NovelToon NovelToon
Penyesalan Seorang Suami

Penyesalan Seorang Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18.

POV Renata. 

Selepas kepergian ke dua mertuaku, senyuman mas Ivan pun ikut pudar. Dia menarik tanganku dengan sangat kasar, untuk membawaku masuk ke dalam rumah.

"Mas, ya Allah .. Mas, sakit .. gak perlu menarik ku dengan kasar seperti ini, aku tetap masuk ke dalam rumah kok!" Aku memohon pada Mas Ivan agar tidak berlaku kasar padaku, hanya sekedar membuat ku masuk ke dalam rumah, bukankah menyuruhku dengan berkata lembut, aku juga tetap menurut dan masuk ke dalam rumah.

"DIAM!" pekik Mas Ivan dengan tatapan mata tajam, dia melihatku dengan tatapan penuh kebencian.

Ceklek

Dia menutup pintu depan rumahku dengan gerakan pelan, dan terlihat dia lupa untuk mengunci pintu itu kembali.

Mungkin Mas Ivan yang terkenal sangat baik ini takut, tetangga akan tahu kalau dia memperlakukan ku dengan sangat kasar.

Bugh

Dia mendorong tubuhku dengan kasar sampai membuat ku jatuh tersungkur ke lantai.

Aku pun benar benar dibuat bingung, kenapa tiba tiba Mas Ivan itu marah kepadaku, padahal tadi Mas Ivan berperilaku baik padaku.

"DASAR WANITA MURAHAN!" bentak Mas Ivan dengan wajah merah padam.

Mataku pun langsung membulat sempurna, aku kaget kenapa Mas Ivan tiba tiba mengatai ku dengan kata kata kasar seperti itu. Tapi dari pada bingung dan membuat masalah ini semakin berlarut larut, lantas aku memilih untuk langsung bertanya kepada suamiku itu.

"Apa maksud perkataanmu Mas? Kenapa bisa bilang aku wanita murah?" tanyaku dengan wajah bingung, mati matian aku menahan rasa sakit dan air mata yang rasanya akan mengalir deras dari ke dua pelupuk mataku.

"KENAPA BISA KAU ITU HAMIL, JIKA AKU SAJA TIDAK PERNAH MENYENTUHMU SAMA SEKALI!"

Mata ku membelalak sempurna, kala mendengar apa yang Mas Ivan ucapkan. Aku pikir sedari tadi saudaranya itu hanya bercanda saat membahas persoalan hamil. Tapi ternyata Mas Ivan menanggapinya dengan serius.

"Mas ... aku itu tidak hamil. Bagaimana bisa Mas itu mengira kalau aku hamil?" tanyaku dengan air mata yang terus luruh membasahi kedua bola mataku. Karena aku sudah tidak bisa lagi membendung air mataku ini.

"Apa kau tidak melihat perutmu itu Renata, yang seperti orang hamil 3 bulan. Dan setiap hari kau itu terus muntah, bahkan badanmu itu ... coba lihat sekarang ...kurus dan lemas, itu apa kalau bukan ciri ciri ibu hamil? Trus siapa pria yang kemarin sore mengantarmu pulang ke rumah?" tanya Mas Ivan dengan wajah yang terlihat menyeramkan, sungguh aku belum pernah melihat Mas Ivan sangat marah seperti sekarang ini, di sepanjang 10 tahun biduk rumah tangga yang kami jalani bersama.

Deg

Jantungku terasa ingin lepas dari tempatnya.

Mas Ivan pun membungkukkan badannya, lalu mencengkram kedua pipiku dengan satu tangannya.

Mataku dan juga matanya beradu, dia menatap ku dengan tatapan tajam, bahkan lebih tajam jika di bandingkan dengan pisau. Lalu dia pun berkata, "Kemarin itu kamu memangnya pergi kemana? Sampai harus diantar pulang. Apakah selama ini kamu bermain main api di belakangku Renata? Apakah goa kupu kupu mu itu sangat gatal, hingga membuatmu mencari kepuasan batin dari pria lain, saat aku tidak memberikannya?"

Lidahku tiba tiba terasa kelu, kala mendengar tuduhan yang Mas Ivan ucap kan barusan. Aku terlalu kaget dengan tuduhan yang tidak masuk akal, karena tuduhan itu semuanya tidak benar.

"Kenapa hanya diam saja Renata? Apakah yang baru saja aku katakan itu adalah sebuah fakta," hardik Mas Ivan dengan nada kecewa.

Aku hanya menatapnya sembari menggeleng geleng kan kepalaku. Bahkan air mata ini terus mengalir dengan sangat derasnya.

Mas Ivan pun lalu berdiri, dia menarik kasar kerah baju daster yang aku kenakan sekarang ini. Lalu menyeret dasterku ke arah kamarku.

Kaki ku terasa sakit, bahkan aku merasa mungkin kaki ku lecet. Karena kakiku bergesekan dengan ubin lantai.

Brakk

Mas Ivan lalu menutup pintu kamarku dengan sangat kasar, sehingga membuat suara keras yang lagi lagi mengangetkan ku.

Sungguh aku sangatlah takut dengan posisi sekarang ini. Mas Ivan terlihat seperti orang yang kesetanan.

Dengan amarah yang memuncak, Mas Ivan merobek daster yang aku kenakan sekarang ini. Hanya menyisahkan ku dengan tubuh polos yang hanya memakai dalaman.

Aku pun memundurkan tubuhku, karena sekarang tubuhku sudah lepas dari cengkraman Mas Ivan bersamaan dengan dasterku yang terlepas.

Mas Ivan pun terlihat melepaskan sabuk yang saat ini sedang melilit di pinggang nya.

"Renata ...," panggil Mas Ivan dengan suara meninggi.

Aku pun menoleh ke arah Mas Ivan, matanya benar benar menyiratkan sebuah kekecewaan yang mendalam saat melihat ke arah ku.

"Aku mohon Mas, jangan salah paham kepadaku! Aku sama sekali tidak pernah melakukan zina seperti yang Mas Ivan tuduhkan," ucapku dengan nada memohon ke arah Mas Ivan.

Aku seperti bisa menebak, apa yang akan Mas Ivan lakukan setelah ini kepadaku.

"Apakah kau pernah melihat seorang maling itu ngaku? Tidak kan. Dan sekarang ini kau masih mau mengelak kah Renata," ujarnya. Mas Ivan terlihat menyabet nyabetkan sabuk itu ke arah tembok. Bunyi suara sabetan itu benar benar membuat ku takut.

"Akhu ..." ucapan ku terjeda, kala Mas Ivan melayangkan sabuk itu ke arah bagian depan tubuh ku, dia mencambuk tubuh ku yang sangat kurus dan banyak luka lebam ini sebanyak dua kali.

Ctek

Ctek

"Dasar wanita tidak tahu diri, sudah beruntung aku yang berpendidikan tinggi mau menikahi wanita kampung yang miskin seperti mu. Harusnya kau itu sadar diri. Lihat orang tuamu saja memilih untuk meninggalkan mu, karena mereka sudah malas mempunyai anak yang tidak berguna seperti mu," teriak Mas Ivan dengan kata kata yang sungguh sangat menyayat hatiku.

Aku tidak menjerit, atau berkata ini sakit. Bukan karena aku tidak merasa kesakitan. Jika kalian bertanya-tanya kenapa aku tidak menjerit atau pun menangis meraung raung. Jawabannya karena rasa perih cambuk yang sekarang ini mengenai sekitar dada dan lenganku, sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hati dan juga perutku yang tiba tiba kambuh.

Aku terus menatap bola mata Mas Ivan dengan tatapan penuh kepedihan mendalam, bahkan air mata sudah tidak bisa keluar.

Mas Ivan juga membalas tatapan ku dengan sengit. Dengan sebuah senyuman miring, dia pun berkata, "Haha, aku tak menyangka Renata. Ternyata selama ini kamu itu benar benar selingkuh di belakangku. Berapa kali kau itu tidur dengannya? Sampai menjadi janin sekarang ini, hah ... berapa kali?" tanya Mas Ivan sembari menendang nendang tubuhku dengan satu kakinya.

Aku sekarang ini dalam posisi duduk, tapi aku sedikit membungkukkan badanku.

Lalu Mas Ivan membungkukkan badannya, dia pun menunjukan beberapa foto saat aku berada satu mobil dengan Leon, dan saat aku keluar dari mobil Leon dari balik layar hape miliknya.

Lalu dia meludah tepat di wajahku.

"Kau itu hanya jalang dan juga sampah!" ucapnya lagi, sembari mendorong dahiku dengan kakinya. Membuat tubuhku sekarang ini rubuh ke belakang dengan posisi terlentang.

Dia pun menginjak perutku dengan satu kakinya. Selama ini Mas Ivan memang kasar dalam hal ucapan, dan tidak pernah menganggap ku. Tapi baru hari ini Mas Ivan menyakiti fisik ku.

Darah pun nampak keluar dari mulut, bersamaan dengan perutku yang di injak olehnya.

Tapi Mas Ivan sepertinya tidak melihat darah yang keluar dari mulutku, karena kamarku dalam posisi remang. Hanya mengandalkan sedikit cahaya yang masuk dari celah jendela.

"Dasar istri tidak berguna. Berani beraninya kamu itu selingkuh di belakangku. Sampai hamil anak orang lain, untung selama ini aku tidak pernah memakai mu. Jadi aku tahu, jika anak yang sekarang ini berada dalam kandunganmu itu bukan anakku. Dasar jalang," ucap Mas Ivan lagi dan lagi, sembari menendang nendang tubuhku yang lain. Bahkan tendangan terakhirnya membuatku tersungkur. Lalu dia pun mencambuk ku lagi sebanyak 2 kali di bagian punggung dan juga pinggangku. Membuat bagian yang tertutup celana dalam terasa perih.

Ctek

Ctek

Aku benar benar sudah tidak bisa melawan, bahkan mengeluarkan sepatah kata pun sangat lah sulit.

Tiba tiba Mas Ivan malah menarik kasar celana dalam yang aku kenakan sekarang ini. Lalu dia memasukkan miliknya ke dalam goa kupu kupu ku dalam keadaan tubuh yang tidak berdaya seperti ini.

Kalian ingin tahu rasanya. Sakit, sakit. Aku hanya bisa menangis dalam diam.

Walaupun permainan yang biasa disebut enak enak atau permainan surgawi yang menyenangkan. Tapi tidak yang aku rasakan sekarang ini.

Lalu dengan kasar Mas Ivan membalikkan tubuhku. Membuat pinggang dan punggungku yang terluka akibat sabetan bergesekan dengan kasur.

Dia terus memaju mundurkan miliknya. Ya Tuhan, kenapa?

Hiks

Hiks

"Terus menangis, teruslah menangis. Renata ingat, kamu sendiri yang sekarang ini sudah mengibarkan bendera perang padaku. Aku juga bisa melakukannya padamu ... akhh," ucapnya di sertai dengan sebuah suara desahan.

Bahkan aku melihat mimik wajah Mas Ivan terlihat begitu menikmati permainan ini.

Aku merasa miliknya berkedut. Lalu dia pun sudah sampai ke puncaknya.

Setelah puas, dia lalu meninggalkanku begitu saja, tapi untungnya mas Ivan tidak menutup pintuku sekarang ini.

Aku pun merangkak sebisa mungkin dengan tenaga yang aku miliki. Ya Allah kenapa sesulit dan sesakit ini rasanya tubuhku ini.

Walaupun mati matian berusaha, aku merasa tubuhku tidak berubah posisinya sama sekali.

Ceklek

Aku merasa jendela ku dibuka dari arah luar.

"Ya Allah Mbak Rena. Astaghfirullah," ucap seseorang dengan nada kaget dari balik jendela. Suaranya terdengar tidak asing.

Ternyata itu Rihana dan juga suaminya.

"Dek, diem jangan keras keras. Nanti Ivan dengar," tegur suami Rihana.

"Mas buruan bantuin Mbak Renata," pinta Rihana pada suaminya. Wajah Rihana benar benar terdengar panik.

"Sstt." Suami Rihana terlihat meletakkan telunjuknya tepat di bibir istrinya.

"Aku haus," ucapku lirih.

"Mas dia haus, pasti dia juga belum makan."

"Tenang dek, tenang. Kita juga gak bawa makanan. Hanya ada ASI Keyla saja dalam botol," jawab suami Rihana.

Aku sebenarnya malu kala aurat ku di lihat oleh pria lain. Tapi aku yang dalam posisi tiarap tidak bisa apa apa.

"Ya udah minumkan ke Mbak Rena, buruan sebelum Mas Ivan datang," pinta Rihana pada suaminya dengan nada panik.

Suami Rihana pun dengan cepat masuk ke kamar lewat jendela. Dia membantu ku minum ASI Rihana lewat botol yang di buka tutupnya.

Walaupun tenggorokan ku terasa seperti terbakar, tapi aku mencoba meminum dan juga menelan air itu. Karena perutku terus menerus minta di isi.

Aku mendengar suara langkah kaki dari luar kamar ku yang berjalan ke arahku.

Aku benar benar gugup dan juga takut, dengan posisi ku saat ini. Sungguh ini bisa membuat mas Ivan menjadi murka.

1
Uthie
Gak sabar terus mantau kelanjutan cerita yg penuh nguras emosi ini 👍👍😆
Uthie
dasar laki Lucknut 😡
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
Uthie
Nahhh lohhhhh.... 🤨
Uthie
Ada udang di balik batu kah itu 😏😏
Uthie
Ini masih POV ke belakang kan ya???
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
Uthie
Yaaa ampun.... miris banget dan ikut sakit bacanya Thor 👍😭
Uthie
dasarnya wanita jahat 😡😤
Uthie
hmmmm... lucknut banget emangnya si Ivan😡😤
Uthie
makaya jangan jadi wanita bodoh dan malah menyakiti diri sendiri 😤
Uthie
istrinya terlalu pasrah dan lemah!
Uthie
suami lucknut 😡
Uthie
Duhhhh... terlalu lemah sihhhh tokoh utamanya 😤😤
Uthie
suami lucknut 😡😡😡😡
Uthie
Sukkkkaaa 👍👍
Uthie
Ada baiknya hati melihat kebaikan orang lain....
Uthie
Jangan terlalu percaya orang yg tidak pantas di percayai 👍😡
Uthie
Baru baca aja udah nyesek😭
dasar suami lucknut 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!