NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:49.3k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sinar matahari sore perlahan meredup, menyisakan semburat jingga keunguan yang memancar di balik jajaran pegunungan. Kabut tebal khas dataran tinggi mulai turun dengan perlahan, menyelimuti hamparan luas perkebunan teh yang mengelilingi kompleks villa mewah milik keluarga Dirgantara. Dinginnya udara pegunungan perlahan-lahan merayap masuk menembus celah-celah ventilasi, membawa aroma basah dedaunan dan ketenangan yang terasa begitu sunyi, hampir-hampir mencekam.

Di dalam kamarnya, Bianca berdiri mematung di depan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah lereng bukit. Dia baru saja selesai mandi. Rambut panjangnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai pasrah di atas bahu, kontras dengan sweater rajut longgar berwarna krem yang membungkus tubuh rampingnya.

Di tempat ini, jauh dari gemerlapnya Surabaya, dia melepaskan sejenak seragam pelayan yang biasa menempel di badannya. Di balik kesederhanaan itu, cara berdirinya yang tegak dan sepasang mata jernih yang memancarkan ketenangan dewasa tetap memperlihatkan aura seorang wanita berkelas yang takkan bisa dikubur oleh kemiskinan buatan.

Gawai di genggamannya terasa sedikit hangat, menempel erat di telinga kanan. Dari seberang saluran telepon, suara lembut Kirana Adytama terdengar penuh dengan kecemasan yang mendalam, memecah keheningan kamar yang temaram.

"Mbak benar-benar tidak tenang sejak kemarin, Bianca," tutur Kirana, helaan napas beratnya terdengar begitu jelas. "Berita yang beredar di Surabaya dan Jakarta benar-benar keterlaluan. Mereka sengaja menggali kembali masa lalumu, menyebutmu sebagai mantan narapidana seolah-olah kamu tidak punya hak untuk hidup tenang kembali. Bagaimana keadaanmu di sana? Katakan dengan jujur pada Mbak."

Bianca menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman yang penuh ketegaran, bukan lagi ekspresi manja dari gadis berusia awal dua puluhan yang dulu gemar menghamburkan uang keluarga. Kehidupan di balik jeruji besi telah menempanya menjadi baja yang tenang.

"Semuanya baik-baik saja, Mbak Kirana. Tidak usah khawatir," jawab Bianca, suaranya mengalun rendah dan stabil, berusaha memberikan rasa aman pada kakak perempuannya. "Tuan Arlan sudah membantu membereskan semua riak di media massa. Tim hukum Dirgantara Group bergerak cepat mengunci peredaran artikel-artikel itu sebelum dampaknya meluas."

Hening sejenak di seberang sana, sebelum Kirana kembali bertanya dengan nada menyelidik yang cerdas, "Apakah kamu yang turun tangan sendiri untuk masalah sengketa lahan perkebunan itu, Bianca? Mbak tahu kapasitasmu. Tidak mungkin Arlan bisa membalikkan keadaan secepat itu melawan Mahendra tanpa ada dokumen taktis dari Adytama Properti."

Bianca mengalihkan pandangannya ke arah pucuk-pohon teh yang mulai menggelap di luar sana. "Aku bergerak sebisa mungkin, Mbak. Anggap saja ini balasan karena Tuan Arlan sudah bersusah payah melindungiku selama aku berada di vilanya. Aku tidak bisa diam saja melihat pria itu ditekan oleh dewan komisarisnya sendiri hanya karena keberadaanku di sini."

Kirana menghela napas lagi, kali ini nadanya berubah menjadi lebih personal, menyentuh sudut hati Bianca yang selama ini dia gembok dengan rapat. "Lalu... bagaimana dengan hubunganmu sendiri dengan Arlan? Tempo hari, saat Mbak melihatnya secara langsung, Mbak bisa merasakan dengan jelas bagaimana cara pria itu menatapmu. Dia memiliki perasaan yang teramat dalam padamu, Bianca. Seseorang tidak akan mempertaruhkan reputasi bisnisnya demi seorang pelayan jika tidak ada rasa cinta di sana."

Mendengar kalimat itu, Bianca terdiam. Jemarinya yang bebas mencengkeram pinggiran kusen jendela kayu dengan sedikit erat. Pikirannya mendadak menerawang jauh, kembali pada momen subuh tadi di teras depan dan tatapan mata Arlan yang begitu posesif namun sarat akan ketulusan yang teramat dalam. Pria sedingin es itu telah meluluhlantakkan egonya sendiri di depan seorang pelayan bernama Gita.

"Hari ini... Tuan Arlan sudah dua kali menyatakan perasaannya kepadaku, Mbak," bisik Bianca akhirnya, mengakui sebuah kebenaran yang selama ini dia simpan sebagai beban batin tersendiri.

"Lalu, bagaimana jawabanmu?" tanya Kirana dengan nada suara yang sedikit tertahan, menanti dengan penuh harap.

Bianca memejamkan matanya perlahan, membiarkan embusan angin dingin yang menerobos jendela menyentuh permukaan kulit wajahnya.

"Aku tidak memberikan jawaban apa pun, Mbak. Sama sekali tidak menjawab."

"Kenapa, Bianca? Apakah kamu meragukannya?"

"Saat ini posisinya aku berada di sini sebagai Gita Ivara, seorang pelayan yang membantunya merapikan dokumen. Aku masih belum berani melangkah sejauh itu," tutur Bianca dengan kedewasaan seorang wanita yang telah melewati badai hidup yang menghancurkan.

"Aku takut... aku sangat takut kalau rasa suka yang dimiliki Tuan Arlan saat ini hanya bersifat sementara. Sifat yang lahir karena rasa penasaran atas keunikan karakterku atau rasa posesif karena dia belum pernah ditolak oleh seorang wanita. Di usiaku yang sekarang, Mbak... sudah bukan waktunya lagi untuk bermain-main dengan perasaan. Pernikahan Tuan Arlan yang gagal dengan Stella membuatnya skeptis, dan masa laluku yang kelam membuatnya menjadi teka-teki yang berbahaya jika kami bersatu."

Kirana di seberang telepon mendengarkan dengan penuh rasa takzim. Dia mengerti sepenuhnya bahwa adiknya kini bukanlah Bianca yang dulu bertindak tanpa berpikir panjang. Setiap kalimat yang diucapkan Bianca pagi ini didasari oleh kalkulasi emosional yang matang dan penuh kehati-hatian demi menjaga martabat mereka berdua.

"Mbak mengerti, sayang. Mbak sangat paham dengan apa yang kamu rasakan," ucap Kirana, suaranya melembut, memancarkan kasih sayang seorang kakak yang teramat tulus. "Kamu berhak untuk berhati-hati. Tapi ingat pesan Mbak, kelangsungan hidupmu—baik dalam hal kedamaian batin maupun urusan percintaanmu—adalah prioritas utama sekarang. Mbak tidak ingin melihat adik Mbak terluka untuk kedua kalinya karena salah menaruh kepercayaan. Mbak ingin ada seseorang yang benar-benar kuat, seseorang yang bisa melindungimu dan membahagiakanmu tanpa peduli siapa dirimu di masa lalu."

"Aku mengerti, Mbak Kirana. Terima kasih," jawab Bianca pelan, setitik air mata haru sempat menggenang di sudut matanya sebelum dia buru-buru menghapusnya dengan ujung jemari.

Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Kirana, Bianca meletakkan gawainya di atas meja rias kayu jati yang antik. Ruangan kini semakin gelap, hanya diterangi oleh lampu temaram di sudut tempat tidur. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menormalkan kembali detak jantungnya yang berantakan karena percakapan tadi. Saat dia berbalik untuk melangkah menuju pintu luar, langkah kakinya mendadak terkunci.

Di ambang pintu kamar yang sedikit terbuka, sesosok tubuh tinggi tegap sedang berdiri bergeming di kegelapan koridor.

Arlan Dirgantara. Pria itu berdiri di sana dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, menampilkan rahang tegas yang mengeras dengan tatapan mata elang yang teramat pekat, menatap lurus ke arah Bianca.

Jantung Bianca seolah berhenti berdetak seketika. Seluruh sendi di tubuhnya mendadak kaku. Sejak kapan pria itu berdiri di sana? Apakah dia mendengar seluruh percakapannya dengan Kirana? Apakah dia mendengar nama 'Mbak Kirana' yang merupakan figur publik terbesar dari keluarga Adytama Surabaya?

Arlan melangkah masuk ke dalam kamar dengan perlahan, setiap ketukan langkah pantofelnya di atas lantai kayu terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi penyamaran Bianca. Aura posesif dan protektif yang biasa melekat pada dirinya kini bercampur dengan sebentuk kekecewaan yang teramat dalam, menciptakan atmosfer yang begitu menyesakkan di dalam ruangan tertutup itu.

"Siapa yang baru saja meneleponmu, Gita?" tanya Arlan, suaranya bariton, sangat rendah, namun bergetar menahan gejolak emosi yang pas.

Bianca mencoba menguasai ekspresi wajahnya, kembali memakai topeng ketenangan dewasanya yang kaku. "Hanya kerabat jauh saya dari kota, Tuan Arlan. Beliau khawatir dengan berita miring yang beredar kemarin."

Arlan tersenyum tipis. Pria itu melangkah kian dekat, hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma maskulin parfum kayu cendana milik Arlan menyeruak kuat, mengintimidasi ruang napas Bianca.

"Kerabat jauh?" Arlan mengulang kalimat itu dengan matanya menatap dalam-dalam ke dalam manik mata jernih Bianca, mencari setitik kebohongan di sana. "Seorang pelayan desa biasa tidak akan berbicara dengan diksi se-elegan itu di telepon, Gita. Kamu menyebut tentang 'kalkulasi emosional', tentang 'posisi pelayan', dan... kamu meragukan ketulusan perasaanku yang menganggapnya hanya sebagai sifat sementara?"

Arlan meraih kedua bahu Bianca dengan genggaman yang kuat namun tidak menyakiti, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya.

"Kamu bilang di usiamu yang sekarang bukan waktunya lagi untuk main-main, bukan?" desis Arlan, napasnya yang hangat menerpa kening Bianca. "Lalu mengapa kamu terus bermain-main denganku? Kamu menyembunyikan sesuatu yang teramat besar di balik seragam pelayan ini, Gita. Siapa kamu sebenarnya? Mengapa setiap kali aku mencoba melangkah mendekat, kamu selalu membangun dinding pertahanan yang begitu tebal seolah-olah aku adalah musuh yang siap menghancurkanmu?!"

Bianca menatap balik sepasang mata Arlan yang berkilat terluka. Dia bisa merasakan betapa skeptisnya pria ini terhadap kebohongan akibat masa lalunya dengan Stella, dan kini dia justru menjebak Arlan ke dalam kebohongan yang jauh lebih besar.

"Saya tidak bermaksud mempermainkan Anda, Tuan Arlan," jawab Bianca, suaranya parau namun tetap terdengar berkelas. "Saya hanya tahu diri. Saya hanya seorang pelayan di vila ini."

"Persetan dengan status pelayan itu!" bentak Arlan lirih, emosinya pecah di tengah kesunyian malam hulu Jawa Barat. Pria itu menarik tubuh Bianca ke dalam dekapannya yang teramat erat, sebuah pelukan yang posesif, protektif, sekaligus penuh keputusasaan. "Aku tidak peduli siapa dirimu, Gita. Tapi jika kamu terus menyembunyikan kebenaran dariku... aku takut rasa penasaran ini akan berubah menjadi sesuatu yang bisa menghancurkan kita berdua."

***

1
Mundri Astuti
ngomong" napa jadi muter" y thor si Arlan dan Bianca, ga da kemajuan
✦͙͙͙*͙*ᴍs.ʀ͠ᴇɴᴀ✨: pelan² lah ya, masalah mahendra dan stella kan baru selesai. setelah ini fokus ke mereka, lebih ke sikap posesif Arlan 😄
total 1 replies
💟노르 아스마💟
lahhh ...provokatornya gk di habisin itu
Mukeseh
setela salah lawan woe setela setela 🤣🤣
Anonim
😍😍
Anonim
Mantap
ryuka
duuhhh bianca gimana cara nya arlan biar kamu luluhhh 🫠🫠🫠🤭🤭🤭
merry yuliana
jd dejavu sm.kirana yak..
Anonim
😍😍😍😍
Del Vina
cerita bagus cuma alurnya lambat
Tangsah Jagad
gak mungkin Raditya gak ngasih tau kalo di tanya arlan
Mukeseh
hubhihi 🤣🤣🤣🤣 othor pintar bikin q deg deg pyor 😂
Mundri Astuti
Arlan kamu main ke rumah Raditya, sapa tau ada foto keluarga Kirana dan keluarganya
Anonim
😍😍😍😍
@Tie
bianca kabur aja yg jauh ke luar negeri sekalian, kl msh di indo gk aman
mkn maen rahasia arlan makin posesif
fatmawati (pipit)
gita harus jujur saja bahwa dia adalah Bianca aditama yg menyamar sebagai gita ivara
untuk doni harus secepatnya menemukan kejanggalan tentang gita dan bianca adytama
ryuka
bianca.. gapapa kok jujur. kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠
Tangsah Jagad
Bianca apa salah nya sih jujur, dan arlan ngapain juga ngotot hbngan mereka hanya batas pekerjaan
Verawati Naycyl
sudah Bi...jangan maen teka teki terus ...kasihan Arlan sampai puyeng cari tau identitas kamu yg sebenarnya..
Mukeseh
deg deg thor 😂😂tp cepat atau lmbt pasti aksn tsu arlsn
Sri Murtini
pak Haryo memang top markotop dlm geraknya melindungi Byanca dlm penyamaran sbg Gita .
makin percaya aja deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!