah itu akhirnya menang. Kesadaranku perlahan memudar, membawa semua kekacauan dan ketakutan hari ini ke alam bawah sadar, hingga akhirnya aku terlelap dalam tidur yang lelap meski aku tahu, besok pagi, kenyataan yang dingin itu akan kembali menyambutku.

Langkah kaki Abhinav yang tenang namun berat menggema di sepanjang koridor menuju kamar utama. Di depan pintu yang tertutup rapat, G sudah berdiri tegak, menyambut kedatangan tuannya dengan posisi sempurna.

​" Tuan," sapa G dengan nada rendah dan formal.

​Abhinav berhenti tepat di depan pintu, matanya yang tajam menatap pintu itu sebelum kembali menatap G. Abhi " Bagaimana keadaannya? "

G ​" Nona tidak keluar kamar sejak sore tadi, Tuan. Nona belum menyentuh makan malamnya," lapor G tanpa jeda. " Saya sempat mengetuk dan mencoba membuka pintu untuk mengantarkan makanan, namun saya menemukannya sudah tertidur pulas. Saya tidak berani membangunkan nona."

​Rahang Abhinav mengeras sesaat, namun ekspresinya tetap datar. Ia melirik pintu yang tertutup itu dengan sorot mata yang sulit dibaca antara rasa ingin tahu dan dominasi yang tak tersentuh. Setelah keheningan sejenak, ia mengalihkan perhatian kembali pada pengawalnya.

​" Kerja bagus," ujar Abhinav singkat. " Pergilah. Istirahatlah, kamu sudah berjaga cukup lama hari ini."

​G menunduk dalam, memberikan hormat yang kaku. " Baik, Tuan."

​Tanpa banyak bicara, G segera berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Abhinav sendirian di depan pintu kamar. Begitu punggung G menjauh, Abhinav memutar kenop pintu, membukanya perlahan, dan masuk ke dalam ruangan yang kini hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur, di mana aku masih terjebak dalam tidur lelap, tak menyadari kehadiran pria yang baru saja kembali untuk mengklaim dunianya.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!