NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30 Mila

Bab 30

Tiga matahari sudah terbenam sejak kami mulai mencari. Kakiku yang terbungkus sepatu bot bulu sudah menginjak hampir semua batu dan salju di sekitar bukit ini. Kami mencari di atas bukit, di sela-sela pohon pinus, bahkan sampai ke ujung bawah bukit.

Tapi tidak ada apa-apa.

Jejak kuda orang-orang jahat yang membawa Kak Qatilah dan Tante Ruth menghilang begitu saja. Saljunya mulus, tidak ada kotoran kuda, tidak ada ranting patah. Seolah-olah mereka semua terbang ke langit atau ditelan oleh bumi.

Karena hari sudah mulai gelap, Ayah menyuruh kami berhenti. Kami membuat perkemahan di dekat akar pohon besar di kaki bukit.

Aku baru saja kembali dari dalam hutan yang gelap. Di tanganku, ada lima ekor kelinci salju yang gemuk. Aku memegang telinga mereka yang panjang. Saat aku berjalan mendekati api unggun yang baru menyala, aku mendengar Tante Astrid menggerutu sambil melempar ranting ke dalam api.

"Ini omong kosong," sungut Tante Astrid kesal. Baju besinya bergemerincing saat ia bergerak. "Bagaimana bisa mereka semua hilang begitu saja? Apa mereka memang diculik oleh roh jahat?"

Ayah yang sedang duduk bersila di seberangnya mendengus keras. "Heh, mana ada roh naik kuda!"

"Apa kau tak percaya akan adanya roh?" Tante Astrid memiringkan kepalanya, menatap Ayah dengan tajam.

Ayah diam sebentar. Matanya yang besar menatap kobaran api. "Keluarga yang aku cari, sekaligus orang yang kuanggap seperti anakku sendiri, selalu mengatakan padaku kalau semua hal bisa dijelaskan oleh pikiran kita. Bahkan kepercayaanku pada para dewa hampir selalu sirna jika dia sudah mulai menjelaskan hal-hal tertentu."

Tante Astrid tiba-tiba tertawa. Suaranya lantang dan renyah. "Hahaha! Si anak bernama Qatilah ini makin lama aku dengar memanglah gadis kecil yang sangat unik. Kau dan Mila selalu saja membicarakan betapa hebatnya dia. Aku jadi tak sabar ingin bertemu dengannya."

Mendengar nama Kak Qatilah disebut, aku langsung melompat keluar dari balik semak-semak.

"Ayah! Tante, lihat!" seruku sambil mengangkat tanganku tinggi-tinggi. "Aku dapat banyak kelinci!"

Wajah garang Ayah seketika berubah cerah. Ia tersenyum sangat lebar. "Hooo, ini dia anakku yang hebat!"

Tante Astrid melebarkan matanya menatap tangkapanku. "Wah, dia benar-benar berbakat. Baru kemarin kau mengajarinya cara melacak dan berburu dengan diam, sekarang dia sudah bisa bawa pulang banyak kelinci."

Aku membusungkan dada bangga. Aku lalu duduk di dekat api unggun, mengeluarkan pisau kecil dari sabukku, dan mulai menguliti kelinci-kelinci itu. Mengelupas kulit berbulu dari dagingnya sangat mudah jika kita tahu di mana harus memotong.

Tante Astrid bergeser mendekatiku. "Apa mau kubantu?"

Aku menggeleng pelan tanpa menoleh. "Tidak. Kak Qatilah sudah sering mengajariku menguliti hewan agar dagingnya tidak kotor. Ini mudah."

Tante Astrid tersenyum melihatku bekerja. Lalu, ia kembali menoleh ke arah Ayah.

"Ngomong-ngomong, Goran," panggil Tante Astrid. "Kenapa waktu itu, saat Miroslav mengatakan kalau aku ini seorang Witendz, kau langsung berdiri dan bersiap?"

Ayah mengambil sepotong kayu dan mematahkannya dengan satu tangan. Krak! "Ceritanya panjang. Intinya, aku pernah diburu oleh tiga puluh Witendz."

Mata Tante Astrid melotot, lalu tawanya meledak lagi. "Tiga puluh?! Hahaha! Apa yang telah kau lakukan sampai dikeroyok sebanyak itu?"

"Kau tak perlu tahu," gerutu Ayah. Wajahnya ditekuk, membuang muka menatap pepohonan gelap.

"Ooh... kau tipe pria yang penuh misteri ya?" goda Tante Astrid sambil tersenyum jahil.

"Terserah."

Obrolan merekapun terus berlanjut sampai langit benar-benar menjadi hitam pekat. Kami memanggang kelinci tangkapanku dan memakannya sampai habis. Dagingnya gurih dan membuat perutku hangat. Setelah itu, kami masuk ke tenda masing-masing untuk tidur.

Di dalam mimpiku, aku melihat Kak Qatilah tersenyum. Aku harus cepat menemukannya.

Keesokan paginya, udara terasa sangat membekukan hidung. Matahari baru saja naik, memantulkan cahaya yang sangat terang di atas hamparan salju.

Aku mengucek mataku dan merangkak keluar dari tenda. Di saat yang sama, Ayah juga baru saja menyingkap pintu tendanya. Pria raksasa itu menguap lebar, menampakkan giginya yang besar-besar. Tapi tiba-tiba, suara uapannya terputus. Gerakannya membeku.

Aku mengerutkan kening dan mengikuti arah pandangan Ayah.

Di tengah tumpukan salju yang agak lapang, Tante Astrid sedang berlatih mengayunkan pedangnya.

Wush! Wush!

Suara pedangnya membelah angin pagi.

Tapi Tante Astrid terlihat berbeda. Dia tidak memakai baju besi bergemerincing itu. Dia hanya memakai pakaian dalam berbahan kain tipis yang sangat terbuka di bagian lengan, dada atas, dan kakinya, padahal udara sedang sedingin es! Tubuhnya berkeringat, dan ada asap tipis keluar dari kulitnya yang hangat. Rambut pirangnya bergerak-gerak mengikuti ayunan kakinya yang lincah.

Aku menoleh menatap Ayah. Ayah bertingkah sangat aneh.

Awalnya, Ayah memalingkan wajahnya dan menggerak-gerakkan kakinya seperti mau masuk lagi ke dalam tenda secara diam-diam. Tapi anehnya, Ayah tidak masuk-masuk. Dia malah menoleh lagi ke arah Tante Astrid. Mata besar Ayah tidak berkedip sama sekali. Mulutnya sedikit terbuka.

Dan kenapa wajah Ayah jadi merah begitu? Apa Ayah demam karena kedinginan semalaman? Aku berdiri tepat di samping kaki Ayah, ikut menatap Tante Astrid dalam diam. Ayah bahkan tidak sadar aku sudah ada di sebelahnya. Orang dewasa memang aneh.

Tiba-tiba, telingaku menangkap suara yang sangat pelan dari arah belakang pepohonan. Kres... kres...

Aku menajamkan mataku. Di balik semak-semak lebat bersalju, ada bayangan cokelat gelap dan tanduk bercabang yang menyembul. Makanan!

"Ayah, ada rusa!" teriakku kencang.

Ayah tersentak kaget seperti baru saja disambar petir. Tubuh besarnya terlonjak mundur sampai hampir menabrak tenda. Dia buru-buru menoleh padaku sambil menggaruk jenggotnya yang berantakan dengan wajah panik.

Mendengar teriakanku, Tante Astrid juga langsung berhenti mengayunkan pedang. Matanya yang tajam langsung menatap ke arah semak-semak.

"Biar aku saja!" seru Tante Astrid cepat.

Tanpa memakai baju hangatnya, dia berlari sangat kencang menembus salju. Kakinya melompat seringan rusa itu sendiri, mengejar buruan tersebut menghilang ke dalam hutan lebat.

Ayah mendengus kasar. Napasnya keluar berat dari hidungnya. Wajahnya ditekuk dalam-dalam. Kenapa Ayah kesal? Aku kan cuma memberitahu ada rusa? Ayah lalu membungkuk, mengangkat tubuhku dengan satu tangannya seolah aku ini balok kayu kecil, dan membawaku ke tengah perkemahan.

"Ayo buat api unggun lagi!" gerutu Ayah dengan suara berat.

"Oke!" jawabku.

Kami mengumpulkan kayu sisa semalam dan menyalakan api. Suasana pagi itu sangat sepi, hanya terdengar suara gemeretak ranting yang terbakar. Cukup lama kami menunggu sambil memanaskan tangan, sampai akhirnya suara derak salju terdengar mendekat.

Tante Astrid kembali. Ia menyeret rusa besar itu menembus salju dengan satu tangan. Begitu sampai di dekat api unggun yang kami buat, ia menjatuhkan bangkai rusa itu di dekat kaki Ayah. Napas Tante Astrid sedikit terengah-engah, tapi ia malah tertawa pelan.

"Rusa ini bodoh sekali," ucap Tante Astrid sambil mengusap keringat di lehernya.

Ayah mengangkat sebelah alis tebalnya. "Bodoh bagaimana?"

Tante Astrid duduk di dekat api, merentangkan tangannya untuk mencari kehangatan. "Dia lari kencang sekali menerobos semak berduri di ujung sana. Aku kira aku akan kehilangannya. Ternyata, di balik rimbunan semak itu ada sebuah lubang batu yang sangat gelap. Rusa itu menerobos masuk ke sana."

Aku mendengarkan dengan serius. Lubang batu gelap?

"Lalu?" pancing Ayah.

"Lalu, karena di dalam sana terlalu gelap gulita dan bau udaranya aneh, rusa itu ketakutan setengah mati," Tante Astrid terkekeh. "Hewan payah itu tidak berani terus masuk. Dia berbalik dan berlari keluar lagi dengan panik, langsung menabrak tubuhku yang baru saja sampai di depan semak-semak. Jadi, ya sudah... aku tangkap dan kupatahkan saja lehernya."

Tante Astrid menatap Ayah dengan mata bersinar terang. Senyumnya berubah tajam layaknya seorang pemburu yang menemukan mangsa sungguhan.

"Tapi berkat rusa bodoh ini... aku jadi tahu ke mana jejak kuda-kuda dan orang-orang desa itu menghilang."

Ayah seketika menegakkan punggungnya. Matanya yang biasa malas kini menajam. "Apa kau yakin?"

"Iya, sangat yakin," jawab Tante Astrid mantap.

Kami tidak membuang waktu. Kami memanggang sebagian daging rusa itu dengan cepat, memakannya dalam diam karena isi kepala kami sudah tertuju pada satu hal: Kak Qatilah.

Setelah perut kami kenyang, kami membereskan tenda. Aku merapatkan mantel buluku dan menggenggam gagang pedang besi yang diberikan Ayah erat-erat.

Tante Astrid, yang kini sudah kembali memakai baju besinya secara lengkap, berjalan memimpin di depan kami.

Langkah kaki kami terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan karena lelah, tapi karena dada kami dipenuhi oleh rasa tak sabar. Salju berderak di bawah sepatu bot kami. Angin hutan bertiup pelan, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

Ternyata kami berjalan tidak terlalu jauh, masih di sekitar kaki bukit yang selama tiga hari ini selalu kami putari.

Tempat ini hanya berisi gundukan batu-batu raksasa yang tertutup salju tebal dan pepohonan mati yang saling menyilang. Di mata kami kemarin, ini hanyalah jalan buntu.

Tapi Tante Astrid berjalan lurus tanpa ragu ke arah dinding batu yang paling besar. Dinding itu tertutup rapat oleh tirai tanaman rambat berduri yang sudah mati dan kaku karena beku.

Dengan tangan berlapis sarung kulit, Tante Astrid menyingkap semak-semak berduri itu kuat-kuat, merobek sulurnya hingga terbuka lebar.

Mataku melotot lebar. Di balik semak-semak dan batu itu, ada sebuah celah gelap yang luar biasa besar!

"Pantas saja jalan ini tak terlihat!" geram Ayah. Suaranya menggema pelan saat masuk ke dalam celah itu.

"Ya kan?" Tante Astrid menoleh ke belakang, menatap kami dengan senyum puas. "Untung rusa itu menunjukkan jalan ini. Kalau dia tidak lari dan tiba-tiba saja menerobos masuk ke sini, kita mungkin akan terus berputar-putar di hutan sampai musim dingin berakhir."

Ayah menarik kapak besarnya dari punggung. Ujung bajanya bergesekan, berbunyi mengerikan. "Baiklah, ayo coba masuk."

Kami bertiga melangkah masuk melewati celah batu itu. Hawa di dalam sini jauh lebih dingin, lebih basah, dan lebih mencekik daripada salju di luar. Ayah mengambil sebatang kayu pinus berlapis getah, memantiknya dengan batu, lalu menyalakan sebuah obor besar.

Cahaya api yang menyala terang langsung mengusir kegelapan di depan kami.

Aku menatap sekelilingku, napasku seketika tertahan. Wah...

Ini bukan cuma sekadar lubang hewan atau sarang beruang. Ini adalah sebuah gua yang sangat, sangat besar! Jalan setapak di bawah kaki kami bukan tanah lumpur, melainkan bebatuan padat yang cukup rata dan luas. Tiga ekor kuda bisa berjalan berdampingan di sini tanpa saling berdesakan. Pantas saja kuda-kuda para penculik itu berlari masuk tanpa kesulitan.

Aku mendongak ke atas, tapi aku tidak bisa melihat atap gua ini. Cahaya obor Ayah kalah oleh kegelapan pekat yang menggantung tinggi di atas kepala kami. Rasanya seperti bukit di atas kami ini sama sekali tidak ada isinya, hanya rongga kosong yang gelap.

Di sebelah kiri jalan setapak ini, ada suara air yang mengalir sangat deras dan bergemuruh.

Grojog... grojog... swushhh...

Aku menyipitkan mata ke arah kegelapan di samping kami. Ada aliran sungai bawah tanah. Airnya terlihat hitam kelam memantulkan cahaya obor, membelah batu-batu tajam tanpa henti. Mungkin sungai es di luar sana mengalir dan berakhir di tempat ini.

1
Eka
agak bosen sih Thor 2 bab dialog semua, walaupun akhirnya banyak yg terungkap 👍
Maya: sabar ya 🤭
total 1 replies
ThuscarRabbit
nih thor bunga 🤭 /Plusone//Rose/
ThuscarRabbit
gw suka ilustrasinya
Maya: makacih 😄
total 1 replies
ThuscarRabbit
pasti gatel geli geli 🤣
ThuscarRabbit
Bagus sih, isekai tema timur tengah
ThuscarRabbit
berani ya authornya bikin isekai model begini but, semangat aja thor 💪, yg penting enggak melenceng dari sejarah asli 🤭
Maya: semoga ya 🤭
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
loh kok? ohhhh maksud nya bab 1 nya di bawah ya? aduhaku bingung🤣
Maya: ooo iya itu 🤭, males ngarang judul 😄
total 3 replies
Eka
Keren Thor di tunggu updetnya
Eka
oh ini ganti POV ya?
Eka
judulnya apa Thor?
Maya: Thats the way it is 😄
total 1 replies
Eka
wajar sih
Eka
🤣🤣🤣🤣🤣
Eka
yg satu kepo GK prnah liat orang tua yg tua cerdik bet kek kancil 🤣
Eka
kasian 🤣
Eka
detail ya juga gambarinnya ya
Eka
buset beda jauh badannya ya😄 padahal di bab brapa gitu yg ada gambarnya juga masih sama kecilnya sama si mc
Eka
oh jadi emang anak kandung si raksasa ya
Eka
time skip lagi
Eka
sebarbar itu emang ya jaman itu
Eka
suka ni udah mulai ada ilustrasi gambarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!