Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 16
Seorang ART datang memanggil Amelia untuk makan malam pukul 7 malam. Amelia segera menggendong Emi untuk mengikuti ART yang mengarahkannya ke ruangan makan.
Sejak datang ke rumah keluarga Harrison, Amelia memang tidak sempat diajak berkeliling. Ia hanya melihat ruang tamu, kemudian diantar melalui koridor menuju kamar untuk beristirahat. Setelahnya, Amelia sama sekali tidak keluar dari kamar. Ia mengurus Emi yang rewel karena perjalanan jauh dan sempat Amelia tinggalkan cukup lama.
Beberapa jam Amelia habiskan di kamar bersama Emi. Semula Anna menemaninya, tapi hanya sebentar. Kemudian wanita itu pamit untuk mengurus persiapan makan malam. Karena menurut Anna, selain Amelia ada beberapa orang yang diundang untuk datang.
Jujur saja, Amelia gugup ketika mengetahui akan bertemu orang asing di acara makan malam. Ia sudah lama tidak menghadiri acara makan malam. Biasanya hanya ada dirinya dan Emi, ditemani Caelan di akhir pekan.
Omong-omong soal Caelan, pria itu sama sekali belum terlihat. Seminggu sudah Amelia tidak melihat Caelan. Entah bagaimana kabar pria itu. Sepertinya baik-baik saja, jika tidak Anna dan Simon pasti sudah memberitahu Amelia.
Caelan baik-baik saja, hanya tidak ingin bertemu Amelia.
Tidak mendapat kabar dari Caelan selama seminggu cukup membuat Amelia resah, juga kesal dan merasa bersalah. Andai ia memberikan jawaban ‘iya’ pada Caelan seminggu lalu, mungkin ceritanya akan berbeda. Namun, keraguan masih menyelimuti Amelia. Ia masih ragu apakah Caelan benar-benar pria yang tepat untuknya.
Bagaimana jika Caelan melamar Amelia karena tidak ingin kehilangan Emi? Bisa jadi, semua yang Caelan perjuangkan adalah agar tidak terpisah dengan Emi.
Namun, Caelan terlihat tulus. Bukan tipe orang yang membuat perencanaan jahat dan menikah hanya karena tidak ingin kehilangan seorang keponakan yang sebenarnya tidak harus dia urus.
Lagi pula, lamaran Caelan dibuat tanpa persiapan. Hanya diucapkan begitu saja karena suasana. Jika Caelan memang merencanakannya, pasti pria itu membuat rencana khusus agar tidak mendapatkan penolakan dari Amelia.
Amelia menarik napas dalam, berusaha berpikiran positif mengenai Caelan. Terutama Amelia berusaha mengusir kekesalan pada Caelan, karena pria itu mengabaikannya seminggu penuh.
Pasti ada alasan mengapa Caelan mengabaikanku dan Emi.
“Silakan menunggu di sini, Tuan dan Nyonya sedang menyambut tamu di ruang depan,” ujar ART sebelum meninggalkan Amelia di ruangan itu hanya bersama Emi.
Sebelum pergi, ART tersebut meletakkan tas berisi perlengkapan Emi di bagian sudut ruangan di atas playmat empuk yang sudah disediakan untuk tempat Emi bermain.
Amelia membawa Emi duduk di atas playmat dan bermain bersama keponakannya sembari menunggu dengan penuh antisipasi. Entah yang datang orangtua Caelan bersama tamu mereka atau Caelan, semuanya pasti akan membuat Amelia berada di situasi canggung.
Rasanya benar-benar menakutkan ketika menunggu sesuatu yang entah apa tanpa benar-benar memiliki persiapan.
“Semoga ini akan mudah,” bisik Amelia pada dirinya sendiri.
“Hai.”
Suara itu membuat Amelia mendongak, matanya menangkap sosok yang seminggu ini sangat dirindukan.
Caelan berdiri di ambang pintu berpakaian santai dengan sweater dan celana bahan. Namun, itu sudah cukup untuk membuat jantung Amelia berdebar. Alih-alih menatap lama pria yang dirindukannya itu, Amelia justru membuang pandangannya. Tidak sanggup dengan kilau bercahaya dari Caelan yang membuat pikirannya kosong.
Amelia mendengar langkah Caelan yang makin mendekat, lalu berhenti tepat di sebelahnya. Emi yang melihat kedatangan Caelan sangat antusias, merangkak mendekati Caelan dan langsung masuk ke dalam pelukan pria itu.
“Halo, kesayangan Om Caelan. Bagaimana kabarmu seminggu ini?”
Emi menjawab Caelan dengan bahasa bayi yang sulit dipahami. Namun, bagi orang yang menyayangi Emi, pasti tahu bahwa gadis kecil itu sedang mencurahkan kerinduan kepada pamannya itu.
Emi terkikik ceria, tangannya menepuk-nepuk pipi Caelan bahkan menjambak rambut pria itu. Mungkin sedang menunjukkan kekesalan karena diabaikan seminggu penuh.
Bibir Amelia tersenyum melihat hal itu, dan Caelan menangkap senyumannya.
“Hei, aku minta maaf,” ucap Caelan. “Sikapku seminggu terakhir sangat menyebalkan.”
Amelia merengut. “Kau cukup tahu diri,” ujarnya.
“Sebenarnya, aku sangat tahu diri,” sahut Caelan. “Hanya saja, kadang tidak ingin mengakui kegagalan.”
“Kau merasa gagal karena aku tidak memberikan jawaban?” tanya Amelia langsung.
Wajah Caelan terlihat memerah di bawah cahaya lampu ruangan yang terang. “Kau memang tidak suka berbasa-basi ya, Amelia. Selalu langsung ke permasalahan,” ujar Caelan.
“Ah, maaf,” ucap Amelia.
Caelan menggeleng pelan. “Justru itu yang kusuka darimu. Kau langsung menyatakan sesuatu agar bisa cepat menyelesaikannya.”
“Bukan sepertimu yang kabur seminggu,” sahut Amelia dengan nada sebal.
Caelan mengangkat tangan. “Aku tidak akan menghindar. Itu memang salahku, kabur seperti pengecut karena ditolak.”
“Jadi, menurutmu aku menolakmu? Bukannya kau yang bilang aku bisa menjawab kapan saja. Aku belum menjawab, dan kau sudah berasumsi ditolak? Lalu kau menghilang selama seminggu, tidak menelepon, tidak memberi kabar, membuatku dan Emi khawatir dan merindukanmu.”
Amelia terdiam karena baru saja mengakui sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia sampaikan pada Caelan dengan begitu mudah.
“Jadi, kau menrindukanku?”
Amelia tidak menjawab dan memilih untuk mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu pandang dengan tatapan lembut Caelan.
“Kau juga tidak menolakku?”
Amelia masih menutup mulutnya, berpura-pura sibuk bermain dengan Emi yang sibuk menyusun balok-balok kayu.
“Aku sudah memikirkannya selama seminggu penuh. Kurasa aku memang gagal.”
Amelia membuka mulut untuk bicara, tapi Caelan mengangkat tangan untuk menghentikannya dan melanjutkan bicara.
“Aku gagal karena tidak melakukannya dengan baik.”
Caelan merogoh kantong dan mengeluarkan kotak kecil. Amelia menduga-duga isi kotak kecil itu dan berharap dugaannya benar.
“Aku tidak tahu ini akan sesuai seleramu atau tidak, tapi aku memilihnya dengan saksama. Berharap benda ini bisa memperlihatkan kesungguhanku. Aku benar-benar ingin menikah denganmu.”
Caelan membuka tutup kotak kecil itu dan memperlihatkan sebuah cincin model round cut yang simpel dan elegan. Berlian yang menjadi fokus utama cincin berkilau dengan indah. Amelia tidak bisa menakar karat dari berlian itu, karena tidak terbiasa dengan perhiasan apalagi yang bertahtah permata. Namun, di mata Amelia cincin itu terlihat memukau.
“Amelia, menikahlah denganku.”
Amelia tidak sanggup berkata-kata. Keraguan yang sempat membuatnya kebingungan seminggu terakhir tiba-tiba sirna. Sekarang Amelia merasa sangat yakin untuk menerima. Jadi, Amelia menggangguk sembari berkata, “Ya, Aku bersedia.”
Caelan tersenyum lebar, tangan pria itu gemetar saat memasangkan cincin di jari manis Amelia. Mereka berdua sama gugupnya, tapi juga sama-sama bahagia. Dan seolah bisa merasakan kebahagiaan Amelia dan Caelan, Emi meraih tangan Amelia dengan jemari gempal gadis kecil itu. Lalu satu tangan lainnya meraih jari Caelan.
“Lihat, bahkan Emi merestui kita,” ujar Caelan sambil menggenggam tangan Amelia.
Amelia mengangguk bahagia.
Caelan mendaratkan ciuman di kening Amelia dan berkata, “Terima kasih, Amelia.”