NovelToon NovelToon
Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — BALASAN YANG TIDAK TERLIHAT

Ruangan itu belum benar-benar dingin.

Tapi suasananya sudah seperti es.

Tatapanku dan wanita itu bertemu di tengah meja panjang.

Tidak ada senyum.

Tidak ada basa-basi.

Hanya satu hal—

perang.

“Kamu yakin mau lanjut?”

Suaranya tenang.

Terlalu tenang.

Seperti seseorang yang sudah tahu hasil akhirnya.

Aku menyandarkan tubuh.

Santai.

Seolah tidak ada tekanan.

“Kalau aku ragu, aku tidak akan mulai.”

Beberapa direksi mulai gelisah.

Tatapan mereka berpindah-pindah.

Ke aku.

Ke Arkan.

Ke wanita itu.

Karena sekarang—

tidak ada lagi pihak netral.

“Baik.”

Dia mengangguk pelan.

“Kalau begitu… kita mulai.”

Aku mengangkat alis sedikit.

Menarik.

Dia tidak menahan.

Dia justru…

mendorong.

“Tim audit akan masuk hari ini.”

Aku melanjutkan.

Nada suaraku tetap stabil.

“Semua akses akan dibuka.”

Sunyi.

Dan di situlah—

senyum kecil muncul di wajahnya.

Senyum yang membuat perutku terasa tidak nyaman.

“Silakan.”

Jawabannya ringan.

Terlalu ringan.

Arkan langsung menyadarinya juga.

Aku bisa lihat dari caranya sedikit menegang.

Ada yang salah.

Tapi aku tidak berhenti.

Tidak bisa.

“Bagus.”

Aku berdiri.

“Kalau begitu kita lihat… apa yang selama ini disembunyikan.”

Rapat berakhir lebih cepat.

Tapi bukan karena selesai.

Melainkan karena—

semuanya sudah berubah.

Langkahku keluar dari ruangan terasa lebih berat.

Bukan karena ragu.

Tapi karena…

aku tahu ini baru awal.

“Kamu lihat tadi?”

Suara Arkan di sampingku.

Aku mengangguk pelan.

“Dia terlalu tenang.”

“Seperti sudah siap.”

Aku berhenti sebentar.

Menatap lurus ke depan.

“Atau… dia memang yang menyiapkan ini semua.”

Sunyi.

Kami lanjut berjalan.

Leon sudah menunggu di luar.

Wajahnya serius.

“Ada yang aneh.”

Aku langsung menoleh.

“Apa?”

“Data yang kita target…”

Dia menatap kami.

“…sudah berubah.”

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

“Berubah bagaimana?”

“Lebih bersih.”

Sunyi.

Aku tertawa kecil.

Pelan.

“Dia lebih cepat dari kita.”

Arkan menghela napas kasar.

“Dia sudah tahu.”

Aku menggeleng pelan.

“Bukan tahu.”

Aku menatap ke arah ruang rapat yang baru saja kami tinggalkan.

“Dia menunggu.”

Dan itu jauh lebih berbahaya.

Kami kembali ke ruang kerja.

Semua langsung bergerak.

Leon membuka semua file lagi.

Lebih cepat.

Lebih dalam.

Aku berdiri di belakangnya.

Mengamati.

“Cari yang tidak sempat dia bersihkan.”

Leon mengangguk.

“Selalu ada yang tertinggal.”

Arkan bersandar di meja.

Tatapannya ke layar.

“Kalau tidak ada?”

Aku menoleh padanya.

“Berarti kita yang harus menciptakannya.”

Beberapa detik sunyi.

Lalu—

“Gila.”

Aku tersenyum tipis.

“Baru sadar?”

Ketegangan sedikit mencair.

Tapi hanya sedikit.

Karena kami tahu—

ini bukan permainan kecil lagi.

Beberapa jam berlalu.

Dan akhirnya—

“Dapat.”

Suara Leon memecah ruangan.

Aku langsung mendekat.

“Apa?”

Dia menunjuk layar.

“Transaksi ini.”

Aku menyipitkan mata.

Melihat detailnya.

Tanggal lama.

Jumlah besar.

Dan—

satu nama.

Aku langsung diam.

“Ini…”

Arkan mendekat.

Melihat juga.

Wajahnya langsung berubah.

“Tidak mungkin…”

Aku menelan ludah.

Karena nama itu—

bukan orang luar.

Tapi seseorang yang…

sangat dekat.

“Dia pakai orang dalam.”

Leon berkata pelan.

Aku mengangguk.

“Dan bukan sembarang orang.”

Sunyi.

Karena kami semua tahu—

ini bukan kebetulan.

Ini pengkhianatan.

Tiba-tiba—

ponsel Arkan berdering.

Dia melihat layar.

Alisnya langsung berkerut.

“Apa?”

Beberapa detik dia diam.

Mendengarkan.

Lalu—

“Bagaimana bisa?!”

Aku langsung menoleh.

“Ada apa?”

Dia menutup telepon.

Wajahnya tegang.

“Gudang utama kita…”

Jantungku langsung berdebar.

“Kenapa?”

“Terbakar.”

Sunyi.

Dunia terasa berhenti lagi.

“Itu kecelakaan?” tanya Leon cepat.

Arkan menggeleng.

“Tidak.”

Tatapannya gelap sekarang.

“Itu pesan.”

Aku menutup mata sebentar.

Menarik napas.

Lalu membuka lagi.

Tatapanku berubah.

Lebih dingin.

Lebih tajam.

“Dia mulai menyerang balik.”

Leon berdiri.

“Kerugian kita besar.”

Aku mengangguk pelan.

“Tapi bukan itu yang dia incar.”

Aku menatap mereka berdua.

“Dia mau kita panik.”

Sunyi.

Arkan mengepalkan tangan.

“Dia salah kalau pikir aku akan mundur.”

Aku tersenyum tipis.

“Bagus.”

Karena aku juga tidak akan.

Ponselku bergetar.

Pesan masuk.

Dari nomor yang sama.

Aku membuka.

“Langkah yang bagus.”

“Tapi kamu masih terlalu lambat.”

“Lihat sekelilingmu… siapa yang akan jatuh berikutnya?”

Tanganku sedikit mengeras.

“Dia kirim apa?” tanya Arkan.

Aku menunjukkan layar.

Wajahnya langsung menggelap.

“Dia mulai main kotor.”

Aku tertawa kecil.

“Dia selalu main kotor.”

Sunyi.

Dan di detik itu—

aku sadar satu hal.

Ini tidak akan berhenti.

Tidak dengan cara biasa.

“Kalau dia mau perang…”

Aku menatap mereka berdua.

“…kita kasih perang.”

Leon mengangguk.

Arkan menatapku.

Dan untuk pertama kalinya—

tidak ada keraguan di matanya.

“Semua atau tidak sama sekali.”

Aku tersenyum.

“Semua.”

Di luar—

sirine terdengar.

Jauh.

Tapi cukup jelas.

Api sudah mulai menyala.

Dan kali ini—

bukan hanya di satu tempat.

Tapi di semua sisi.

Aku berdiri di depan jendela.

Menatap kota.

Lampu-lampu masih menyala.

Seolah semuanya normal.

Padahal tidak.

Tidak ada lagi yang normal.

Karena sekarang—

ini bukan soal siapa yang menang.

Tapi siapa yang masih berdiri di akhir.

Dan aku tidak berniat jatuh.

Tidak kali ini.

Tidak pernah lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!