Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25- MCI 25
Celine yang sudah kembali dari restoran, berusaha untuk menghubungi Diandra. Tapi panggilan darinya beberapa kali tidak diterima. Celine pun mengirim pesan pada Diandra.
'Di, kamu dimana?'
Wajahnya tampak cemas. Pesan itu juga tidak dibaca.
Haikal yang berada di samping Celine melihat wajah cemas Celine.
"Ada apa?"
"Diandra tidak bisa di hubungi!" jawab Celine cemas.
"Lacak ponselnya! ayo kita ke tempat Dominic!" ajak Haikal pada Celine.
Celine mengangguk, dan mereka pun pergi ke tempat teman mereka yang punya pekerjaan di bidang IT.
Sedangkan di tempatnya berada. Diandra baru membuka matanya, lehernya terasa sakit dan berat.
Ketika dia membuka matanya seluruhnya, dia melihat tempat yang tidak begitu familiar baginya. Sebuah ruangan yang sepertinya kamar, dan terlihat cukup mewah.
"Nyonya..."
Diandra mengernyitkan keningnya. Seorang pelayan tampak membungkuk hormat menyapanya.
"Kalian siapa? dimana aku?" tanya Diandra.
"Nyonya di villa, dokter Vincent akan memeriksa nyonya!"
Diandra menoleh ke arah pria dengan jas lengkap dan terlihat sangat berwibawa.
"Maaf ya, aku akan periksa kamu terlebih dulu...!"
"Aku kenapa?" tanya Diandra, "kalian ini siapa? kalian ini sindikat perdagangan manusia?"
Pelayan itu sampai tertegun bingung. Sedangkan dokter Vincent nyaris tak bisa menahan tawanya.
"Jangan berpikir macam-macam. Raez minta aku memeriksa mu, katanya dia tadi cukup keras memukul bagian belakang lehermu!"
Diandra langsung memicingkan matanya.
"Jadi dia... huh, dasar egois!" umpatnya kesal.
Dokter Vincent mendekati Diandra dan meminta ijin untuk memeriksa tekanan darah Diandra. Dan pemeriksaan lain, karena Diandra pingsan cukup lama tadi.
"Tuan baru saja pergi..."
"Tidak perduli!" celetuk Diandra kesal.
"Tapi baru kamu loh, yang aku lihat dibawa Raez ke tempat ini!" kata dokter Vincent.
"Itu kan setahu dokter! yang tanpa sepengetahuan dokter..."
"Tidak nyonya!" sela pelayan wanita paruh baya itu melambaikan tangannya beberapa kali, "memang baru nyonya yang dibawa tuan kemari!"
"Terus aku harus bilang 'wow' gitu? dia itu cuma..." Diandra menjeda ucapannya.
Dulu, mereka punya kesepakatan, kalau hubungan mereka itu. Memang hanya mereka saja yang tahu. Tidak boleh ada yang lain. Setidaknya Diandra hanya mengatakan tentang semua itu pada Celine.
"Semuanya baik-baik saja, minum obat ini dan vitamin ini! kalau kepalanya terasa sakit, minta bibi Lia menghubungiku!" kata dokter Vincent.
Diandra melihat obat yang diberikan oleh dokter itu.
"Terima kasih dokter!" kata Diandra.
Ya, setidaknya meski dia kesal pada Raez. Dia kan sudah diperiksa, sebuah hal yang lumrah kalau dia mengucapkan terima kasih pada dokter yang memeriksanya itu.
"Baiklah, aku pergi dulu. Pastikan kamu makan sebelum minum obat. Kamu setidaknya butuh tenaga untuk balas memukul pria egois itu kan?" tanya dokter Vincent.
Diandra hanya menoleh sekilas. Meski ucapannya sedikit menghibur, bukankah dokter itu orangnya Raez. Tetap saja perintah Raez yang akan di ikuti mereka.
Begitu dokter itu pergi, bibi Lia segera mendekati Diandra.
"Nyonya mau makan apa? bibi akan masakan" kata bibi Lia sambil tersenyum.
"Sate padang! oh ya, dimana ponselku, bi?"'
"Ada pada tuan, nyonya. Bibi akan minta pelayan membelikannya! sebentar ya!"
Bibi Lia pun keluar dari kamar itu. Diandra kembali menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Rencananya gagal lagi, Raez benar-benar menyebalkan.
Tapi, mau kabur juga dia tidak tahu dia sedang ada dimana. Dia hanya berharap Celine bisa menemukannya.
Tak berselang lama, suara mobil tampak datang ke villa itu.
Tok tok tok
"Nyonya, ini makan malamnya. Sate padang seperti yang nyonya..."
"Aku harus makan disini? memang villa sebesar ini tidak punya ruang makan?" tanya Diandra.
"Maaf nyonya, kata tuan. Nyonya tidak boleh keluar dari kamar...!"
Diandra mendengus kesal.
"Pria itu tidak waras! lihat apa yang akan aku lakukan padanya kalau aku bertemu dengannya!"
"Nyonya, makan dulu ya. Nanti kan harus minum obat!"
Diandra menoleh ke nampan yang dibawa oleh bibi Lia. Isinya memang lumayan menggugah selera.
'Makan dulu saja, kata Hierarki Maslow yang penting makan dulu, baru hadapi dunia!' batin Diandra.
Diandra pun makan dulu, setelah makan dia meminum obatnya. Dan duduk di dekat jendela.
Tak lama bibi Lia masuk untuk memastikan, bibir wanita patuh baya itu tersenyum melihat Diandra menghabiskan makanannya.
"Nyonya, jika mau mandi air hangat. Bibi akan siapkan...!"
"Tidak usah bi, aku tidak akan mandi!"
'Biar aku bau, dan pria menyebalkan itu tidak mendekatiku!'
"Tapi nyonya, apa nyaman? pakaian nyonya sudah disiapkan semua oleh tuan di lemari...!"
"Aku tidak akan mandi, Bi. Sudah bibi istirahat saja!" kata Diandra.
Bibi Lia tampak khawatir, tapi kemudian dia pun keluar dari kamar. Raez mengatakan pada bibi Lia, supaya mengikuti semua yang dikatakan oleh Diandra kecuali memperoleh dia kuat dari kamar.
Menjelang tengah malam, Diandra tertidur di sofa dekat jendela. Dan ketika itu, Raez datang ke sana.
"Tuan..."
"Dia sudah makan?" tanya Raez.
"Sudah tuan, nyonya sudah makan dan minum obat"
Raez mengangguk dan segera pergi ke kamar Diandra. Melihat wanita itu tertidur di sofa, Raez berjongkok di depannya. Mensejajarkan pandangannya dengan wajah Diandra.
"Jika tenang begini, kamu terlihat sangat manis Diandra" gumamnya pelan.
Raez pikir, tidur meringkuk di sofa seperti itu pasti tidak nyaman. Maka, Raez pun mengangkat tubuh Diandra, bermaksud ingin memindahkannya ke atas tempat tidur. Namun, hal itu justru membuat Diandra terbangun.
"Turunkan aku!" pekik Diandra memukul lengan Raez.
Brukk
Dan Raez pun menuruti permintaan Diandra. Pria tua membantingnya di atas tempat tidur..
"Aduh, kamu ini sikopet ya! kenapa senang sekali menyakiti orang lain?" omel Diandra.
"Kamu yang minta aku turunkan!" bantah Raez.
"Kalau begitu aku mau pergi...!"
Diandra turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu. Namun baru beberapa langkah, tangannya sudah diraih oleh Raez dan ditarik kuat sampai Diandra menabrak Raez.
"Jangan macam-macam!" tatapan pria itu kembali tegas dan serius.
"Siapa yang mau macam-macam? aku cuma mau satu macam, aku mau pulang!" pekik Diandra.
"Diandra..."
"Aku mau pulang!"
"Kamu akan pulang setelah aku bertunangan dengan Genelia...!"
Plakkk
Diandra sungguh tidak tahan lagi. Kesabarannya sudah habis, emosinya sudah tidak baja dia bendung.
Akhirnya dia menamparr dengan sangat kuat wajah Raez.
'Tidak sia-sia aku menghabiskan satu bungkus sate padang!' batinnya puas.
Raez sampai memalingkan wajahnya ke arah kanan. Tapi pria itu tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya segera menoleh ke arah Diandra.
"Sudah puas?"
"Belum!" jawab Diandra cepat.
"Pukul lagi!" kata Raez dengan datar.
Suaranya memang datar, tapi tatapannya cenderung memberikan tekanan yang mendominasi.
Diandra mulai sedikit takut.
"Raez, aku mau pulang!" ucapnya lembut.
'Bagaimana aku menghadapi wanita ini!' batin Raez frustasi.
***
Bersambung...
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣