Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Tejo
"Dasar Tejo, dia pasti sudah tersesat. Si Mbok curiga.sejak lama, saat kematian anak sulungnya, dan setelah itu, tiba-tiba Pak Lek—mu itu langsung bangun rumah gedong."
Ratih mendengkuskan nafasnya dengan kasar. Tatapannya masih menyiratkan duka yang mendalam atas kematian Intan.
"Antarkan si Mbok kesana, mau urus jasad Intan, takutnya diapa-apain sama si Tejo."
"Dalli bagaimana, Mbok?"
Ratih menoleh ke arah Alawiyah, lalu menyerahkan bocah itu padanya.
"Ai Mbok nitip Dalli, tolong tidurkan dia." pesan Ratih, sembari memberikan tubuh mungil itu kepada sang menantu.
Alawiyah tak dapat menolaknya, bagaimanapun, kondisi Ratih dan si bocah sedang berduka.
"Iya, Mbok. Gak apa." Alawiyah menyambut Dalli, dan mendekapnya.
"Kamu jangan ikut kesana, takutnya kena sawan mayit," pesan Ratih, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan rumah.
Alawiyah mengangguk patuh, lalu menenangkan Dalli yang masih sesenggukkan, meski sudah mulai mereda, dan akhirnya tertidur karena lelah.
Keesokan paginya, warga desa itu kembali harus mendengar kabar duka, intan meninggal.
Seperti sudah menjadi rutinitas yang begitu sangat terlalu biasa, warga tidak lagi merasa terkejut, dan dapat menebak, jika Tejo langsung membeli barang mewah dan membangun rumah, maka ia menggunakan pesugihan.
Diantara para tamu, tampak Novita yang paling berdandan cetar membahana, dengan menggunakan bulu mata palsu anti badai.
Terlihat jelas, ia sedang ingin menarik perhatian sang duda yang masih berusia tiga puluh lima tahun.
Kematian Intan sudah sangat mereka tunggu sejak lama. Hari ini adalah waktu yang paling indah baginya, ditengah duka ketiga anak Intan yang menjadi piatu.
Dibelakangnya, ternyata Genderuwo ikut bersamanya, ia sepertinya tak ingin membiarkan Novita pergi sendirian.
Terlihat di kediaman Tejo, semua orang sudah berkumpul, dan tampak deretan mobil mewah terparkir di depan rumah Tejo, seolah seperti showroom yang sedang melakukan ajang diskon DP dengan subsidi angsuran secara besar-besaran.
Diruangan itu, Tejo menangis tersedu-sedu di sisi jasad Intan yang terbujur kaku.
Saat bersamaan, Novita memasuki ruangan, dan membuat Tejo meliriknya sejenak, lalu kembali menangis.
Ditempat duka tersebut, ternyata Kuntilanak merah dan kuntilanak putih, serta Sundel Bolong, juga hadir mendampingi para majikannya.
Mereka merasa Kepo, ingin melihat hasil kerja Wewe Gombel yang sudah berhasil membawa jiwa Intan.
Wewe Gombel dianggap paling sepuh sekaligus suhu diantara mereka, sehingga membuat ia memiliki sikap sombong.
"Kenapa pula si Genderuwo ikut sama si Novita kemari?" Kuntilanak Putih mengibaskan rambutnya yang panjang lurus dan berkilau.
"Ya, apalagi, kalau bukan karena mau dekati si Kunti Merah," Sundel Bolong mencebikkan bibirnya, hingga terangkat kesudut mulutnya.
"Heeem, dasar lelaki. Si Novita diembatnya, tapi si Kunti Merah juga didekatinya, dasar buaya."
"Setan, dia setan, bukan buaya!" Sundel Bolong meralat ucapan Kunti Putih.
Kuntilanak Putih tak peduli dengan ucapan rekannya, ia terlihat sedang fokus memperhatikan sikap Genderuwo yang berusaha mendekati Kuntilanak Merah.
"Ganjen bener." ia seperti tampak terbakar api cemburu.
"Lu kenapa, sih? Kok sewo banget? Lu naksir sama si Genderuwo? Kek gak ada setan lain aja." Sundel Bolong menebak apa yang sedang di pikirkan oleh Kuntilanak Putih.
"Ih, apaan, sih. Gak level tau!"
"Kalau gak level kenapa harus marah?"
Kuntilanak putih melesat pergi meninggalkan rumah Teko, tampaknya ia tidak kuat untuk melihat pemandangan tersebut.
Sundel Bolong yang ditinggal begitu saja, ikut mengejarnya, dan ia tau, jika si Kunti sedang patah hati.
Tampak Kuntilanak Putih sudah berdiri diatas pohon yang cukup tinggi, dan bersiap ingin melompat.
Saat bersamaan, Pocong sudah berada dibelakangnya, dan menghampirinya. "Duda mana yang sudah menyakitimu, Kun?"
Suaranya membuat Kuntilanak tersentak kaget.
"Apaan, sih, ikut campur mulu." Kunti terisak dalam kesedihannya.
"Jika kau butuh bahu untuk bersandar, ada aku yang siap untuk menjadi sandaran." Pocong berdiri sejajar dengan Kunti, ia berusaha jadi pahlawan yang akan dikenang oleh si setan wanita berbau melati tersebut.
"Apaan, sih?" Kuntilanak Putih menjawab dengan ketus, lalu melesat pergi, meninggalkan Pocong yang masih bengong, sebab kehadirannya tak dianggap.
"Sungguh tega sekali dirimu, Kun. Kau anggap apa kebaikanku selama ini? Kurang tampan aku di matamu." ucap Pocong dengan nada sedih, sembari menguyah dedaunan pohon yang ada di dekatnya.
Sundel Boong yang melihat kejadian itu, langsung menghampirinya, lalu mengibaskan rambut gimbalnya. "Pocong, kamu dicuekin, ya? Kalau kamu sakit hati, aku siap menjadi obat." suaranya terdengar genit dan merayu.
"Maaf, aku tidak butuh obat sepertimu, yang ada aku tambah sakit." sosok itu melesat pergi dengan cepat, meninggalkan luka dan kecewa dihati Sundel Bolong.
Sementara itu, Ratih menepuk pundak Tejo yang tersedu. "Jo, jasad Intan harus segera kita segera di malamkan, sebaiknya kita mandikan sekarang, dikafankan, lalu di shalatkan." Ratih mengingatkan adik lelakinya.
Mendengar kata di shalatkan, terlihat para tetangga sangat marah. Terutama Inem yang tidak terima dengan usul Ratih barusan.
"Kamu ini gak ada kapoknya, ya—Ra? Kamu mau jasad Intan di shalatkan? Di desa ini, tidak ada yang noleh shalat, meskipun shalat jenazah!"
Wajah Inem tampak memerah. Sepertinya setelah kematian Kiara, ia menaruh dendam pada Ratih.
"Iya, apaan, sih. Kalau kamu gak bisa ikuti aturan di desa ini, sebaiknya kamu keluar saja, cari tempat yang sefrekuensi dengan kamu," Juminten menimpali.
Tampaknya, ia sedang naik tensi, karena baru saja makan krengsengan kambing pedas yang dibawa oleh Bejo untuknya, katanya di beli disekitar Pesarean, tapi ternyata dari Gina.
Ratih yang di serang oleh tetangganya, diam menatap Tejo—yang menghapus air matanya.
"Jo, ini istrimu, kamu punya hak untuk menguburkannya secara layak," Ratih mencoba memberi.pengertian pada adiknya.
"Mbak Yu. Kita ikuti saja apa kata tetangga, di desa ini tidak boleh ada suara ayat suci apapun. Jadi setelah di mandikan, di kafani, langsung saja di kubur."
Jawaban Tejo, adalah sebuah persetujuan dari apa yang menjadi pendapat para warga.
Ratih menarik nafasnya dengan sangat berat, lalu menatap sang adik yang terlihat sangat tak peduli pada istrinya, bahkan saat hari terakhir mereka bertemu, tidak terniat untuk memuliakannya.
"Mbak Yu Akan membawanya ke luar desa, dan sebenarnya, Kang Mas mu sudah menggali makam di desa, untuk Intan. Ia akan bersebelahan dengan makam suamiku."
Ratih menguatkan hatinya, dan tak ingin berdebat lagi dengan Tejo.
"Terserah, Mbak Yu. Kalau mau di bawa sekarang juga gak masalah." Tejo menjawab dengan sangat santai, seolah melepaskan beban tanggungjawabnya.
Ratih sudah menahan bulir bening disudut matanya sejak tadi, tetapi mencoba untuk tegar.
"Bagas, siapkan motormu, kita akan membawa jasad Bu Lek mu ke kampung Pak Lek Sarno."
Bagas menganggukkan kepalanya, dan bahkan Tejo tak berniat menyewa mobil jenazah untuk sang istri.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏