Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Satu hari berjalan begitu cepat.
Menjelang sore, Nara tengah mengunjungi pabrik baru milik Dhanubrata Group yang belum genap satu bulan beroperasi. Wanita itu berjalan menyusuri area produksi ditemani Tiwi serta beberapa staf penting perusahaan.
Suasana pabrik tampak sibuk. Suara mesin yang bekerja bersahut-sahutan memenuhi ruangan besar itu. Para pekerja yang melihat kedatangan Nara langsung menundukkan kepala hormat.
"Selamat sore, Nona."
Nara hanya membalas dengan anggukan tipis, tetapi langkahnya tidak berhenti. Tatapannya bergerak tajam mengamati setiap sudut ruangan. Sesekali ia berhenti untuk memeriksa laporan produksi yang dibawa salah satu staf.
"Jumlah produksi minggu ini turun tiga persen dibanding target," ucap Nara tiba-tiba.
Kalimat itu langsung membuat beberapa staf saling berpandangan gugup. Padahal mereka bahkan belum sempat menjelaskan laporan detailnya.
"Penyebabnya distribusi bahan baku terlambat dari gudang pusat, Nona," jawab salah satu kepala divisi cepat.
Nara menoleh. "Berapa hari keterlambatannya?"
"Dua hari."
"Dan kalian membiarkan mesin produksi berhenti selama itu?" Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup membuat suasana langsung menegang.
Pria itu menelan ludah. "Kami sedang mencari solusi alternatif, Nona."
"Sedang mencari?" ulang Nara datar. "Perusahaan membayar kalian bukan untuk mencari alasan. Saya ingin solusi sebelum masalah terjadi."
Tiwi yang berjalan di belakang hanya diam sambil mencatat sesuatu di tablet. Ia sudah sangat terbiasa dengan cara kerja atasannya itu.
Nara memang terkenal dingin. Namun, dibalik sikapnya, wanita itu benar-benar menguasai pekerjaannya. Ia bahkan hafal detail kecil yang sering luput dari perhatian orang banyak.
Langkah Nara kembali berlanjut menuju area pengecekan barang jadi. Jemarinya menyetuh salah satu produk yang baru selesai dikemas. "Kualitas packing bagian ini kurang rapi," komentarnya singkat.
Salah satu supervisor langsung pucat. "Maaf, Nona. Saya akan evaluasi bagian quality control."
"Bukan evaluasi." Nara menatap pria itu lurus. "Perbaiki hari ini juga."
"Baik, Nona."
Beberapa pekerja diam-diam memperhatikan sosok wanita itu dengan kagum bercampur takut. Meski masih muda, aura tegas Nara terlihat berbeda. Tidak heran jika Dhanubrata mempercayakan banyak anak perusahaan padanya.
Di tengah inspeksi itu, Tiwi yang berjalan di samping Nara sempat melirik wanita itu diam-diam. Sulit dipercaya jika sosok yang kini terlihat begitu profesional dan dingin itu adalah orang yang tadi pagi sibuk memesan makan siang dari RT hanya demi menyenangkan tetangga seorang pria yang belum lama dikenalnya.
****
Langit mulai berubah jingga ketika kunjungan pabrik akhirnya selesai.
Nara berjalan keluar area produksi bersama Tiwi dan beberapa staf lainnya. Setelah memberikan instruksi terakhir pada kepala divisi pabrik, wanita itu langsung menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan gedung.
Begitu pintu mobil tertutup, Nara langsung menyandarkan tubuhnya lelah pada kursi belakang.
Tiwi yang duduk di sampingnya diam-diam melirik. "Nona lelah?" tanyanya hati-hati.
"Sedikit."
Padahal sejak tadi di pabrik, Nara terlihat sama sekali tidak kehilangan fokus sedikit pun.
Mobil mulai melaju meninggalkan area industri. Suasana di dalam kendaraan sempat hening beberapa menit hingga akhirnya Tiwi membuka suara.
"Apa kita akan kembali ke kantor lagi, Nona?" tanya Tiwi hati-hati.
"Tidak," jawab Nara singkat. Ia lalu melirik pada Tiwi. "Aku akan pergi menemui Sagara. Kau bisa pulang diantar sopir."
Tiwi langsung menoleh cepat. "Nona mau menemui pria itu lagi?" tanyanya heran. "Tapi untuk apa? Bukankah Anda bilang akan membawanya besok siang menemui Tuan Besar."
Nara menyandarkan tubuh santai pada kursi belakang sambil memainkan ponselnya. "Aku hanya ingin memastikan dia tidak berubah pikiran."
Tiwi langsung terdiam beberapa detik. Jujur saja, semakin lama ia merasa atasanya mulai terlalu sering memikirkan Sagara. Padahal hubungan mereka hanya kesepakatan pura-pura semata.
"Menurut saya, Sagara bukan tipe pria yang mudah mengingkari janji, Nona," ucap Tiwi hati-hati.
"Aku tahu," jawab Nara santai.
"Lalu kenapa Nona masih ingin menemuinya?"
Sudut bibir Nara terangkat tipis. "Karena aku mau."
Jawaban singkat itu langsung membuat Tiwi kehabisan kata-kata. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap Nara penuh arti. "Ternyata, Nona Nara yang terkenal dingin dan tegas, kalau sedang jatuh cinta malah jadi kekanakkan," gumam Tiwi dalam hati.
****
Sementara di sisi lain.
Sagara baru saja pulang bekerja. Tubuhnya terasa pegal setelah seharian berada di bengkel melayani banyaknya pelanggan yang datang. Motor andalannya melaju perlahan memasuki gang kontrakannya yang mulai ramai menjelang malam. Namun, baru saja ia turun dari motor.
"Eh, Sagara datang!" Suara Bu Sari langsung terdengar nyaring di depan rumah
Sagara yang masih melepas helm langsung mengernyit bingung saat beberapa tetangganya tiba-tiba menghampiri dengan wajah cerah.
"Terima kasih ya, Ga!" ucap seorang ibu berdaster merah.
"Iya, makanannya enak banget!" timpal ibu di sebelahnya.
"Pacarmu baik sekali," puji seorang ibu paruh baya.
Sagara langsung membeku. "Makanan?" ulangnya pelan bingung.
Bu Sari tertawa lebar sambil membawa beberapa kotak makanan yang tadi siang dikirim. "Loh, jangan bilang kamu nggak tahu?" tanyanya heboh. "Pacarmu tadi ngirim makanan lengkap buat satu RT!"
Dahi Sagara langsung berdenyut. 'Pacarnya'. Ia bahkan tidak perlu menebak siapa pelakunya. "Naraya ...," gumamnya pelan frustasi.
"Udah cantik, kaya, baik lagi," lanjut Bu Sari penuh semangat. "Jarang-jarang ada perempuan seperti itu."
Beberapa ibu-ibu lain langsung ikut mengangguk setuju.
"Doa ibu-ibu di sini pokoknya semoga kalian langgeng sampe nikah," ucap Ibu paruh baya.
"Aamiin!" Ibu-ibu lain langsung menjawab kompak.
Sagara memijat pelipisnya kasar. "Bu, itu cuma ..."
"Udah jangan malu-malu," potong Bu Sari cepat sambil tertawa. "Kelihatan banget dia kecintaan sama kamu."
Sagara menghembuskan napas panjang. Ia mulai merasa hidup tenangnya perlahan hancur. Dan lebih parahnya lagi, wanita itu bahkan belum resmi menjadi pacar pura-puranya di depan keluarga Dhanubrata, tetapi sudah sukses menguasai satu gang kontrakannya.
Di tengah kekacauan itu, suara motor lain tiba-tiba terdengar memasuki gang.
Andi datang sambil melepas helmnya santai. Namun, begitu melihat beberapa kotak makanan di tangan Bu Sari, pria itu langsung mengernyit. "Eh, ada apa ini?"
Bu Sari langsung menjawab semangat, "pacarnya Sagara tadi ngirim makanan buat satu RT!"
Andi langsung membelalak tidak percaya. "HAH?!" pria itu buru-buru menoleh pada Sagara. "Beneran, Ga?"
Sagara malah terlihat semakin pusing.
Namun Andi belum selesai. "Lah gue kok nggak dapet?" protesnya keras.
"Tadi lu belum pulang," jawab salah satu tetangga santai.
Wajah Andi berubah sedih luar biasa. "Yaelah ...," keluhnya dramatis sambil memegang dada. "Gue rugi besar hari ini."
Beberapa orang langsung tertawa melihat ekspresinya. Sementara Andi terus mengomel tidak terima.
Sagara akhirnya memilih mengabaikan keriuhan yang terjadi dan berusaha menghindari protes Andi dengan berjalan masuk ke kontrakan sederhananya. Namun, baru beberapa langkah, ponselnya tiba-tiba bergetar dari dalam saku celana.
Pria itu menghela napas pelan sebelum mengambil ponselnya. Dan seperti yang sudah ia duga, nama Nara muncul di layar.
Dahi Sagara berdenyut lagi. Ia membuka pesan itu cepat. Nara memintanya datang ke depan gang sekarang.
Sagara memejamkan mata sejenak. "Apa lagi sekarang," gumamnya frustasi.
Tak ingin Nara menunggu lama lalu nekat datang sampai ke depan pintu kontrakannya lagi. Sagara buru-buru membalas pesan wanita itu agar menunggunya sebentar.
Setelah itu ia langsung masuk ke kamar mandi kecil di kontrakannya untuk membersihkan tubuh seadanya. Air dingin membasahi wajah dan tengkuknya dengan cepat sebelum pria itu buru-buru mengganti pakaian kerjanya yang bau oli dengan kaus hitam bersih dan jaket tipis.
Beberapa menit kemudian, Sagara keluar sambil menyisir rambutnya asal menggunakan jari. Beruntung saat ia keluar dari rumah kontrakannya keadaan sekitar sedang sepi, bahkan Andi tidak terlihat di luar sana.
Sagara mempercepat gerakannya menuntun motor, sengaja ia tidak menyalakan mesinnya agar bisa pergi keluar gang dengan tenang.
Mobil hitam milik Nara terparkir di samping gang. Begitu melihat Sagara datang sambil mendorong motornya, Nara bergegas keluar lalu menghampiri Sagara.
"Kenapa lama sekali?" protes Nara.
"Saya mandi dan ganti pakaian dulu, Nona," jawab Sagara sambil menahan kesal.
"Baiklah," jawab Nara singkat. "Sekarang ayo kita pergi."
Sagara mengernyit bingung. "Pergi ke mana? Mau makan bakso lagi?" Namun, pertanyaannya terpotong saat matanya menangkap mobil Nara yang perlahan melaju meninggalkan area depan gang.
Sagara menoleh cepat pada Nara. Pantas saja wanita itu tadi mengirim pesan tambahan yang memintanya membawa motor juga. "Astaga ...," gumam Sagara pelan. "Jadi Anda memang berniat pergi naik motor lagi."
Nara malah terlihat santai
"Sebaiknya jangan mengobrol di sini," Nara melirik sekilas ke arah gang kontrakan yang mulai ramai. "Kita pergi dulu saja."
Lalu sudut bibirnya naik tipis. "Atau kau ingin tetanggamu melihat kita lagi?"
Sagara memijat pelipisnya pelan. Itu ancaman yang sangat efektif. Karena ia tahu benar, kalau sampai Bu Sari atau Andi melihat mereka berdiri terlalu lama di sini, malamnya pasti tidak akan tenang lagi.
Tanpa membalas, Sagara akhirnya menyerahkan helm cadangan pada Nara. "Pakai."
Nara menerimanya sambil tersenyum puas. Beberapa detil kemudian, wanita itu sudah duduk di jok belakang motor Sagara dengan santai. Dan seperti sebelumnya, jarak di antara mereka nyaris tidak ada.
Sagara menegakkan tubuh kamu sesaat saat merasakan tangan Nara kembali memegang sisi jaketnya. "Pegang yang benar," ucapnya datar.
"Aku memang sedang memegang."
"Tapi jangan ...."
"Ck ... Kau terlalu banyak bicara," decaknya pelan sambil melepas pegangannya dari sisi jaket Sagara.
Sagara tidak menggubrisnya. Ia mulai menyalakan mesin motor dan melajukannya meninggalkan kawasan gang itu menuju jalan raya yang mulai dipenuhi lampu jalan kota.
"Jadi sekarang kita mau ke mana?" tanya Sagara setelah beberapa menit berkendara.
"Ke butik langgananku," jawab Nara singkat. Ia bukan hanya berniat memastikan Sagara tapi juga memiliki tujuan lain yang mendadak harus ia lakukan.
Sebelum Sagara datang tadi. Nara mendapat pesan singkat dari kakeknya yang membuat ia harus segera memutuskan sesuatu.
Sagara memilih menepikan motornya di pinggir jalan alih-alih melanjutkan perjalanan.
Motor itu berhenti tepat di bawah cahaya lampu jalan yang redup.
Nara yang duduk di belakang mengernyit heran. "Kenapa berhenti?"
Sagara mematikan mesin motornya lalu menoleh ke belakang sedikit. "Ke butik?" ulangnya seolah memastikan tidak salah dengar. "Anda bisa pergi ke sana dengan asisten Anda tadi. Kenapa harus mengajak saya?"
Nara melepas helmnya perlahan. Rambutnya yang sedikit berantakan karena angin malam tergerai jatuh di bahunya. "Karena selain memilih gaun untukku ...," ucapnya santai sambil menatap Sagara lurus. "Kau juga harus memiliki jas dan aksesoris lainnya untuk datang ke pesta ulang tahun kakek besok."
DEG.
**** bersambung.
kira2 surat epa ya yg pengen dikasih ibunya viola? surat tentang kebenaran kekuarga sagara atau apa?
akhirnya sudah lebih jauh sagara masuk ke konflik para eksekutif, padahal dia cuma ingin menikmati hidupnya yg sederhana
udah nyampe ke relung yang paling dalam dong 😁
apalagi kalau ngaku jadi pacar gara