NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Malam itu, setelah makan besar yang menghabiskan sebagian kecil gaji pertamanya, Ziva tidak membiarkan Baskara tidur begitu saja. Dengan wajah yang penuh rahasia dan binar jenaka, ia menyodorkan sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang yang dibungkus amplop mini bermotif bintang.

"Nih, hadiah eksklusif dari gue. Cuma ada satu di dunia, nggak ada di Shopee, nggak ada di Tokopedia!" seru Ziva sambil menepuk-nepuk pundak Baskara.

Baskara menerima amplop itu dengan kening berkerut. "Apa ini? Voucher belanja?"

"Buka aja kenapa sih, bawel!"

Begitu Baskara membukanya, ia sempat terdiam selama tiga detik. Di tangannya kini ada sebuah photocard berkualitas tinggi yang menampilkan sosok Zivanya Aurora sedang berpose peace ke arah kamera. Gadis itu mengenakan piyama bulu bertudung karakter Kuromi—si kelinci nakal berwarna ungu-hitam—lengkap dengan telinga runcingnya. Ziva terlihat sangat mungil, menggemaskan, dan sangat berbeda dari citra "analis dingin" yang ia bangun di kantor.

"Itu hadiah dari gue, simpen di case ponsel lo, Kak! Hahaha!" tawa Ziva meledak saat melihat wajah Baskara yang mendadak blank. "Biar kalau lo lagi interogasi penjahat terus lo stres, lo tinggal liat HP dan inget kalau ada 'kelinci galak' yang nungguin lo di rumah."

Baskara menatap foto itu, lalu menatap Ziva, kembali ke foto, lalu akhirnya tersenyum sangat lebar. Tanpa banyak bicara, ia langsung melepas case ponsel hitamnya yang polos dan menyelipkan foto piyama Kuromi itu di sana. Kini, di balik ponsel sang Inspektur yang garang, terselip wajah imut istrinya.

"Akan aku simpan. Tapi jangan protes kalau Rio atau Kapolres nggak sengaja liat," ucap Baskara sambil mengacak rambut Ziva.

Keesokan paginya, suasana rumah yang biasanya tenang di hari libur mendadak ramai oleh suara bel yang ditekan berulang kali. Baskara yang sedang menyiram tanaman di depan segera membukakan pagar, dan ternyata Arga serta Nisa sudah berdiri di sana dengan membawa sekotak donat dan buah-buahan.

Di dalam rumah, Ziva baru saja keluar dari kamar mandi lantai atas. Ia mengenakan baju rumah santai, rambutnya masih terbungkus handuk putih tebal karena baru saja selesai keramas. Ia sedang asyik mengeringkan telinganya ketika mendengar suara tawa Nisa dari ruang tamu.

"Loh, ada tamu?" gumam Ziva. Ia segera turun ke bawah dengan langkah terburu-buru.

"Eh, Bumil? Udah lama, Kak? Sorry ya gue baru selesai mandi tadi," sapa Ziva sambil memperbaiki letak handuk di kepalanya. Ia sedikit malu karena tampil "setengah matang" di depan Arga.

Nisa yang sedang duduk di sofa sambil menyandarkan punggungnya pada bantal langsung menoleh. "Nggak apa-apa, Ziv! Kita yang salah emang, pagi-pagi banget udah bertamu. Habisnya Mas Arga katanya kangen mau ngopi bareng Baskara sebelum nanti siang ada jadwal dinas lagi."

Arga mengangguk sopan pada Ziva. "Maaf ya Ziva, mengganggu waktu istirahatnya."

"Nggak apa-apa, Kak Arga. Santai aja kayak sama siapa aja," jawab Ziva ramah. Ia kemudian duduk di samping Nisa, mengamati wajah kakak tingkatnya itu yang tampak semakin segar. "Gimana kabar si kecil, Kak? Masih bikin mual nggak?"

"Udah mendingan, Ziv. Sekarang mah malah bawaannya laper terus. Makanya ini tadi mampir beli donat, tapi yang makan kebanyakan aku," tawa Nisa pecah.

Baskara masuk dari dapur membawa baki berisi empat cangkir kopi dan teh hangat. Ia meletakkannya di meja dengan gerakan yang jauh lebih luwes dibanding biasanya. Arga memperhatikan perubahan sahabatnya itu dengan senyum penuh arti.

"Tumben lo, Bas. Biasanya kalau gue dateng, lo cuma nunjuk dispenser," goda Arga.

Baskara hanya berdehem, duduk di samping Ziva. "Ziva yang ngajarin kalau tamu itu harus dimuliakan, bukan cuma dikasih petunjuk jalan ke dapur."

Ziva menyenggol lengan Baskara pelan, merasa bangga disebut sebagai guru "etika" sang Inspektur. Sambil mengobrol, mata Nisa tiba-tiba menangkap sesuatu yang menarik di atas meja kopi. Ponsel Baskara tergeletak di sana dengan posisi layar menghadap ke bawah, menampakkan bagian belakang case-nya yang transparan di bagian tertentu.

"Loh, Mas Baskara... itu apa yang di balik HP?" tanya Nisa sambil menunjuk foto Kuromi yang menyembul malu-malu.

Ziva seketika membeku. Ia lupa kalau Baskara benar-benar menaruh hadiah "memalukan" itu di ponselnya.

Baskara dengan sangat tenang mengambil ponselnya, lalu menunjukkannya pada Nisa dan Arga seolah itu adalah lencana penghargaan dari kepolisian. "Oh, ini? Ini jimat keberuntungan saya. Foto istri saya lagi jadi kelinci."

Nisa langsung merebut ponsel itu dengan gemas. "YA AMPUN, ZIVA! Lucu banget! Ini kamu pake piyama Kuromi? Sumpah, Mas Arga, liat deh! Ziva imut banget di sini!"

Arga ikut melihat dan terkekeh. "Baskara, lo bener-bener ya. Polisi paling ditakuti di unit Jatanras, tapi jimatnya foto Kuromi. Kalau anak-anak buah lo tau, jatuh harga diri lo, Bas."

"Biarin aja. Yang penting yang nunggu di rumah beneran ada, bukan cuma khayalan," balas Baskara santai sambil melirik Ziva yang sekarang sudah menenggelamkan wajahnya di balik bantal sofa.

"KAAAA BASKARA! Balikin nggak HP-nya! Kak Nisa, jangan diliat terus ih!" teriak Ziva tertahan.

Pagi itu, rumah mereka dipenuhi oleh gelak tawa. Obrolan mengalir mulai dari urusan kantor Ziva yang makin sukses, perkembangan kehamilan Nisa, hingga rencana Arga dan Baskara untuk latihan menembak bersama minggu depan.

Ziva menyadari sesuatu di tengah keriuhan itu. Hidupnya kini terasa sangat lengkap. Ia punya karier yang ia cintai, teman-teman yang sudah seperti keluarga, dan seorang suami yang—meskipun kaku—ternyata cukup bangga untuk memamerkan foto konyol istrinya di depan orang lain.

Luka tentang masa lalu itu memang tidak akan pernah hilang sepenuhnya, tapi sekarang, luka itu sudah tertutup oleh tawa pagi hari, aroma kopi, dan kehadiran orang-orang yang tulus menyayanginya.

"Ziv," bisik Nisa saat para suami sedang asyik membahas jenis peluru di sudut lain. "Makasih ya sudah mau buka hati buat Mas Baskara. Aku seneng liat kalian begini."

Ziva tersenyum tulus, ia menggenggam tangan Nisa. "Makasih juga sudah selalu dukung aku, Kak. Kayaknya... aku emang udah nemu rumah yang sebenernya."

***

Sore itu, setelah kepulangan Arga dan Nisa, suasana rumah kembali tenang. Baskara tampak duduk di sofa ruang tengah, masih mengenakan kaus oblong hitamnya, namun bahunya tampak turun dan ia sesekali memutar lehernya yang terasa kaku. Kelelahan setelah piket panjang dan meladeni tamu sejak pagi mulai terasa.

Ziva, yang baru saja selesai membereskan sisa cangkir di dapur, berjalan mendekat. Ia melihat raut lelah di wajah suaminya. Insting "istri baik" yang belakangan ini tumbuh subur di hatinya mendadak muncul.

"Capek ya, Kak?" tanya Ziva lembut. Ia berdiri di belakang sofa, tepat di belakang punggung lebar Baskara.

Baskara menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa, menatap langit-langit. "Sedikit. Mungkin karena kurang tidur minggu ini."

"Gue pijet pundak lo deh," tawar Ziva. Tanpa menunggu jawaban, ia meletakkan kedua tangannya di bahu Baskara.

Ziva mulai menekan otot-otot besar di sana. Jemarinya yang kecil namun bertenaga mencoba mengurai ketegangan di pundak sang Inspektur. Baskara memejamkan mata, menghela napas panjang saat merasakan sentuhan tangan Ziva yang hangat.

"Gimana? Pas nggak tenaganya?"

"Pas, Ziva... Enak banget," gumam Baskara parau.

Seiring berjalannya waktu, suasana di ruang tengah itu mendadak berubah. Gerakan tangan Ziva yang tadinya hanya memijat fungsional, perlahan melambat. Keheningan sore yang hanya diiringi suara kipas angin membuat setiap sentuhan terasa lebih intens. Ziva merasakan otot-otot punggung Baskara yang mengeras, sementara Baskara mulai merasakan deru napas Ziva yang menerpa tengkuknya.

Baskara berbalik secara perlahan, menangkap pergelangan tangan Ziva yang masih ada di pundaknya. Matanya menatap Ziva dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang membuat Ziva mendadak lupa cara bernapas.

"Ziva..." suara Baskara kini rendah dan serak, penuh dengan emosi yang tertahan.

Ia menarik lembut tangan Ziva, membuat gadis itu berpindah dari belakang sofa ke posisi di depannya. Jarak di antara mereka terkikis habis. Baskara melingkarkan tangannya di pinggang Ziva, menariknya mendekat hingga tak ada lagi celah. Ziva bisa merasakan detak jantung Baskara yang berpacu sama cepatnya dengan miliknya.

Sentuhan itu tidak lagi tentang rasa pegal. Baskara menundukkan kepalanya, menyatukan kening mereka. Ujung hidung mereka bersentuhan, menciptakan letupan listrik yang membuat bulu kuduk Ziva meremang.

"Tadi pagi kamu bikin aku malu di depan Arga sama foto Kuromi itu," bisik Baskara tepat di depan bibir Ziva. "Sekarang, giliranku yang bikin kamu nggak berkutik."

Ziva hanya bisa mengangguk pasrah, tangannya merambat naik ke leher Baskara, menarik pria itu semakin dekat. Saat bibir mereka hampir bertemu dalam momen yang paling intim selama pernikahan mereka—momen yang sudah melewati batas "kakak-adik"—sebuah suara keras menghancurkan segalanya.

"WOIII! BASKARA! GUE MAU PINJAM—"

BRAK!

Pintu depan yang memang tidak dikunci itu terbuka lebar. Rio berdiri di sana dengan wajah sumringah, memegang sebuah kunci motor. Namun, senyumnya langsung membeku saat melihat pemandangan di depannya.

Baskara dan Ziva langsung melompat menjauh seolah baru saja tersengat listrik tegangan tinggi. Ziva refleks bersembunyi di balik punggung Baskara, wajahnya sudah tidak bisa dideskripsikan lagi merahnya—mungkin lebih merah dari sambal terasi yang pernah ia ancamkan ke Luna.

Baskara? Wajahnya yang biasanya tenang kini menampilkan ekspresi "siap membunuh". Rahangnya mengeras, dan jika matanya bisa mengeluarkan api, Rio pasti sudah menjadi abu saat itu juga.

"R-RIO?!" Baskara berteriak, suaranya naik dua oktaf. "NGAPAIN LO MASUK NGGAK KETUK PINTU?!"

Rio mengerjap-ngerjap, ia menoleh ke kiri dan ke kanan dengan kikuk. "A-anu... itu... tadi pagar depan terbuka sedikit, gue pikir lo lagi di depan. Gue mau pinjam kunci bengkel lo yang... eh... kayaknya gue salah waktu ya?"

Rio melihat Ziva yang masih menunduk dalam di belakang Baskara, lalu melihat kancing kaus Baskara yang sedikit miring akibat tarikan Ziva tadi. Rio langsung menepuk jidatnya sendiri.

"YA AMPUN! Maaf, Bas! Sumpah, gue nggak tau kalian lagi... lagi 'latihan fisik' sore-sore begini!" Rio mulai tertawa canggung, yang lama-lama berubah menjadi tawa jahil yang menyebalkan. "Waduh, Pak Inspektur! Galak di kantor, ternyata agresif di rumah ya? Ziva, sabar ya punya suami kayak singa laper!"

"PERGI GAK LO SEKARANG?!" ancam Baskara sambil mengambil bantal sofa dan melemparkannya tepat ke wajah Rio.

Rio menangkap bantal itu sambil lari terbirit-birit ke luar pintu. "OKE, OKE! GUE PERGI! LANJUTIN AJA! ANGGAP GUE CUMA IKLAN LEWAT! HAHAHA! JANGAN LUPA KUNCI PINTU, BAS! BIAR NGGAK ADA INTEL LEWAT LAGI!"

Suara motor Rio terdengar menjauh disertai suara tawanya yang menggelegar di sepanjang jalan komplek.

Suasana di ruang tamu mendadak hening kembali, namun kini keheningan itu terasa sangat canggung. Ziva perlahan keluar dari persembunyiannya di belakang punggung Baskara. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar karena malu yang luar biasa.

"Mampus... Kak, gue mau pindah planet aja sekarang," gumam Ziva lirih. "Besok satu kantor polisi pasti tau kita lagi... lagi gitu tadi."

Baskara menghela napas panjang, ia merapikan kausnya dan berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih belum stabil. Ia mendekati Ziva, mencoba menurunkan tangan istrinya dari wajahnya.

"Maafin Rio ya, Ziv. Dia emang nggak punya otak," ucap Baskara lembut, meski suaranya masih tersisa nada kesal.

Ziva mendongak, menatap Baskara dengan mata yang berkaca-kaca karena malu. "Besok kalau ketemu Kak Rio, gue mau olesin sambel ke seluruh badannya! Sumpah, malu banget, Kak!"

Baskara tertawa kecil, ia menarik Ziva ke dalam pelukan yang lebih santai, kali ini untuk menenangkannya. "Tenang aja. Besok aku kasih dia tugas jaga malam di gudang barang bukti seminggu penuh. Biar dia kapok."

Ziva menyandarkan kepalanya di dada Baskara, menghirup aroma yang kini ia cintai. "Bener ya? Seminggu ya?"

"Iya, janji."

Malam itu, selebrasi romantis mereka memang gagal total gara-gara gangguan dari "intel" bernama Rio. Namun, kejadian itu justru meninggalkan tawa dan kedekatan baru. Meskipun Ziva harus menanggung malu saat bertemu Rio nanti, ia tahu satu hal: Baskara adalah miliknya, dan tidak ada gangguan apa pun—bahkan Rio sekalipun—yang bisa merusak kenyataan manis itu.

1
Mey Latika
kok gantung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!