Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
***
Langit di atas Desa Sukamaju perlahan berubah dari hitam pekat menjadi kelabu pucat. Namun, bagi Bagas, malam itu seolah tidak pernah berakhir. Setelah punggung Laras yang bergetar menjadi pemandangan terakhirnya di kamar, ia memilih menyingkir.
Ia duduk di kursi kayu teras depan, membiarkan nyamuk dan udara dingin subuh menusuk kulitnya.
Ia merenung. Bayangan lima tahun lalu berputar seperti film tua. Ia ingat hari pertama ia melihat Laras yang masih sangat muda, tampak rapuh dengan kebaya pengantinnya.
Selama ini, ia merasa telah menjadi suami yang sukses. Ia memberikan rumah yang layak, uang yang cukup, dan jabatan terhormat sebagai Ibu Kades. Tapi di teras itu, dalam keheningan yang menyakitkan, Bagas sadar: ia mencintai Laras. Hanya saja, ia adalah produk dari lingkungan yang kaku pria yang dididik bahwa cinta adalah soal menafkahi dan menjaga, bukan soal mengutarakan isi hati. Ia terlalu "bebal" untuk memahami bahwa daster yang lusuh dan badan yang lelah membutuhkan validasi, bukan sekadar perintah.
**
Hari-hari berikutnya di rumah itu terasa lebih mengerikan daripada pertengkaran hebat. Laras berubah menjadi sosok yang Bagas sebut sebagai "robot pengabdi".
Pagi-pagi sekali, kopi hitam Bagas sudah tersedia di meja. Pahitnya pas, suhunya tepat. Seragam dinas Bagas sudah disetrika hingga tak ada satu pun kerutan tersisa. Laras memasak rendang kesukaan Bagas, menyiapkannya dengan telaten di atas piring jati. Namun, saat Bagas duduk di meja makan, Laras tidak menemaninya.
"Ras... duduklah sebentar. Mas mau bicara soal renovasi pasar desa," ucap Bagas, mencoba mencari celah.
Laras hanya menoleh sekilas, matanya kosong, tak ada binar kehidupan di sana. "Laras harus memandikan Arka, Mas. Permisi."
Tidak ada pertanyaan "Mas capek?", tidak ada senyum saat Bagas pulang kantor. Bahkan saat Bagas mencoba membelai rambutnya di malam hari, Laras tidak menolak, namun ia tidak memberikan reaksi apa pun. Ia membiarkan Bagas menyentuhnya seperti patung kayu dingin, kaku, dan tak bernyawa.
Keheningan itu mencekik Bagas lebih dari apa pun.
Puncak dari ketegangan itu terjadi di suatu siang yang menyengat. Anak-anak, Gilang dan Arka, baru saja masuk ke kamar untuk tidur siang. Suasana rumah sunyi, hanya deru kipas angin tua di ruang tengah yang terdengar.
Laras sedang membereskan mainan anak-anak yang berserakan di karpet. Gerakannya lambat, punggungnya berkali-kali diusap karena nyeri yang kian menjadi di usia kandungan delapan bulan. Bagas, yang sengaja pulang cepat karena tak tahan lagi dengan suasana dingin di rumah, berdiri di ambang pintu memperhatikan istrinya.
"Sudah, Ras. Biar Mas yang bereskan," Bagas mendekat, mencoba merebut kotak mainan dari tangan Laras.
Laras menarik kotak itu dengan gerakan mekanis. "Tidak perlu, Mas. Ini sudah tugas Laras."
Bagas meledak. Ia membanting kotak plastik itu hingga mainan kayu di dalamnya berhamburan kembali. Suaranya menggelegar, namun bukan suara kemarahan, melainkan suara keputusasaan.
"Cukup, Laras! Cukup!" teriak Bagas.
Napasnya memburu. "Berhenti bersikap seperti ini! Pukul aku, Ras! Maki-maki aku kalau perlu! Lemparkan mainan ini ke wajahku karena aku sudah membuatmu sakit hati! Tapi tolong... jangan diamkan aku seperti orang asing di rumah sendiri!"
Laras terpaku. Ia berdiri perlahan, memegangi perutnya yang besar. Wajahnya tetap datar, tanpa emosi. "Laras sudah melakukan semua tugas sebagai istri, Mas. Pakaian Mas bersih, makan Mas siap, anak-anak terjaga. Apalagi yang kurang?"
"Yang kurang itu kamu, Laras! Kamu yang dulu! Kamu yang masih bicara, kamu yang masih menatapku!" Bagas mendekat, memegang bahu Laras dengan tangan gemetar. "Aku mohon... katakan sesuatu."
Seketika, tembok pertahanan yang dibangun Laras selama lima tahun terakhir runtuh. Tatapan matanya yang tadi kosong berubah menjadi api yang membara. Ia menghentakkan tangan Bagas dari bahunya.
"Mas mau Laras bicara?" suara Laras yang tadinya halus kini meninggi, serak oleh emosi yang tertahan di tenggorokan. "Mas mau tahu apa yang Laras rasakan?"
"Iya, katakan!"
"Laras juga nggak tahu, Mas! Laras juga nggak tahu apakah Laras mencintai Mas atau tidak!" teriak Laras. Air mata yang sejak tadi ditahan kini luruh deras membasahi pipinya yang pucat. "Lima tahun ini... semuanya terasa kosong! Laras ini siapa, Mas? Gadis SMA yang baru lulus, yang bahkan belum tahu warna kesukaannya sendiri, dipaksa menikah dengan pria asing yang tidak Laras kenal!"
Bagas terkesiap, langkahnya mundur selangkah.
"Setelah menikah, Laras langsung hamil. Laras harus bertaruh nyawa melahirkan Gilang, menyusuinya, mengurus bayi sambil mengurus suami yang menuntut dilayani seperti raja. Belum sempat Laras menarik napas, Laras hamil lagi Arka! Dan sekarang... sekarang Laras hamil lagi!" Laras memukul perutnya sendiri dengan pelan namun penuh kepedihan, yang segera dicegah oleh Bagas.
"Jangan, Ras! Jangan sakiti dirimu!"
"Hidup Laras kosong, Mas! Setiap pagi Laras bangun hanya untuk memastikan Mas Bagas tidak kekurangan apa-apa, supaya warga desa tidak menganggap Laras gagal jadi Ibu Kades. Tapi di dalam sini..." Laras menunjuk dadanya sendiri. "Laras merasa mati. Laras nggak tahu apa yang Laras mau, apa yang Laras inginkan. Selama lima tahun, Laras cuma jadi bayangan Mas Bagas!"
Hening seketika. Hawa panas siang itu terasa membekukan mereka berdua. Bagas menatap istrinya dengan perasaan hancur. Selama ini ia menganggap kepatuhan Laras adalah bukti kebahagiaan, ternyata itu adalah jeritan sunyi yang ditekan sedemikian rupa.
"Laras cuma pengin ngerasain hidup, Mas... bukan cuma jadi mesin yang Mas pakai untuk memenuhi rumah ini dengan anak-anak supaya Mas nggak kesepian," bisik Laras dengan suara yang melemah, tubuhnya merosot duduk di lantai di antara mainan yang berserakan. Ia menangis terisak-isak, menumpahkan segala duka yang ia pendam sejak malam pertama mereka.
Bagas tidak bisa berkata-kata. Lidahnya benar-benar terkunci. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia melihat sosok asli wanita di depannya—bukan Ibu Kades, bukan ibu dari anak-anaknya, tapi Larasati Pramesti yang sedang hancur lebur.
Bagas ikut bersimpuh di depan Laras. Ia ingin memeluk, namun ia sadar, tangannya mungkin terasa sangat asing dan menakutkan bagi Laras saat ini. Di ruang tengah yang sunyi itu, kejujuran yang paling pahit telah terucap, meninggalkan puing-puing pengabdian yang kini harus mereka susun kembali, entah bagaimana caranya.
***
Bersambung....