NovelToon NovelToon
Perjodohan Yang Mengubah Hatiku

Perjodohan Yang Mengubah Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Percintaan Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinar

Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.

Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.

Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.

Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Diam Yang Menyimpan Banyak Ketakutan

Ada perasaan takut yang tidak selalu keluar dalam bentuk amarah, terkadang dia datang sebagai diam. Diam yang terlalu tenang, diam yang justru lebih menyesakkan dari pada sebuah bentakan.

Terkadang di balik diam itu ada sebuah rasa panik yang ditahan, ada khawatir yang menyesakkan, ada rasa takut kehilangan yang tidak tahu harus diungkapkan dengan cara seperti apa.

Dan siang itu...

Perasaan Adrian tidak nyaman, ada rasa takut yang tidak tahu sumbernya dari mana. Ruang meeting dilantai dua belas Mahendra Corp terasa serius dan tegang, presentasi berjalan dengan beberapa manager tengah menjelaskan laporan kuartal berjalan.

Suara proyektor terdengar pelan dengan Kertas-kertas laporan terbuka dimeja, Adrian duduk diujung meja rapat dengan wajah tenang seperti biasanya. Namun entah mengapa sejak tadi hatinya terasa tidak nyaman, perasaan yang gelisah dan sulit fokus.

Padahal semua berjalan seperti biasa tidak ada yang berbeda, tapi Adrian masih mencoba untuk fokus menatap layar persentasi meskipun sampai saat ini pikirannya masih melayang. Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan, kini tangannya meraih ponsel yang tergeletak di meja tidak ada pesan dari sang istri padahal jam sudah menunjukkan pukul 13.20 wib.

" Sudah makan, Sayang?"

Adrian mengirimkan pesan kepada Nayara, biasanya di jam seperti ini sang istri masih sempat membalas pesannya dengan cepat walaupun singkat. Tapi siang ini tidak ada balasan apa-apa membuat perasaannya semakin risau.

Perasaan gelisah itu sampai saat ini tidak pergi justru semakin kuat, Adrian menarik nafas panjang masih mencoba kembali untuk fokus.

Ditempat lain dirumah IGD sebuah rumah sakit, Nayara terbaring lemah diatas bangkar rumah sakit dengan wajahnya yang pucat dengan tangan yang terpasang infus. Rasa perih di lambung membuat tubuhnya lemas, tadi siang ia terlalu sibuk dikantor dengan rapat yang panjang, laporan menumpuk sampai Nayara tidak sempat makan apapun.

Namun karena merasa pusing akhirnya Nayara minum kopi tanpa makan terlebih dahulu, bermaksud agar kondisi tubuhnya tetap kuat namun beberapa waktu setelahnya perutnya langsung bereaksi terasa seperti diremas, rasa nyeri yang menjalar tubuhnya terasa lemas, pandangannya berkunang-kunang lalu semuanya terasa kacau secara singkat.

Livia sang sekretaris melihat kondisi saat itu panik langsung membawa kerumah sakit dan sekarang, Nayara hanya bisa berbaring lemah sambil memejamkan kedua bola matanya menahan rasa sakit dan perih.

Sejak tadi Livia berdiri disamping bangkar dengan tangan yang sibuk menghubungi Adrian, telpon berdering tapi tidak ada jawaban sampai sudah beberapa kali dicoba masih belum ada jawaban.

" Pak Adrian mungkin sedang meeting, lebih baik aku hubungi Pak Reza saja..."

" Jangan hubungi suami saya, Livia" gumam Nayara panik namun masih lemah.

" Tapi Bu..."

" Nanti dia khawatir, pekerjaan dia pasti sedang banyak saat ini" ucap Nayara kembali.

Livia mengigit bibirnya justru karena itulah ia merasa harus menghubungi Adrian, dan tanpa jeda akhirnya Livia langsung menghubungi Reza.

Ditengah meeting ponsel Adrian bergetar dengan layar yang menampilkan nama Reza, ia jarang sekali menerima telepon dari sang Asisten Pribadi apalagi saat meeting kecuali penting.

" Ya..." Adrian langsung menjawab.

" Pak... Ibu Nayara dirumah sakit karena asam lambung naik, Livia baru saja mengubungi saya" suara Reza terdengar cepat

Wajah Adrian langsung pucat dan langsung berdiri tanpa mempedulikan semua orang yang berada diruang rapat yang tengah menatapnya.

" Siapkan mobil sekarang, Za" .

" Saya sudah dibawah, Pak" jawab Reza.

Adrian langsung melangkahkan kakinya keluar meeting dengan cepat, bahkan nyaris berlari. Sepanjang perjalanan kerumah sakit Adrian hanya diam, wajahnya tegang dengan tangan mencengkram erat kursi mobil.

" Pak, Bu Nayara sudah ditangani oleh dokter" Reza menyetir dengan melirik beberapa kali kearah Adrian.

Adrian tidak menjawab nafasnya terasa berat, pikirannya kacau, perasaannya campur aduk takut, panik, dan marah pada keadaan.

Kenapa lagi?

Kenapa dia tidak makan?

Kenapa tidak bilang?

Kenapa aku tidak ada disana?

Adrian merasa takut sesuatu terjadi pada istrinya, takut terlambat, takut kehilangan, dan sesampainya dirumah sakit Adrian berjalan dengan cepat menuju IGD.

Begitu pintu ruangan terbuka langkahnya melambat, terlihat sangat istri ada disana terbaring lemah dengan wajah yang pucat, tangannya terpasang infus dan semua kepanikan dalam dirinya berubah menjadi diam.

Adrian berdiri disamping ranjang menatap wajah istrinya tanpa berbicara, Nayara yang melihat kedatangannya langsung merasa cemas bukan karena Adrian marah tapi karena Adrian diam.

" Mas..." suara Nayara lirih.

Adrian masih tetap diam hanya menarik kursi dan duduk disamping bangkar sang istri, tatapannya tidak lepas dari wajah pucat istrinya. Nayara mendundukkan kepalanya merasa semakin bersalah langsung memenuhi dadanya.

Adrian masih diam tangannya menggenggam jemari Nayara dengan lembut, hangat tapi genggaman itu terasa berat. Dan diam itu terasa begitu menyesakkan dalam sasa Nayara.

Mas kenapa kamu diam?

Aku lebih suka kamu marah.

Tapi jika Adrian sudah diam seperti ini itu artinya ia benar-benar takut dan jauh lebih menyakitkan.

" Kenapa?" hanya satu kata pelan dan datar yang keluar dari mulut Adrian.

" Maaf..." lirih Nayara menjawab.

" Saya tanya kenapa? Bukan maaf jawabannya" ucap Adrian.

" Aku salah, Mas. Aku belum sempat makan..." jeda Nayara.

" Lalu...." Adrian menunduk sebentar.

" A.. Ak.. Aku minum kopi" air mata Nayara langsung menggenang.

Adrian memejamkan mata sesaat seolah dirinya tengah menahan gejolak yang kini sedang ia tahan didalam dadanya.

" Kamu tahu itu bisa bikin lambungmu sakit?" tanya Adrian dengan suara pelan.

" Aku berpikir tidak akan terjadi apa-apa" Nayara menganggukkan kepalanya pelan.

" Kamu pikir? Serius kamu berpikir seperti itu?" Adrian tertawa pelan tapi terlihat menakutkan.

" Aku minta maaf, Mas. Aku salah " bisik Nayara bercampur lemas.

" Sepanjang perjalanan, Saya berpikir bahkan membayangkan banyak hal buruk yang terjadi sama kamu..." Adrian menatap Nayara lelah.

" Mas..." air mata Nayara jatuh.

" Saya takut Nayara sumpah, saya takut sesuatu hal buruk terjadi sama kamu dan aku terlambat datang sampai ke sini" suara Adrian mulai serak.

" Maaf, aku salah... Aku tidak bermaksud membuat Mas khawatir " Nayara menggenggam tangan Adrian lebih erat.

" Saya tahu kamu tidak sengaja, tapi kamu terlalu sering mengabaikan diri kamu sendiri" Adrian menundukkan kepalanya menahan emosi yang masih bergejolak.

" Aku sibuk, dan aku berpikir aku kuat, meskipun minum kopi tidak akan terjadi apa-apa " ucap Nayara lirih.

" Nayara Almeera, menjaga diri bukan soal kuat atau tidak" Adrian menggelengkan kepalanya.

" Aku terlalu takut kehilangan kamu Nayara Almeera..." lagi, Adrian mengeluarkan suaranya.

Dan saat mendengar itu hati Nayara terasa sesak, karena ternyata laki-laki didepannya bukan sedang marah. ia hanya terlalu takut akan kehilangan.

Dokter datang untuk memeriksa dan menyampaikan kondisi Nayara yang memerlukan rawat inap malam ini, setelah dokter pergi ruangan kembali tenang hanya ada suara monitor dan hembusan pendingin ruangan yang terdengar.

" Maaf ya Mas, aku merepotkan" suara Nayara terdengar pelan.

" Jangan bilang seperti itu, kamu istri Mas bukan beban" Ucap Adrian yang masih setia berada disamping Nayara.

" Aku merasa gagal menjaga diriku sendiri" Nayara kembali menangis.

" Tidak, kamu hanya terlalu keras pada dirimu sendiri" Adrian menggelengkan kepalanya pelan.

Perempuan ini adalah istri saya, dia terlalu kuat untuk semua orang sampai lupa untuk lembut pada dirinya sendiri.

" Ara ... Kamu boleh jadi kuat untuk siapapun, tapi kamu tidak harus memaksakan diri" ucap Adrian pelan.

" Aku hanya takut mengecewakan orang" jawab Nayara.

" Kalau kamu jatuh sakit, justru kamu mengecewakan dirimu sendiri. Mas tidak ingin kehilangan kamu hanya karena kamu lupa menjaga diri sendiri" kata Adrian pelan.

Malam itu mereka tidak banyak bicara, tapi percakapan sederhana itu terasa sangat dalam tanpa emosi, tanpa nada tinggi hanya dua hati yang saling jujur satu sama lain.

Satu dipenuhi rasa takut dan satu lagi dipenuhi rasa bersalah dan keduanya sama-sama belajar bahwa mencintai juga berarti menjaga diri agar orang yang mencintai kita tidak terluka.

1
SANG
Semangat
SANG
Lanjut/Rose//Rose/
SANG
Lanjut dek
SANG
Bintang lima aku kasih dek👍
SANG
Karena novel ini sangat menarik, makanya aku kasih bintang lima. Moga tamat.
SANG: Masama dek👍/Rose/
total 2 replies
SANG
Semangat dek👍
SANG
Makin tambah mendebarkan
SANG
Bunga menyusul/Rose//Rose/
SANG
Semangat dek👍
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo kak aku mampir dicerita yang ini🤗
SANG
Tak kasih bunga /Rose//Rose//Rose/Biar tambah semangat
SANG
Iklan untukmu dek👍
lLy trililly
ah seru lanjut dong ka ampe mrka punya Adrian junior ma nayya mini
Almeera: Kakakk Ily terimakasih banyak sudah berkenan mampir di karya sederhana ini 🥲🥲🙏❣️
total 1 replies
SANG
Like juga untukmu dek. Biar tambah semangat.👍
SANG
Aku kasih iklan untuk mu dek, ya👍
SANG
Bunga untukmu dek/Wilt//Wilt//Wilt/
Santai Dyah
bner ini perjodohan yang di trima dengan ihklas ngak kayak kehidupan lainnya
Santai Dyah
Andrian bener-bener cinta tuh
Santai Dyah
Smoga cinta mereka bisa segera menyatu
Santai Dyah
cinta selalu membuat orang bahagia meskipun dengan perhatian dari hal-hal kecil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!