Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 -BAB 4 - KEMBALI (1)
Ruangan takhta perlahan-lahan mulai kehilangan cahayanya. Kegelapan pekat merayap naik dari sudut-sudut lantai, seakan menyerap habis setiap berkas cahaya yang ada. Arta yang pertama kali menyadari keganjilan ini; ia melihat bayangan dari pilar-pilar kuno di sekeliling mereka mulai bergerak meliuk secara tidak normal, menentang arah jatuhnya cahaya.
Di tengah ruangan, raksasa itu mendadak memudar. Tubuh obsidiannya yang masif meluruh, berubah menjadi kabut hitam pekat yang bergerak cair. Kekangan dua lingkaran sihir yang dirapalkan Arta dengan mudah ditembus begitu saja tanpa perlawanan fisik. Makhluk itu meloloskan diri, lalu lenyap ke dalam bayang-bayang.
"Ke mana dia?!" teriak Grom, menyapu pandangan ke segala arah dengan palu yang tercengram erat.
Semua orang berdiri saling memunggungi, mengunci mata pada setiap sudut koridor yang kini mulai ditelan oleh kegelapan yang pekat dan tidak masuk akal. Bahkan, bola-bola cahaya magis yang diciptakan Arta perlahan meredup dan mati satu demi satu. Ruangan itu mendadak buta. Hanya ada satu sumber cahaya yang tersisa: bilah pedang Elian yang retak, masih memancarkan pendar keemasan dari sisa kekuatan Pahlawannya.
“Kau mempunyai Energi Cahaya yang mirip dengan-Nya... Aku tidak akan membiarkanmu!”
Sebuah suara berat dan parau menggema secara bersamaan dari balik kegelapan yang mengepung mereka.
Detik berikutnya, atmosfer ruangan berubah ekstrem. Tekanan gravitasi masif mendadak menghantam bumi secara paksa. Lantai batu di bawah kaki mereka retak. Grom terlutut menahan beban yang luar biasa, sementara Raylen langsung terjerembap ke tanah dengan napas terengah-engah. Tubuh mereka dipaksa untuk tunduk pada kehendak kegelapan tersebut.
"Aku tidak tahu siapa yang kau maksud, tapi aku juga tidak akan membiarkanmu melakukan sekehendakmu!" teriak Elian.
Dengan raungan yang membelah sunyi, Elian memacu seluruh sisa energi Pahlawan di dalam tubuhnya hingga mencapai batas maksimal. Ia menghentakkan kaki, melawan tekanan gravitasi, lalu menancapkan pedangnya dalam-dalam ke lantai batu.
BOM!
Ledakan energi cahaya murni berkobar hebat bak pilar fajar, menyapu bersih separuh kabut hitam yang menyelimuti istana. Cahaya itu membeberkan segalanya: Raksasa itu ternyata berdiri tepat di belakang mereka, bersiap menghujamkan cakar obsidiannya. Namun, harga yang harus dibayar Elian teramat mahal. Satu satunya pedang yang ia bawa tidak lagi mampu menahan beban energi tersebut; bilah logamnya hancur berkeping-keping menjadi serpihan tak berbentuk.
"Kalian sudah tidak bisa melakukan apa pun sejak awal," ucap raksasa itu dingin, tidak terpengaruh oleh hilangnya kabut pelindungnya.
Namun, sisa partikel cahaya dari hancurnya pedang Elian tidak menghilang. Serpihan energi berkelap-kelip itu melayang naik ke atas langit-langit, meresap masuk ke dalam ukiran tulisan kuno yang terpahat di langit-langit istana yang sebelumnya tak terlihat. Tiba-tiba, sebuah lingkaran sihir raksasa tercipta tepat di atas kepala sang raksasa. Ukurannya masif, memancarkan fluktuasi energi yang begitu murni hingga membuat seluruh struktur istana bergetar hebat.
Raksasa obsidian itu mendongak, menyadari ancaman fatal di atasnya. Sebelum ia sempat meluruh kembali menjadi bayangan, lingkaran sihir di atasnya melepaskan tembakan laser suci berkekuatan penuh. Energi murni sebesar lingkaran itu sendiri menghujam lurus ke bawah, menelan tubuh sang monster dalam gemuruh yang memekakkan telinga.
Meskipun raksasa itu berhasil bergerak mundur dan menghilang di detik-detik terakhir, serangan masif itu tidak sia-sia. Tembakan laser tersebut berhasil mengoyak sebagian besar tubuhnya.
Saat debu sihir mereda, monster itu muncul kembali beberapa meter di depan mereka. Seluruh tubuh obsidiannya kini menerima kerusakan yang sangat parah; pelindung dadanya hampir hancur, lengannya retak-retak melepaskan uap hitam, dan lubang kosmik di dadanya meredup. Namun, ia tetap berdiri dengan gagah, seolah tidak merasakan rasa sakit sedikit pun.
"Mau di dunia mana pun, energi cahaya memang selalu merepotkan," ucap raksasa itu, suaranya tetap datar tanpa emosi. Mata ungunya menatap Elian. "Melawan kalian di tempat ini, tempat di mana Dia bisa mengawasiku... adalah tindakan yang gegabah. Kita akan bertemu lagi."
Tubuh raksasa itu perlahan menyusut, terserap masuk ke dalam sisa bayangan di lantai, lalu benar-benar menghilang tanpa jejak. Atmosfer ruangan perlahan-lahan kembali normal. Tekanan gravitasi yang mencekik itu lenyap, menyisakan keheningan yang mencekam.
"Dia... melarikan diri?" bisik Reldia, perlahan menurunkan perisainya dengan napas memburu.
Di tengah ruangan, Arta mematung. Tangannya yang dipenuhi luka goresan mantra gemetar hebat. Apa yang baru saja kulepaskan? Apakah aku melakukan kesalahan yang sangat fatal lagi? Aku... Pikiran Arta seketika menjadi kacau balau.
Seperti sebuah harapan yang baru saja muncul tidak beberapa saat lalu, kini kembali hancur dan bahkan menambahkan beban bersalah yang baru.
Memori kegagalan masa lalu dan ketakutan akan kehancuran baru menghantam dadanya seperti hantaman gada. Rasa bersalah yang teramat sangat merenggut seluruh kekuatan kakinya. Arta tersungkur ke lantai batu yang dingin, bertumpu pada kedua tangannya dengan napas yang memburu dan tatapan mata yang kosong.
"Arta! Apa kamu baik-baik saja?!" Elian berteriak, langsung berlari menghampiri dan mencengkeram bahu sahabatnya itu.
"Apa yang sudah kulakukan, Elian? Apa yang sebenarnya baru saja kubuka?" ucap Arta dengan suara bergetar, menatap Elian dengan keputusasaan yang mendalam.
Namun, Elian tidak bisa memberikan jawaban. Ia hanya bisa diam dengan wajah tegang.
Arta menoleh ke arah anggota tim yang lain, mencari secercah ketenangan, namun yang ia temukan justru sebaliknya. Grom dan Raylen memalingkan wajah mereka ke arah lain, tidak berani menatap mata Arta karena syok dan ketakutan atas apa yang baru saja mereka saksikan.
Sementara Lilia, sang Elf, berdiri mematung dengan wajah pucat pasi; matanya menatap kosong ke langit-langit istana, mengkhawatirkan sesuatu yang jauh lebih besar dan mengerikan yang mungkin baru saja terbangun di dunia ini dari masa kuno.
Di sisi lain, Reldia melangkah mendekat. Ia menatap Arta yang terduduk di lantai dengan tatapan dingin yang sulit dimengerti—perpaduan antara amarah, kepasrahan, dan kecaman.
"Meski aku juga terlihat, tetapi sekali lagi," ucap Reldia dengan suara rendah yang menusuk, "monster telah datang ke dunia ini untuk menghancurkannya."
Kata-kata itu bergema di ruang takhta yang hancur, meninggalkan Arta dalam jeratan rasa bersalah yang membakar jiwanya.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat