Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22- MCI 22
Diandra membuka matanya, cahaya matahari sudah masuk ke jendela kamarnya. Suara gaduh juga sudah terdengar di dapurnya.
Diandra yang penasaran, masih menggunakan piyama panjangnya pergi ke dapur.
Klontang
Sebuah panci jatuh dari tempat penyimpanan ke lantai.
Diandra terkekeh,
"Selamat pagi chef? apa yang sedang chef Max ingin lakukan?"
Max menoleh, dia menjadi canggung.
"Diandra, aku mau buatkan sarapan. Tapi aku tidak temukan telfon"
"Ada di lemari bagian bawah!" kata Diandra.
"Oh, ada di bawah ternyata!"
Diandra menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Kenapa tidak pesan saja, restoran Celine tidak jauh dari sini. Kamu semalam tidur di sofa, pasti tidak nyaman kan?" tanya Diandra.
"Tidak masalah, aku sudah biasa tidur di sofa. Kalau pamanku menghukum ku, dia..." Max menjeda ucapannya lagi, dia kembali menyebut pamannya, Diandra mungkin akan sedih lagi, "Di, sebenarnya sebelum kamu kembali pulang, apa paman ku mengatakan sesuatu?" tanya Max.
Sebenarnya Max sudah mencurigai hal itu sejak kemarin. Rasanya tidak mungkin Diandra akan tertekan, atau mendapatkan tekanan dalam pikirannya kalau pamannya tidak mengatakan sesuatu kan? dia ingin bertanya tentang hal ini sejak kemarin. Tapi memang belum sempat, apalagi kemarin Diandra tampak sedih.
"Tidak ada hal lain, dia hanya tidak ingin aku menjauhi mu. Aku penyanyi klub malam di Madrid, itu status yang tidak pantas bersanding dengan keluarga Mahendra yang terhormat!"
"Paman sangat egois! kamu dan Genelia sama-sama anak Romi Kusuma. Nama belakang kalian juga sama-sama Kusuma kan? kenapa paman bisa menikah dengan Genelia? sementara aku tidak boleh dekat denganmu?" tanya Max yang sepertinya sudah mulai emosional.
"Pertanyaan itu hanya pamanmu yang bisa menjawabnya!"
Max mendekati Diandra.
"Di, jangan khawatir. Besok malam adalah acara pertunangan paman dan Genelia. Aku akan pulang sekarang, minta pada ayah dan ibu, supaya besok malam aku juga bisa bertunangan denganmu. Kamu mau kan?"
Diandra menatap Max. Tatapan Max sungguh tulus.
'Max...' lirih Diandra dalam hatinya.
Diandra menjadi tidak tega, Max sangat baik. Haruskah dia benar-benar memanfaatkan Max untuk balas dendamnya.
"Diandra, kamu mau kan?" tanya Max.
"Jika, jika keluargamu tidak setuju?" tanya Diandra.
"Aku akan buat mereka setuju. Kamu percaya padaku kan?" tanya Max.
Diandra menganggukkan kepalanya. Meksi sebenarnya dia merasa Max tidak mungkin melakukan semua itu karena memang pria di depannya itu terlalu polos. Tapi Diandra menganggukkan kepalanya. Keributan di kediaman Mahendra, akan membuat Raez datang padanya.
"Aku akan kembali ke rumah dan bicara pada ayah. Jangan khawatir, aku akan pesan makanan di restoran dan mengirimkannya kemari. Diandra, aku akan pergi sekarang!"
Diandra menganggukkan kepalanya. Max mendekati Diandra perlahan.
Cup
Max mencium pipi Diandra, lalu mengusap wajah Diandra dengan sangat lembut.
"Aku pergi dulu!" kata Max yang begitu bersemangat.
Diandra menghela nafas berat.
'Maaf Max, maaf' lirihnya dalam hati.
Dan begitu Max di jemput oleh supirnya dari rumah Diandra. Raez yang sejak tadi ada di dalam mobilnya, melihat dan mengawasi rumah Diandra sejak tadi, mulai turun dari dalam mobil dan membuka pintu rumah Diandra.
Diandra yang tengah minum di dapur mendengar pintunya terbuka dengan begitu kasar. Wanita itu hanya melirik sekilas, karena dia sudah tahu siapa yang membuka pintunya dengan kasar itu.
"Bagus sekali!" pekik Raez dengan tatapan yang begitu tajam ke arah Diandra.
Diandra masih meminum air di gelas sampai habis. Lalu dia meletakkan gelas itu di atas meja.
"Kalau mau cari keponakanmu, dia sudah pulang..."
Diandra belum menyelesaikan ucapannya ketika pergelangan tangannya di cengkeram kuat oleh Raez.
"Kamu benar-benar sudah bosan hidup rupanya Diandra?"
Diandra menatap Raez. Tatapan tajam itu, penuh dengan amarah itu, Diandra masih takut sebenarnya. Entah kenapa, meski berusaha untuk tidak takut, tapi tatapan Raez memang bisa mendominasi siapapun yang dia tatap.
"Iya, aku bosan hidup. Kamu bisa habisi aku sekarang!" tantang Diandra.
"Kau..."
Diandra menarik tangannya, menghentakkan tangan Raez. Dan menarik kursi, lalu duduk di ruang makan itu.
"Lebih baik kamu habisii aku sekarang! jika tidak, kamu tidak akan bisa menghentikan Max. Keponakanmu itu sudah melamarku..."
"Jika dia tahu kamu wanita yang sudah pernah ditiduri pria lain, dia akan sangat kecewa! apa kamu tidak sadar itu?" Raez menyela.
Suaranya meninggi semakin ke akhir kalimat, semakin tinggi.
Tangan pria itu bahkan mencengkeram kuat bahu Diandra.
"Akan lebih kecewa kalau dia tahu, pria yang selama tiga tahun tidur denganku adalah pamannya sendiri!"
Diandra tegas mengatakan semua itu, dia menatap Raez tanpa ragu.
Cekalan tangan di bahu Diandra semakin kuat. Tapi Diandra sama sekali tidak meringis kesakitan. Atau menunjukkan dia merasa tidak nyaman. Meski sebenarnya rasanya cukup menyakitinya.
"Kamu keterlaluan! kamu benar-benar tidak takut aku menghabisimu?"
"Sayangnya kamu tidak bisa melakukan itu! aku tahu, kamu memang tak perduli sama sekali denganku. Tapi kamu sangat perduli dengan reputasi mu. Max mengatakan sesuatu yang membuat aku sadar akan satu hal. Aku dan Genelia, sama-sama dari keluarga Kusuma. Tapi kenapa kamu bisa menikah dengan Genelia, tapi kamu tidak bisa menikah denganku? alasannya hanya satu! kamu sangat perduli pada reputasi mu. Kamu butuh seorang istri yang bisa di jadikan pajangan, istri yang munafik, yang tidak boleh terlihat ada celanya!"
Tangan Raez merenggang. Diandra pikir, dia benar. Raez memang sangat perduli pada reputasi keluarganya.
"Karena kamu ingin menjadi pewaris keluarga Mahendra. Tapi Max tidak sama, dia tidak butuh reputasi itu. Dia tidak butuh nama baik itu, dia tidak butuh pencitraan atau hak waris. Dia hanya ingin hidup bersama sampai tua dengan wanita yang dia cintai. Dia bahkan tidak perduli dengan latar belakang, dan pekerjaanku. Dia bahkan tidak perduli aku masih perawann atau tidak..."
"Diandra!" pekik Raez.
Diandra menghela nafasnya panjang.
"Aku juga sudah tidak butuh uang darimu Raez. Sekarang yang aku butuhkan adalah rumah. Seseorang yang akan selalu ada untukku..."
"Kamu pikir Max bisa memberikan semua itu padamu?" tanya Raez yang mencengkeram rahang Diandra dengan kuat.
Diandra tersenyum menyeringai. Dan itu membuat mata Raez semakin merah.
Tangan Diandra bergerak naik menyentuh dada Raez.
"Jika bukan Max, apa aku bisa mengharapkan hal itu darimu?" tanya Diandra dengan suara tertahan.
Wajah Raez berubah, dalam sekejap wajahnya berubah menjadi merah padam.
"Aku sudah katakan padamu, selain pernikahan, aku bisa berikan apapun yang kamu mau! aku akan berikan uang, aku akan berikan triliunan, pergi menjauh dari Max, pergi yang jauh!"
Diandra menatap Raez.
'Aku kembali untuk balas dendam. Berapapun yang kamu berikan. Aku tidak akan pergi!' batin Diandra.
"Kalau begitu aku harus mengecewakan tuan Raez. Aku tidak akan pergi. Aku akan terima lamaran Max, menikah dengannya, hidup bersama, tinggal serumah, tidur satu ranjang dengannya, setiap malam membiarkan dia menyentuh..."
"Diandra!" pekik Raez.
***
Bersambung...
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣