NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Bayangan di Balik Kaca

Aisha tidak tidur semalaman. Ia duduk di kursi dekat jendela kamar Baskara, matanya tidak lepas dari halaman depan rumah. Setiap gerakan bayangan pohon yang diterpa angin membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Setiap suara lolongan anjing tetangga membuatnya meraih ponsel, siap menelepon polisi.

Tapi Mia tidak kembali. Setelah bayangan itu menghilang di balik kegelapan, tidak ada tanda-tanda kehadiran wanita itu lagi.

Aisha bertanya-tanya: apakah Mia benar-benar datang? Atau hanya halusinasinya karena kelelahan dan ketakutan? Tapi ia yakin melihat senyum itu. Senyum yang sama dengan foto usang di tangannya.

Pukul lima pagi, langit mulai memutih. Aisha meregangkan otot-ototnya yang kaku. Ia berjalan ke dapur, membuat segelas teh hangat, lalu kembali ke kamar Baskara. Anak itu masih terlelap, posisinya berubah—kini berguling ke sisi kiri, satu tangan menjulur keluar selimut.

Aisha duduk di tepi tempat tidur, mengusap rambut Baskara perlahan. Anak itu bergumam kecil, lalu tersenyum dalam tidurnya. Mungkin sedang bermimpi indah. Mungkin tentang sepeda barunya, tentang bermain di halaman tanpa rasa takut.

“Ibu tidak akan biarkan mimpimu rusak, Nak,” bisik Aisha. “Ibu janji.”

Pukul tujuh pagi, Baskara bangun. Ia melihat Aisha masih duduk di sampingnya, dan bertanya polos, “Bu, Ibu nggak tidur?”

Aisha tersenyum tipis. “Ibu tidur, kok. Ibu bangun lebih pagi.”

Baskara tampak tidak yakin, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia beranjak ke kamar mandi, mandi, berganti pakaian. Aisha menyiapkan sarapan di meja makan: telur dadar, roti panggang, dan susu hangat.

Bu Ratna bergabung beberapa menit kemudian. Wajah wanita tua itu juga tampak lelah—mungkin ia juga tidak tidur nyenyak setelah Aisha menceritakan tentang bayangan Mia di malam hari.

“Aisha, aku sudah bicara dengan tetangga sebelah,” kata Bu Ratna sambil duduk. “Mereka bersedia membantu menjaga lingkungan. Jika ada yang mencurigakan, mereka akan langsung memberi tahu.”

Aisha mengangguk. “Terima kasih, Bu.”

“Lalu bagaimana dengan Arka? Ada kabar?”

“Belum. Polisi masih mencari.”

Bu Ratna menghela napas panjang. Ia memegang tangan Aisha. “Nak, aku tahu kau dan Arka sudah bercerai. Tapi kau masih peduli padanya, bukan?”

Aisha menunduk. “Saya tidak bisa tidak peduli, Bu. Dia ayah dari anak saya.”

“Bukan hanya itu,” Bu Ratna menatap mata Aisha. “Kau masih mencintainya.”

Aisha tidak menjawab. Tapi matanya berkaca-kaca.

Setelah sarapan, Aisha memutuskan untuk membawa Baskara bermain di halaman belakang. Halaman itu cukup luas, berpagar tinggi, dan tidak terlihat dari jalan depan. Setidaknya Baskara bisa menghirup udara segar tanpa risiko terlihat oleh orang asing.

Baskara mengayuh sepeda barunya berkeliling halaman. Tertawanya terdengar riang, melupakan sejenak semua masalah yang membelit keluarganya. Aisha duduk di kursi taman, memandangi anaknya dengan hati yang campur aduk.

“Bu, lihat! Aku bisa lepas tangan!” teriak Baskara, mengayuh dengan kedua tangan terangkat.

“Hati-hati, Nak!” Aisha tersenyum, tapi matanya tetap waspada memeriksa sekeliling.

Tiba-tiba, ponsel Aisha berdering. Arka.

Ia langsung mengangkat dengan tangan gemetar. “Arka? Kau di mana? Kau baik-baik saja?”

“Aisha.” Suara Arka terdengar parau, lelah, tapi jelas. “Aku baik-baik saja. Aku... aku di rumah sakit.”

“Rumah sakit? Kenapa? Kau sakit? Luka?”

“Tenang. Aku tidak apa-apa. Hanya lecet-lecet. Aku ditemukan polisi pagi tadi di sebuah gudang kosong di kawasan Cakung. Aku... aku tidak ingat banyak. Tapi aku selamat.”

Aisha menutup mata, menghela napas lega yang dalam. “Terima kasih Tuhan. Arka, aku di Surabaya bersama Baskara. Aku akan segera kembali ke Jakarta. Kita harus bicara.”

“Ya. Kita harus bicara banyak. Tapi sebelum itu... Aisha, Mia ada di Jakarta. Aku bertemu dengannya. Dia... dia berbeda. Aku tidak tahu lagi siapa dia sebenarnya.”

“Aku tahu. Aku juga bertemu dengannya—atau setidaknya melihat bayangannya—tadi malam. Dia datang ke sini, Arka. Dia berdiri di depan rumah ibumu.”

Arka terdiam. Lalu suaranya bergetar. “Dia datang ke sana? Apakah Baskara baik-baik saja?”

“Baskara baik-baik saja. Dia tidak melihat Mia. Aku yang melihat. Tapi Arka, Mia mengancam. Dia bilang jika kita menghalangi, dia akan menyakiti Baskara.”

“Kita harus memindahkan Baskara. Tempat yang lebih aman. Jauh dari Surabaya, jauh dari Jakarta.”

“Ke mana?”

Arka diam sejenak. “Aku akan jemput kalian. Aku akan terbang ke Surabaya sore ini. Kita akan pergi ke tempat yang tidak diketahui siapa pun. Aku punya seorang teman di Bali, mantan polisi. Dia bisa membantu.”

Aisha ragu. “Apakah itu aman? Mia pasti akan mencari kita.”

“Lebih aman daripada diam di sini. Percayalah padaku, Aisha. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar tahu apa yang harus dilakukan.”

Aisha menatap Baskara yang masih asyik mengayuh sepedanya. Anak itu tertawa, tidak tahu bahwa dunia di sekelilingnya sedang runtuh.

“Baik. Aku akan menunggu di sini. Tapi hati-hati, Arka. Mia mungkin tahu kau akan ke sini.”

“Aku akan hati-hati.”

Panggilan terputus. Aisha memegang ponselnya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang kencang. Arka selamat. Itu yang terpenting. Tapi ancaman Mia masih nyata. Mereka harus segera meninggalkan Surabaya.

Sore harinya, Aisha sudah mengemas barang-barang Baskara. Bu Ratna membantu menyiapkan bekal untuk perjalanan. Wanita tua itu menangis diam-diam ketika memeluk Baskara.

“Nenek sayang kamu, Nak. Jaga diri baik-baik,” bisik Bu Ratna.

“Nenek ikut, yuk,” pinta Baskara, tidak mengerti mengapa ia harus pergi begitu cepat.

“Nenek tidak bisa. Nenek harus menjaga rumah. Tapi nenek akan menelepon kamu setiap hari. Janji?”

Baskara mengangguk, meski matanya berkaca-kaca.

Aisha memeluk Bu Ratna. “Terima kasih, Bu. Maaf merepotkan.”

“Tidak usah minta maaf, Nak. Kalian keluarga saya. Apa pun yang terjadi, kalian selalu punya tempat di sini.”

Pukul enam sore, Arka tiba di Surabaya. Ia menjemput Aisha dan Baskara di rumah Bu Ratna. Penampilannya berantakan—kemeja kusut, wajah lebam di pipi kiri, tangan dibalut perban tipis. Tapi matanya tegas, tidak lagi kosong seperti beberapa minggu lalu.

“Ayah!” Baskara berlari memeluk Arka. “Ayah kenapa lebam? Siapa yang pukul Ayah?”

Arka membelai rambut Baskara. “Ayah jatuh, Nak. Tidak apa-apa. Yang penting Ayah sekarang di sini.”

Mereka tidak membuang waktu. Segera masuk ke mobil sewaan Arka, melaju menuju bandara. Tiket pesawat ke Bali sudah dipesan. Dari Bali, mereka akan dijemput teman Arka dan dibawa ke tempat persembunyian yang aman.

Di dalam mobil, Baskara duduk di kursi belakang, kepalanya bersandar di pangkuan Aisha. Ia mengantuk, tapi sesekali membuka mata dan bertanya, “Bu, kita pergi ke mana?”

“Ke tempat yang aman, Nak. Kita akan liburan sebentar.”

“Liburan sama Ayah dan Ibu?” mata Baskara berbinar.

Aisha menatap Arka di kursi depan. Pria itu menatapnya sekilas melalui spion tengah.

“Iya, Nak. Liburan bertiga,” jawab Aisha pelan.

Baskara tersenyum, lalu memejamkan mata kembali.

Di bandara, mereka melalui proses check-in dengan cepat. Arka sudah memesan tiket bisnis kelas satu agar Baskara bisa lebih nyaman. Aisha menggenggam tangan Baskara erat-erat, tidak melepaskannya sedetik pun.

Saat mereka berjalan menuju ruang tunggu, ponsel Aisha berdering. Pesan masuk dari nomor yang sama.

“Kau pikir bisa kabur, Aisha? Aku selalu tahu di mana kalian. Bali bukan tempat yang aman. Di Bali, aku punya kenalan. Di mana pun kalian pergi, aku akan menemukan. Tapi kau bisa menghentikan semua ini. Kembalikan Arka padaku. Biarkan dia bertanggung jawab atas perbuatannya. Setelah itu, kalian bebas.”

Aisha menunjukkan pesan itu pada Arka. Wajah Arka mengeras.

“Dia tahu kita ke Bali,” bisik Aisha.

“Dia hanya menggertak. Aku tidak akan menyerah padanya. Kita tetap pergi.”

“Tapi Arka, jika dia benar-benar tahu...”

“Aisha, kau percaya padaku?”

Aisha menatap mata Arka. Mata yang dulu ia cintai, yang sempat kehilangan cahaya, dan kini mulai menyala lagi dengan tekad.

“Aku percaya,” jawab Aisha.

Mereka melanjutkan perjalanan.

Pesawat lepas landas pukul delapan malam. Baskara tertidur hampir seketika, lelah setelah seharian bermain dan terkejut dengan perubahan rencana mendadak. Aisha duduk di sampingnya, sesekali mengusap kening anak itu.

Arka duduk di kursi di seberang lorong. Ia tidak tidur. Matanya menatap kosong ke luar jendela, ke langit malam yang gelap.

Aisha beranjak, duduk di kursi kosong di samping Arka. “Kau tidak istirahat sebentar?”

“Aku tidak bisa. Setiap kali aku pejamkan mata, aku melihat Mia. Wajahnya, suaranya, semuanya.”

“Apa yang terjadi ketika Mia membawamu?”

Arka menghela napas panjang. “Dia tidak membawaku dengan paksa. Aku pergi sukarela. Dia mengirim pesan, memintaku datang ke sebuah tempat. Aku pikir dia mau bicara baik-baik. Tapi ternyata...”

“Ternyata?”

“Dia bukan Mia yang dulu. Dia penuh amarah, Aisha. Dia menyalahkanku atas semua penderitaannya. Dan dia... dia punya bukti bahwa keluarga angkatku tidak hanya menyembunyikannya, tapi juga menjualnya ke seseorang ketika dia masih remaja.”

Aisha menutup mulut dengan tangan. “Dijual?”

Arka mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Dia disiksa, Aisha. Selama bertahun-tahun. Baru beberapa tahun lalu dia bisa melarikan diri. Dan aku... aku tidak tahu. Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya mengirim uang ke panti asuhan, percaya bahwa dia baik-baik saja di sana.”

“Itu bukan salahmu. Kau tidak tahu.”

“Tapi aku seharusnya tahu. Aku seharusnya mencari tahu lebih jauh. Aku seharusnya tidak percaya pada keluarga angkatku yang manipulatif itu.”

Arka menunduk, tangannya mengepal. “Mia bilang dia tidak akan tenang sebelum aku merasakan penderitaan yang sama. Dia ingin aku kehilangan segalanya—keluarga, pekerjaan, kebahagiaan. Sama seperti dia kehilangan segalanya.”

Aisha meraih tangan Arka. “Kita akan hadapi ini bersama. Kau tidak sendirian lagi.”

Arka menatapnya. “Kenapa kau masih peduli, Aisha? Setelah semua yang terjadi, setelah aku menyembunyikan semua ini darimu, setelah kau sendiri yang berselingkuh... kenapa kau masih di sini?”

Aisha tersenyum pahit. “Karena aku juga manusia yang banyak salah. Tapi aku belajar bahwa lari dari kesalahan tidak menyelesaikan apa pun. Aku di sini bukan karena kau, Arka. Aku di sini karena Baskara. Dan karena aku tidak ingin dia kehilangan ayahnya.”

Arka mengangguk pelan. “Terima kasih, Aisha.”

Pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai pukul sepuluh malam. Mereka turun, melewati lorong menuju area pengambilan bagasi. Baskara sudah bangun, masih mengantuk, berpegangan pada tangan Aisha.

Seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja hitam menyambut mereka. “Arka, kau baik-baik saja?”

“Tono, terima kasih sudah datang.” Arka berjabat tangan dengan pria itu. “Ini Aisha, mantan istriku, dan ini Baskara, anakku.”

Tono mengangguk sopan. “Mari ikut saya. Mobil sudah menunggu.”

Mereka berjalan keluar bandara. Udara malam Bali terasa hangat, berbeda dengan Surabaya yang lembab. Aisha menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.

Mobil Tono membawa mereka ke utara, meninggalkan keramaian Kuta dan menuju daerah yang lebih sepi. Perjalanan memakan waktu hampir dua jam. Baskara kembali tertidur di pangkuan Aisha.

Akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah vila kecil di tengah sawah. Penerangan jalan hanya dari lampu-lampu taman yang remang-remang. Suara jangkrik dan katak terdengar jelas.

“Ini tempat aman,” kata Tono. “Tidak banyak orang tahu lokasi ini. Hanya saya dan beberapa orang kepercayaan. Kalian bisa istirahat di sini selama yang diperlukan.”

Mereka turun. Aisha menggendong Baskara yang masih terlelap. Arka membawa tas-tas mereka. Tono membantu membukakan pintu vila.

Vila itu sederhana namun nyaman. Dua kamar tidur, ruang tamu, dapur kecil. Semua perabotan tampak baru dan bersih.

“Di sini tidak ada sinyal ponsel yang stabil,” kata Tono. “Tapi ada telepon satelit untuk keadaan darurat. Saya akan meninggalkan nomor saya. Jika ada sesuatu, hubungi saya kapan saja.”

Setelah Tono pergi, Aisha membaringkan Baskara di salah satu kamar. Anak itu bergumam kecil, lalu kembali terlelap. Aisha menyelimutinya, mengecup keningnya pelan.

Ia keluar kamar, menemukan Arka duduk di teras vila, memandangi hamparan sawah yang gelap.

“Kau tidak tidur?” tanya Aisha.

“Aku tidak bisa. Aku terus berpikir... apakah ini keputusan yang benar? Membawa kalian ke tempat terpencil seperti ini? Apa yang akan terjadi pada Baskara jika Mia benar-benar menemukan kita?”

“Kita tidak punya pilihan lain, Arka. Ini yang terbaik untuk saat ini.”

Arka menunduk. “Aisha, aku takut. Bukan takut pada Mia. Tapi takut... aku tidak akan bisa melindungi kalian.”

Aisha duduk di sampingnya. “Kita akan lindungi Baskara bersama. Apapun yang terjadi, kita lakukan bersama.”

Mereka duduk diam, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka berdua tidak merasa sendirian.

Pukul dua dini hari, Aisha terbangun oleh suara aneh. Suara seperti langkah kaki di atas genteng. Ia duduk di tempat tidur, jantungnya berdebar kencang.

Ia melihat ke samping. Baskara masih tidur nyenyak.

Aisha berjalan ke jendela, membuka tirai sedikit. Di luar, cahaya bulan cukup terang untuk menerangi halaman vila.

Tidak ada siapa pun.

Aisha menghela napas lega. Mungkin hanya suara binatang malam.

Tapi ketika ia hendak kembali ke tempat tidur, ia melihat sesuatu di balik kaca jendela kamar Baskara. Sebuah bayangan. Bayangan wanita dengan rambut panjang.

Aisha berteriak. Ia meraih Baskara, menarik anak itu ke pelukannya.

Arka berlari masuk dari kamar sebelah. “Ada apa?”

“Dia di sini! Mia di sini!”

Arka membuka pintu kamar, berlari ke halaman. Tapi tidak ada siapa pun. Hanya angin malam yang berhembus.

Tiba-tiba, telepon satelit di ruang tamu berdering. Arka mengangkatnya.

“Halo?”

Suara Mia terdengar jelas di seberang sana. “Selamat datang di Bali, kakakku. Aku harap kalian menikmati liburan singkat kalian. Karena ini akan menjadi liburan terakhir kalian bersama.”

Panggilan terputus.

Arka memegang telepon itu, tangannya gemetar. Ia menatap Aisha yang masih memeluk Baskara di kamar.

Di luar, di balik kegelapan sawah, sesosok wanita berdiri sambil tersenyum. Di tangannya, sebuah korek api menyala, menerangi wajahnya yang penuh luka lama.

Lalu ia melemparkan korek api itu ke arah vila.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!