Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Erlangga mengalihkan pandangannya pada Alex yang kini menatapnya dengan tatapan dingin dan sangat tajam, dia membalas tatapan itu dengan tatapan sendu sekaligus tajam.
"Anda tidak berhak memutuskan soal itu tuan Alexander, itu urusan saya dan Wina bukan kalian". Ucapnya dengan dingin.
Kedua anak kecil itu kini menatap mereka semua dengan kebingungan, seakan mereka tahu jika sekarang terjadi perang Dingin.
"Ada apa ini om, bunda, kok semuanya seperti orang sedang marah? ". Tanya Wira dengan polos.
Wina menarik nafasnya dalam-dalam, mereka semua bersitegang ditengah keberadaan kedua anaknya, mereka seperti tidak memikirkan sama sekali perasaan keduanya.
"Kamu lebih baik ngobrol dan bermain sama anak-anak saja Erlangga, kami disini saja karena kami semua sedang masa pemulihan dan sedang berobat jadi tidak akan pergi, lagian jika kami pulang kami tidak mungkin tinggal bersamamu". Jawab Wina dengan pelan.
Senyum sinis dan mengejek terbit dari ibu dan anak itu mendengar jawaban Wina barusan sedangkan Erlangga menatap Wina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Win". Cicitnya pelan.
Perkataan Wina begitu melukai harga dirinya walau perkataan itu benar adanya
" Maaf Erlangga, aku tidak akan melarang kamu bertemu dengan anak-anak karena mereka memang adalah darah daging mulai, tetapi jika kamu ingin membawa mereka, maaf aku tidak akan pernah mengizinkannya, mereka pasti akan dalam bahaya jika bersama mu".
Wina menggelengkan kepalanya tidak ingin dibantah, dia tahu jika keputusannya melukai Erlangga tetapi dia tidak punya pilihan lain selain melindungi keluarganya.
"Jangan seperti ini Wina, aku akan melindungi kalian, aku akan membayarnya dengan nyawaku, tolong biarkan anak-anak ikut denganku juga".
Wina kembali menggelengkan kepalanya, dia tidak akan mau mengambil resiko.
"Maaf Erlangga keputusanku sudah bulat, setelah kami semua sembuh dan masalah ini berakhir, aku akan kembali kerumah orangtuaku, dan aku tidak akan memberikan anak-anak padamu, jika kamu menyayangi mereka jangan ambil mereka dariku".
Wina menatap Erlangga dengan pandangan sendu dan tidak enak hati, Erlangga telah mengorbankan nyawanya untuk melindungi kedua anaknya itu tapi dia malah melarangnya membawanya, dia tidak bermaksud untuk menjauhkannya dengan kedua anaknya tetapi keluarganya pasti akan membalasnya pada kedua anaknya.
"Tapi Wina aku ayah mereka aku berhak atas mereka juga, aku hanya ingin bersama mereka". Ucapnya memelas.
"Wina benar, anda tidak boleh membawa mereka, bukan kebahagiaan yang mereka dapat tetapi kesengsaraan, keluargamu akan menindas mereka lagi karena tahu mereka anak-anak dari Wina yang mereka benci".
Alex memasukkan tangannya kedalam kantong celana depan dan Menatap Erlangga dengan dingin.
"Sudah cukup penderitaan yang Wina rasakan karena keluargamu, jangan sampai aku turun tangan melenyapkan keluargamu tanpa sisa termasuk dirimu jika kalian kembali membuatnya sengsara".
Erlangga mengepal kan tangannya menahan emosinya yang sejak tadi berusaha dia tahan tapi tidak melawan karena dia juga salah sebelumnya karena ikut terlibat dalam perbuatan keluarganya pada Wina
Ibunda Alex langsung tertawa sinis dan menatap Erlangga tapi mendengar ucapan Wina tadi dia langsung menghela nafasnya pelan.
"Sekarang ajak Wira dan Tania ketaman saja, silahkan bermain dan mengobrol dengan mereka, jangan sampai kamu melukai mereka". Ucapnya dengan sinis.
Dia pergi dari sana karena malas melihat wajah keturunan Pratama yang sangat dia benci. Tapi sebelum jauh dia berbalik dan menatap Wina dengan lembut
"Pastikan jaga anak-anak itu, jangan sampai dia membawa lari anak-anakmu, mereka itu keluarga dan keturunan sangat licik dan menghalalkan segala cara mendapatkan tujuannya".
"Jaga ucapan anda nyonya". Ucap Erlangga dengan dingin.
Mereka semua membulatkan matanya mendengar perkataan Erlangga barusan.
"Sekalipun saya membawa mereka, anda tidak berhak berbicara seenaknya pada saya karena mereka adalah anak-anak saya, diantara kami disini anda yang bukan siapa-siapa dan tidak berhak mengatur itu".
Alex meradang mendengar perkataan Erlangga barusan pada ibunya, dia maju dan kini berhadapan dengan Erlangga mata keduanya saling mengunci dengan dingin.
Melihat situasi yang sedang tidak kondusif, Wina memanggil pelayan dan meminta anaknya menjauh dari sana.
"Kalian ketaman dulu yah, main disana nanti Daddy akan menyusul kalian".
Keduanya tampak kebingungan tapi kemudian mengangguk dan mengiyakan perkataan sang ibu.
Setelah kedua anaknya pergi kini Wina menghela nafas dan menatap keduanya dengan kesal.
"Berhenti kalian berdua disitu, kalian berdua tidak malu hampir bertengkar didepan anak kecil yang tidak tahu apa-apa?".
Alex dan Erlangga tidak menggubris perkataan Wina, mereka asyik bertatapan dengan penuh emosi.
"Yang aku katakan itu benar Wina, mereka tidak berhak melakukan dan mengatakan itu padaku, mereka bukan siapa-siapa mu dan juga anak-anak sekalipun mereka menolong kalian". Ucapnya dengan suara meninggi.
Kini Erlangga tidak bisa lagi menahan emosinya, sejak tadi mereka menghina dan menginjak-injak dirinya, bukannya Wina saja sudah memaafkannya terus orang asing ini malah seenaknya ikut campur.
Alex mencengkram kerah baju Erlangga dengan keras dan kasar, matanya memerah menyala karena emosi
"Wina adalah calon istriku, kamu pikir kamu siapa karena berani meninggikan suaramu kepada nya dan juga ibuku, kamu mau mati rupanya".
Mata Erlangga membola sempurna mendengar perkataan Alex itu, kepalanya seperti dipukul batu besar.
"Calon istri". Cicitnya lemas.
Ibunda Alex itu terkekeh pelan seolah mengejek Erlangga yang kini terlihat pucat dan lemas seolah tidak percaya, dia sangat tahu bagaimana lelaki ini mencintai Wina dan inilah saatnya pukulan untuknya
"Benar, nak Wina adalah calon menantu keluarga kami, dan saya pastikan kamu tidak akan bisa mengambil apalagi menyakitinya".
Erlangga memundurkan tubuhnya dan nyaris limbung, orang yang akan dia perjuangkan mati-matian sekarang memiliki calon suami kembali dan itu bukan dirinya, dia menggeleng berusaha menyangkal.
"Itu tidak benar kan Wina, kamu tidak akan menikah dengannya kan?". Tanyanya dengan gagap.
Tubuhnya bergetar hebat menatap nanar kearah Wina yang kini menatapnya dengan sedih.
Melihat tatapan Wina itu, airmata nya tiba-tiba menetes, Wina tidak memberinya kesempatan berjuang malah langsung memilih orang lain, apa ini hubungannya dengan keluarganya .
"Jawab aku Wina , benar yang dia katakan barusan, jawab aku!!". Teriak Erlangga dengan putus asa.
Hatinya sungguh hancur mendengar wanita dicintainya lebih memilih orang yang baru dia kenal untuk mendampinginya.
Plak..
Tamparan keras membuat Erlangga limbung kesamping, matanya menatap nyalang kearah mereka dan memegang pipinya yang dia yakin sekarang tengah memerah.
"Jangan pernah meneriaki calon menantu saya, kamu pikir kamu siapa disini, hah!!".
Ibunda Erlangga itu langsung menunjuk kasar kearahnya dengan penuh amarah.
"Anda tidak berhak ikut campur, aku bertanya pada Wina, bukan pada anda jadi anda diam saja". Bentaknya dengan keras.
Bugh..
certia cukup menarik🙏