NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan Terjebak

Selasa di kantor Bank Nasional adalah puncak dari segala kesibukan. Telepon yang berdering tanpa henti, tumpukan berkas yang harus segera ditandatangani sebelum jam makan siang, dan mondar-mandirnya staf kurir menciptakan simfoni kekacauan yang seharusnya bisa mengalihkan perhatian siapa pun. Namun, bagi Sinta, semua kebisingan itu terasa seperti latar belakang yang kabur. Fokusnya hanya tertuju pada satu hal: menjaga jarak aman dari Jingga.

Sesuai kesepakatan tak tertulis mereka semalam, hari ini adalah hari "Total Asing". Sinta tidak melirik ke arah pintu masuk Divisi Audit. Ia tidak pergi ke pantry pada jam-jam Jingga biasanya mengambil air. Ia bahkan sengaja mengambil jalur memutar melalui lift barang hanya untuk menghindari kemungkinan berpapasan di lobi utama.

"Sinta, ini laporan mitigasi risiko untuk nasabah sektor manufaktur sudah selesai?" suara bariton Adrian tiba-tiba muncul di samping kubikelnya.

Sinta tersentak, hampir menjatuhkan kursor tetikusnya. "Eh, sudah, Mas. Tinggal satu poin lagi soal agunan tambahan."

Adrian tersenyum, namun matanya menyelidik. Ia meletakkan tangannya di sandaran kursi Sinta, sebuah gestur yang bagi orang luar terlihat penuh perhatian, namun bagi Sinta terasa seperti klaim kepemilikan. "Bagus. Jangan terlalu diforsir ya. Oh ya, makan siang nanti kita ke restoran Thailand di depan? Saya sudah pesan meja."

"Maaf, Mas. Kayaknya aku makan di meja saja. Ada revisi mendadak dari bagian legal," tolak Sinta halus. Ia merasa tidak nyaman menunjukkan kemesraan publik di tengah rumor yang masih hangat.

Adrian terdiam sejenak, rahangnya mengeras sedikit, namun ia tetap mempertahankan senyumnya. "Baiklah. Jangan telat makan ya, Sayang."

Kata "Sayang" itu diucapkan dengan volume yang sedikit lebih keras dari biasanya, seolah-olah Adrian ingin memastikan seluruh ruangan mendengarnya—terutama seseorang yang mungkin sedang menguping dari kejauhan.

Sinta hanya mengangguk kaku. Begitu Adrian masuk ke ruangannya, Sinta menghela napas panjang. Ia merasa seperti sesak napas. Ia butuh oksigen. Ia memutuskan untuk pergi ke area balkon terbuka di lantai sepuluh, tempat yang biasanya sepi di jam sepuluh pagi.

Sesampainya di balkon, Sinta berdiri di tepi pagar kaca, menghirup udara Jakarta yang bercampur polusi namun terasa jauh lebih lega daripada udara di dalam ruangan. Ia memejamkan mata, membiarkan angin mempermainkan helaian rambutnya yang terlepas dari jepitan.

Namun, ia merasa ada sesuatu. Sebuah sensasi yang familiar—seperti ada sepasang mata yang sedang menembus punggungnya.

Sinta menoleh perlahan ke arah jendela kaca besar yang menghubungkan koridor utama dengan balkon. Di sana, sekitar sepuluh meter darinya, berdiri Jingga.

Pria itu sedang memegang beberapa map biru, tampak seperti baru saja keluar dari ruang rapat direksi. Namun, Jingga tidak sedang berjalan. Ia berdiri mematung. Tatapannya lurus, tajam, dan tidak berkedip ke arah Sinta.

Biasanya, jika mereka tertangkap basah saling melihat, salah satu dari mereka akan segera membuang muka dengan kikuk. Namun kali ini, tidak ada yang bergerak.

Jingga menatap Sinta dengan intensitas yang melampaui sekadar rekan kerja atau teman kontrak. Ada kerinduan yang tertahan, ada kecemasan yang mendalam, dan ada amarah yang disembunyikan di balik bola mata gelapnya. Ia baru saja melihat bagaimana Adrian mengusap bahu Sinta di kubikel tadi, dan bayangan itu seolah membakar kewarasannya.

Sinta pun terpaku. Ia tidak bisa berpaling. Di mata Jingga, ia melihat pantulan dirinya sendiri—seorang wanita yang terjepit di antara dua dunia. Ia melihat pria yang semalam mengembalikan pulpen kesayangannya dengan lembut, kini kembali menjadi sosok auditor yang dingin namun penuh gairah yang terpendam.

Hening. Suara bising kendaraan di bawah sana seolah lenyap. Dunia menyempit menjadi garis lurus antara mata Sinta dan mata Jingga.

Detik demi detik berlalu. Udara di antara mereka terasa statis, bermuatan listrik statis yang siap memercikkan api kapan saja. Sinta merasa lututnya sedikit lemas. Tatapan Jingga seolah menelanjangi semua kebohongannya, seolah pria itu sedang berkata tanpa suara: 'Aku tahu kamu tertekan, dan aku benci tidak bisa melakukan apa-apa.'

Tiba-tiba, pintu koridor terbuka. Luna muncul dari balik tikungan, membawa beberapa dokumen. "Jingga? Kamu ngapain berdiri di sini? Rapat sama Pak Direktur sudah selesai, kan?"

Suara Luna bertindak seperti palu yang menghancurkan kaca. Jingga tersentak, tatapannya langsung putus dari Sinta. Ia berdehem kaku, menyesuaikan kacamata yang sebenarnya tidak miring.

"Eh, iya. Baru saja selesai. Saya cuma sedang... mengecek detail di map ini. Cahaya di sini lebih terang," dalih Jingga, suaranya terdengar sedikit parau.

Luna melirik ke arah luar jendela, ke arah balkon tempat Sinta masih berdiri mematung. Mata Luna menyipit. Ia melihat Sinta yang buru-buru membuang muka dan pura-pura merapikan rambutnya.

"Ooh, mengecek dokumen ya? Atau lagi mengecek 'pemandangan' di luar?" sindir Luna dengan nada yang tidak lagi ramah. "Sinta juga di luar ya? Kebetulan sekali."

Jingga tidak menjawab. Ia segera memutar tubuhnya dan berjalan mendahului Luna dengan langkah cepat. "Ayo kembali ke ruangan. Masih banyak yang harus dikerjakan."

Sinta, yang masih berada di balkon, bisa mendengar percakapan itu lamat-lamat. Ia merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Gawat. Gue ketahuan lagi, batinnya panik. Ia segera masuk kembali ke dalam gedung, namun melalui pintu yang berbeda agar tidak berpapasan dengan Luna.

Sepanjang sisa hari itu, suasana menjadi sangat awkward. Setiap kali Sinta harus ke bagian fotokopi yang letaknya dekat dengan meja Jingga, ia bisa merasakan mata pria itu mengikutinya, meskipun Jingga tampak sibuk mengetik di laptopnya. Begitu pula sebaliknya; saat Jingga berjalan melewati divisi kredit, Sinta secara otomatis mengangkat wajahnya, hanya untuk kemudian menunduk lagi dengan cepat saat menyadari Adrian sedang memperhatikannya dari balik kaca ruangannya.

Ini adalah siklus yang menyiksa. Semakin mereka berusaha untuk tidak saling melihat, semakin kuat keinginan untuk mencari keberadaan satu sama lain di dalam ruangan luas itu. Mereka seperti dua kutub magnet yang dipaksa menjauh secara mekanis, namun secara alami terus mencoba menarik satu sama lain.

Sore harinya, saat kantor mulai sepi, Sinta sedang membereskan mejanya ketika ia mendapati sebuah pesan WhatsApp masuk.

J: "Tadi di balkon... maaf. Gue nggak bermaksud bikin lu nggak nyaman. Gue cuma... gue cuma nggak suka liat dia nyentuh lu di depan semua orang."

Sinta menahan napas membaca pesan itu. Ia menoleh ke arah meja Jingga, namun kursi pria itu sudah kosong. Jingga sudah pulang lebih dulu.

Sinta membalas dengan jemari yang sedikit gemetar.

Sinta: "Gue tahu. Tapi tadi Luna liat kita, Jingga. Dia makin curiga. Kita harus bener-bener berhenti saling liat-liatan kayak tadi."

Balasan masuk hampir seketika.

J: "Gue berusaha, Sin. Tapi mata gue nggak selalu mau nurut sama otak gue kalau menyangkut lu."

Sinta tertegun di kursinya. Kalimat itu terasa lebih intim daripada sebuah pelukan. Ia segera menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas dengan terburu-buru. Ia harus segera pulang. Udara di kantor ini sudah terlalu penuh dengan rahasia yang menyesakkan.

Di parkiran, Sinta bertemu dengan Adrian yang rupanya sudah menunggunya di samping mobilnya. "Sinta, ayo saya antar pulang. Kebetulan saya lewat arah sana."

Sinta ingin menolak, namun ia teringat peringatan Adrian kemarin. Jika ia menolak terus, Adrian akan semakin curiga pada Jingga. "Boleh, Mas. Terima kasih."

Di dalam mobil Adrian, Sinta mencoba bersikap normal, namun pikirannya melayang pada tatapan terjebak dengan Jingga tadi pagi. Ia merasa seperti pengkhianat. Di satu sisi, ada pria yang memberinya kemewahan dan kepastian karier, dan di sisi lain, ada pria yang memberinya kejujuran dalam kegelapan dan tatapan yang mampu meruntuhkan pertahanannya hanya dalam hitungan detik.

Sesampainya di lobi apartemen, Sinta bergegas naik. Begitu pintu unit 12-B terbuka, ia melihat Jingga sedang duduk di meja makan, memegang segelas air putih. Cahaya lampu gantung membuat suasana terasa persis seperti saat mereka mengobrol tengah malam kemarin.

Jingga mendongak saat Sinta masuk. Tatapan itu kembali muncul. Tatapan yang sama dengan yang terjadi di balkon tadi pagi—intens, terjebak, dan penuh arti.

"Tadi diantar Pak Adrian lagi?" tanya Jingga, suaranya tenang namun ada nada getir yang terselip.

Sinta meletakkan tasnya dengan kasar di kursi. "Gue terpaksa, Jingga. Kalau gue nolak terus, dia bakal makin curiga sama lu. Lu tahu kan dia ngancem mau mindahin lu?"

Jingga berdiri, mendekati Sinta hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. "Gue nggak peduli dia mau mindahin gue ke mana, Sin. Yang gue peduliin adalah gimana gue harus tahan liat lu sama dia setiap hari sementara gue harus akting jadi orang asing."

"Terus lu maunya gimana?" tantang Sinta, matanya mulai berkaca-kaca karena frustrasi. "Lu mau kita jujur sama semua orang? Lu mau karier gue hancur? Lu mau Ayah sama Mama kecewa?"

Jingga terdiam. Ia menatap wajah Sinta yang kemerahan karena emosi. Kemarahannya mendadak surut, digantikan oleh rasa iba dan sesuatu yang lebih dalam. Ia menyadari bahwa Sinta memikul beban yang jauh lebih berat darinya.

"Maaf," bisik Jingga. Ia mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh pipi Sinta, namun ia menghentikannya di tengah jalan. Ia menarik tangannya kembali. "Gue cuma... gue cuma benci ngerasa nggak berdaya."

Sinta menunduk, air matanya jatuh satu tetes ke lantai marmer. "Kita berdua terjebak, Jingga. Tatapan tadi pagi... itu bukti kalau kita berdua udah nggak bisa profesional lagi. Dan itu bahaya buat kita."

Malam itu, mereka berdua kembali ke kamar masing-masing dengan perasaan yang lebih berat dari sebelumnya. Tatapan terjebak di balkon kantor bukan hanya sekadar momen canggung; itu adalah pengakuan tanpa suara bahwa ada sesuatu yang besar sedang tumbuh di antara mereka, sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana, sesuatu yang bisa menghancurkan segala sandiwara yang telah mereka bangun dengan susah payah.

Dan di balik pintu kamar yang tertutup, baik Jingga maupun Sinta tahu, bahwa mulai hari ini, tidak akan pernah ada lagi hari "Total Asing" yang sesungguhnya. Karena sejauh apa pun mereka menjauh, mata mereka akan selalu mencari satu sama lain dalam keramaian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!