Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hemofilia
Di atas tanah lembap yang masih menyisakan bau anyir logam yang pekat, Claire berdiri menatap sisa-sisa pembantaian dengan sorot mata dingin seolah semua kekacauan ini hanyalah permainan amatir.
Di dunia asalnya, ia adalah predator puncak yang bertahta di atas tumpukan harta yang tak berseri—sosok yang bisa menikmati kemewahan paling santai namun mampu berubah menjadi badai paling mematikan hanya dengan satu jentikan amarah.
Meski kini ia terjebak dalam pusaran drama fiktif yang asing, jiwa Claire yang berbahaya tetap tak tersentuh---- baginya, medan perang tetaplah panggung di bawah kendalinya. Dengan gerakan tenang namun pasti, ia memeriksa kondisi Ares yang mengenaskan--- menyentuh kulit yang mulai mendingin serta bibir membiru yang menandakan nyawa sang pria sedang berada di ambang maut.
Di sela denyut nadi yang kian melemah, Claire mengalihkan pandangannya pada Albert yang tampak hancur melihat tuannya bersimbah darah akibat terjangan peluru dan serpihan kaca dari ledakan bom yang beberapa saat lalu merobek keheningan malam tersebut.
“Darah ini… terlalu aneh untuk luka luar biasa,” bisik Claire, jemarinya yang dingin menyentuh leher Ares. Di bawah langit yang masih berbau mesiu dan anyir tanah lembab, ia merasakan denyut nadi itu seperti sisa lilin yang hampir padam.
"Hemofilia! Apa Tuanmu menderita penyakit Hemofilia?" Claire bertanya, suaranya tajam memecah kesunyian tanah lembap yang berbau anyir itu.
Albert mengangguk cepat, wajahnya pucat pasi. "Iya, sejak usia Tuan Muda menginjak empat belas tahun, penyakit itu tiba-tiba datang. Kami tidak mengerti, padahal sebelumnya dia sehat-sehat saja."
Claire mendecit, tatapannya menyapu luka di perut Ares yang berubah menjadi biru beku. "Penyakit ini kutukan bagi petarung. Jika luka ini tidak segera di obati, dia hanya punya waktu beberapa jam sebelum jantungnya menyerah karena kekurangan volume darah."
"Bawa dia ke atas motorku," perintah Claire singkat. "Aku akan menyelamatkan nya."
"Tapi—" Albert ragu, menatap motor sport hitam Claire yang tampak ringkih untuk membawa dua orang dalam kondisi ekstrem seperti ini.
" Tidak ada tapi-tapian!" Claire membentak, aura dominan yang biasa ia tunjukkan di dunia asalnya kini menguar hebat. "Waktu kita tidak banyak atau Tuanmu ini akan benar-benar menjadi mayat di atas tanah busuk ini. Angkat dia sekarang!"
Dengan tangan gemetar, Albert mengangkat tubuh Ares dan memposisikannya di belakang Claire. Claire menarik napas panjang, lalu melilitkan jaket hitam nya dan tali pengikat dengan kencang, menyatukan tubuh Ares ke punggungnya.
"Bertahanlah," bisik Claire dingin namun penuh penekanan. "Aku tidak mengizinkanmu mati sebelum kau menjelaskan dunia gila ini kepadaku."
Mesin motor menderu keras, membelah keheningan hutan dengan kecepatan yang mematikan.
Claire memacu motor sport hitamnya membelah kegelapan malam, mesinnya menderu rendah seiring jarum speedometer yang terus merangkak naik hingga mencapai kecepatan ekstrem. Dengan ketenangan yang mematikan, ia meliuk lincah di antara barisan truk dan mobil besar, mengeksekusi manuver tajam yang hanya bisa dilakukan oleh pengendara profesional yang sudah terbiasa dengan maut.
Namun, beban di punggungnya jauh lebih mencekam daripada risiko kecelakaan--- di sana, Ares terkulai lemas, tubuhnya yang tak berdaya terikat erat oleh tali yang menjadi satu-satunya penghalang agar ia tidak terlempar ke aspal.
Kepala Ares terkulai berat di bahu Claire, sementara luka robek menganga di kulitnya terus mengucurkan cairan yang kian lama kian membiru pekat—sebuah tanda mengerikan dari hemofilia langka yang perlahan merenggut nyawanya setelah pertarungan brutal tadi.
Sepuluh menit yang terasa seperti selamanya berakhir di depan sebuah apartemen asing, sebuah pelarian yang Claire beli dengan uang nya sendiri sebagai persiapan fajar baru setelah perceraiannya dengan Julian meletus. Tanpa membuang waktu, Claire memutuskan ikatan yang menyatukan mereka, memanggul tubuh Ares di pundaknya seolah berat pria itu hanyalah debu, lalu melangkah mantap menuju unit nomor lima puluh di mana takdir mereka akan ditentukan malam ini.
Begitu tubuh Ares terbaring di atas ranjang, Claire dengan gerakan kasar merobek pakaian pria itu, menelanjangi luka-luka mengerikan di lengan dan perutnya yang menuntut penanganan instan. Beruntung, insting waspadanya telah membuat Claire menyiapkan beberapa obat - obatan, cairan bermanfaat, racun dan berbagai hal yang mungkin bisa berguna.
Ia bergegas membuka lemari pendingin yang alih-alih berisi makanan, justru dipenuhi deretan tabung reaksi berisi cairan biru sintetis. Dengan tangan stabil, Claire menyedot cairan tersebut ke dalam suntikan dan menghunjamkannya ke pembuluh darah Ares—sebuah upaya terakhir untuk mencairkan darah yang membeku dan menarik pria itu kembali dari ambang kematian.
Ares mengerang, otot-otot lehernya menegang saat cairan itu mulai bekerja, memicu sirkulasi darahnya yang sempat mati rasa. Claire segera beralih menangani luka menganga di perut Ares, menekan pendarahan dengan kain kasa.
Napas Claire memburu, kontras dengan kesunyian apartemen yang masih berbau darah dari tubuh Ares itu. Tangannya yang biasanya stabil saat memegang kemudi kini sedikit gemetar saat menyeka peluh di dahinya, namun gerakannya tetap efisien saat mulai menjahit luka di perut Ares.
"Kau tidak akan mati malam ini, Tuan Ares! Tidak sebelum aku menemukan jawaban kenapa aku bisa terjebak di dunia drama Antagonis ini!"
Ares mengerang pelan. Cairan biru yang disuntikkan tadi mulai bereaksi, memaksa jantungnya bekerja lebih keras untuk memompa darah yang sempat membeku. Claire tidak memedulikan rintihan itu; fokusnya terbagi antara luka yang menganga dan liontin di atas nakas.
Claire meraih liontin itu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap menekan luka Ares. Ia membolak-balikkan benda itu, mencari gambar yang ia kenal.
"Ares... siapa kau sebenarnya? Kenapa kau menyimpan Liontin lambang keluarga Sophia? Kenapa benda ini ada padamu?" Claire melirik liontin lambang keluarga Sophia tersebut. "Liontin ini... seharusnya hanya di miliki oleh anggota keluarga Sophia, karena liontin ini adalah lambang dari keluargaku di dunia asal. Tapi kenapa kau memilikinya?"
Ares mengerang pelan. Bibirnya yang membiru bergetar, namun matanya tetap terpejam rapat."Dingin..."
"Tutup mulutmu! Aku baru saja mencairkan darahmu! Kau berhutang penjelasan padaku."
Ares kembali mengerang, kali ini lebih keras. Tangannya yang besar dan penuh luka bergerak lemah, seolah mencoba menggapai sesuatu di udara—atau mungkin mencari keberadaan liontin yang baru saja diambil Claire. "Jangan... ambil... itu milik... Sunshine... aku.. ingin pulang."
Claire tertegun. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Ares, memastikan wanita itu mendengar setiap kata yang ia ucapkan. " Dia bicara apa?"
" Sunshine? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu? Dimana?" Claire mencoba untuk mengingat - ngingat, namun hasilnya nihil. " Mungkin cuma perasaan ku saja,"
Waktu berlalu hingga pukul 2 pagi, dan selama itu juga Claire selalu menjaga Ares--- memastikan jika pria itu tidak akan mati-- setidaknya sampai Claire mendapatkan jawaban yang dia mau.
"Sial, cairan ku bekerja, tapi tubuh nya masih sangat dingin, " Claire memejamkan mata, frustrasi. "Darahmu sudah mengalir, Tuan Ares, tapi kenapa tubuhmu masih sedingin mayat?"
Claire bangkit, mondar-mandir di ruangan remang-remang itu.
"Jika kau mati, aku kehilangan satu-satunya kunci untuk pulang," Claire menghela napas panjang, sebuah keputusasaan yang murni. "Maafkan aku, harga diriku. Anggap saja ini investasi nyawa."
Dengan gerakan cepat yang kaku karena malu, Claire mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu, hingga hanya menyisakan pakaian paling minim. Dia menelan ludah, menatap tubuh Ares yang tidak berdaya sebelum menyelinap masuk ke dalam selimut tebal yang sama.
Begitu kulit mereka bersentuhan, Claire tersentak. "Dingin sekali... Kau benar-benar ingin menyeret aku ke neraka bersamamu, hah?"
Dia melingkarkan lengannya di dada bidang Ares, memeluknya erat-erat, mencoba menyalurkan setiap derajat suhu tubuhnya ke pria itu. Napas Ares yang lemah mulai mengenai leher Claire.
"Sial! Seumur-umur aku tidak pernah melakukan ini dengan pria mana pun, bahkan dengan mantanku saja tidak pernah sampai begini," gumam Claire dengan wajah memerah meski tidak ada yang melihat. "Kau benar-benar sangat beruntung, Tuan Ares. Jika kau bangun maka aku akan memberikan mu perhitungan."
Ares tidak menjawab, namun perlahan, jemari pria itu yang kaku sedikit bergerak, seolah secara naluriah mencari sumber panas yang kini mendekapnya erat di tengah kegelapan malam yang beku.
•
•
•
BERSAMBUNG
rajin up