Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Tidak, aku tidak menyuruhmu untuk menutup mata soal pembunuhan yang dibuat Susi, Arumi. Tapi, aku hanya meminta kamu untuk berusaha meluluhkan arwah kuntilanak merah itu. Jika kamu tidak meluluhkannya, maka akan semakin banyak bayi yang meninggal di desamu," ucap Nyai Sekar Arum.
Arumi terdiam sesaat, ia berpikir sejenak, mempertimbangkan semuanya secara matang.
"Kak, aku rasa kalau kamu bisa bikin kuntilanak merah itu luluh dan menjadi arwah baik, maka dia nggak bakal nyulik bayi lagi," ucap Bella.
"Iya, Bell, bener sih," Arumi mengangguk.
Lalu, gadis itu menatap Nyai Sekar Arum.
Ada tekat kuat yang tergambar jelas dalam tatapannya.
"Jadi, gimana cara manggil dia, Nyai?" tanya Arumi.
"Mudah. Pejamkan matamu, berdoalah kepada Allah. Lalu, sebut nama Susi tiga kali,"" jawab Nyai Sekar Arum.
Arumi mengangguk pelan.
Ia mulai memejamkan matanya dengan fokus, lalu menyebut nama Susi di dalam hatinya.
"Hihihiiiii, siapa yang memanggil aku?"
Susi melayang, wujudnya sangat mengerikan.

Perlahan, Arumi membuka matanya.
Bella sedikit gemetaran, ia baru pertama kali melihat sosok semengerikan itu.
"Susi, ini aku, Arumi," ucap Arumi.
"Ada apa, gadis muda? Beraninya kau memanggil aku," geram Susi.
"Susi, mungkin kamu ada masalah dengan orang tuaku. Dan aku minta maaf jika orang tuaku bersalah padamu. Aku akan membantumu untuk mendapat keadilan, Susi. Tapi tolong, bantu aku. Aku diculik oleh seorang dukun," ucap Arumi memohon.
Kau pikir setelah apa yang dilakukan ibumu, aku akan memaafkanmu begitu saja? Tentu saja tidak! Pasti kau itu sama saja dengan dia," ucap Susi masih dengan kemarahannya.
"Tidak. Aku dan adikku berbeda dengannya. Kami memang anaknya, tapi bukan berarti sifat kami sama. Tolonglah, Susi. Jika aku dan adikku telah berhasil keluar dari rumah dukun ini,maka kami akan mencari keadilan untukmu, dan kami akan mencari tahu masalah dirimu," kata Arumi masih belum menyerah.
"Memangnya karena apa kau sampai diculik begini?" tanya Susi masih dengan suaranya yang tampak ketus.
Arumi terdiam kala mendengar pertanyaan itu.
Bayangan saat orang tuanya meninggalkan ia dan adiknya tanpa ragu kembali melintas di benaknya. Menjadi kaset rusak yang ingin ia hempas segera dari ingatannya.
Namun bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Ia pun tak mengira bahwasanya akan dibawa ke rumah Mbah Parjo.
"Awalnya aku kira ibuku akan mengajak aku dan adikku ini jalan-jalan saja. Rupanya, dia mengajak kami ke sini untuk menemui Mbah Parjo. Katanya mata batinku akan ditutup, sementara darah adikku, Bella, akan diambil supaya dukun itu makin sakti," ucap Arumi menceritakan semuanya dengan penuh kesedihan.
"Ah, kasihan juga lah kau ini. Ternyata Sawitri bisa jahat pada anak sendiri juga ya, hihihi, wanita busuk," ucap Susi.
"Terima kasih, Susi, jadi kamu mau bantuin aku, kan?" tanya Arumi guna memastikan.
"Hihihiiiii. Aku akan membantumu, dan aku akan membunuh dukun itu,"Susi tersenyum menyeringai, matanya berkilat tipis.
Saat melihat senyuman itu, tubuh Bella semakin bergetar ketakutan.
Arumi memegangi tangan gadis itu, berusaha memberikan kekuatan agar dirinya tidak semakin tenggelam dalam ketakutan.
Namun, tetap saja Bella malah semakin menunduk. Ia tak mau melihat wujud dari Susi.
"Apakah kamu nggak bosen membunuh?" tanya Arumi pada akhirnya.
"Tidak, darah bayi sangat lezat, hihihi," jawab Susi, dengan tawanya yang terdengar menakutkan walaupun suasana masih siang hari.
Apakah kamu nggak kasihan sama bayi-bayi yang kamu bunuh itu? Mereka ‘kan masih pengen hidup juga," ucap Arumi.
"Hihhihi, aku sama sekali enggak kasihan sama mereka. Untuk apa kasihan? Yang membunuh aku aja dengan entengnya menebas leherku. Dia sama sekali tidak ada kasihannya dengan aku," jawab Susi.
Nadanya sedikit lebih tinggi dari biasanya. Seolah masih mengingat hal yang telah membuat dirinya tewas.
"Ah, oke-oke, ini belum saatnya ya. Tapi tolong, jangan kamu bunuh dukun itu, buat dia jera saja, aku nggak mau kena kasus kalau kamu sampe bunuh dia," pinta Arumi.
"Hihiiiiii, kamu banyak sekali permintaan, Arumi," Susi tampak mulai marah.
"Biarkan saja dia, Arumi, dia bisa marah kalau kau seperti itu," ucap Nyai Sekar Arum, suaranya terdengar di benak Arumi.
"Maaf-maaf, Susi, iya terserahmu saja, aku tidak akan ikut campur. Tapi, yang perlu kamu tahu, nantinya arwahmu akan sulit pulang kalau kamu terus membunuh," kata Arumi.
"Aku tidak peduli, dan itu bukan urusanmu," jawab Susi.
Lalu, kuntilanak merah itu terbang keluar, dengan suara tawanya yang begitu melengking.
Arumi menghela napas panjang setelah Susi pergi.
Memang sulit menghadapi arwah yang jiwanya masih penuh dendam.
Oleh karenanya, Arumi tidak terlalu banyak bicara.
Sebab kekuatannya saat ini belum cukup apabila harus membuat Susi menjadi arwah baik sepenuhnya.
Mungkin, cara membuat dirinya menjadi arwah baik adalah dengan cara membalaskan seluruh sakit hatinya, dan membuat dirinya mendapatkan keadilan yang sesungguhnya.
Arumi menatap sang adik yang sedari tadi tangannya tak lepas ia genggam.
"Dek, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Arumi.
Karena adiknya itu sedari tadi hanya diam saja, tak berbicara sepatah kata pun.
"I-iya, aku enggak apa-apa, Kak. Sosok itu dia ngeri banget," jawab Bella.
"Iya, awalnya juga aku takut," ucap Arumi.
"Tapi, Kak, beneran dia penculik bayi itu?" tanya Bella.
"Beneran, Bell, dia emang selalu memakan darah bayi," jawab Arumi.
"Sadis banget dia, tapi kok kayak pengen cepet-cepet pergi gitu ya dia?" tanya Bella penasaran.
Dari gelagatnya, Susi memang tampak begitu tak nyaman dan ingin cepat-cepat pergi dari sana.
"Iya, Dek, dia itu nggak kuat nyium bau darah kamu," jawab Arumi, yang sudah bisa menebak alasan mengapa Susi seolah tak nyaman.
"Maksudnya gimana, Kak? Emang aku istimewa gitu?" Bella mengernyitkan dahi.
"Darahmu itu darah wangi. Kata Nyai Sekar Arum, darah kamu itu di sukain sama para makhluk gaib. Makanya Mbah Parjo pengen banget sama darahmu," jawab Arumi.
Bella terdiam, otaknya mulai memproses, menghubungkan kejadian demi kejadian yang telah menimpanya hari ini.
"Oh iya ya, Kak, ya, pantesan kok Mbah Parjo marah pas darah aku keluar," ucap Bella akhirnya mengerti.
"Nah itu, darah kamu itu berharga buat pelaku ilmu sesat," jawab Arumi.
"Terus sekarang kita gimana, Kak?" tanya Bella.
"Nya teu kukumaha, cicing we," jawab Arumi santai.
(Ya nggak gimana-gimana, diem aja,)
"Ih, kamu mah keur kieu ge masih bisa santai keneh. Maksud teh, kita cicing wae kitu, nunguan ritual? Abi mah sararieun," omel Bella panjang lebar.
(Ih, kamu lagi kayak gini juga masih bisa santai aja. Maksudku, kita diem aja gitu, nungguin ritual? Aku sih takut,)
"Nggak ada cara lain, Bell, kita cuma bisa nunggu sampe malem," jawab Arumi.
Oke guys, jadi untuk novel ini tuh up-nya emang malam, soalnya saya nulisnya juga sore. Nggak tahu kenapa, suka aja update malem, soalnya enakan nulis pagi sama sore, kalau siang bawaannya panas, nggak enak lah pokoknya.
Setiap penulis kan punya waktu tenangnya tersendiri, ya, jadi sabar aja menunggu.
Insya Allah up, cuma ya gitu, malam.