NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Dunia Masa Depan / Sistem / Sci-Fi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Bab 30

Sumpah! Bumi mulai merasa sangat pusing dan mual. Berada di motor milik Sally yang bergerak berputar, naik turun, kiri kanan, menghindari Michael yang mengikuti mereka tanpa henti.

Bumi teriak ke Sally sambil menahan muntah, “Kenapa kamu nggak mau ikut balapan festival?”

Sally terdiam, melihat ke layar kamera belakang, lalu fokus ke depan, mengendalikan motor kanan dan kiri, menghindari keramaian lalu lintas.

“Kamu jago banget!” kata Bumi lalu bergegas menutup mulutnya karena merasa mual.

“Karena pada dasarnya, balapan festival itu adalah saringan untuk Led Hamlich memilih orang muda yang jago mengendarai motor,” jawab Sally dengan cepat dan fokus.

“Dipilih buat apa?” tanya Nuri dari belakang Sally.

“Buat jadi tentara!”

Nuri dan Bumi terdiam.

“Tentara untuk menguasai kerjaana Arbuck! Mengatur inti bumi!”

“Kamu tahu, inti bumi sudah tidak ada?”

“Sama sekali?” tanya Sally.

“Yah, ada sih, tapi sangat sedikit…,” jawab Nuri sambil teriak dan menutup mata.

“Sedikit itu lah yang memang Led Hamlich kejar.”

Nuri dan Bumi terdiam.

“Kalian tahu siapa Led Hamlich?” tanya Sally.

Suara bising mesin menderu di jalanan melawan angin yang bergesekan dengan dinding luar motor. Kalau mereka menggunakan motor biasa, mungkin kulit mereka sudah habis terbawa angin.

“Tahu! Pam pernah cerita,” kata Bumi sambil menahan tangan Sally. “Kita mau kabur sampai kapan? Mereka tetap akan mengejar kita.”

“Sial!” Sally terasa kesal. “Kamu benar.”

Sally mengendarai motornya dengan lebih sadar. Kecepatan motor diturunkan perlahan. Motor Michael mendekat.

Akhirnya Sally keluar dari jalan tol, lalu dengan perlahan berhenti di pinggir sebuah gedung. Gedung tua, khas kota futuristic, terbuat dari metal, bangunannya berdemptan. Trotoar yang lembab. Sally membuka pintu motor yang tidak memiliki program seperti Emma di kapsul pesawatnya Bumi. Mereka bertiga keluar dari motor.

Tiga orang keluar dari motor yang mengikuti mereka.

“Michael?” Sally teriak heran. “Ternyata kamu yang bantuin mereka ngejar aku dari tadi?”

“Kamu ngapain sih lari? Kita hampir dikejar polisi tahu!” Michael yang umurnya tidak jauh dari Sally, hanya saja badannya kurus tinggi dan agak sedikit bau, mendekati Sally lalu menatap Bumi dan Nuri. “Siapa mereka?”

“Teman aku,” Sally menjawab cuek.

“Nggak mungkin. Populasi remaja di kota ini sangat terbatas. Masa ada orang yang aku tidak tahu?” tanya Michael memperhatikan Nuri dan Bumi.

Sepertinya Michael tertarik pada Nuri. Mata birunya tidak bisa lepas dari Nuri. Nuri melangkah mendekati Bumi lalu berdiri di belakang Bumi.

“Siapa mereka?” tanya kedua temannya Michael mendekati Sally.

“Guys! Siapa mereka, nggak penting. Yang penting, aku nggak mau ikut balapan!” jelas Sally sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.

“Nggak! Ini penting. Kalau ada orang baru, terus kita laporin, kita bisa untung besar!” teriak temannya Michael yang berambut panjang ke temannya Michael yang berambut cepak.

“Kita bisa bebas dari tugas tentara!” jawab temannya rambut cepak.

“Lapor, kepala polisi,” kata temannya Michael yang rambut gondrong ke jam tangannya.

“Hei!” Sally menggegam jam tangan temannya itu. “Kita bisa bicarakan.”

“Semakin mencurigakan,” kata temannya Michael yang rambut cepak.

“Bumi!” tiba-tiba terdengar suara dari belakang mereka. Seorang pria paruh baya, menggunakan kacamata teriak memanggil Bumi dari seberang jalanan. Kakinya satu terbuat dari besi metal.

“Ayah?” gumam Bumi.

Nuri heran, “Ayah?”

“Ayah di sini,” kata Bumi berbisik pada Nuri, sedangkan ayahnya jalan mendekatinya.

Ayahnya langsung memeluknya dan berbisik, “Ayah tau kamu pasti selamat!”

“Ayah juga selamat. Ibu juga?”

Ayahnya mengangguk dan masih berbisik, “Pura-pura di sini sudah lama.”

“Oh, iya,” Bumi mengangguk.

“Anak saya ini emang suka lupa ingatan. Memorinya pendek sejak kejatuhan mesin pengolah bahan bakar singkong!” Ayah bicara pada kedua temannya Michael. “Makasih, ya, udah nemuin Bumi!” kata ayahnya Bumi pada Sally dan Nuri.

“Sama-sama, Om,” jawab Sally.

“Ayo, kita pulang!” ajak Ayahnya Bumi.

--

Ayah dan Ibunya duduk di meja makan setelah menyajikan minuman hangat untuk Bumi dan Nuri. Mereka saling menceritakan keadaan masing-masing. Bumi menceritakan soal perempuan maya immortal dan pertemuannya dengan Nuri, sambil makan dengan semangat, karena memang dia sangat lamar.

Ruang makan yang apartemen ayah dan ibunya Bumi itu terletak di lantai lima gedung apartemen warna hitam yang terbuat dari metal. Ada saluran kendaraan di depan setiap lantai. Motornya Sally terparkir di depan jendela ruang tamu. Suasana udara di kota itu, lembab dan pengap, seperti kota yang ada di bawah kolong jalan tol atau jembatan yang kumuh. Meski begitu, di setiap sudutnya ada banyak hologram bersinar menghiasi.

Sally yang juga turut serta ke rumah ayah dan ibunya Bumi, menjelaskan apa yang terjadi.

“Memang, bahaya kalau ikut balapan itu,” jawab ayahnya mengangguk. Ayahnya sendiri juga tidak bisa menolak tinggal di kota California sebagai peneliti pesawta. Karena memang ada projek Led Hamlich yang hendak membuat pesawat luar angkasa untuk bisa mencari inti bumi yang lain.

“Kalau begitu, aku saja yang gantikan!” jawab Bumi.

Semua kaget.

“Aku tidak begitu mahir. Aku bisa saja kalah dan tidak terpilih, kan?”

“Kamu tahu kalau tidak terpilih akan jadi apa?” tanya Sally.

Bumi menggelengkan kepala.

“Akan dipekerjakan di underground!” jawab Sally.

“Apa itu?” tanya Nuri.

“Pertambangan dekat lava bumi, tempat membuat alat-alat dan mesin untuk membuat pesawat,” ibunya Bumi menjelaskan. “Sebuah tempat yang tidak seharusnya ditemukan. Semakin orang mengetahui, harusnya semakin bijak, bukan malah semakin mengeksploitasi.”

Ayahnya Bumi mengangguk.

“Kalau begitu, aku harus menang!” jawab Bumi semangat, karena memang dirinya sangat pandai naik motor.

“Tapi kalau menang kamu jadi tentara Led Hamlich!” teriak Nuri. “Dan itu sama buruknya kan?” Nuri bertanya ke Sally.

Sally berpikir sejenak, lalu menatap ibu dan ayahnya Bumi. “Tapi jadi punya akses ke gedung Hamlich sih.”

“Gedung Hamlich?” tanya Bumi heran.

“Gedung tempat Prof Keiko tinggal dan bekerja,” Ayahnya Bumi menjawab.

Bumi dan Nuri saling lirik.

Nuri menganggukkan kepala.

“Oke, daftarkan aku!” kata Bumi. “Setelah itu, ajarkan aku motor mu!”

“Nggak! Sebelum itu, kita harus temukan Pam dulu,” jawab Sally membuat semuanya terdiam. Mereka baru ingat kalau Pam entah di mana. Dan harus segera ditemukan, karena Pam termasuk dalam daftar pencarian orang yang berbahaya oleh Led Hamlich.

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!