Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Bab 31
Makan malam mereka, potongan ayam, ikan, sayur, dan salad. Meski bentuknya beneran seperti makanan utuh, tapi ternyata semuanya itu hanya rekayasa. Intinya protein, karbohidrat dan mineral terpenuhi. Semua itu di olah dari bahan kimia, karena pohon tidak bisa lagi tumbuh. Bisa, tapi bukan di kota itu. Dan jumlahnya terbatas.
Ada daerah yang dikuasai oleh suku maya immortal yang bersifat kanibalisme dan ada kerajaan Arbuck yang masih bertahan.
Sedangkan kota yang masih berfungsi seperti California, harus bisa mengolah makanan dari unsur-unsur bumi. Tapi bagi Bumi dan Nuri, semua itu tidak penting, yang penting bisa membuat mereka merasa kenyang.
“Sekarang sebaiknya istirahat dulu, kalian pasti cape?” kata ibunya Bumi pada Nuri dan Bumi.
Bumi dan Nuri saling lirik, mereka sama-sama tahu, bahwa mereka sama-sama lelah. Bumi ingin sekali bisa pake koyo atau semprotan otot. Punggung belakangnya terasa nyeri. Sedangkan Nuri sangat ingin mandi dengan air panas, berendan sejenak, kalau bisa bahkan sedikit pijatan oleh si mbok pasti akan membuatnya bisa tidur nyenyak. Tapi mereka sadar, semua itu hanya ingatan saja. Yang mereka hadapi sekarang lebih nyata.
Sally yang masih ada di sana, bangkit dari kursinya lalu pamit pulang, “Aku akan mencari Pam. Kalian di sini istirahat, lalu besok latihan membawa motor.”
Bumi mengangguk.
Mereka mengantarkan Sally keluar rumah. Sally mengendarai motornya, lalu pergi dan masuk ke jalur tol.
Ayah dan Ibu Bumi mengajak Bumi dan Nuri masuk kembali ke rumah lalu menjelaskan apa saja yang ada di rumahnya. Nuri dan Bumi harus terpaksa tidur satu kamar. Yah, memang mereka sudah bisa melakukan itu sejak dulu. Dari kecil mereka tidur satu kamar sampai akhirnya ketika Nuri masuk SMA dan minta kamar terpisah. Orang tua aseli mereka harus membangun kamar tambahan di loteng untuk kamar Bumi. Makanya Bumi bisa melihat maling yang lalu membuatnya ke zaman 6026 ini.
Kamar di apartemen lantai lima itu hanya ada dua. Satu kamar yang ditinggali oleh ayah dan ibunya Bumi, dan kamar tamu yang sekarang dipakai oleh Nuri dan Bumi. Dari dalam dinding keluar kasur single yang ada di atas laci yang terbuat dari metal besi. Kedua kasur itu keluar dari kedua dinding. Bumi tidur di bawah jendela, sedangkan Nuri tidur di sisi dekat lemari.
“Ayah sama ibu gimana bisa selamat?” tanya Bumi ketika Ayah dan ibunya memberitahukan cara menggunakan teknologi di kamarnya.
“Menyerah,” kata Ayahnya dengan pelan.
“Menyerah?” tanya Bumi.
Nuri memperhatikan interaksi Bumi dan ayah yang berbeda dengan ayah mereka di tahun 2026.
“Ya. Led Hamlich ingin menguasai semua lahan.”
“Untuk kepentingan rakyat kan?”
“Kalau untuk kepentingan rakyat, kita mungkin aku harus bertahan hidup selama setahun kemarin, Bumi!” kata Nuri menyela.
“Semua orang jahat, pasti selalu berhasil,” Bumi bergumam sedih.
“Dan semua orang baik, pasti selalu bisa bertahan,” kata Ibunya Bumi lalu mengajak untuk pergi ke kamar mandi.
Sebelum tidur, Nuri dan Bumi diajarkan cara mandi. Sebuah kamar mandi kecil berbentuk kotak, yang bisa mengeluarkan closet namun bisa tertutup kembali sehingga jadi tempat shower kecil. Semua airnya air panas. Nuri mandi sambil memikirkan sabun yang jatuh dari tubuhnya dan masuk ke saluran air, akan berakhir di saluran pembuangan yang hari itu iya lewati.
Nuri begidig memikirkannya, sedangkan Bumi sedikit kagum, “Berarti teknologi untuk filter atau mengubah air limbah di sini luar biasa, Kak!”
“Aku nggak nyangka kamu bisa berpikiran positif seperti ini?”
“Kakak sih, nggak pernah mau mabar sama aku.”
“Buat apa? Aku selalu menang!”
Bumi melemparkan bantal ke Nuri yang sudah ada di kasurnya sendiri. Bumi menatap ke luar jendela, bulan tampak besar dan jelas. “Apa kita bisa kembali ke 2026, Kak?”
“Semoga,” jawab Nuri lalu tertidur.
--
Sekitar baru satu jam tidur, Bumi terbangun. Terdengar ketukan pelan di jendela. Bumi menoleh, ternyata itu Pam.
“Pam?” tanya Bumi.
“Ssst!”
“Kamu selamat?”
“Kamu katanya mau balapan?”
“Iya.”
“Jangan!”
“Kenapa?” tanya Bumi berbisik, sambi memperhatikan apakah Pam melayang. Karena kamar mereka itu ada di lantai lima.
“Kita harus langsung ke Prof Keiko!” jawab Pam yang memang melayang. Ada sepatu yang mengeluarkan jet di kakinya.
“Tapi…,”
“Bumi?” teriak Nuri terbangun kaget.
Bumi berpaling, “Kak?”
“Kamu ngomong sama siapa?”
Bumi kembali ke jendela, “Pam!” Tidak ada siapa-siapa.
“Pam?” tanya Nuri heran.
Bumi bangkit, lalu melihat ke jendela, benar-benar tidak ada siapa-siapa. “Tadi ada Pam di sini. Dia bilang aku jangan ikut balapan!”
Nuri bangkit, lalu melihat ke jendela. Tidak ada siapa-siapa. Nuri menatap Bumi, “Kamu mimpi?”
Bumi duduk di tepi kasur, memegang kepalanya, “Apa aku mimpi?”
Nuri mengacak-acak rambut Bumi, lalu kembali ke kasurnya, “Kamu kayaknya emang beneran suka sama Pam?”
“Hah?”
“Sudah lah, kalau emang suka, nggak usah pura-pura. Kakak nggak akan marah kok,” Nuri merebahkan diri di kasur.
Bumi terdiam, memikirkan apakah dirinya benar-benar suka pada Pam.
“Pam kayaknya orangnya baik,” kata Nuri memejamkan mata.
Bumi merebahkan dirinya di kasur, melihat ke luar jendela. Bulan masih bersinar terang. Ia merasa dirinya memang diam-diam menyukai Pam. Ada di mana sekarang Pam? Apakah tadi hanya mimpi, atau memang sebaiknya jangan ikut balapan? Begitu banyak yang ada di pikiran Bumi, yang membuatnya tertidur.