NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Bayangan Kecil di Balik Pintu

Dua hari berlalu sejak pertemuan pertama itu, namun pikiran Matthew tidak pernah benar-benar meninggalkan klinik di pinggiran kota. Di Markas Besar, ia menatap peta strategi, namun yang ia lihat adalah mata cokelat gelap milik bocah kecil itu. Ada dorongan aneh, semacam gravitasi gelap yang menariknya kembali ke sana. Ia ingin tahu, ia ingin melihat lebih dekat—bukan pada Maira, tapi pada Adelie.

Sore itu, salju tipis mulai turun di Ibukota. Matthew kembali melakukan kebohongan yang sama kepada Daisy: “Rapat evaluasi akhir tahun di barak pusat.”

Ia memarkir mobilnya agak jauh dan berjalan kaki. Kali ini, ia tidak langsung masuk. Ia berdiri di taman kecil di samping klinik, bersembunyi di balik barisan pohon cemara yang tertutup salju. Dari sana, ia melihat Adelie sedang bermain sendirian di teras belakang klinik. Bocah berusia empat tahun itu mengenakan mantel rajut berwarna merah marun, sedang asyik menyusun batu-batu kecil di atas meja kayu.

Matthew melangkah keluar dari bayang-bayang. Langkah kakinya yang berat di atas salju membuat Adelie menoleh.

Bocah itu tidak lari ketakutan. Ia justru menatap Matthew dengan kepala dimiringkan, matanya yang bulat besar—persis seperti mata Friedrich—menatap sang Jenderal dengan rasa ingin tahu yang murni.

"Paman yang tempo hari?" Suara Adelie cempreng dan lembut.

Matthew berhenti dua meter di depan bocah itu. Ia berdehem kaku, tangannya yang terbiasa memegang pedang kini terasa sangat canggung. "Ya. Sedang apa kau di sini sendirian?"

"Adel sedang buat istana batu," jawabnya sambil menunjuk tumpukan batunya. "Tapi batunya sedikit. Ibu sedang periksa pasien di dalam."

Matthew berlutut di atas satu kaki di atas salju, membuat posisinya sejajar dengan Adelie. Ia melihat tangan kecil Adelie yang mulai memerah karena kedinginan. Tanpa sadar, Matthew melepaskan sarung tangan kulitnya yang mahal dan hangat, lalu mengulurkannya pada Adelie.

"Pakai ini. Tanganmu bisa membeku," ucap Matthew. Suaranya rendah, tanpa sadar ia menggunakan nada yang lebih lembut, nada yang bahkan jarang ia berikan pada Daisy.

Adelie menerima sarung tangan itu. Tangan mungilnya tenggelam di dalam sarung tangan raksasa milik Matthew. Ia tertawa kecil, suara tawa yang membuat jantung Matthew berdenyut aneh.

"Besar sekali! Seperti tangan raksasa!" Seru Adelie. Ia kemudian mengambil sebuah batu putih dan memberikannya pada Matthew. "Paman mau bantu Adel? Istana ini butuh menara."

Matthew tertegun. Ia, Jenderal Agung Eisenberg, diminta membangun istana batu oleh anak dari pria yang paling ia benci. Namun, ia tidak menolak. Dengan tangan telanjangnya yang dingin, ia mulai membantu Adelie menyusun batu-batu itu.

"Siapa namamu?" Tanya Matthew pelan.

"Adelie von Halden," jawabnya bangga. "Tapi Ibu panggil Adel saja."

Von Halden. Nama belakang Friedrich. Matthew merasakan pahit di lidahnya. Namun, saat ia melihat Adelie tersenyum padanya, rasa pahit itu bercampur dengan sesuatu yang menyerupai rasa iba—atau mungkin, penyesalan yang terlambat.

"Adelie! Sudah Ibu bilang jangan main di luar kalau salju—"

Langkah kaki Maira terhenti di ambang pintu belakang. Wajahnya memucat melihat Matthew sedang berlutut di samping putrinya, menyusun batu. Ia segera berlari mendekat dan menarik Adelie ke belakang tubuhnya.

"Tuan Duke! Apa yang Anda lakukan di sini?" Desis Maira. Matanya berkilat penuh proteksi. "Jangan dekati anak saya."

Matthew berdiri perlahan, membersihkan salju dari lutut mantelnya. Wajahnya kembali kaku dan dingin. "Saya tidak menyakitinya, Maira. Saya hanya membantunya membangun... istana."

"Anda tidak punya urusan di sini," Maira menatap sarung tangan kulit di tangan Adelie, lalu melepasnya dan menyodorkannya kembali pada Matthew seolah-olah benda itu beracun. "Ambil ini. Jangan berikan barang-barang mewah Anda pada anak saya. Kami tidak butuh apa pun dari Eisenberg."

Adelie menatap ibunya dengan bingung. "Ibu, Paman baik. Dia kasih Adel menara."

"Masuk ke dalam, Adel. Sekarang," perintah Maira tegas. Setelah Adelie masuk, Maira berbalik menatap Matthew. "Pergilah, Tuan Duke. Anda punya istri di Glanzwald. Jika dia tahu Anda di sini, Anda akan menghancurkan hatinya. Dan jika Anda berpikir bisa mengambil Adelie dari saya... saya akan melawan Anda sampai mati."

Matthew menatap Maira dengan tajam. "Saya tidak berniat mengambilnya. Saya hanya... penasaran."

"Rasa penasaran Anda berbahaya, Tuan Duke. Itu selalu berakhir dengan kehancuran orang lain," ucap Maira pedas. "Pulanglah pada Putri Daisy. Dia beruntung memiliki posisi yang dulu tidak saya inginkan, tapi dia tidak beruntung jika memiliki suami yang hatinya masih terjebak di masa lalu."

Perjalanan pulang ke Glanzwald terasa lebih jauh dari biasanya. Di jok samping, sarung tangan kulit yang tadi dipakai Adelie masih terasa hangat. Matthew menatap tangannya yang tadi bersentuhan dengan tangan kecil bocah itu. Ada rasa hampa yang luar biasa di dadanya.

Sesampainya di paviliun, suasana terasa sangat sunyi. Matthew masuk ke kamar utama, berharap Daisy sudah tidur. Namun, ia menemukan Daisy sedang duduk di meja rias, sedang melepaskan anting-antingnya.

Melalui cermin, Daisy menatap Matthew. Wajahnya tampak sangat lelah, dan gengsinya yang biasanya tegak kini tampak sedikit layu.

"Latihan malam yang sangat panjang, Jenderal," ucap Daisy dingin. Ia tidak berbalik. "Atau mungkin Anda sedang membantu dokter di rumah sakit militer itu lagi?"

Matthew terhenti di tengah ruangan. Ia merapikan mantelnya. "Ya. Ada banyak hal yang harus ku urus, Daisy. Ini akhir tahun, anggaran militer sedang diperiksa."

Daisy bangkit dari kursi, berjalan mendekati Matthew. Ia berhenti tepat di depan suaminya, menatap lurus ke dalam mata dark blue Matthew yang sedang berusaha menyembunyikan rahasia.

"Anda pasti berbohong lagi," bisik Daisy. Suaranya bergetar karena emosi yang ia tahan sekuat tenaga. "Ada bekas debu putih di lutut kemeja Anda... seperti bekas berlutut di salju. Dan Anda kehilangan satu sarung tangan kulit Anda."

Daisy meraih tangan kanan Matthew yang telanjang dan dingin. "Di mana sarung tangan Anda, Jenderal?"

Matthew menarik tangannya dengan kaku. "Aku menjatuhkannya di barak. Sudahlah, Daisy. Aku capek."

Daisy terdiam, "Ada apa dengannya?" Batinnya.

Daisy berbalik dan berjalan menuju sisi tempat tidur yang lain, membelakangi Matthew sepenuhnya. "Tidurlah, Jenderal. Besok, carilah sarung tangan Anda yang hilang itu."

Matthew berdiri mematung di kegelapan kamar. Ia menatap punggung Daisy. Ia ingin memeluknya, ingin menjelaskan tentang Adelie, tentang betapa hancurnya perasaannya saat melihat anak itu. Tapi ia tahu, di dunia Daisy, tidak ada ruang untuk anak dari masa lalu. Gengsi Daisy adalah benteng yang sulit ditembus, dan kebohongan Matthew adalah air raksa yang perlahan-lahan meruntuhkan benteng itu dari bawah.

Malam itu, Matthew tidur dengan hati yang terbelah dua. Di tangannya, ia masih bisa merasakan kehangatan Adelie, tapi di hatinya, ia merasakan dinginnya jarak yang ia ciptakan sendiri dengan Daisy. Sang Jenderal Agung kini sedang berjalan di atas tali tipis, dan satu langkah salah lagi, ia akan menjatuhkan seluruh hidupnya ke dalam jurang kehancuran.

1
Nia Nara
Pernikahan itu panjang, nanti 10 atau 20 tahun lagi, tiba2 maira kembali, terlalu beresiko.
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!