Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Deru mesin Ferrari Purosangue merah marun itu berhenti dengan halus di depan butik yang terletak di kawasan elit pusat kota.
Ambar keluar dari mobil dengan kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya, memancarkan aura nyonya besar yang elegan namun tetap rendah hati.
Langkah kakinya yang terbalut sepatu hak tinggi mengetuk lantai butik yang sebagian besar masih tertutup plastik pelindung.
Di dalam, beberapa tukang tampak sibuk mengecat dinding dengan warna biru pastel—persis seperti permintaan khusus Baskara.
"Selamat pagi semuanya," sapa Ambar dengan senyum hangat kepada para karyawan pilihan yang sudah ia rekrut secara personal.
Melihat kehadiran sang pemilik, para karyawan dan tukang bangunan segera menghentikan aktivitas mereka. Ambar meletakkan tas bermereknya di atas meja marmer yang baru saja dipasang.
"Selamat pagi, Bu Ambar!" jawab mereka serempak dengan nada hormat yang tulus.
"Ayo kita berkumpul sebentar," ucap Ambar sambil memberikan isyarat tangan agar semua orang mendekat.
Ambar berdiri di tengah ruangan yang masih setengah jadi itu.
Ia mulai membahas tentang visi besar butik ini. "Saya ingin butik ini bukan hanya tempat menjual baju, tapi tempat di mana setiap wanita merasa dihargai. Saya ingin detail jahitan kita sesempurna pelayanan kita. Kita akan menggunakan bahan-bahan terbaik, dan saya sendiri yang akan mengawasi setiap sketsanya. Ingat, nama 'Ambar Mahendra' ada di balik bisnis ini, jadi saya minta profesionalitas total."
Para karyawan mengangguk antusias, sementara para tukang kembali bekerja dengan semangat baru setelah mendengar arahan tegas namun penuh visi dari Ambar.
Sementara itu, di tempat lain yang sangat kontras...
Suasana di rumah minimalis Jayden terasa sangat pengap.
Jayden duduk di meja makan kecil dengan wajah yang masam, menunggu sarapan yang disiapkan oleh Gea dan Shinta.
Karena tak lagi memiliki pelayan, kedua wanita yang biasanya hanya tahu berdandan itu kini harus berkutat di dapur dengan wajah kuyu.
PRANG!!
Suara piring pecah mengguncang keheningan pagi. Jayden membanting piring berisi nasi goreng yang tampak pucat dan hambar ke atas lantai.
"Ini makanan apa?!" bentak Jayden, suaranya menggelegar hingga membuat Shinta gemetar di pojok dapur.
"Rasanya seperti sampah! Kalian pikir aku ini tempat penampungan pengemis? Sudah menumpang, memberi makan pun tidak becus!"
Gea mendekat dengan mata sembab, mencoba memungut pecahan piring.
"Sayang, maaf. Kami tidak terbiasa memasak sendiri, bahan-bahannya juga terbatas karena uang yang kamu berikan..."
"Jangan banyak alasan!" Jayden berdiri dan menendang kursi di dekatnya.
"Mulai hari ini, aku tidak mau melihat kalian bermalas-malasan di rumah ini. Cepat pergi dan cari pekerjaan! Mau jadi buruh cuci atau pelayan toko, aku tidak peduli! Pokoknya, nanti, kalian harus bawa kabar tentang pekerjaan, atau koper kalian akan aku lempar ke jalanan!"
Hendra yang duduk di pojok ruangan hanya bisa menghela napas panjang, meratapi nasibnya yang kini dihina oleh menantunya sendiri, pria yang dulu ia pilih karena menganggapnya lebih kaya dari "sampah" yang kini justru menjadi istri seorang Mahendra.
Langkah kaki Gea dan Shinta terasa berat di atas trotoar yang panas.
Sisa-sisa keangkuhan mereka sebagai nyonya besar keluarga Wijaya telah menguap, digantikan oleh peluh yang membasahi kemeja murah yang terpaksa mereka kenakan.
Dengan map berisi ijazah SMA di tangan—satu-satunya modal pendidikan yang mereka miliki karena dulu terlalu sibuk berfoya-foya—mereka mendatangi satu per satu toko dan kantor kecil di pinggiran kota.
"Maaf, kami mencari staf yang sudah berpengalaman," ucap seorang pemilik toko kelontong besar dengan nada datar.
"Lulusan SMA? Tapi usia Ibu sudah tidak masuk kualifikasi kami," tolak seorang manajer swalayan kepada Shinta yang wajahnya tampak kuyu tanpa perawatan salon mingguan.
Banyak sekali yang menolak mereka. Ada yang menolak karena alasan usia, ada yang karena kurangnya skill, dan ada pula yang diam-diam mengenali wajah mereka dari berita skandal kebangkrutan Wijaya yang sempat viral.
Dunia terasa begitu sempit dan kejam bagi dua wanita yang dulu terbiasa menunjuk orang lain untuk melayani mereka.
"Mama, aku lelah. Kakiku lecet," keluh Gea sambil menyeka air mata yang bercampur maskara murah.
Shinta hanya bisa terdiam, menatap nanar ke arah jalanan.
"Kita harus dapat kerja, Gea. Kalau tidak, Jayden benar-benar akan melempar kita ke jalanan."
Di sisi lain, di dalam butik yang harum dan tenang...
Ambar duduk di balik meja kerja marmernya yang mewah.
Di hadapannya tersebar lembaran kertas sketsa berkualitas tinggi dan berbagai sampel kain sutra serta brokat Prancis yang halus.
Suasana tenang di dalam butik—yang sesekali hanya dipecah oleh suara palu tukang di kejauhan—membuat kreativitasnya mengalir deras.
Ambar mulai melakukan pekerjaannya dengan mendesain beberapa gaun malam bertema "Blue Phoenix".
Jemarinya yang lentik menari di atas kertas, membentuk siluet gaun yang megah namun tetap elegan.
"Aku ingin gaun ini melambangkan kebangkitan,"* gumam Ambar dalam hati.
"Seperti diriku yang lahir kembali dari abu kehancuran."
Ia menambahkan detail bordir rumit yang menyerupai sayap burung di bagian bahu, menggunakan benang perak yang akan berkilau saat terkena lampu panggung.
Desainnya bukan lagi sekadar pakaian, melainkan sebuah pernyataan tentang kekuatan seorang wanita.
Beberapa karyawan pilihannya berdiri tak jauh dari sana, menatap dengan kagum pada kecepatan dan keindahan garis yang dibuat Ambar.
Mereka baru menyadari bahwa bos mereka bukan sekadar "istri miliarder", melainkan seorang desainer berbakat yang selama ini bakatnya dipadamkan oleh keluarga Wijaya.
Selesai dengan sketsa ketiga, Ambar melirik jam tangannya.
Dimana sudah waktunya untuk menjemput Baskara.
Ia segera merapikan mejanya, mengambil kunci Ferrari merahnya, dan bersiap menuju gedung pencakar langit Mahendra Corp.
Deru mesin Ferrari Purosangue merah marun itu membelah lobi megah Mahendra Corp.
Ambar turun dengan langkah pasti, membawa tas berisi bekal hangat yang ia siapkan pagi tadi. Namun, baru saja ia melewati pintu putar kristal, langkahnya terhenti oleh sosok wanita jangkung dengan gaun merah menyala yang berdiri angkuh di tengah lobi.
Clara. Mantan kekasih Baskara yang dulu dikenal sangat terobsesi pada kekuasaan Mahendra.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Clara dengan nada meremehkan, matanya menyapu penampilan Ambar dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Tempat ini bukan untuk sembarang orang yang ingin mengemis perhatian."
Ambar tetap tenang, ia menegakkan bahunya.
"Aku ke sini untuk bertemu dengan suamiku. Dan seharusnya, Aku yang bertanya, kenapa kamu ada di sini? Bukankah hubunganmu dengan Baskara sudah berakhir lama sekali?"
Mendengar kata "suamiku", wajah Clara memerah padam.
Ia tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar sangat dipaksakan dan penuh kebencian.
"Suami? Jangan bermimpi, Ambar. Baskara tidak mungkin menikahi wanita sepertimu tanpa rencana tersembunyi."
Kemudian Clara melirik ke arah meja resepsionis. Di sana duduk seorang karyawan baru yang belum pernah melihat Ambar sebelumnya karena hari pernikahan mereka dilakukan secara privat.
"Resepsionis! Sini!" teriak Clara dengan nada memerintah.
"Usir wanita ini! Dia pengganggu yang mengaku-ngaku sebagai istri Tuan Mahendra. Cepat sebelum Tuan Baskara turun dan melihat pemandangan menjijikkan ini!"
Resepsionis baru itu tampak panik dan segera menghampiri Ambar.
"Maaf, Nona, silakan keluar. Anda tidak bisa membuat keributan di sini."
"Hei! Apa yang kamu lakukan?! Aku ini istri sah Baskara Mahendra!" seru Ambar mencoba membela diri.
Namun, Clara bertindak lebih cepat dan gila. Ia memanfaatkan situasi lobi yang sedang sepi.
Dengan kode mata, dua orang pria berbadan tegap yang tampaknya adalah pengawal pribadi Clara segera membekap mulut Ambar dari belakang.
"Mmph! Mmph!" Ambar meronta, namun kekuatannya tak sebanding.
Clara menyeringai kejam. Ia mengambil kain dari tasnya dan menyumpal mulut Ambar hingga wanita itu tak bisa berteriak.
Dengan kasar, ia memerintahkan pengawalnya mengikat tangan Ambar di belakang punggung menggunakan tali plastik.
"Bawa dia ke gudang logistik di lantai dasar. Pastikan tidak ada yang melihat," desis Clara tajam.
"Kita lihat seberapa lama 'Nyonya Mahendra' ini bertahan di ruang gelap sebelum aku menyingkirkannya selamanya."
Ambar diseret dengan kasar ke arah lift barang dan dimasukkan ke dalam gudang pengap yang gelap gulita.
Pintu besi berat itu berdentum keras saat dikunci dari luar, meninggalkan Ambar dalam kesunyian dan ketakutan.
Sementara itu, di lantai atas, Baskara mulai melirik jam tangannya.
"Ke mana Ambar? Seharusnya dia sudah sampai lima menit yang lalu," gumamnya dengan perasaan yang tiba-tiba tidak enak.