Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.
Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.
Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.
୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Maliki
...୨ৎ──── C A V E L L ────જ⁀➴...
HPku mulai berdering. Begitu melihat nama Farris di layar, aku langsung menjawab.
"Sebaiknya Kamu punya kabar bagus buat aku."
"Anak buahku sudah bunuh bajingan itu. Dan Maliki ada di Batam."
Aku bisa mendengar kelegaan di suaranya, dan perasaan itu juga muncul di dadaku.
"Aku sampai dalam tiga puluh menit," perintahku. "Kasih tahu yang lain kita ketemu di lapangan terbang."
"Oke."
Aku menutup telepon lalu melihat Vloo.
"Farris menemukan Maliki. Bajingan itu ada di Batam."
Dia langsung berdiri. "Ayo."
Saat keluar dari ruangan, aku memberi isyarat pada Torra dan Laron untuk ikut. Begitu mereka menyusul kami, aku berkata pelan, "Suruh anak buah menemui kita di lapangan terbang. aku mau mereka bersenjata lengkap. Kita akan menyerang Maliki."
"Mengerti, bos," kata Laron sambil langsung mengeluarkan HPnya untuk menelepon.
Kami berlari keluar dari klub. Saat semua sudah masuk ke SUV, Vloo menyalakan mesin.
"Akhirnya, sialan," katanya.
Aku sudah dua minggu gak pulang dan aku benar-benar kelelahan. Sial. Rasanya bahkan lebih lama dari itu.
Perjalanan ke bandara memakan waktu empat puluh menit. Saat Vloo menghentikan SUV, aku sudah gak sabar untuk penerbangan tiga jam ke Batam.
Semoga bajingan itu gak menghilang sebelum aku sampai ke sana. Kalau itu terjadi, aku benar-benar akan kehilangan kendali.
Aku turun dari SUV dan berjalan ke arah Remy, Farris, dan Braun yang sudah menunggu.
"Hari yang bagus," kata Farris. "Kita tahu di mana Maliki berada. Kenapa Kamu gak terlihat senang?"
"Aku senang," geramku.
"Jelas gak kelihatan gitu."
"Farris, aku lagi gak punya mood untuk omong kosong Kamu hari ini. Kita selesaiin ini cepat supaya aku bisa meluangkan waktu untuk mengurus ...."
aku menahan diri sebelum menyebut Cherry dan pernikahan kami yang akan datang.
Aku bisa merasakan semua mata tertuju padaku.
Kehilangan kesabaran, aku berteriak, "Masuk ke pesawat sialan itu!"
Saat masuk ke kabin, aku langsung duduk. Remy duduk di sampingku dan menatapku penuh tanya. Aku menggeleng supaya dia gak mulai bertanya.
Aku cuma ingin fokus membunuh Maliki. Itu prioritas utamaku sekarang.
Setelah semua orang naik, Farris berkata, "Bayi-bayinya Tully lagi sakit. Semuanya diare."
"Tuhan, kasihan dia," gumam Remy. "Aku lebih milih perang daripada harus mengurus bayi yang diare."
"Bisa gak kita berhenti bicara soal tai?" geramku.
"Serius, siapa yang bikin Kamu kesal?" tanya Remy.
"Fokus saja pada misi," jawabku.
Yang lain tahu lebih baik gak menekanku lagi.
Setelah jet pribadi lepas landas dan kami sudah di udara, Farris memeriksa senjata yang selalu kami simpan di pesawat. Setelah selesai, dia duduk kembali dan memeriksa HPnya.
Pikiranku kembali ke dua minggu terakhir.
Hotel yang terbakar.
Serangan terhadap anak buahku.
Serangan itu yang paling menggangguku. Noel bilang itu bukan pengedar narkoba, tapi orang-orang terlatih.
Kalau bukan Maliki, siapa yang berani membunuh anak buahku?
Farris menghela napas dan Braun bertanya, "Apa?"
"Maliki belum ditemukan lagi."
Sial.
aku menatap jendela oval di samping kursiku. "Terakhir dia terlihat di mana?"
"Di lampu lalu lintas dekat salah satu klubnya," jawab Farris.
"Dia mungkin masih di sana sampai larut malam," kata Braun. "Artinya kita harus menunggu sampai dia keluar."
"Atau kita masuk aja." Aku melihat para bos Marunda lainnya lalu berkata pelan, "Aku mau ini selesai secepat mungkin. Kita sudah buang banyak waktu untuk bajingan ini."
"Gimana rencananya, Cavell?" tanya Remy.
Aku membayangkan beberapa skenario sebelum menjawab, "Kita semua masuk ke klub. Anak buah kita juga. Kita dekati bajingan itu sebagai satu keluarga, lalu aku akan membunuhnya di depan semua orang. Itu akan mengirim pesan supaya gak ada yang main-main dengan kita."
Kalau ada orang lain di balik kebakaran hotel dan kematian anak buahku, mereka juga akan mengerti pesannya.
"Dan para saksi?" tanya Braun.
Aku melambaikan tangan dengan santai. "Biarkan aja mereka bicara."
Saat akhirnya kami mendarat di Batam, aku sudah kesal karena penerbangan itu.
Kami menuju SUV yang sudah diatur Laron dan masuk ke dalam kendaraan.
Selama perjalanan, aku mengetuk-ngetukkan jari di paha dengan gak sabar.
Saat sampai di klub, tempat itu masih sepi karena masih terlalu awal.
Kami turun dari SUV dan Braun bertanya, "Apa rencananya?"
"Kita ketuk pintunya," gumamku.
"Kamu pikir mereka akan membukakan pintu untuk kita?" tanya Braun lagi.
Semua pertanyaan sialan itu mulai membuat aku kesal. "Tentu gak. aku bukan orang bodoh."
Aku mengangkat tangan memberi isyarat pada anak buahku untuk mendekat.
Aku melihat anak buahku yang membawa peluncur granat dan berkata, "Hancurkan pintunya."
Aku bisa merasakan Remy, Braun, dan Farris menatapku, tapi aku mengabaikan mereka.
Noel menembakkan granat, dan aku melihat dengan puas saat ledakan itu membuat lubang besar di bagian depan klub.
Saat aku berjalan menuju lubang itu, anak buah aku mengikuti.
Aku menarik Glock dari punggungku dan melepas pengamannya.
Vloo memasukkan magazin tambahan ke tanganku sebelum berjalan di depan sambil berkata, "Tetap di belakang aku."
Udara penuh asap.
Aku menoleh sebentar dan melihat Remy tepat di belakangku. Mata kami bertemu sebentar sebelum kami sampai di ujung koridor.
Saat Vloo melangkah ke lantai dansa, tembakan langsung meledak di sekitar kami.
"Tiarap!" teriak Vloo.
Dia bergerak ke kiri dan aku mengikutinya sambil menembak balik ke arah lantai dua yang pasti area VIP.
Maliki pasti ada di sini.
Kami masuk ke koridor menuju kamar mandi. Dengan perlindungan yang minim, aku dan Vloo mencoba menjatuhkan musuh satu per satu.
Saat Remy mencoba maju membantu, aku berkata pelan, "Kita bisa."
Ada satu bajingan dengan senapan mesin bersembunyi di balik pilar.
Gak tahu di mana posisi tim aku yang lain, aku berteriak, "Kalian di mana?"
"Di booth DJ!" teriak Braun.
Sial. Mereka gak punya sudut tembak yang jelas.
Tiba-tiba Vloo berlari keluar dari tempat persembunyian kami.
Jantungku hampir berhenti saat melihatnya meluncur di lantai sebelum menembak kepala bajingan itu dengan tembakan mematikan.
Saat dia berdiri, aku mengangguk padanya dengan bangga.
"Lewat sini!" teriakku pada yang lain.
Vloo menyusul aku saat aku menuju tangga.
"Kerja bagus," gumamku saat kami naik.
"Makasih," jawabnya sambil mengisi ulang senjatanya.
Di tengah tangga aku melihat ke belakang. Remy dan Big Jony ada di sana. Farris berlari mendekat sementara Braun menjaga bagian belakang.
Ini terlalu mudah.
Saat area VIP terlihat, mataku langsung menemukan Maliki.
Dia duduk di meja dengan anak buahnya membentuk setengah lingkaran di sekelilingnya.
Apa yang sedang dia lakukan?
"Kamu benar-benar harus repot-repot sejauh ini?" tanya Maliki sambil menatapku.
"Iya," gumamku sambil menendang kursi dan duduk di meja.
Aku memberi isyarat pada Vloo ke arah bar. Lalu aku kembali menatap Maliki.
"Satu-satunya hal yang harus Kamu lakuin adalah dengarin. Tapi gak. Kamu harus keras kepala dan masuk ke wilayah kami."
"Ada banyak uang di Jakarta," katanya. "Kesepakatannya masih berlaku."
Aku melihat keringat mengalir di dahinya.
Vloo meletakkan segelas wiski di meja. aku mengambilnya dan meneguk sedikit.
Saat aku meletakkan gelas kembali, aku berkata pelan, "Meskipun tiga puluh persen kedengerannya menarik, tapi aku harus nolak."
Mata aku menyipit menatapnya. Gak bisa menahan diri lagi, aku mengangkat tangan dan menarik pelatuk.
Peluru itu tepat mengenai di antara matanya. Kepalanya terjatuh ke belakang dan mulutnya terbuka.
Kepuasan memenuhi dadaku saat melihatnya jatuh dan mati ke lantai.
Tiba-tiba peluru mulai beterbangan. Farris menabrakku dan menjatuhkanku dari meja.
Saat aku menghantam lantai, lututnya menghantam pahaku. Baku tembak itu gak berlangsung lebih dari satu menit.
Saat orang terakhir Maliki jatuh, Farris berguling menjauh dan jatuh di lantai di sampingku.
"Tuhan," gumamnya.
Aku mengangkat tangan dan menunjukkan jarak beberapa sentimeter dengan telunjuk.
"Kamu hampir aja nendang biji aku, bajingan."
Farris tertawa keras. "Aku yakin aku baru aja kena peluru demi kamu."
"Apa?" geramku sambil langsung memeriksa tubuhnya.
Begitu melihat darah di sisi tubuhnya, dia berkata, "Cuma luka gores di punggung."
Aku mendorongnya sebelum berdiri. "Itu bukan kena peluru."
Aku melihat sekeliling. "Semuanya baik-baik aja?"
"Iya. aku cuma harus ke klinik," gumam Marius, salah satu anak buah Braun. "Kena peluru di kaki."
Salah satu temannya membantu dia turun tangga.
Aku melihat tubuh Maliki. Dia bukan musuh terakhir yang harus aku hadapi, tapi hari ini tetap aku anggap kemenangan.
"Ayo," gumamku.
"Ada yang mau bantu aku?" tanya Farris yang masih tergeletak di lantai.
Aku menatapnya lalu menggeleng sebelum menarik tangannya dan membantunya berdiri.
Saat teman-teman dan anak buahku turun tangga, aku mengambil gelas wiski yang tadi Vloo sajikan sebelum aku membunuh Maliki dan meneguk cairan amber itu.
"Satu lagi berkurang," gumam Vloo.
Aku menepuk bahunya. "Ayo pulang."