Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21- MCI 21
Diandra menatap Raez, berharap jawaban yang diberikan oleh pria itu adalah jawaban yang tidak membuatnya kecewa.
Namun, sepertinya Diandra sangat tidak beruntung. Taruhannya benar-benar terlalu besar. Tatapan Raez yang tadinya melunak, sekarang terlihat menjadi lebih tajam dan tegas pada Diandra.
Pria itu bahkan langsung berdiri dan menjaga jarak dari Diandra.
"Aku bisa berikan apapun padamu! tapi tidak dengan status nyonya Dave Mahendra!"
Raez bahkan segera pergi meninggalkan Diandra dan rumah Diandra itu dengan membanting pintu sangat kencang.
Brakk
Diandra tidak menoleh, Diandra masih terduduk diam di sofa.
"Kenapa memangnya dengan status itu? kenapa semua bisa kamu berikan padaku, tapi tidak dengan menikahi ku?" gumam Diandra yang matanya perlahan berkaca-kaca lagi.
Diandra terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri. Dia benar-benar seperti sebuah lelucon. Kenapa harus dia terus mengalami semua ini, menjadi orang yang tidak pantas berada di keluarga manapun. Tangannya terkepal kuat, Diandra memeluk lututnya dan menangis pilu sendirian.
Sementara Raez, dia masih berada di mobilnya. Sejak tadi dia sudah meninggalkan rumah Diandra. Tatapannya terlihat sendu.
'Maaf Diandra, aku bisa memberikan apapun untukmu. Tapi tidak bisa menjadikan mu istriku. Ibuku, dia tidak mungkin menerima mu!'
Sementara itu di luar kantor dinas. Celine dan Haikal menjabat tangan Max, bergantian.
"Terima kasih banyak, tuan Max. Jika kamu tidak membantu, restoran mungkin masih akan tutup sampai bulan depan!" kata Celine.
"Benar, terima kasih banyak tuan Max!" sambung Haikal.
"Tadi, asisten paman bilang. Teman Diandra menghubunginya, siapa orang itu? aku kira kamu yang menghubungi Diandra, Celine?" tanya Max.
"Oh, itu mungkin Rea, dia itu terapisnya Diandra. Tuan Max, akhir-akhir ini Diandra merasa tertekan dan tidak tenang. Dia mengalami susah tidur, jadi dia butuh terapis!" kata Celine.
Celine memang pandai menambahkan sesuatu pada perasaan seseorang.
Max langsung terdiam, dia jadi berpikir kalau mungkin pamannya sudah terlalu membuat Diandra merasa khawatir. Dia harus bicara serius dengan orang tuanya tentang masalah ini.
"Kalian mau pulang? aku akan ikut kalian! aku mau temani Diandra terapi!" kata Max.
"Baiklah!" kata Celine.
Max menoleh ke arah Bram.
"Bram, kamu kembali saja. Aku akan ikut Celine dan Haikal!"
"Baik tuan muda!"
Di dalam mobil, Celine segera mengirim pesan pada Diandra dan juga Rea, temannya yang memang seorang psikiater. Menceritakan semua yang dia karang di depan Max tadi.
Sampai di depan rumah Diandra. Untungnya sudah ada mobil Rea.
Celine dan Haikal saling pandang dan membawa Max masuk ke dalam rumah Diandra.
"Sebentar, mungkin mereka ada di kamar!" kata Celine yang pergi ke kamar Diandra.
Di dalam kamar, Rea sedang duduk berdua dengan Diandra di sofa. Dan yang membuat Celine terkejut adalah, Diandra sedang menangis.
"Di, ada apa?"
"Saat aku datang, dia sudah seperti ini. Sepertinya dia memang butuh terapi!" kata Rea.
Celine langsung memeluk Diandra. Dia hanya berpura-pura tentang Diandra yang mengalami kegelisahan beberapa hari ini, ternyata sahabatnya memang sedang sangat tertekan dalam dirinya.
Mendengar isak tangis Diandra. Max yang di minta menunggu di ruang tamu segera masuk ke kamar Diandra.
"Diandra!"
Max mendekati Diandra, dan mengulurkan tangannya untuk memeluk Diandra.
"Aku mau sendiri, tolong kalian semua keluar saja" kata Diandra.
Max tampak khawatir sekali, ketika Celine menutup pintu, Max masih terus melihat ke arah pintu itu.
"Diandra kenapa?" tanya Max pada Rea.
"Dia tertekan, dia diancam, dia ketakutan!" kata Rea sedikit mendramatisasi.
Max terlihat lebih khawatir dari sebelumnya.
"Maafkan aku, ini salahku. Aku tidak bisa menjaganya. Bolehkah aku tinggal dan menjaga Diandra?" tanya Max.
"Aku akan tanya Diandra dulu!" kata Celine.
Max mengangguk, dan Celine kembali masuk ke kamar itu.
"Di, ada apa?" tanya Celine ketika dia hanya berdua dengan Diandra.
Diandra menoleh, matanya masih basah. Tapi kemudian dia menyeka air matanya.
"Celine, Raez bilang dia bisa memberikan apapun padaku. Kecuali status sebagai istrinya. Celine, apa aku seburuk itu?" tanya Diandra yang matanya kembali basah.
Grepp
Celine langsung memeluk Diandra. Celine selalu bisa mengerti bagaimana perasaan Diandra. Dan saat ini, sahabatnya itu pasti merasakan rasa sakit hati, rendah diri dan over thingking yang luar biasa. Dia bahkan tidak pantas menjadi seorang istri, tentu saja dia merasa dirinya sangat buruk.
Celine sungguh tidak bisa menahan tangisnya. Dia tahu persis seperti apa kehidupan Diandra. Apa yang membuat dia sampai seperti itu? Celine ikut hancur ketika Diandra merasa underestimate pada dirinya sendiri begitu.
"Jangan menangis Diandra! dia tidak tahu apa yang membuatmu sampai seperti ini! lupakan saja ucapan Raez itu Diandra. Fokus saja dengan dendammu pada ayahmu, dan dua teh hijau itu. Jangan menyerah hanya karena kata-kata Raez itu. Dia bilang seperti itu, maka buat dia menelan ucapannya itu. Dia bilang tidak mungkin menikahi mu, maka buat dia menikahi mu!"
Celine bicara sangat tegas. Diandra menatap Celine, memang hanya Celine yang bisa mengerti dirinya.
"Max ingin tinggal! maka tunjukkan pada Raez, kalau Raez memang cemburu. Tunjukkan kalau kamu juga bisa melakukan apapun yang kamu inginkan jika kamu mau. Aku adalah kekuatanmu Diandra. Jangan jadikan aku kelemahanmu. Aku tidak pernah takut pada ancaman siapapun, jika Raez atau teh hijau itu menggunakan aku sebagai ancaman untukmu. Maka anggap saja mereka tidak mengatakan apa-apa. Negara ini negara hukum, tidak akan terjadi sesuatu padaku. Ingat Diandra! fokus pada dendammu. Buat Raez menikahimu! sebelum dia bertunangan dengan teh hijau junior itu. Maka mereka akan hancur!"
Diandra menarik dirinya dari pelukan Celine. Celine benar. Kenapa dia harus begitu patah hati karena ucapan Raez.
"Kamu benar, aku akan buat Raez menelan semua ucapannya itu!"
Celine mengangguk setuju.
"Aku akan panggil Max!"
Diandra menganggukkan kepalanya.
Tak lama setelah Celine keluar dari kamar, Max masuk ke kamar Diandra.
Pria itu berjalan cepat menghampiri Diandra ke tempat tidurnya.
"Di, jika kamu butuh sesuatu..."
"Aku lelah, aku mengantuk. Boleh aku pinjam bajumu untuk bersandar?" tanya Diandra menyentuh lengan Max.
Deg deg deg
Jantung Max berdebar sangat kencang. Max sedikit gugup, tapi kemudian dia duduk di samping Diandra. Di tepi tempat tidur Diandra.
"Maaf sudah merepotkan mu, Max!"
"Tidak Diandra, tidurlah. Aku akan menemanimu!" kata Max mengusap lembut kepala Diandra setelah pria menyandarkan kepala Diandra di dadanya.
Max tersenyum ketika Diandra memejamkan matanya. Sebenarnya, itu adalah hal yang paling dilakukan oleh Max. Bisa menjadi sabat dekat, tanpa jarak dengan Diandra.
Sementara itu, saat makan malam di kediaman Mahendra. Raez yang tidak melihat Max bertanya pada kakaknya.
"Dimana Max?" tanya Raez.
"Diandra mengalami masalah, dia berada di rumah Diandra untuk menemani Diandra" kata Amalia dengan tenang.
Tangan Raez terkepal.
'Diandra!'
***
Bersambung...
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣