NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah di Atas Awan

Angin dingin di ketinggian ribuan kaki menusuk hingga ke tulang, namun Yuan tetap berdiri di haluan Bahtera Angin. Rambutnya yang berantakan tertiup angin, menutupi sebagian matanya yang terus menatap tajam ke depan. Di bawah mereka, lautan awan terlihat seperti hamparan kapas yang tak berujung, sesekali diterangi oleh kilatan petir dari badai di kejauhan.

"Yuan, minum ini," Yue Yin menyodorkan sebuah cawan kecil berisi cairan berwarna hijau bening. "Itu adalah sari embun dari akar Bunga Langit. Bisa menekan gejolak energi Ao Kuang di dalam dadamu sebelum paru-parumu benar-benar pecah."

Yuan menerima cawan itu tanpa kata, meminumnya dalam sekali teguk. Rasa dingin yang menenangkan segera menyebar ke seluruh tubuhnya, meredakan api hitam yang sedari tadi membakar pembuluh darahnya.

"Terima kasih, Yue Yin," bisik Yuan. "Dan maaf... gara-gara aku, kotamu hancur."

Yue Yin bersandar pada pagar kayu kapal, matanya menatap kosong ke arah awan. "Kota Tanpa Wajah hanyalah tempat berkumpulnya orang-orang yang sudah kehilangan segalanya, Yuan. Selama orang-orangnya selamat di bunker, kota bisa dibangun kembali. Tapi jika kau mati... harapan untuk menghentikan kegilaan Kekaisaran ini akan benar-benar punah."

Di ruang kemudi, Ming Luo perlahan melepas tangannya dari bola kristal kendali. Kapal itu kini terbang stabil dalam mode otomatis. Ia melangkah keluar, wajahnya terlihat jauh lebih tua dalam keremangan malam.

"Secara logika," Ming Luo memulai, kali ini dengan nada yang lebih serius, "Permaisuri Bayangan melepaskan kita karena dia tahu kita tidak punya pilihan lain. Ibu Kota dilindungi oleh Formasi Sembilan Naga Pengunci Langit. Tanpa izin masuk, kapal ini akan hancur menjadi serpihan sebelum menyentuh gerbang udara."

"Lalu apa rencanamu, Jenderal?" Yuan menoleh.

Ming Luo tersenyum tipis, sebuah kilatan licik muncul di matanya. "Kaisar memiliki kebiasaan buruk; dia sangat percaya pada sistem dan lencana. Di dalam ruang penyimpanan kapal ini, aku menemukan seragam Unit Sayap Perak yang masih utuh. Kita tidak akan menyerang lewat depan. Kita akan masuk sebagai 'pahlawan' yang membawa kabar bahwa Pemanah Naga sudah tewas di Lembah Besi Tua."

"Kau ingin kita menyamar?" tanya Yue Yin ragu.

"Bukan sekadar menyamar," sahut Ming Luo. "Kita akan membawa 'mayat' Yuan ke hadapan Kaisar. Itu adalah satu-satunya cara untuk melewati Formasi Sembilan Naga tanpa memicu alarm. Dan begitu kita berada di dalam... saat itulah aku akan melakukan sesuatu yang paling kubenci sebagai seorang mantan kurator."

Yuan mengepalkan tangannya. "Kau akan mengacaukan sistem mereka dari dalam?"

"Aku akan 'mengaudit' seluruh fondasi spiritual Ibu Kota hingga ke akarnya," bisik Ming Luo. "Jika mereka ingin bermain dengan aturan dan struktur, maka aku akan menunjukkan pada mereka bagaimana rasanya ketika struktur itu berbalik memakan penciptanya."

Yuan terdiam. Ia menatap Busur Naganya yang kini terlihat kusam. Bayangan wajah Permaisuri Bayangan dan kata-katanya tentang orang tuanya kembali terngiang. Ada sebuah rahasia besar yang tersembunyi di balik kemegahan istana itu, sebuah rahasia yang mungkin lebih gelap dari racun Yue Yin.

“KAU SIAP, BOCAH?” suara Ao Kuang terdengar lebih tenang, namun penuh dengan niat membunuh. “IBU KOTA ADALAH TEMPAT DIMANA TULANG-TULANG KAUMKU DIJADIKAN HIASAN TAKHTA. JIKA KAU MASUK KE SANA, JANGAN ADA LAGI RAGU DI HATIMU.”

"Aku siap," ucap Yuan pelan namun mantap.

Kapal logistik itu terus melaju, membelah kegelapan malam. Di kejauhan, cahaya keemasan yang megah mulai terlihat di cakrawala—Ibu Kota Kekaisaran, sebuah kota yang dibangun di atas penderitaan jutaan orang, kini menanti kedatangan tiga orang "hantu" yang akan merobek kedamaian palsunya.

Yuan melangkah ke tepi geladak, membiarkan angin kencang menerpa wajahnya. Di bawah sana, daratan mulai berubah. Hutan-hutan liar berganti menjadi pemukiman padat yang tertata rapi, dengan menara-menara pengawas yang memancarkan cahaya pengintai setiap beberapa mil. Semakin dekat mereka ke Ibu Kota, semakin terasa berat tekanan spiritual di udara.

"Yuan," Yue Yin mendekat, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin. "Jika rencana Ming Luo gagal... jika penyamaran kita terbongkar sebelum sampai ke hadapan Kaisar, ber janjilah padaku satu hal."

Yuan menoleh sedikit. "Apa itu?"

"Jangan biarkan mereka mengambil busurmu. Jangan biarkan Ao Kuang jatuh ke tangan Permaisuri," mata Yue Yin terlihat sangat serius. "Aku lebih baik melihatmu menghancurkan busur itu bersama jiwamu sendiri daripada melihat Kekaisaran memiliki kekuatan naga sejati."

Yuan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan genggamannya pada Busur Naga yang terasa dingin. Ia tahu risiko yang mereka ambil. Masuk ke Ibu Kota bukan sekadar misi penyelamatan atau balas dendam; itu adalah misi bunuh diri yang dibungkus dengan rapi.

Di ruang bawah geladak, Ming Luo sibuk mempersiapkan properti untuk "sandiwara" mereka. Ia menuangkan cairan merah yang berbau amis ke sebuah tandu kayu. "Secara logika," gumamnya pada diri sendiri, "darah binatang spiritual ini cukup kental untuk menipu mata penjaga gerbang. Tapi untuk menipu sensor batin para tetua istana... kita butuh sesuatu yang lebih autentik."

Ming Luo kemudian menatap tangannya sendiri. Dengan gerakan cepat, ia menggores telapak tangannya dengan belati kecil, membiarkan darahnya sendiri menetes ke atas kain kafan yang akan menutupi Yuan nanti. "Darah seorang mantan Jenderal yang membawa kebencian... ini pasti akan memberikan getaran kematian yang cukup meyakinkan."

Kapal mulai melambat saat mereka memasuki wilayah zona larangan terbang. Di depan mereka, tembok raksasa Ibu Kota yang berlapis emas dan perak menjulang tinggi, menembus awan. Sembilan naga batu raksasa melingkari tembok tersebut, mata mereka bersinar merah, memindai setiap jiwa yang berani mendekat. Inilah Formasi Sembilan Naga Pengunci Langit.

"Waktunya tiba," Ming Luo naik ke geladak, wajahnya kini terlihat pucat namun tenang. "Yuan, baringkan dirimu di tandu itu. Tutup aliran energimu sepenuhnya. Jangan bernapas, jangan bergerak, meskipun mereka menusukkan pedang ke tandumu untuk memastikan kematianmu."

Yuan mengangguk. Ia melirik Yue Yin terakhir kalinya, lalu membaringkan tubuhnya di atas tandu yang berlumuran darah. Saat Yue Yin menutupi wajahnya dengan kain kafan yang dingin dan lembap, dunia Yuan mendadak menjadi gelap. Hanya ada suara detak jantungnya sendiri yang semakin melambat, dan bisikan Ao Kuang yang kini terdengar seperti doa kematian.

Bahtera Angin itu mulai turun menuju gerbang pemeriksaan utama. Suara klakson terompet kuno menggema dari tembok kota, menyambut kembalinya "sang pembawa kabar duka".

"Lapor! Unit Logistik membawa mayat Pemanah Naga! Izinkan kami masuk untuk menyerahkannya pada Permaisuri!" teriak Ming Luo dengan suara yang dipalsukan menjadi parau dan penuh duka.

Gerbang udara yang megah itu mulai berderit terbuka, mengeluarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Mereka baru saja melewati garis kematian. Dan di bawah kain kafan itu, Yuan bersumpah dalam hati: jika ia harus bangkit dari "kematian" ini, maka Ibu Kota ini akan menjadi tempat pemakaman bagi mereka yang telah merampas segalanya dari hidupnya.

Permainan sesungguhnya dimulai sekarang.

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: sama sama,kak
total 5 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!