Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Sosok misterius
Bola basket itu mengenai kepala Nova hingga nyaris membentur ke arah tembok. Hal itu membuat semua siswa dan siswi yang ada sedikit terkejut, tak sedikit dari mereka yang menahan tawa dan merasa iba saat melihat ekspresi Nova.
Dion, pemuda berpakaian basket itu masuk menghampiri Nova dengan tatapan yang meremehkan.
“Woi! Buruan ambil bolanya!” bentak Dion.
Nova langsung menunduk dan meraih bola basket yang berada tepat di bawah kakinya. Namun, belum sempat ia menyentuh bola itu Dion melangkah dengan cepat, dan menggeser bola basket itu hingga Nova terjatuh ke atas lantai saat berusaha meraih bolanya.
Semua orang refleks tertawa saat melihatnya, kecuali satu orang. Yaitu Aruna, ia langsung berdiri dan menatap tajam ke arah Dion.
“Dion! Cukup! Keterlaluan sekali kamu, pergi kamu!” bentak Aruna tanpa ada sedikitpun rasa takut.
Dion hanya mendengus kesal sambil meraih bola basketnya. Sebelum ia melangkah pergi, ia terlebih dulu menatap Nova yang baru saja bangkit dan duduk di kursinya.
“Ingat! Lo bukan siapa-siapa disini! Jadi nggak usah cari masalah!”
Nova hanya bisa menahan rasa kesalnya, dan kembali fokus membaca.
***
Di sudut lain sekolah, terlihat Dion sedang berkumpul bersama gengnya. Pembicaraan mereka terlihat serius, dan setelah Dion selesai berbicara semua temannya mengangguk paham.
Sementara itu Dion terlihat puas setelah memberitahukan sesuatu kepada semua temannya itu.
“Habis pulang sekolah, kalian kumpul di parkiran. Tunggu instruksi gue.”
Setelah mengucapkan itu, ia lantas pergi meninggalkan gengnya itu menuju ke arah kelas.
Awan di langit perlahan menghitam, suara petir bergemuruh mulai bersahutan, air hujan pun turun perlahan membawa roma tanah basah ke dalam ruangan kelas dari Nova.
Ia menatap ke arah langit, berharap hujannya segera reda. Karena perjalanannya menuju kerumah cukup jauh, jika saja hujan tidak berhenti maka dia akan pulang terlambat dan membuat sang ibu khawatir.
“Hujannya sangat lebat, sebaiknya aku segera pulang,” gumamnya sambil membereskan buku di mejanya.
Saat Nova hendak pergi, Aruna datang menghampirinya sambil tersenyum.
“Nova, apa kamu mau pulang sekarang?” tanya Aruna sambil memperhatikan keluar jendela. “Sebaiknya, kamu ikut denganku Nova. Di luar hujan sangat deras,” ajaknya.
Nova menoleh ke arahnya sekilas, lalu ke luar jendela sambil menghela napas pelan.
“Tidak, aku pulang sendiri saja.”
Setelah mengucapkan itu, Nova lantas pergi meninggalkan Aruna yang sedikit kesal dengan jawabannya.
Meskipun begitu, diam-diam Aruna mengikuti Nova di belakangnya. Setelah sampai di parkiran sopir dari Aruna sudah menunggu dan membawakan payung untuknya.
“Pak Agus, ikuti dia,” ucap Aruna setelah berada di dalam mobil.
Pak Agus menoleh sambil berkata.
“Maaf non, pak Arga menyuruh non pulang cepat.”
Aruna menghela napas sejenak, kemudian ia menjawab dengan tenang sambil memperhatikan Nova yang berjalan keluar gerbang memeluk tasnya yang di masukan ke dalam kantong plastik.
“Baiklah, kita pulang saja.”
***
Nova berjalan menyusuri trotoar dalam keadaan basah kuyup, meskipun begitu ia tak menghentikan langkahnya. Tapi...
Saat ia hendak menyebrang, dari kejauhan mobil hitam melesat ke arahnya dan saat melewati genangan air, mobil itu sengaja menyipratkan nya ke arah Nova.
Splash!!
Mobil itu berhenti, tepat saat Nova terjatuh.
“Woi! Culun! Sini Lo! Buruan,” teriak salah satu pemuda dari balik jendela mobil.
Nova menoleh, meskipun suara pemuda itu terdengar kecil karena suara hujan deras yang nyaris menutup indra pendengarannya.
Nova pun berdiri dan menghampiri mobil itu. Saat ia sampai satu mobil lain di belakangnya mendekat, sebuah minivan hitam mendekat, dan keluarlah beberapa pria bertubuh kekar dan langsung menarik tubuh Nova dan membekap mulutnya lalu masuk ke dalam mobil van itu.
Sementara pemuda yang memanggil Nova tadi hanya menertawakan itu.
“Ayo jalan!”
Di dalam mobil minivan itu, Nova mulai hilang kesadarannya, karena efek obat bius yang menempel di kain yang di gunakan untuk membekap mulutnya.
***
Di dalam sebuah gudang terbengkalai di tengah kota, Nova terikat di atas sebuah kursi. Sementara orang-orang yang menangkapnya berdiri mengelilingi dia, tanpa sedikitpun rasa kasihan mereka mengguyur tubuh Nova menggunakan air es.
Nova langsung tersentak bangun dengan napas yang tersenggal, matanya tertutup kain hitam sehingga ia tak bisa melihat apa-apa, hanya suara tawa dan makian yang dapat di dengarnya.
“Hahaha, akibatnya berurusan sama gua, beginilah Nova nasibmu!” ucap salah satu pemuda disana sambil mendekat ke arahnya.
Bugh!
“Uhuk!”
Satu pukulan mendarat, tepat di ulu hati Nova.
“Siapa kalian?!” teriak Nova, namun sayang tak ada jawaban. Lagi-lagi hanya suara tawa yang dapat di dengarnya.
Bugh!
Bugh!
Pukulan kedua, ketiga hingga seterusnya kembali menghantam tubuh Nova.
Brakk!!
Kurai yang diduduki Nova terjatuh bersama tubuhnya. Nova meringis menahan rasa sakitnya, meskipun begitu para pemuda itu tak menghentikan siksaannya sampai tak sadar mereka sudah jauh melampaui batas. Dan membuat Nova hilang kesadarannya.
“Dion! Cukup! Lo mau bunuh dia?” ucap salah satu teman dari pemuda yang tak lain adalah Dion, pemuda yang tak menyukai keberadaan Nova di sekolahnya.
Dion menoleh sambil menarik kakinya yang sedang menginjak kepala Nova.
“Mati? Biarin aja emang gue takut?! Lo tau kan Gus siapa nyokap gue?” ucapnya sambil menendang tubuh Nova yang sudah diam tak bergerak.
Sementara Agus hanya bisa diam, walau dia tahu orang tua dari Dion sangat berpengaruh, tapi tetap saja ia ketakutan jika nyawa Nova melayang di tangan mereka.
Setelah puas menyiksa Nova, mereka semua pergi meninggalkan Nova dalam kondisi tubuh yang memprihatikan dan terikat ke kursi kayu.
Tepat saat meteka pergi, sebuah cahaya putih keemasan membentuk seorang gadis menghampiri tubuh Nova dan langsung membawanya, ke dalam sebuah lorong spasial yang terbuka di dekat tubuh Nova.
Ssstt!
Tubuh Nova masuk dan menghilang bersama sosok misterius yang membawa tubuhnya.
Sementara itu, di bawah alam sadar Nova. Ia melayang di dalam ruang tanpa batas, penuh riak cahaya seperti bintang yang bertaburan di angkasa. Dan saat ia membuka mata, Nova terkejut ia hanya bisa pasrah.
“A-aku... aku sudah mati?” gumamnya sambil memperhatikan tubuhnya yang samar dan sedikit bercahaya.
Nova melihat ke sekelilingnya, tak ada siapapun yang dapat ia lihat. Hanya dirinya sendiri.
Dan tepat saat Nova mencoba bergerak, sulur cahaya yang berputar perlahan membentuk seorang wanita di hadapannya.
Nova seketika terdiam begitu melihat wujud wanita di hadapannya itu. Sosok itu melayang mendekati Nova yang masih terdiam di tempatnya.
“S-siapa kau?!” tanya Nova dengan suara yang bergetar.
Wujud wanita itu tersenyum ke arah Nova sambil menjawab.
“Aku adalah...”