NovelToon NovelToon
The Nethermist

The Nethermist

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Clevareus

( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )

Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya di tengah mimpi buruk

​Mimpi buruk.

​Sebuah kondisi igauan alam bawah sadar yang melanda manusia saat terlelap. Terlebih jika igauan itu menjelma menjadi sesuatu yang menyeramkan, memalukan, atau meninggalkan rasa tidak nyaman yang pekat di dada. Orang-orang zaman dahulu bahkan sering mengartikan mimpi buruk bukan sekadar bunga tidur, melainkan sebuah pertanda kesialan yang nyata.

​13 Februari. Sore hari di Kerajaan Nightdoom.

​Suasana istana masih diselimuti atmosfer yang berat. Leoric terbaring kaku di ranjangnya, terlelap dalam tidur yang dipaksakan setelah meminum ramuan obat khusus agar sarafnya bisa beristirahat dari trauma hebat.

​Di bagian lain istana, Clarissa baru saja selesai mendengarkan penjelasan panjang lebar dari para perawat yang menjaganya. Gadis itu terduduk lemas, diserang rasa shock yang hebat setelah otaknya mulai mencerna betapa mengerikan dan berdarah-darahnya perjuangan tim ekspedisi demi menjemput dirinya pulang. Hanya dari untaian kata-kata perawat—tanpa melihat langsung medannya—Clarissa sudah bisa merasakan kengerian yang mencekik.

​Sementara itu di ruang perawatan terpisah, Anastasya berusaha mengistirahatkan tubuhnya yang babak belur. Badannya masih terasa remuk setelah terlempar dari kuda yang dipacu dalam kecepatan penuh, tepat sebelum hewan malang itu ditusuk secara brutal oleh Cortinus.

​Saat ini, tidak ada hal besar yang bisa dilakukan oleh Nightdoom. Kerajaan itu hanya bisa terdiam, mencoba memulihkan luka dan mengumpulkan kembali serpihan kekuatan mereka secara bertahap, agar mampu menghadapi apa pun badai yang tengah menunggu di masa depan.

​Basten melangkah pelan masuk ke ruang perawatan Anastasya, menatap rekannya dengan pandangan lesu.

​"Apa kau tidak apa-apa?" Basten menghela napas berat, menyandarkan tubuhnya. "Hufft... bagaimana bisa dia melakukan hal sekeji itu pada kita?"

​Anastasya mengalihkan pandangan, mencoba membenahi posisinya dengan ringisan kecil. "Aku tidak apa-apa, hanya butuh sedikit waktu untuk pulih sepenuhnya... Soal Pangeran Cortinus, ini sangat disayangkan. Meskipun sejak kecil dia memiliki sifat yang arogan, aku benar-benar tidak menyangka dia akan melangkah sejauh ini... mengkhianati kerajaannya sendiri."

​Malam pun tiba, menggantikan sore yang suram dengan kegelapan yang sunyi.

​Fiona melangkah pelan menyusuri lorong istana yang dingin. Di tangannya, seangkir kopi hangat mengepulkan asap tipis. Dia berjalan beriringan dengan ibunya, Emily, menuju ke kamar Leoric.

​Sesampainya di sana, Fiona mengambil tempat duduk di kursi sebelah ranjang, sesekali menyesap kopi panasnya untuk mengusir kantuk. Sementara Emily melangkah lebih dekat, mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Leoric yang pucat sembari merapalkan doa di dalam hati—berharap agar saat putranya itu terbangun nanti, jiwanya bisa jauh lebih tenang.

​Fiona mendongak, menatap ibunya.

"Aku akan merawat Leoric di sini, Ibu. Ibu pergilah ke ruangan Ayah. Tanyakan perihal keberadaan Cortinus yang tidak ikut kembali bersama tim ekspedisi. Aku yakin Ayah pasti sudah tahu jawabannya."

​Emily terdiam sejenak, tatapannya meredup.

"Kamu benar... Cortinus, ada di mana sebenarnya anak itu sekarang? Kalau begitu, Leoric kuserahkan padamu ya, Fiona."

​"Iya, Ibu. Aku akan menjaganya."

​Dengan langkah terburu-buru yang dipenuhi rasa cemas, Emily keluar dari kamar Leoric, meninggalkan Fiona berdua saja dengan adiknya yang masih terpejam, sementara dirinya bergegas menuju ruang kerja Raja.

​Di belahan istana yang lain, Clarissa—yang kondisinya sudah dinyatakan membaik oleh tabib—sedang berjalan berkeliling ditemani oleh Raidou, salah satu Elite Guard. Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam hanya untuk mengitari istana utama Nightdoom, mulai dari area taman bunga yang luas hingga berakhir di depan ruang kerja Raja.

​Sayup-sayup terdengar suara perdebatan dari dalam. Tampaknya, ruangan itu sedang dipakai untuk rapat darurat lainnya yang dihadiri oleh Raja dan para bangsawan tinggi istana. Clarissa hanya bisa membatin, entah dari mana datangnya energi para petinggi itu hingga mampu berdebat tanpa henti sepanjang hari di situasi segenting ini.

​Kembali ke kamar perawatan utama.

​Malam semakin larut ketika Leoric tiba-tiba membuka matanya. Dia langsung terduduk di atas kasur. Rambutnya acak-acakan, penampilannya kusut, dan yang paling mengerikan adalah sorot matanya yang masih menyisakan tatapan kosong yang hampa.

​Melihat adiknya terbangun, Fiona langsung mengulas senyum hangat. Dia melontarkan kata-kata menenangkan dan menyodorkan cangkir kopinya. "Leoric, kamu sudah bangun? Mau minum—"

​Namun, kalimat Fiona terputus.

​Begitu Leoric menyadari keberadaan Fiona yang berada terlalu dekat dengannya, tubuh pria itu langsung menegang hebat. Dengan ekspresi ketakutan yang luar biasa, Leoric bergerak mundur secara impulsif, menyeret bokongnya di atas kasur besar itu hingga terpojok ke dinding.

​Bibirnya gemetar, dan dari mulutnya meluncur gumaman patah-patah yang diulang-ulang seperti mantra ketakutan.

​"Penyihir..."

​Napasnya memburu, matanya membelalak panik. "Penyihir... jan—jangan mendekatiku! Pergi!"

​Senyum di wajah Fiona langsung luntur, digantikan oleh ekspresi kecewa yang mendalam. Dadanya terasa sesak. Kenapa pula dia dipanggil penyihir oleh adiknya sendiri? Kira-kira hal mengerikan apa yang sudah Leoric saksikan selama ekspedisi jahanam itu?

​Fiona mencoba melangkah maju setapak untuk menenangkan Leoric. Namun, semakin dia mendekat, semakin histeris pula jeritan dan permohonan Leoric agar Fiona menjauh. Padahal, dari laporan yang Fiona dengar, Leoric memang sempat berteriak ketakutan pada orang lain, tapi dia tidak pernah sampai menyebut mereka "penyihir". Tapi kenapa khusus kepada Fiona, kata itu terus-menerus diucapkan dengan nada penuh teror?

​Tepat di depan pintu kamar yang tertutup itu, Clarissa berdiri. Dia baru saja tiba setelah menyelesaikan tur istananya bersama Raidou. Mendengar keributan di dalam, Raidou menoleh ragu.

​"Apa Anda yakin ingin masuk, Nona Clarissa?"

​Clarissa menarik napas dalam-dalam, memantapkan hatinya. "...Iya, aku ingin masuk."

​Raidou perlahan membuka pintu tersebut. Pemandangan menyedihkan langsung menyambut mereka. Di sudut ruangan, Leoric tampak meringkuk dengan kedua tangan mencengkeram kepalanya erat-erat. Wajahnya dipenuhi luapan rasa takut, cemas, dan keputusasaan yang mendalam—seolah dia tidak lagi memercayai dunia tempatnya berpijak.

​Sementara itu, beberapa langkah dari ranjang, Fiona duduk dengan wajah cemberut. Dia kembali menyesap kopinya, berusaha keras untuk tetap tenang mengekang emosinya sendiri.

​Clarissa melangkah masuk, memberikan salam hormat yang sopan kepada Fiona, lalu melirik cemas ke arah Leoric yang tak kunjung tenang di pojok ruangan.

​Fiona menghela napas, menatap gadis di depannya. "Kamu Clarissa, ya? Ini pertemuan pertama kita... Tapi maaf, kondisinya malah berantakan seperti ini. Sebagai perwakilan keluarga Nightvale, aku meminta maaf atas ketidaknyamanan ini."

​"Eh, tidak, tidak..." Clarissa cepat-cepat mengibas tangannya dengan panik. "Justru sayalah yang pantas meminta maaf... karena diriku... Leoric harus mengalami hal mengerikan sampai seperti ini..."

​Fiona tidak menjawab lagi dan kembali menikmati kopinya yang mulai mendingin. Clarissa kemudian membalikkan tubuhnya, menatap Leoric yang masih gemetar. Perlahan tapi pasti, kaki kecilnya mulai melangkah mendekati sudut ranjang tempat Leoric meringkuk.

​Melihat itu, Fiona mendengus pelan. "Itu tidak akan berhasil... Aku saja yang kakaknya sampai dipanggil penyihir olehnya."

​Namun, Clarissa tetap bersikukuh. Langkah kakinya tidak berhenti.

​"Hufft, ya sudahlah..." Fiona menyerah, meletakkan cangkirnya. "Tapi kalau dia mulai berteriak histeris lagi, kamu segera menjauh ya."

​Clarissa mengangguk pelan. Dia menangkupkan salah satu tangannya di dada, mencoba menetralkan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang sembari terus mengikis jarak dengan Leoric.

​Leoric mendongak. Sorot matanya yang tadinya penuh teror tiba-tiba berubah terkejut. Rupanya, dia baru benar-benar menyadari kehadiran Clarissa, padahal gadis itu sudah masuk sejak tadi.

​Begitu Clarissa sampai tepat di tepi ranjang, atmosfer di dalam kamar mendadak menegang. Fiona meletakkan cangkir kopinya ke meja dengan tatapan waspada. Di dekat pintu, tangan Raidou sudah turun, mengambil ancang-ancang penuh jika hal buruk terjadi sehingga dia bisa langsung menarik Clarissa menjauh.

​Satu detik... dua detik... keheningan mencekam itu pecah.

​Bruk!!

​Tanpa diduga, Leoric langsung menghambur ke depan, menubruk dan memeluk Clarissa dengan sangat erat. Tangisnya pecah seketika, menggelegar keras di dalam kamar. Pelukan itu begitu kencang dan tiba-tiba hingga membuat Clarissa tersentak kaget, tubuhnya kaku tak bisa bergerak di bawah dekapan Leoric yang gemetar hebat.

​Di dekat pintu dan meja, Raidou dan Fiona sukses dibuat melongo dengan mata membelalak. Mereka terkejut setengah mati melihat bagaimana Leoric menunjukkan perlakuan yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat khusus hanya kepada Clarissa.

​Fiona yang melihat itu langsung mengerucutkan bibirnya, mendengus tidak terima. "Huhhh!! Hei, curang tahu! Masa Leoric kesayanganku sampai memanggilku penyihir, tapi kamu malah langsung dipeluk erat begitu... Mentang-mentang kamu tunangannya ya!"

​Clarissa yang mendengar godaan itu hanya bisa memasang wajah cemberut dengan semburat merah tipis di pipinya. Dia perlahan menguasai rasa terkejutnya, lalu mengulas senyum tulus yang amat lembut. Tangannya terangkat, mengelus pelan rambut acak-acakan Leoric untuk menenangkannya.

​"Cup... cup... tidak apa-apa, aku di sini," bisik Clarissa lembut.

​Fiona menghela napas, tapi matanya menyiratkan rasa lega yang samar. Dia melirik ke arah sang pengawal. "Raidou, tolong laporkan perkembangan ini ke Ayah... Dan sepertinya aku akan kembali ke kamarku saja. Kelihatannya ada sepasang kekasih yang butuh waktu berduaan di sini, hehe."

​Raidou segera membukakan pintu dengan patuh. Fiona berjalan keluar melewatinya, tak lupa menoleh sekilas untuk melambaikan tangan jahil ke arah "pengantin muda" itu sebelum Raidou menutup pintu kamar Leoric sepenuhnya, mengunci rapat ruangan itu dari dunia luar.

​"Huuuuuuuuuuuuuuu..."

​Tangis Leoric masih meluncur deras tanpa henti. Di sela-sela isakannya yang hebat, dia sesekali menggumamkan kalimat yang hampir tidak jelas karena tertutupi oleh suara tangisnya sendiri.

​"Semwuanywaa... ma-mati... Huuuu..."

​Cara bicaranya saat ini terdengar sangat kacau, mirip seperti bayi yang baru pertama kali belajar mengeja kata. Di telinga Clarissa, suara patah-patah itu terdengar menggemaskan sekaligus mengiris hati di saat yang bersamaan. Dengan penuh kesabaran, Clarissa terus mengusap dan menepuk-nepuk punggung serta kepala Leoric.

​"Hmmmm... Hmmm... Hmm... Hmmmm..."

​Clarissa mulai melantunkan sebuah senandung tanpa kata. Nada-nada yang keluar dari bibirnya terdengar begitu indah, berayun lembut membelah kesunyian kamar. Perlahan tapi pasti, senandung itu bekerja seperti sihir penenang. Isakan Leoric mulai mereda secara bertahap. Perlahan, kelopak matanya yang berat mulai terpejam, persis seperti seorang bayi yang mengantuk berat setelah dinyanyikan lagu pengantar tidur oleh ibunya. Leoric pun tertidur dalam damai di pelukan tunangannya.

​Tak lama berselang, di lorong istana yang sunyi, terdengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa. Emily berlari sekuat tenaga setelah mendapat kabar dari Raidou bahwa putranya sudah sadar dan berhasil ditenangkan. Dengan napas terengah-engah, dia membuka pintu kamar Leoric dengan cukup keras.

​Braak!

​Emily bersiap untuk langsung menghambur masuk. Namun... langkah kakinya mendadak terhenti di ambang pintu. Semua rentetan pertanyaan yang sudah dia siapkan di kepala mendadak menguap begitu saja. Emily memutuskan, dia akan bertanya besok saja.

​Sebuah senyuman hangat dan teramat tulus terukir di wajah sang Ibu. Di depannya saat ini, terhampar sebuah pemandangan yang teramat manis dan menggemaskan. Leoric telah tertidur lelap di atas kasurnya, masih dalam kondisi memeluk erat tubuh Clarissa—yang rupanya ikut terlelap karena kelelahan menenagkan di samping pemuda itu.

​Emily perlahan menarik kembali langkahnya, lalu menutup pintu kamar itu dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Dia memutuskan untuk tidak membangunkan kedua pengantin muda itu, membiarkan mereka menikmati momen romantis dan ketenangan yang teramat langka di tengah badai mimpi buruk yang tengah melanda kerajaan.

1
AngkaSatu
Epic
AngkaSatu
Wah jadi inspirasiku nanti.
𝐊𝐚𝐞𝐥
cliffhanger yang sangat menarik
𝐊𝐚𝐞𝐥
hm, lagi-lagi terlalu banyak perkenalan karakter. saranku, klo mau dikenalin di satu bab, mending pakai percakapan antar tokoh dan beri ciri khasnya.
Clevareus: itu cuman daftar nama anggota keluarga kerajaannya aja sebenernya, karena ngumpul di satu ruangan. tapi iya juga ditumpuk di 1 paragraft gitu 🤣🔥 makasih ya koreksinya, kedepannya bakal agak kulambatin pacingnya🙏
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
hmm. aku kurang setuju dengan sikap leoric, di suruh mundur eh beneran mundur ternyata, baru udah ada korban berjatuhan balik lagi ke medan perang. jadi kurang epic deh kemunculannya, maaf 😅 ini hanya dalam pikiran ku saja
DreamXimaginatioN😴
wuihh dapat senjata, kayak nya MC bakal OP nih karena si sarioth kalau di lihat mungkin saja termasuk para petinggi monster2 itu 😁
DreamXimaginatioN😴
wah ini ketambahan spasi ya, malah jadi paragraf baru. Segera di perbaiki author 👍😄
ShikiSlurx
parah bangsawan bangsawan disini kayaknya kejam banget deh
WER
semangatnya 💪💪💪
Clevareus: siapp
total 1 replies
𝐊𝐚𝐞𝐥
secara tata bahasa aman sejauh ini. plot-nya juga lumayan. tapi info dump-nya cukup parah. terlalu banyak sejarah yang dijelaskan dalam satu bab. karakternya juga terlalu banyak diperkenalkan.

semangat!
Quinnela Estesa
chapter awal, jangan langsung dikasih adegan tempo tinggi😊 nanti setelahnya bakalan kehabisan bahan bakar deh.

seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.
Clevareus: oke makasih masukannya
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
haha nice lah pokoknya 🔥🔥🔥. Tengkorak 💀 apa itu di belakang nya.../Shame/. Hanya saran sedikit saja, monster-monster yang keluar tidak terlalu di jelaskan ya, jika emang gitu niat author tidak masalah namun setidaknya berikan sedikit jenis garis besar nya aja seperti ada yang bisa terbang/ ada yang berotot atau yang lainnya, gitu aja.
Clevareus: okee siapp
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
uhh... seram nya oii😬
AngkaSatu
Oke sejauh ini masih oke tetapi ada beberapa hal yang bisa diperbaiki. Ini adegan bisa dibuat lebih baik lagi misalnya disaat kedua kekasih itu ingin mengucapkan sumpah setia mereka langit tiba tiba retak dan ada mata yang melihat mereka dari atas tersebut semua orang yang menjadi tamu undangan berlarian kesana kemari. Oke segitu dulu dan maaf jika kritikan ku sedikit nyingung🙏
Clevareus: malahan aku berterimakasih kalau ada yang ngasih saran disini🔥
total 2 replies
DreamXimaginatioN😴
hmm comenter ku seperti kebanyakan pembaca lainnya yaitu terlalu banyak informas tapi bagian tengah sampai akhir mulai menarik kok😁. Aku menyarankan agar kata dan paragraf bagian awal bab pertama pada novel di buat semewah/ sebagus mungkin, buat mancing pembaca. Tapi kembali ke author sendiri sih mau di edit atau tidak. Aku menilai bab ini sudah cukup menarik di tambah tata bahasanya rapi, sudah berkelas ini 👍😁.
AngkaSatu
Pendapatku tentang Clarissa. Menurutku Clarissa itu belum diperkenalkan dengan baik. Orang orang akan bilang "Oh oke dia trauma karena perang" Tetapi bila buat Clarissa nya diperkenalkan dulu kasih dialog dulu maka orang orang akan merasa sedikit perihatin. "Oh kasian sekali Clarissa."
AngkaSatu
Menurutku terlalu banyak informasi yang dilemparkan sekaligus. Orang orang bisa lupa nanti tokoh tokoh pentingnya nanti
Clevareus: oke kak, makasih pendapatnya yaa
total 1 replies
Not Not
Gak tau mau komen apa lagi 😹 udah bagus kok
Clevareus: makasihh 🔥
total 1 replies
Not Not
terlalu banyak info dump diawal/NosePick/ mendingan ditunjukkan lewat adegan
WER
semangatttt authorrrrrr 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!