NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi

​Pagi itu, Jakarta belum sepenuhnya terbangun. Semburat ungu di cakrawala masih tertutup kabut tipis dan sisa hujan semalam. Di dalam rumah dinas yang dingin, Maura terbangun dengan amarah yang masih mendidih di ubun-ubunnya. Ia tidak bisa memejamkan mata sedetik pun setelah konfrontasi hebat semalam. Luka di hatinya telah bermutasi menjadi kebencian yang murni.

​Ia berjalan ke ruang tengah dan melihat Arya tertidur di sofa dengan tangan yang dibalut kain seadanya—bekas hantaman ke dinding semalam. Di atas meja, ponsel Arya tergeletak. Tanpa ragu, Maura menyambarnya. Ia tahu kode pengunci ponsel itu.

​Jarinya gemetar saat membuka aplikasi pesan. Dan di sana, ia menemukannya. Sebuah pesan singkat dari Amsterdam yang dikirim beberapa jam lalu, lengkap dengan balasan Arya yang begitu posesif dan penuh cinta.

​“Jangan biarkan Julian menyentuhmu. Kamu milikku. Hanya milikku.”

​Dunia Maura seolah meledak. Kalimat itu adalah belati terakhir yang merobek sisa kesabarannya. "Milikmu, Arya? Lalu aku ini apa?" bisiknya dengan suara tercekat.

​Tanpa pikir panjang, Maura menyambar kunci mobilnya. Ia tidak lagi peduli pada kesehatan Papi Sudrajat. Ia tidak peduli pada martabat keluarga. Yang ia inginkan hanyalah kehancuran bagi wanita yang telah mencuri suaminya, dan kehancuran bagi Arya yang telah menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang istri.

​*

​Suara mesin mobil Maura yang meraung di garasi mengejutkan Arya dari tidurnya. Ia tersentak, matanya segera mencari ponselnya yang sudah hilang dari meja. Ia melihat mobil Maura melesat keluar gerbang dengan kecepatan yang tidak wajar.

​"Maura! Berhenti!" teriak Arya, namun suaranya hanya tertelan angin subuh.

​Arya tahu ke mana Maura pergi. Hanya ada satu tujuan wanita itu saat ini: kediaman orang tua Arya di Menteng. Maura akan menunjukkan pesan-pesan itu pada Mami Lastri. Ia akan membongkar semuanya sekarang juga.

​Tanpa memakai sepatu dengan benar, Arya menyambar kunci mobil dinasnya. Ia memacu kendaraannya menyusul Maura. Pikirannya kalut. Ia tidak takut pada kemarahan Mami, tapi ia sangat takut pada kondisi Papi. Papi Sudrajat baru saja melewati masa kritis. Satu kejutan besar lagi, dan Arya tahu ia akan kehilangan ayahnya selamanya.

​"Jangan sekarang, Maura... tolong, jangan sekarang!" gumam Arya sambil menginjak gas sedalam-dalamnya.

​Dua mobil itu melesat membelah jalanan Jakarta yang masih lengang. Maura memacu sedan putihnya dengan kalap, berpindah jalur secara zig-zag tanpa memedulikan marka jalan. Di belakangnya, mobil dinas Arya terus membuntuti, mencoba memepet Maura agar wanita itu menepi.

​Dinginnya subuh tidak mampu mendinginkan suasana di dalam kabin mobil masing-masing. Maura menangis histeris sambil memegang kemudi, sementara Arya terus membunyikan klakson, memberi isyarat agar istrinya berhenti.

​*

​Pengejaran itu memasuki kawasan perempatan besar yang menuju ke arah Menteng. Lampu lalu lintas di depan mereka masih menunjukkan warna hijau, namun detik-detik terakhir sebelum berganti.

​Maura melihat lampu berubah menjadi kuning. Ia justru menambah kecepatannya, melaju kencang melewati persimpangan tepat saat lampu berubah menjadi merah. Ia berhasil lolos, meninggalkan Arya yang tertinggal beberapa puluh meter di belakang.

​Arya melihat lampu sudah merah padam, namun di otaknya hanya ada satu pikiran: Maura tidak boleh sampai ke rumah Mami. Ia tidak boleh membiarkan pesan itu terbaca oleh ibunya pagi ini. Adrenalin dan rasa depresi yang menumpuk selama berbulan-bulan membuat nalar perwiranya tumpul. Arya tidak menginjak rem. Ia justru memacu mobilnya, mencoba menerobos lampu merah tersebut demi mengejar Maura yang mulai menjauh di tikungan depan.

​Namun, dari arah samping kanan, sebuah truk kontainer besar bermuatan penuh sedang melaju kencang karena mendapatkan lampu hijau. Sopir truk itu tidak menduga ada kendaraan yang nekat menerobos dari arah yang salah.

​Suara decit rem yang memekakkan telinga membelah kesunyian subuh.

​BRAKKKK!

​Benturan hebat itu tak terelakkan. Truk besar itu menghantam bagian samping kiri mobil Arya—tepat di sisi pengemudi. Mobil dinas itu terseret hingga belasan meter, berputar-putar seperti mainan kaleng yang remuk sebelum akhirnya terhenti dalam posisi terbalik di tengah persimpangan.

​Kaca-kaca hancur berkeping-keping, menaburi aspal yang dingin. Asap mengepul dari mesin yang hancur. Keheningan yang mengerikan menyusul setelah dentuman keras itu.

​*

​Maura, yang sudah berada beberapa ratus meter di depan, mendengar suara dentuman yang begitu dahsyat. Ia melihat ke spion tengah. Ia tidak melihat lampu mobil Arya lagi. Ia hanya melihat kepulan asap dan lampu darurat truk yang menyala di kejauhan.

​Jantungnya seolah berhenti berdetak. Amarahnya yang tadi meluap-luap mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki ke jantungnya.

​"Mas Arya..." bisiknya lirih.

​Maura menginjak rem dengan keras hingga mobilnya berdecit. Ia terdiam selama beberapa detik di balik kemudi, menggenggam ponsel Arya yang masih menampilkan layar percakapan dengan Nina. Tangannya gemetar hebat. Pikiran tentang pengkhianatan Arya mendadak terasa sangat sepele dibandingkan dengan kemungkinan bahwa suaminya sedang meregang nyawa di belakang sana.

​Tanpa pikir panjang, Maura memutar balik arah mobilnya. Ia mengabaikan aturan lalu lintas, memacu kendaraannya kembali menuju persimpangan maut tersebut.

​Saat ia sampai, pemandangan itu membuatnya lemas. Mobil dinas Arya sudah tidak berbentuk lagi. Kerumunan kecil orang-orang yang melintas mulai mendekat, namun tidak ada yang berani menyentuh mobil yang mulai mengeluarkan bau bensin itu.

​Maura keluar dari mobilnya, berlari tertatih-tatih menuju rongsokan besi itu. "Mas Arya! Arya!" teriaknya histeris.

​Ia melihat melalui celah kaca yang hancur. Arya tergantung di sabuk pengamannya, kepalanya terkulai dengan darah yang mengalir deras menutupi wajahnya. Tangannya yang semalam ia gunakan untuk memukul dinding kini terkulai lemah, tak berdaya di antara serpihan kaca.

​Maura jatuh terduduk di aspal yang kasar. Perasaannya tidak karuan. Ada rasa benci yang masih tersisa, namun rasa bersalah yang lebih besar menghimpit dadanya. Ia menyadari bahwa pengejarannya tadi telah membawa mereka ke titik ini. Jika ia tidak lari pagi ini, jika ia tidak mencoba menghancurkan Arya, mungkin kecelakaan ini tidak akan terjadi.

​Di dalam tas Maura, ponsel Arya yang ia curi tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk lagi dari Amsterdam. Sebuah pesan dari Nina yang menanyakan kabarnya karena ia merasa gelisah semalam.

​Maura menatap ponsel itu, lalu menatap tubuh Arya yang terjepit di dalam mobil. Ia menangis sejadi-jadinya di tengah persimpangan jalan yang kini mulai terang oleh cahaya fajar. Fajar yang seharusnya membawa harapan, kini justru membawa tragedi yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

​Maura berteriak meminta tolong di tengah jalanan Jakarta yang mulai ramai, sementara ambulans mulai terdengar di kejauhan. Takdir baru saja memainkan kartunya yang paling kejam: saat cinta mencoba kembali bersatu lewat jalan pintas, semesta justru memberikan penghalang berupa maut yang tak terduga.

1
kartini aritonang
semangat thor...lanjuuut.
kartini aritonang
saya suka karya ini , sayang sekali peminatnya sangat sedikit, Banyak karya karya bagus di nt yang sepi pembaca, semoga othor tidak lelah untuk berkarya, mungkin bukan sekarang, tetapi nanti akan banyak yang membaca karyamu thor. semangat 💪
Boa: kak😍Terima kasih banyak sudah menyukai karya sy. Terima kasih juga utk setiap like nya. sy termasuk penulis pemula disini. bisa cek karya sy yg lain juga ya kak, siapa tau suka ☺🙏
total 1 replies
falea sezi
heleh muter mbuh lah males
Indryana Imaniar
woou kereeen
falea sezi
moga Arya g plin plan lagi klo. emak loe pura2 sakit. lagi. mending nina balik ke Belanda gak balik.
falea sezi
cerai lah oon bgt jd cowok. plin. plan makan itu penyesalan salah sendiri manut ma emak mu yg kayak. lampir itu
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!