NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. SIMFONI KEHENINGAN DI ARENA AGUNG

Matahari tepat berada di puncak langit, menyinari Stadion Aethelgard yang bergetar oleh sorak-sorai seratus ribu penonton. Atmosfer stadion begitu panas, bukan hanya karena terik matahari, tetapi karena antusiasme massa yang ingin melihat "pembantaian" tim Tiga Fajar yang mereka anggap sebagai lelucon. Di tengah arena granit yang diperkuat sihir, dua tim berdiri dengan kontras yang mencolok.

Tim lawan adalah "Ksatria Surya", unit elit dari Akademi Pusat Ibu Kota. Di Akademi mereka adalah senior dari Valen dan Seraphina. Kelima anggota Ksatria Surya mengenakan zirah emas yang dipoles hingga menyilaukan, lengkap dengan jubah merah sutra yang melambai gagah. Pemimpin mereka, Kapten Lucius, memegang pedang besar dengan ukiran singa yang memancarkan api mana yang membara. Di sampingnya stood empat ksatria lain dengan spesialisasi berbeda: dua pemegang tameng berat, satu tombak api, dan satu penyihir penghancur.

"Lihatlah sampah-sampah ini!" Lucius meludah ke samping, suaranya diperkuat oleh kristal sihir agar terdengar ke seluruh penjuru stadion. "Keluarga Alaric benar-benar sudah gila. Mengirim dua anak ini dan tiga orang asing berpakaian gembel? Ini adalah penghinaan bagi seni ksatria! Aku akan memastikan kalian merangkak keluar dari arena ini!"

Sorak-sorai penonton mendukung Lucius. Namun, di sisi lain arena, Arka justru berjalan ke pinggir area, menggelar tikar kecil yang ia ambil entah dari mana, dan duduk bersila sambil mengunyah anggur ungu yang ia ambil dari ruangan Alaric. Sementara itu, Jiro, Kael, dan Elara 'Tiga Fajar yang asli' langsung duduk bermeditasi di tengah arena. Mereka mengabaikan lawan, menutup mata, dan mengatur napas dengan ritme yang sangat lambat. Mereka seolah sedang berada di padang rumput yang sepi, bukan di tengah stadion yang bising.

"Guru, bolehkah kami tidur sebentar?" tanya Jiro sambil menyandarkan Greatsword Obsidian-nya yang terbungkus kain di bahunya.

"Jangan tidur," jawab Arka sambil mengunyah anggur. "Tonton saja bagaimana asisten kalian bekerja. Ingat perintahku," Arka bergumam pelan, suaranya terdengar jernih di telinga murid-muridnya meski jarak mereka belasan meter. "Jangan menangkan pertandingan ini terlalu cepat. Permalukan mereka. Hancurkan kesombongan mereka sampai mereka benci memegang pedang lagi. Biarkan mereka tahu bahwa kebisingan mereka tidak ada artinya di hadapan keheningan."

Valen dan Seraphina melangkah maju. Hanya mereka berdua. Valen menggenggam Pedang Safir yang masih tersarung, sementara Seraphina memutar Tombak Perak-nya dengan gerakan yang halus namun presisi.

...

"Hanya dua orang? Kalian meremehkan kami?!" Lucius murka. "Serang! Bakar mereka sampai jadi debu!"

Lucius mengayunkan pedang besarnya, melepaskan Flame Wave, gelombang api raksasa yang meluncur cepat ke arah Valen. Penonton menahan napas, mengira Valen akan hangus seketika. Namun, tepat sebelum api itu menyentuh ujung pakaiannya, Dalam sekejap, Valen menghilang. Bukan dengan ledakan kecepatan yang berisik, melainkan dengan Void Step teknik keheningan yang telah ia asah di bawah bimbingan Lyra dan Arka.

Langkah itu tidak menciptakan suara. Tidak ada debu yang terangkat. Tubuh Valen seolah-olah tergelincir melewati dimensi lain. Lucius menebas angin kosong. Sebelum ia sempat menyadari di mana Valen berada, sebuah hantaman keras mendarat di belakang lututnya.

​Bruk!

Tanpa ada yang melihat kapan ia mendekat, Lucius jatuh tersungkur. Valen tidak menebasnya; ia hanya menggunakan ujung sarung pedangnya untuk menekan titik saraf di belakang lutut Lucius tepat saat sang kapten melakukan ayunan besar. Di sisi lain, Seraphina meliuk seperti ular. Ia menghindar dengan gerakan seminimal mungkin, membiarkan serangan lawan melewatinya hanya seujung kuku, lalu membalas dengan hantaman gagang tombak yang membuat lawan-lawannya kehilangan keseimbangan.

"Satu," gumam Seraphina datar.

Stadion mendadak sunyi. Penonton yang tadinya bersorak kini ternganga. Lima ksatria elit jatuh secara bersamaan hanya dalam satu pertukaran serangan sederhana yang bahkan tidak mencabut nyawa.

...

"Bangun," ucap Valen dingin, berdiri tepat di depan Lucius yang sedang merangkak. "Tadi itu hanya pemanasan. Ksatria kerajaan tidak selemah ini, kan? Di mana api yang kau banggakan tadi?"

Lucius bangkit dengan geraman marah. Ia melepaskan teknik pamungkasnya, Great Nova Burst. Bola api raksasa terkumpul di ujung pedangnya dan meledak ke arah Valen. Kali ini, Valen kembali menggunakan Void Step teknik keheningan. Namun, kali ini langkahnya menciptakan ilusi. Lucius melihat Valen ada di depannya, namun saat pedangnya menebas, itu hanyalah sisa bayangan. Valen yang asli sudah berada di belakangnya.

Setiap kali Lucius dan timnya mencoba menyerang, Valen dan Seraphina menjatuhkan mereka kembali. Valen sengaja mengincar sendi-sendi zirah mereka. Dengan presisi seorang ahli bedah, ia memotong tali-tali pengikat zirah emas Lucius setiap kali sang kapten mengayunkan pedang.

Klang!

Pelindung bahu Lucius jatuh ke lantai.

Klang!

Pelindung dada rekan Lucius copot dan terbanting.

Dalam waktu singkat, tim elit kerajaan itu tampak seperti prajurit gadungan yang compang-camping. Zirah mewah mereka berhamburan di lantai arena seperti sampah logam. Valen dan Seraphina terus menjatuhkan mereka. Setiap kali lawan berdiri dengan sisa harga diri mereka, satu tendangan atau satu hantaman gagang senjata akan membuat mereka kembali mencium debu.

"Kenapa... kenapa kami tidak bisa menyentuh kalian?!" teriak salah satu ksatria lawan yang mulai menangis frustrasi setelah jatuh untuk yang ke-20 kalinya. Tubuhnya gemetar, bukan karena luka fisik, tetapi karena teror mental yang luar biasa. Ia merasa seperti sedang bertarung melawan hantu yang tidak bisa disentuh namun bisa memukulnya kapan saja.

"Karena kalian terlalu berisik," jawab Seraphina sambil menginjak Tameng rekan Lucius yang terjatuh. "Kalian bertarung untuk pamer. Suara zirahmu, teriakanmu, bahkan detak jantungmu... semuanya memberitahuku ke mana kalian akan bergerak. Guruku mengajariku bahwa kekuatan sejati tidak perlu berteriak."

...

Di tribun VIP, Alaric mengepalkan tangannya di atas pagar marmer hingga batu itu retak perlahan. Matanya berkilat ngeri dan bangga secara bersamaan. Sebagai petarung peringkat SS, ia tahu betapa sulitnya menguasai Void Step teknik keheningan hingga tahap di mana gerakan itu tidak meninggalkan riak mana sedikit pun.

"Arka... apa yang kau lakukan pada anakku?" bisik Alaric pelan. "Dia bahkan tidak menggunakan seluruh kekuatannya, tapi dia sudah menghancurkan mental ksatria peringkat A."

Baros di sampingnya tertawa kecil sambil terus menyesap tehnya. "Dia tidak mengajari mereka cara bertarung dengan kemegahan, Alaric. Dia mengajari mereka cara bertahan hidup. Lihatlah tiga orang yang duduk meditasi di tengah arena itu... Jiro, Kael, dan Elara. Mereka adalah monster sesungguhnya, mereka bahkan tidak perlu membuka mata untuk tahu bahwa Lucius sudah kalah. Bagi mereka, ini bukan pertandingan, ini adalah hiburan sebelum makan siang."

Ketua guild lain terpaku melihat tiga fajar dan Arka. 'bagaimana orang pemalas itu bisa menciptakan monster monster ini' gumam salah satu ketua guild setelah mendengar ucapan Baros

...

Arka berdiri dari tikarnya, membersihkan debu di jubah abu-abunya yang kusam. Ia menatap ke tengah arena dan memberikan kode kecil. "Valen, Seraphina. Cukup. Aku sudah bosan melihat wajah mereka yang penuh ingus dan air mata. Ayo pergi, aku lapar."

Valen mengangguk patuh. Ia mendekati Lucius yang sudah lemas di tanah, zirahnya sudah habis dipreteli hingga hanya menyisakan pakaian ksatria yang tipis dan compang-camping. Valen membungkuk, menatap langsung ke mata Lucius yang penuh ketakutan.

"Katakan pada mereka yang mengirimmu... jangan kirim badut lagi. Guruku sedang mengantuk, dan jika dia harus berdiri dari tempat duduknya, kalian tidak akan hanya kehilangan zirah, tapi juga nyawa kalian," bisik Valen dengan nada yang sangat rendah namun menggetarkan jiwa Lucius.

Dengan satu gerakan memutar tombaknya, Seraphina menciptakan pusaran angin terkendali yang menyapu kelima ksatria lawan keluar dari garis arena secara bersamaan. Mereka terlempar seperti karung beras dan mendarat di tumpukan pasir di luar area pertandingan dalam kondisi tak sadarkan diri.

Pembawa acara stadion gagap, mikrofon sihirnya bergetar di tangannya. Suasana stadion begitu sunyi, sebuah keheningan yang menyesakkan. Seratus ribu orang terdiam, menyaksikan bagaimana ksatria yang mereka puja dihancurkan tanpa perlawanan berarti.

"Pemenang... Tim TIGA FAJAR!" teriak pembawa acara akhirnya, suaranya terdengar tidak yakin di tengah keheningan itu.

Tidak ada sorak-sorai yang meledak seperti biasanya. Yang ada hanyalah rasa ngeri yang merayap di punggung setiap penonton. Mereka menatap ke arah Jiro, Kael, dan Elara yang akhirnya berdiri dari meditasi mereka. Ketiganya meregangkan otot dengan santai seolah baru saja bangun dari tidur siang yang nyenyak. Mereka berjalan mengikuti Arka keluar dari arena tanpa melirik sedikit pun ke arah lawan yang hancur mentalnya.

Nama TIGA FAJAR seketika menjadi buah bibir yang menakutkan di seluruh Ibu Kota. Di ruang tunggu peserta, beberapa tim Peringkat S yang menonton dari kristal sihir terlihat berkeringat dingin. Mereka menyadari bahwa standar kekuatan di turnamen ini baru saja dinaikkan ke level yang tidak terjangkau oleh logika manusia biasa.

Arka berjalan di lorong stadion, tangannya di saku, sementara kelima muridnya berjalan dengan formasi sempurna di belakangnya. "Bagus," ucap Arka singkat. "Besok, aku ingin lebih sedikit gerakan. Tadi Valen masih membuang setengah langkah di awal. Jangan buat aku malu di depan Alaric."

Valen menunduk hormat. "Akan saya perbaiki, Guru."

Turnamen baru saja dimulai, namun bayangan Tiga Fajar sudah menelan seluruh cahaya harapan bagi peserta lainnya.

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!