Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
uang tambahan
Nanda terperangah sambil bertanya dalam hati, “Bukankah dia sudah ngasih uang 5 juta?”
Arjuna dan Nanda juga bengong, mereka tak mengerti juga.
Hanya Amira yang tenang melihat wanita itu dengan beberapa timnya.
“Kenapa saya harus mengembalikan uang itu?” Amira bertanya.
“Ya, itu kan hanya konten, Mbak. Mbak cepatin balikin uang saya, saya mau bikin konten lagi.”
“Oh, seperti itu ya. Kalau saya balikin uang ini, apa untungnya bagi saya?”
Wanita itu masih tersenyum menampilkan giginya yang putih.
“Saya ini konten kreator, Mbak. Jumlah follower saya sudah jutaan, Mbak. Harusnya Mbak beruntung masuk ke konten saya. Mbak akan terkenal loh,” wanita itu tetap membujuk Miranda.
“Ah, uang yang sudah ada di tangan saya tidak akan kembali lagi, Mbak,” Amira menyilangkan tangannya, tak gentar sedikit pun.
“Benar, uang yang sudah ada di kami tidak akan pernah kembali,” Nanda ikut menyilangkan tangan di dada.
Karena nenek dan ibunya bersikap seperti itu, Dewi pun ikut menyilangkan tangan di dada.
Arjuna yang awalnya bengong mengikuti sikap yang lainnya.
“Kembalikan uang itu! Masih banyak orang yang membutuhkannya. Anda ini tidak tahu diri banget. Ingat loh, saya ini follower-nya banyak. Nanti saya bikin konten menjelekkan Anda, maka nama baik Anda akan hancur. Di zaman digital sekarang, nama baik itu yang utama loh. Usaha apa pun Anda, jika nama Anda buruk, maka Anda tidak bisa jualan dengan laris.”
“Oh, saya takut sekali,” ucap Amira, “tapi sayang saya tidak akan pernah mengembalikan uang ini.”
Mata wanita itu memerah, mukanya masam, giginya gemeletuk. Kontennya belum tentu viral karena sudah banyak konten eksperimen sosial seperti dia. Dan dia belum tentu akan mendapatkan uang dari platform, tapi sudah keluar uang banyak.
“Cepat kembalikan uang itu, kalau tidak saya akan benar-benar menghancurkan nama baik Anda!”
“Ya, cepat kembalikan uang itu! Anda harusnya beruntung sudah masuk ke konten kami,” ucap seorang lelaki, salah satu kru pembuatan konten.
“Sayang sekali, mungkin Anda pikir hanya Anda konten kreator. Saya juga konten kreator, asal Anda tahu. Anda pikir saya mau mengeluarkan uang 500.000 demi sebuah mangkuk? Saya sudah tahu Anda hanya orang yang menjual saya. Anda harusnya membayar saya lebih. Lihat akting ibu dan anak-anak saya begitu natural. Padahal mereka juga tahu mereka sedang disorot kamera, tapi karena menghargai Anda, maka kami langsung berakting natural.”
“Nah, kalau Anda tahu itu sebuah konten, harusnya Anda tahu bahwa sekarang ini bayaran dari konten tidak sebesar yang dulu. Karena sama-sama tahu, kembalikan uang saya itu.”
“Ya, saya tahu Anda konten kreator, dan konten kreator yang licik. Saya sudah prediksi Anda yang akan kembali mengambil uang ini, makanya saya juga sekarang sedang membuat konten. Nanti saya kasih judul ‘Di Balik Konten Kreator yang Dermawan’.”
Amira melihat ke sebuah tempat.
“Di sana, Anda lihat itu,” Amira melihat seseorang yang sedang memegang ponsel.
Wanita itu melihat ke arah yang Amira tunjukkan.
“Itu adalah orang yang sedang memegang kamera.”
“Dan Anda lihat di atas sana.”
Wanita itu melihat ke atas.
“Itu adalah drone,” ucap Amira.
“Kamu merekam semua ini?”
“Ya, tergantung kamu. Kalau kamu mau lanjutkan ambil uang saya, saya akan berikan, dan saya akan buat narasi kalau Anda selama ini adalah seorang konten kreator penipu.”
“Hentikan konten kamu!” ucap seseorang.
“Memang baru pengambilan gambar. Untuk suara nanti tergantung saya akan dibawa ke mana konten saya.”
Amira mengambil uang 5 juta. Dia mengibaskan ke atas, seolah sedang diambil gambar oleh drone.
“Ambillah uang ini,” ucap Amira, “dan saya akan bikin narasi kalau saya dimanfaatkan oleh konten kreator penipu. Bayangkan saja, follower Anda akan menghujat Anda. Brand-brand yang sudah bekerja sama dengan Anda akan menghentikan kerja sama, dan tentu saja nama baik Anda akan hancur.”
Amira menyeringai. Sorot matanya biasa saja, dadanya ditegakkan, seolah menantang.
“Kamu jangan menghancurkan nama baik saya. Baiklah, ambil saja uang 5 juta itu,” ucapnya.
“Oh, tidak bisa seperti itu. Saya sudah mengangkat uang ini ke atas, dan gambarnya sudah keburu terambil. Anda harus membalikkan nama baik Anda,” Amira tersenyum.
“Apa maksud Anda?” tanyanya.
“Anda tinggal beri uang kami 500.000, maka saya akan buat narasi kalau Anda menambahkan uang jajan kepada saya.”
“Kamu mengancam saya?”
“Saya tidak mengancam Anda, saya membantu nama baik Anda. Kalau saya mengancam Anda, saya akan minta uang 50 juta, bukan 500.000. Uang 500.000 anggap saja bayaran saya di konten saya ini. Bayangkan, dengan uang 500.000 nama Anda akan semakin baik, dan saya tidak akan mengoceh ke mana-mana membicarakan trik licik Anda.”
“Aku tidak licik, ini memang dunia konten.”
“Ya sudah, kalau Anda tidak licik, biar saya saja yang licik. Saya akan hubungi teman saya untuk melakukan live dan menyiarkan tayangan yang tadi.”
“Stop! Saya akan bayar ini uang 500.000,” ucap wanita itu.
Amira dengan senang hati menerima uang itu.
Wanita itu, setelah memberi peringatan kepada Amira beberapa kali, akhirnya pergi.
Amira dadanya menghangat, senyumnya melebar. Hari ini benar-benar keberuntungannya.
Amira, Nanda, Arjuna, dan Dewi akhirnya menuju ruko.
Di dalam perjalanan, Nanda tak kuat dengan rasa penasarannya.
“Amira, kenapa kamu sekarang jadi pandai berbohong?” tanya Nanda.
“Kapan aku berbohong?”
“Itu, kamu bilang tadi ada yang merekam?”
“Kapan aku bilang ada yang merekam? Aku hanya bilang, tuh lihat ada orang yang megang kamera, tuh ada drone. Mereka saja yang ketakutan. Padahal kalau mereka lebih cerdas, tinggal tanya orang yang sedang memegang kamera apakah benar sedang merekam kita atau tidak.”
Nanda matanya berbinar. Gelak tawa menggema.
“Kamu pintar, Amira. Mamah tak menyangka.”
“Ah, ini pelajaran setelah sekian lama ditipu sama orang.”
Angin siang berhembus, udara terasa terik. Sampailah di ruko tempat mereka tinggal.
Pak Kuswara sedang duduk di depan ruko Amira. Sepintas orang tidak akan menyangka kalau Kuswara-lah pemilik 5 ruko lantai dua. Tampilannya sederhana.
Dia duduk sambil memainkan ponsel.
“Pak Kus sedang apa?” tanya Amira.
Kuswara yang sedang asyik bermain media sosial melihat ke arah Amira lalu bangkit.
“Ah, kalian sudah datang. Aku numpang nongkrong ya di sini,” ucap Pak Kus.
“Ini ruko milik Bapak. Kalau mau tiduran di teras juga tidak masalah.”
Nanda membuka folding gate ruko, sedangkan Amira menemani Pak Kus duduk.
Dewi dan Arjuna duduk di samping Amira.
“Kenapa, Pak Kus? Kayaknya kusut begini.”
“Itu toko elektronik mengeluh lagi, katanya barangnya ada yang hilang.”
“Terus apa mereka menyalahkan kami?” tanya Amira.
“Awalnya sih begitu, tapi aku bilang bukankah selama ini mereka juga sudah sering kehilangan barang.”
“Kok bisa begitu, Pak?”
“Itulah yang aku bingung, Amira. Apakah kamu punya ide?”
besok ibu trus simbok ato biyung🤣🤣🤣
sebagai pelampiasan dewi karena g di izinkn anjani masuk ruko jadilah preman nya yg di hajar dewi dan dililit anjani🤣🤣🤣🤔