NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Cyprian

Pernyataan jujur itu menjadi kalimat terakhir yang sanggup diucapkan Christina sebelum seluruh tenaganya terkuras habis.

Rasa panas sisa sihir katedral di dadanya mendadak berubah menjadi dingin yang membekukan, seolah-olah seluruh energinya ditarik keluar secara paksa. Pandangannya terhadap wajah Cyprian mulai kabur, bergoyang, dan perlahan menggelap di tepinya. Suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman drum yang semakin menjauh.

Christina mencoba mencengkeram jubah Cyprian untuk tetap terjaga, namun jari-jarinya kehilangan kekuatan. Tubuh rapuhnya limbung ke samping.

"Christina!"

Suara bariton Cyprian adalah hal terakhir yang ia dengar sebelum kegelapan total menelannya. Ia tidak merasakan lantai marmer yang keras, karena sepasang lengan yang kuat dan penuh bekas luka perang telah menangkapnya dengan sigap sebelum ia terhempas.

Dalam pingsannya, Christina tidak berada di London, tidak juga di Skyrosia. Ia melayang di ruang hampa yang dipenuhi kabut berwarna ungu dan merah.

Di sana, ia melihat bayangan seorang gadis remaja dengan rambut perak dan gaun putih yang basah kuyup. Itu adalah Sybilla asli. Gadis itu menatap Christina dengan tatapan sedih namun penuh rasa terima kasih. Ia tidak bicara, namun sebuah perasaan hangat mengalir. Sybilla asli telah menyerahkan tempatnya karena ia terlalu lelah untuk bertarung.

Kupu-kupu merah-biru itu kembali muncul, hinggap di atas dada Christina yang tidak berwujud. Pendar cahaya biru elektriknya kini menyatu dengan detak jantungnya yang lemah, memberikan energi vital untuk menjaga tubuh fisik Sybilla tetap hidup di dunia nyata.

Kamar Tidur Utama – Beberapa Jam Kemudian

Cahaya fajar Skyrosia yang berwarna emas kemerahan menyelinap masuk melalui jendela besar, menyinari wajah Sybilla yang kini terbaring di atas tempat tidur mewah berkelambu sutra.

Christina membuka matanya perlahan. Langit-langit kamar yang penuh ukiran mitologi angkasa menyambut pandangannya. Kepalanya tidak lagi berdenyut, namun tubuhnya terasa sangat ringan, seolah-olah beban sihir yang tadi malam ia "makan" telah dijinakkan.

Ia menoleh ke samping dan tersentak.

Cyprian masih di sana. Ia tidak pergi ke kamarnya sendiri. Sang Duke duduk di kursi goyang berbahan kayu ek dekat tempat tidur, masih mengenakan kemeja hitam yang sama, namun jas kebesarannya sudah dilepaskan. Ia tampak tertidur dalam posisi duduk dengan tangan bersedekap, namun napasnya yang teratur menunjukkan bahwa ia telah berjaga sepanjang malam.

Di atas meja samping tempat tidur, terdapat sebuah mangkuk perak berisi air dan sapu tangan basah. Cyprian—pria yang ditakuti seluruh benua—ternyata telah merawatnya sendiri tanpa memanggil pelayan.

Tiba-tiba, mata emas itu terbuka. Tajam dan waspada.

"Kau sudah bangun," ucap Cyprian datar, namun ada nada lega yang terselip di sana. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke mata ungu Sybilla yang kini tampak jernih. "Atau harus kupanggil... Christina?"

.

.

.

Keheningan menyelimuti kamar itu selama beberapa saat, hanya menyisakan deru angin Skyrosia yang menghantam jendela kristal. Christina menatap langit-langit kelambu yang megah, lalu beralih pada tangannya yang pucat dan halus.

Ia menarik napas panjang, merasakan udara dingin yang berbeda dengan polusi London. Rasa sesak di dadanya perlahan memudar, digantikan oleh kesadaran yang pahit namun nyata. Nama "Christina" mungkin masih berdenyut di jiwanya, tetapi dunia ini, tubuh ini, dan pria bermata emas di sampingnya adalah kenyataan barunya.

"Sybilla," ucapnya pelan, mencoba merasakan bobot nama itu di lidahnya sendiri. Suaranya tidak lagi bergetar sehebat semalam. "Panggil aku Sybilla. Karena sepertinya... Christina tidak akan bisa pulang ke rumahnya lagi."

Cyprian menurunkan tangannya dari sandaran kursi, menatapnya dengan intensitas yang seolah bisa membaca setiap inci pikiran gadis itu. Ia menyadari transisi mental yang baru saja terjadi. Sosok yang panik dan histeris semalam telah terkubur, digantikan oleh seseorang yang sedang mencoba membangun benteng pertahanan baru.

"Pilihan yang pahit, namun cerdas," gumam Cyprian. Ia berdiri, mendekat ke sisi tempat tidur hingga bayangannya menutupi tubuh Sybilla. "Jika kau memilih menjadi Sybilla, maka kau harus tahu satu hal: Sybilla yang asli sudah menyerah. Tapi kau... kau baru saja menelan sihir katedral yang seharusnya menghancurkanmu. Itu artinya kau jauh lebih kuat darinya."

Cyprian mengulurkan tangannya, kali ini tanpa sarung tangan, menunjukkan bekas luka bakar akibat mencoba menyentuh lingkaran sihir semalam.

"Skyrosia sedang gempar. Ayahku menuntut penjelasan mengapa pulau ini bergetar hebat semalam, dan ayahmu menuntut ganti rugi atas tambang kristalnya yang meredup. Mereka akan datang ke sini dalam hitungan jam untuk menyeretmu kembali ke altar jika kau terlihat lemah."

Ia menatap Sybilla lurus-lurus. "Jadi, Duchess... apakah kau sanggup berdiri dan menunjukkan pada mereka bahwa kunci Skyrosia kini ada di tanganmu, bukan di bawah kendali mereka?"

Sybilla (Christina) menatap tangan Cyprian yang penuh luka. Ia teringat motor tuanya di London, bunga gypsophila untuk neneknya, dan kehidupan sederhananya yang telah lenyap. Ia meraih tangan Cyprian, merasakan kulitnya yang kasar dan hangat.

"Bantu aku berdiri, Duke," ucap Sybilla dengan nada otoritas yang mulai merayap masuk ke suaranya. "Dan jangan biarkan mereka menyentuhku lagi."

Cyprian tidak langsung menarik Sybilla dari tempat tidur. Ia tetap memegang tangan gadis itu, namun matanya beralih ke jendela, menatap Rantai Adamant yang raksasa di kejauhan. Wajahnya yang biasanya keras kini tampak menyimpan kelelahan yang sangat dalam.

"Sepuluh tahun," gumam Cyprian, suaranya parau. "Kau mungkin menganggapku pengecut karena membiarkanmu terjebak dalam sangkar emas ini sementara aku pergi berperang. Kau mungkin berpikir aku menikmati kekuasaan yang datang dari pertunangan ini."

Ia melepaskan tangan Sybilla perlahan, lalu berjalan menuju meja kecil, menuangkan air ke dalam gelas perak dengan gerakan yang sangat terkendali.

"Alasan aku membiarkan perjodohan ini tetap ada bukan karena aku menginginkan hartamu atau aliansi Aethelgard," lanjutnya, memunggungi Sybilla. "Aku membiarkannya karena itu adalah satu-satunya cara untuk melindungimu dari sesuatu yang lebih buruk."

Cyprian berbalik, matanya yang emas berkilat tajam.

"Sybilla, jika pertunangan ini batal sepuluh tahun lalu, ayahmu. Count Felix, sudah berencana menjualmu kepada Sekta Bayang-Bayang di Perbatasan Bawah. Mereka menginginkan 'darah murni' Davenport untuk membangkitkan entitas kegelapan. Baginya, kau hanyalah komoditas. Jika kau bukan tunanganku, kau sudah lama menghilang di kegelapan bawah sana."

Ia menghela napas panjang, menaruh gelas itu tanpa meminumnya.

"Aku pergi ke Medan Perang Kegelapan selama lima tahun bukan untuk mencari kejayaan. Aku pergi untuk memburu para penyihir Sekta itu satu per satu. Aku ingin memusnahkan ancaman terhadapmu sebelum aku kembali untuk membawamu ke Skyrosia. Aku berpikir... jika aku menang di sana, aku bisa memberimu kebebasan di sini."

Cyprian melangkah mendekat kembali, suaranya merendah hingga hampir menjadi bisikan.

"Tapi aku salah. Aku terlalu fokus pada musuh di luar, hingga aku tidak menyadari bahwa musuh terbesarmu adalah ritual di katedral ini. Aku membiarkanmu terjebak dalam perjodohan ini karena aku pikir Skyrosia adalah tempat teraman di dunia ini. Ternyata, aku membawamu ke sangkar yang lebih mematikan."

Ia menatap tanda cahaya di pergelangan tangan Sybilla.

"Kini, segel itu membuktikan bahwa kau telah melampaui ramalan mereka. Kau bukan lagi alat politikku, Sybilla. Kau adalah pemilik energi Skyrosia. Dan alasan aku berdiri di sini sekarang... bukan lagi untuk menjagamu sebagai tunanganku, tapi karena aku berutang nyawa pada 'anomali' yang ada di dalam tubuhmu ini."

Sybilla (Christina) terdiam. Ia baru menyadari bahwa pria yang ia anggap monster dingin ini ternyata telah menghabiskan masa mudanya di medan perang hanya untuk memastikan ia tidak berakhir di tangan sekta gelap.

"Jadi..." Sybilla menatap mata emas itu. "Selama ini Anda berperang demi aku?"

Cyprian hanya mengangguk tipis, sebuah pengakuan yang sangat berat bagi seorang Duke yang sombong. "Dan sekarang, perang itu pindah ke dalam istana ini. Mereka akan datang sebentar lagi. Apakah kau siap menghadapi mereka bersamaku?"

1
❄Snow white❄IG@titaputri98
Semangat Thor😍😍😍
Thinker Bell ><
Keep up the good work for myself.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!