NovelToon NovelToon
Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:920
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
​Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
​Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dante Mulai Terang-terangan Menggoda

Kehadiran Kopral Gatito di ruko Palmerah terbukti membawa dampak besar bagi stabilitas emosional klan De Luca. Valerio kini memiliki rutinitas baru yang membuatnya tampak lebih manusiawi, sementara Reno—si pencuri parkour jalanan—menjalankan tugas logistiknya dengan patuh karena takut pada kombinasi tatapan dingin Valerio dan cakar maut si kucing oranye.

​Namun, kedamaian domestik itu tidak menghentikan dinamika lain yang mulai bergejolak di lantai dua ruko. Jika Lorenzo adalah sosok pemimpin yang mengintimidasi secara visual dan Valerio adalah dinding batu yang tak tertembus, maka Dante adalah variabel paling berbahaya jika menyangkut masalah kecerdasan intelektual. Sang genius siber klan De Luca itu biasanya hanya peduli pada barisan kode biner, algoritma enkripsi militer, dan kestabilan server tim Aegis Esports.

​Tetapi, sejak rahasia sirkuit spiritual mereka terputus total oleh ciuman di atas kapal pesiar Mediterania, ada sesuatu yang bergeser di dalam diri Dante. Pria berkacamata dengan tatapan mata yang tajam namun teduh itu mulai menyadari keberadaan Bianca bukan lagi sekadar sebagai "subjek eksperimen pertukaran jiwa" atau manajer lokal yang berisik. Bagi Dante, Bianca adalah anomali paling menarik yang pernah ia temukan dalam hidupnya—sebuah teka-teki tanpa rumus matematika yang mendadak ingin ia pecahkan dengan cara yang sangat tidak biasa: terang-terangan menggoda.

Siang itu, cuaca Jakarta di luar ruko terasa sangat menyengat, membuat aspal Palmerah seolah mengeluarkan uap panas. Di dalam ruang kontrol siber, Bianca sedang duduk di sebelah meja Dante sambil memegang buku catatan logistik tim Aegis. Ia sedang menghitung sisa anggaran untuk membeli kursi gaming baru bagi para pemain yang akan bertanding di turnamen pekan depan.

​"Mas Dante," panggil Bianca tanpa menoleh dari kalkulator ponselnya. "Ini kalau kita beli lima kursi impor dari Taiwan, kira-kira sisa kuota internet server kita bakal keganggu nggak harganya? Saya pusing nih, angka-angkanya desimal semua."

​Dante tidak langsung menjawab. Ia menghentikan ketukan jarinya di atas papan ketik mekanik, lalu memutar kursi hidroliknya hingga berhadapan langsung dengan Bianca. Ia melepas kacamata minus berbingkai hitamnya, membersihkan lensanya perlahan dengan ujung kemeja flanelnya, lalu memakainya kembali. Matanya menatap lekat-lekat ke arah Bianca yang wajahnya tampak kusut dengan sebatang pulpen yang terselip di antara sanggul rambutnya yang berantakan.

​"Secara matematis, Bianca, anggaran kursi itu tidak akan memengaruhi performa server," ucap Dante, suaranya terdengar renyah namun memiliki intonasi rendah yang sengaja ditekankan. "Tapi yang membuatku heran adalah... kenapa kau harus menghitung desimal yang rumit itu sendirian jika di depanmu ada seorang pria yang bisa menghitung seluruh orbit satelit siber hanya dalam waktu tiga detik?"

​Bianca menoleh, berkedip beberapa kali karena bingung dengan nada bicara Dante yang mendadak terdengar sangat... bersahabat. "Ya... kan Mas Dante lagi sibuk ngurusin pertahanan siber klan dari sisa-sisa agen Prancis kemarin. Saya nggak enak kalau mau ganggu urusan elit begitu cuma buat nanya harga kursi."

​Dante condong ke depan, menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja Bianca, memperkecil jarak di antara mereka hingga Bianca bisa mencium aroma parfum maskulin beraroma kayu cedar dan kopi arabika yang khas dari tubuh Dante.

​"Urusan Eropa itu hanya pengulangan kode yang membosankan, Bianca," bisik Dante, sebuah senyuman tipis yang sangat jarang terlihat kini menghiasi sudut bibirnya. "Menatap barisan angka di buku catatanmu... atau menatap matamu yang sedang kebingungan, jauh lebih memiliki nilai urgensi yang tinggi dalam sistem prioritasku saat ini."

​Jantung Bianca mendadak melewatkan satu detakan. Ia menatap Dante dengan pandangan tidak percaya. Selama ini, Dante dikenal sebagai pria yang paling kaku dan teoritis di antara keluarga De Luca. Mendengarnya bicara seperti itu rasanya seperti melihat kecoak bisa melakukan tarian balet.

​"Waduh, Mas Dante..." Bianca tertawa canggung, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak terasa lebih panas dari udara Palmerah di luar. "Ini Mas Dante lagi salah minum obat ya? Atau ada kode server yang bocor ke otak? Kalimatnya kok agak-agak mirip buaya darat glodok begitu."

Dante tidak mundur. Ia justru terkekeh pelan, sebuah suara renyah yang membuat bulu kuduk Bianca meremang dengan cara yang aneh.

​"Aku seorang ilmuwan, Bianca. Aku tidak memalsukan data, dan aku tidak menggunakan metafora murahan seperti para pria lokal yang sering merayumu di pasar tradisional," Dante berdiri, berjalan perlahan mengitari kursi Bianca. "Setiap kalimat yang kuucapkan didasarkan pada observasi empiris. Selama tiga puluh hari terakhir, detak jantungku mengalami peningkatan sebesar dua belas persen setiap kali kau masuk ke ruangan ini membawa es teh manis. Menurut jurnal medis yang kubaca, itu adalah indikasi psikologis bahwa subjek... sedang sangat tertarik pada objeknya."

​Bianca memutar kursinya mengikuti pergerakan Dante, wajahnya mulai merona merah muda. "Mas, tolong ya... jangan bawa-bawa istilah medis buat nge-gombal. Saya ini anak sastra, bukan anak kedokteran! Nggak mempan digituin!"

​"Oh, benarkah?" Dante menghentikan langkahnya tepat di belakang kursi Bianca. Ia membungkuk sedikit, menaruh kedua tangannya di atas sandaran tangan kursi Bianca, mengunci posisi gadis itu di antara tubuhnya. "Kalau begitu, mari kita uji dengan teori sastra yang kau kuasai. Jika aku mengatakan bahwa keberadaanmu di ruko ini telah meretas seluruh sistem logikaku hingga membuatku tidak bisa membedakan antara angka biner nol dan satu... apakah itu memenuhi standar estetika bahasamu?"

​Bianca menelan ludah, merasa punggungnya menempel erat pada dada Dante yang meskipun tersembunyi di balik kemeja longgar, tetap terasa tegap dan hangat. Ia mencoba mencari bantuan dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, namun ruang kontrol siber itu kedap suara dan tertutup rapat.

​"Mas Dante... ini kalau Mas Lorenzo masuk, kita bisa dijadikan target latihan menembak lho," ancam Bianca dengan suara yang agak bergetar, mencoba menggunakan nama sang Capo sebagai tameng darurat.

​"Lorenzo sedang berada di pelabuhan bersama Valerio untuk mengurus kargo logistik tim," balas Dante dengan nada yang sangat tenang, matanya menatap bibir Bianca yang sedikit terbuka karena gugup. "Dan lagipula, Lorenzo tidak memiliki otoritas atas hukum ketertarikan interpersonal di dalam ruko ini. Sirkuit kalian sudah terputus seutuhnya, bukan? Jadi, aku memiliki hak akses penuh untuk melakukan pendekatan tanpa melanggar protokol klan."

​Dante mengulurkan tangan kanannya, dengan sangat lembut mengambil pulpen yang terselip di rambut Bianca, membuat beberapa helai rambut panjang gadis itu jatuh terurai membingkai wajahnya yang kini sudah merah padam seperti kepiting rebus.

​"Rambutmu lebih bagus jika digerai seperti ini," ucap Dante pelan, jarinya sempat menyentuh ujung daun telinga Bianca yang hangat sebelum ia melangkah mundur dengan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan di mata Bianca. "Sekarang, berikan buku catatanmu. Aku akan menyunting seluruh anggaran kursimu dalam waktu lima menit, termasuk menambahkan anggaran untuk camilan es krim cokelat kesukaanmu."

Bianca hanya bisa melongo menatap punggung Dante yang kini sudah kembali duduk di depan komputernya, mengetik dengan kecepatan monster seolah-olah interaksi intens yang baru saja terjadi di antara mereka hanyalah jeda iklan yang tidak berarti.

​"Sinting... ini bule genius lama-lama bikin jantungan," umpat Bianca dalam hati, memegangi dadanya yang masih bergemuruh kencang.

​Sebelum Bianca sempat menata kembali hatinya yang acak-acakan, pintu ruang kontrol siber mendadak terbuka dengan sentakan keras. Lorenzo melangkah masuk dengan jubah taktis hitamnya yang panjang, membawa aroma angin laut Jakarta utara yang kuat. Di belakangnya, Valerio berjalan sambil menggendong Kopral Gatito yang sedang tertidur pulas.

​Lorenzo menatap tajam ke arah ruangan, matanya yang sepeka elang langsung menangkap adanya sisa-sisa ketegangan emosional yang tidak biasa di antara Dante dan Bianca. Ia melihat rambut Bianca yang terurai berantakan dan buku catatan logistik yang kini sudah berada di bawah kendali jemari Dante.

​"Dante," panggil Lorenzo, suaranya yang berat langsung menurunkan suhu ruangan hingga ke titik beku. "Bagaimana perkembangan enkripsi server peluncuran data untuk turnamen besok? Apakah ada gangguan dari sisa-sisa jaringan Prancis?"

​Dante tidak menoleh dari layarnya, namun nadanya terdengar sangat santai—sebuah sikap yang hanya berani dilakukan oleh Dante di hadapan sang Capo dei Capi. "Semua sistem aman, Lorenzo. Aku baru saja memperbarui dinding pertahanan siber kita. Tidak akan ada yang bisa meretas ruko ini dari luar."

​Dante memutar kursinya sedikit, melirik ke arah Bianca dengan tatapan mata yang penuh arti di balik kacamatanya. "Namun... pertahanan internal ruko ini tampaknya sedikit goyah. Beberapa enkripsi emosional baru saja berhasil ditembus dari jarak dekat."

​Lorenzo menyipitkan matanya, mengalihkan pandangannya dari Dante langsung ke arah Bianca. "Bianca. Apakah pria ini mengganggumu dengan teori-teori siber konyolnya lagi?"

​Bianca langsung gelagapan, ia berdiri dengan cepat hingga kursinya berdecit nyaring di atas lantai. "Eh! Enggak kok, Mas Bos! Ini... Mas Dante cuma lagi bantuin saya ngitung desimal harga kursi! Iya, bener! Ngitung kursi doang, nggak ada yang lain!"

​Valerio yang sejak tadi diam di pojokan ruangan sambil mengelus dagu Kopral Gatito mendadak mengeluarkan suara dengusan kecil. "Lorenzo, detak jantung Bianca saat ini berada di angka sembilan puluh lima per menit. Pupil matanya melebar, dan ada rona kemerahan yang tidak alami di jaringan kulit pipinya. Berdasarkan latihan interogasi militer kita di Palermo... gadis ini sedang berbohong untuk melindungi seseorang."

​Bianca rasanya ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Menghadapi satu klan mafia yang semuanya memiliki kemampuan analisis setingkat agen rahasia papan atas benar-benar menguras kesehatan mentalnya sebagai manusia biasa.

​"Aduh, Mas Val! Jangan pakai ilmu interogasi Palermo di sini dong!" keluh Bianca, wajahnya semakin memerah karena malu. "Saya mau ke lantai bawah dulu ya, mau ngebantu Reno nyuci motor! Permisi!"

​Bianca berlari keluar dari ruang kontrol siber dengan langkah seribu, meninggalkan tiga pria De Luca yang kini saling menatap dalam keheningan yang sarat akan makna taktis.

Setelah pintu menutup rapat, Lorenzo melangkah mendekati meja kerja Dante. Ia menaruh kedua tangannya di atas meja, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan wajah adiknya.

​"Dante," ucap Lorenzo dengan nada yang sangat rendah, sebuah peringatan murni dari seorang pemimpin tertinggi. "Bianca adalah aset paling berharga bagi operasi kita di Asia. Dia adalah manajer lokal kita, dan dia adalah orang yang menghubungkan klan kita dengan realitas kota ini. Jangan bermain-main dengannya menggunakan eksperimen psikologismu."

​Dante menatap balik mata elang kakaknya dengan ketenangan yang mutlak. Ia tidak gentar oleh aura intimidasi Lorenzo yang biasanya membuat para menteri di Eropa gemetar.

​"Aku tidak sedang bermain-main, Lorenzo," jawab Dante, suaranya terdengar sangat serius, kehilangan seluruh nada bercandanya yang tadi. "Aku telah menganalisis semua variabel selama berbulan-bulan. Sejak kita berada di tubuh yang salah, aku melihat bagaimana dia merawat jiwa kita dengan ketulusan yang tidak pernah kita dapatkan di Sisilia. Kau mungkin menganggapnya sebagai aset taktis... tapi bagiku, dia adalah satu-satunya anomali yang membuat hidupku di dunia digital ini terasa nyata. Dan aku tidak berencana untuk melepaskan anomali itu begitu saja."

​Valerio berjalan mendekati mereka, meletakkan Kopral Gatito di atas meja komputer Dante dengan perlahan. "Jika ini adalah perang wilayah untuk memperebutkan hati sang manajer... pastikan kalian tidak menghancurkan ruko ini. Ibu Sukeni baru saja memperingatkan kita tentang iuran kebersihan lingkungan yang belum dibayar."

​Lorenzo terdiam sejenak, menatap Dante yang masih menunjukkan keteguhan mata yang sama, lalu perlahan menegakkan tubuhnya kembali. Ia membetulkan letak jubah hitamnya dengan gerakan elegan.

​"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, Dante," ucap Lorenzo akhirnya sebelum berbalik menuju pintu keluar. "Tapi ingat satu hal: di duniaku maupun di duniamu... seorang De Luca tidak pernah menerima kekalahan dengan mudah. Dan jika Bianca pada akhirnya memilih logikaku daripada algoritmaru... jangan meretas server komunikasiku sebagai bentuk protes."

​Dante tersenyum tipis, matanya menatap pulpen milik Bianca yang kini tergeletak manis di samping papan ketiknya. "Kita lihat saja nanti, Kakak. Biarkan algoritma takdir yang menentukan siapa di antara kita yang memiliki kode enkripsi terbaik untuk mengunci hatinya seutuhnya."

​Siang itu, di bawah kepungan hawa panas Palmerah, markas mafia De Luca resmi membuka babak baru yang jauh lebih rumit daripada konspirasi senjata siber Eropa. Sebuah perang tak terlihat namun sarat akan getaran romantis telah dimulai di lantai dua ruko, di mana Dante sang genius siber kini telah terang-terangan menunjukkan taring pesonanya untuk memburu hati sang manajer lokal, mengubah belantara gang senggol menjadi arena pertempuran romansa taktis yang tidak akan pernah bisa ditebak oleh rumus matematika mana pun di dunia.

1
lin sya
thor dari awal bab smpe bab 41, aku menikmati alur yg dibaca, kocak ceritanya apalagi pemeran bianca dan ke 3 mafia kaku, smgat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!