Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 : Dua akad satu hari part 2
Suasana hening, pintu kamar tertutup rapat. Annasya duduk di pinggiran tempat tidur , terlihat tenang dan damai. Tapi jangan terkecoh, itu hanya tampilan luar saja, karena sebenarnya , jantungnya sedang berdemo. ia meremas ujung kebaya dengan netra yang sibuk menatap ujung kaus kakinya. Paras cantik itu bak kepiting rebus tatkala mengingat kejadian beberapa saat lalu saat A mengecup keningnya.
( Ciumnya bukan di situ, nak Azzam. Keningnya, itu akan lebih afdol).
Itu yang tuan Malik katakan beberapa detik setelah A mengecup pucuk kepalanya.
Annasya mengusap kening, tepat di mana A melabuhkan ciuman manis itu. Jujur, ia masih merasakan sentuhan lembut bibir A di sana.
Sementara itu, A masih di lantai bawah, menemani tuan Malik yang sebentar lagi akan ke bandara dan berencana kembali ke Pakistan siang ini juga. Ia memang khusus datang sebagai wali nikah untuk cucu kesayangannya. Tak banyak yang di sampaikan tuan Malik selain meminta A agar menjaga Annasya.
Rasa penasaran A tentang wali nikah istrinya lumayan mengganggu, harus nya, ada ayah Annasya di sini , bukan tuan Malik yang di ketahui A sebagai kakek Annasya dari pihak ayah. Tapi A nampak segan untuk menanyakan begitupun tuan Malik yang tampak tidak berniat membahas putra nya itu.
A mengantar kepergian tuan Malik hingga di pintu depan. Setelahnya ia kembali ke kamar.
' Tok..tok..tok..'
A mengetuk pintu, pelan dan samar. Menunggu beberapa saat, tidak ada jawaban. Ia kembali melakukan hal yang sama tapi dengan suara yang lebih keras. Tetap saja tidak di buka.
" Apa yang dia lakukan?" Gumam A.
Harusnya, dia tidak perlu sesopan itu sampai mengetuk pintu segala. Namun, dia menghargai wanita yang berada di dalam sana. Hingga ia memutuskan tetap menunggu di luar hingga Annasya membuka nya.
' Krek.' Suara pintu terbuka.
Annasya muncul dari balik pintu lengkap dengan mukenanya. Tatapan mereka bertabrakan, sesaat, hingga Annasya yang berinisiatif memutus tatapan itu.
" Maaf membuat mu menunggu." Ia kembali tertunduk kemudian membuka pintu lebar lebar agar A bisa masuk.
" Tidak apa. Aku hanya ingin berganti pakaian sebentar."
" Oh.. silahkan." Annasya keluar setelah ia menutup pintu pelan.
A melongo kebingungan. " Kenapa dia pergi?"
Di kiranya, Annasya akan tetap berada di dalam kamar , tapi ternyata , istrinya memilih keluar.
Tak ambil pusing, ia segera berganti pakaian , jas yang ia kenakan mulai membuatnya gerah. Mengganti yang lebih nyaman adalah suatu keharusan.
Sepuluh menit kemudian, ia turun dan bertemu dengan Annasya di lantai bawah. Istrinya itu terlihat sedang berbincang dengan oma Aqila.
A mendekat. " Aku keluar sebentar." Pamit nya.
Annasya mengangguk pelan.
Azzam pun berjalan menjauhi Annasya. Di luar, sudah ada Vano yang menunggunya.
Namun, langkah A terhenti ketika mendengar panggilan Annasya. " Tunggu."
A menoleh.
Annasya mendekat dan mengulurkan tangan kanannya. Azzam paham gestur itu. Ia pun melakukan hal yang sama. Annasya menjabat dan mencium tangan A .
" Hati hati."
A terdiam . Pun Annasya setelah ucapan peringatan berbau kepedulian itu.
(Apa yang sudah ku lakukan? ) . Batin Annasya termangu.
Begitupun A yang mulai kebingungan . (Apa aku harus memberinya ciuman seperti yang tadi aku lakukan? ) .
Pikirannya berkecamuk antara melakukan sesuai keinginan hati atau otaknya. Dan muncullah dua kata lumrah berisi apresiasi. " Terima kasih."
( Apa itu? Sial, aku tidak tau harus berbuat apa). A jelas jelas di buat nelangsa memikirkan pilihan kata yang dia anggap salah.
Sudah benar, satu memberikan ucapan kepedulian dan yang satu nya membalas dengan ucapan syukur. Tapi tidak dengan orang sekeliling yang jadi pengamat. Ada yang tertawa, ada yang cekikikan, dan ada juga yang menggeleng. Mereka menganggap jika pasangan yang baru saja mengucap janji suci di hadapan Allah beberapa jam lalu itu terlalu formal dan kaku.
Lain lagi dengan Vano. Dia sampai harus menutup mulut karena tidak bisa menahan tawa. Terbiasa bersama A , membuatnya sangat memahami kalau saat ini, otak A sedang kacau. Dan itu bukan karena pekerjaan dan sejenisnya. Tapi, karena seorang wanita....
Di perjalanan.
Vano sesekali menatap A dari balik kaca spion, netra itu tertuju pada wajah sang bos. Melihat wajah itu, Vano menyungging senyum.
" Kau kenapa?" A jelas penasaran dengan tingkah Vano.
" Tidak ada , tuan."
" Cih... Kau sedang mengejekku , kan?"
" Loh, anda sudah seperti paranormal , bagaimana bisa anda tau, tuan?" Vano tidak dapat menyembunyikan tawa nya.
" Sial*n..." Umpat A , kesal.
" Saya hanya berpikir, tuan tidak akan pernah bersikap manis pada nona muda, katanya ogah, nyatanya...hahahahaha..kok saya punya feeling good dengan sikap anda sekarang ini, tuan A."
" Diam kau ! ! fokus saja dengan kemudi mu ! " Karena salah tingkah di ledek Vano, A jadi marah marah tidak jelas.
" Siap , tuan." Vano mengunci bibir nya meski ia ingin sekali tertawa.
Tibalah mereka di Magnolia.
A berjalan beriringan dengan Vano. Suara hiruk pikuk mulai terdengar dari jarak beberapa meter. Kendaraan juga semakin banyak. A memprediksi jika Ayyazh pasti sudah tiba.
Benar saja. Ayyazh kini duduk di depan Abi Zayn. Nampak senyum nya yang menawan hingga banyak dari kerumunan orang yang hadir menatap kagum pada wajah tampan nya.
A menyaksikan dari jauh, ijab Kabul itu berjalan lancar. Terdengar dengan jelas mahar yang di berikan Ayyazh untuk adiknya, Azima.
Mahar yang cukup fantastis dan memang sesuai dengan kelas keluarga Moez.
Azima keluar dari sebuah ruangan di apit Safa dan Marwah. Ia melangkah mendekati Ayyazh dan duduk di samping pria itu.
Suara gemuruh berasal dari jantung Azima. Ia gugup. Kondisi Azima sekarang tidak beda jauh dengan yang di alami Annasya pagi tadi. Resah dan sulit mengontrol diri.
Azima pun mencium tangan Ayyazh setelah Abi Zayn meminta nya. Tapi Ayyazh tidak, tanpa perlu arahan, ia mengecup kening Azima, cukup dalam dan lama.
Tepat saat bibir lembut Ayyazh menyentuh kening Azima, ada gelenyar aneh yang tiba tiba menusuk hingga ke setiap inci tulang Azima.
Sementara itu, A terus menonton pasangan pengantin baru yang hanya berbeda beberapa jam dari nya. Terlalu asik hingga Vano mengambil jurus pemecah ketenangan dengan sebuah kalimat menohok. " Saya rasa , tuan Ayazh selangkah lebih maju dari anda, tuan. " Sindir Vano yang di tanggapi A dengan memutar bola mata jengah .
" Ayo pulang. Aku perlu istirahat untuk nanti malam."
Vano tersenyum tipis. " Gayanya aja nolak, ujung ujungnya mau juga."
Malam nanti, tepat jam tujuh, Azzam dan Annasya, Azima dan Ayyazh, akan mengadakan resepsi di sebuah hotel paling megah dan mewah di pusat kota.
Ia memang sengaja datang ke Magnolia untuk melihat prosesi pernikahan Azima. Akad selesai, ia pun harus kembali untuk beristirahat. Karena tidak menutup kemungkinan, ia akan menjadi patung hidup Berjam jam melayani tamu dan kerabat .
...****************...