NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Perjamuan dalam Keheningan

Malam pertama kepulangan sang Jenderal Agung di Eisenberg Manor tidak disambut dengan pesta pora atau kembang api. Sebaliknya, paviliun megah itu diselimuti oleh keheningan yang menyesakkan, hanya interupsi suara denting alat makan perak yang beradu dengan porselen mahal.

Di ruang makan yang luas dengan langit-langit setinggi tujuh meter, Matthew duduk di ujung meja panjang. Ia sudah mengganti seragam militernya dengan kemeja hitam formal yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat menonjol di tangannya yang kuat. Di hadapannya, beberapa meter jauhnya, Daisy duduk dengan anggun. Ia mengenakan gaun malam berwarna krem yang sederhana namun memancarkan kelas seorang bangsawan tinggi.

Ponsel pintar milik Daisy—sebuah perangkat keluaran terbaru dengan casing khusus—tergeletak di samping piringnya. Layarnya sesekali menyala, menampilkan notifikasi dari agensi musiknya di Seoul atau editor komiknya di Tokyo. Namun, Daisy tidak menyentuhnya. Ia juga tidak menoleh pada ponsel milik Matthew yang tergeletak diam, seolah benda teknologi itu tidak ada gunanya untuk mencairkan es di antara mereka.

Matthew menatap istrinya. Selama di barak, ia sering membayangkan momen ini. Ia pikir, setelah dua tahun saling berkirim surat—meski suratnya kaku—akan ada secercah kehangatan saat mereka bertemu. Ia pikir, Daisy mungkin akan bertanya tentang luka di bahunya atau setidaknya tersenyum lega karena ia pulang dengan nyawa utuh.

Namun, yang ia temukan adalah tembok.

"Kau tidak menyentuh supmu," suara Matthew memecah kesunyian. Baritonnya terdengar lebih dalam di ruangan yang bergema itu.

Daisy mengangkat pandangannya, namun hanya sampai ke batas simpul dasi Matthew. Ia tidak berani, atau mungkin tidak sudi, menatap mata dark blue itu terlalu lama. "Saya tidak terlalu lapar, Jenderal. Pekerjaanku hari ini cukup menguras tenaga."

Matthew meletakkan sendoknya dengan suara denting yang sedikit lebih keras dari biasanya. "Pekerjaan. Kau selalu menyebut itu sejak aku menginjakkan kaki di sini tadi siang."

Ia meraih ponselnya, menggeser layar yang dipenuhi pesan-pesan militer yang ia abaikan demi makan malam ini. "Aku mengirimkan puluhan pesan singkat padamu di bulan terakhir. Kau membacanya, tapi tidak ada satu pun balasan 'OK' atau sekadar tanda kau menerimanya. Apakah sinyal di Glanzwald seburuk itu?"

Daisy menyesap air putihnya dengan gerakan yang sangat tenang. "Sinyalnya bagus. Hanya saja, saya sedang belajar memprioritaskan mana yang mendesak dan mana yang tidak. Surat-suratmu... dan pesan-pesan anda... kurasa tidak mengandung informasi darurat yang membutuhkan respon cepat."

Rahang Matthew mengeras. Tidak mendesak? Lencana keberanian yang ia kirimkan, ungkapan bahwa ia ingin pulang demi bunga-bunga itu—bagi Daisy itu tidak mendesak?

Matthew merasa heran. Ia tahu Daisy adalah wanita yang pemalu dan pendiam, tapi diam yang sekarang ia hadapi terasa berbeda. Ini bukan diamnya seorang gadis yang gugup, melainkan diamnya seorang ratu yang sedang menghukum bawahannya. Matthew mencoba mencari tahu apa penyebabnya. Apakah karena ia terlalu lama pergi? Ataukah karena sifat kakunya yang dulu?

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik ketenangan itu, Daisy sedang berperang dengan rasa mual karena membayangkan Maira yang dulu mungkin duduk di kursi yang sama, memohon belas kasihannya.

"Daisy," Matthew memanggil namanya dengan nada yang lebih lembut, sebuah usaha yang jarang ia lakukan. "Jika ada sesuatu yang mengganggumu... tentang kepulanganku yang tiba-tiba, atau tentang apa pun... katakan padaku. Aku bukan peramal yang bisa membaca pikiranmu."

Daisy akhirnya mendongak. Untuk pertama kalinya malam itu, matanya yang cokelat madu bertemu langsung dengan mata Matthew. Ada kilatan luka yang tersamar oleh rasa dingin di sana.

"Tidak ada yang menggangguku, Jenderal. Kita sudah menikah selama tiga tahun, dan kita sudah tahu bagaimana dinamika hubungan ini, bukan? Datar dan biasa-biasa saja. Bukankah itu yang Anda inginkan sejak awal? Pernikahan yang tidak menuntut banyak perasaan?"

Kalimat itu menghantam Matthew tepat di ulu hati. Memang benar, di awal pernikahan, ia bersikap seolah Daisy hanyalah kewajiban. Tapi setelah dua tahun di ambang kematian, persepsinya berubah total. Namun, melihat Daisy yang sekarang justru mengutip kata-katanya sendiri di masa lalu, Matthew merasa seperti sedang memakan buah simalakama.

"Itu dulu," potong Matthew cepat. "Dua tahun bisa mengubah banyak hal, Daisy."

"Memang," sahut Daisy pendek. "Dua tahun membuat saya sadar bahwa saya tidak butuh siapa pun untuk merasa utuh. Saya punya karirku, Saya punya dunia saya sendiri. Jadi, jika Anda pulang dan mengharapkan istri yang akan berlari memelukmu sambil menangis... Anda salah alamat."

Daisy bangkit dari kursinya, merapikan gaunnya tanpa cacat. "Terima kasih untuk makan malamnya. Saya harus kembali ke studio. Ada beberapa komposisi lagu yang harus saya selesaikan sebelum tengah malam."

Matthew hanya bisa terpaku di kursinya saat melihat Daisy melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum bunga bakung yang samar. Ia menatap punggung kecil istrinya itu dengan perasaan frustrasi yang memuncak.

Sifat posesif Matthew yang lama mulai bergejolak. Ia ingin bangkit, mengejar Daisy, mencengkeram lengannya, dan menuntut penjelasan kenapa dia berubah menjadi sedingin ini. Namun, bayangan kegagalannya di masa lalu—bagaimana obsesinya justru membuat orang lari darinya—membuatnya tertahan di kursi.

Ia meraup wajahnya dengan kedua tangan. "Ada apa denganmu, Daisy?" Gumamnya pada ruang makan yang kini kembali sunyi.

Ia mengambil ponselnya lagi, melihat foto profil Daisy di aplikasi pesan singkatnya. Foto itu adalah karya seni—Daisy yang sedang memegang kamera dengan latar belakang hutan Glanzwald. Begitu cantik, namun terasa begitu jauh untuk dijangkau.

Matthew menyadari satu hal, memenangkan perang melawan musuh di perbatasan jauh lebih mudah daripada memenangkan kembali hati istrinya yang kini memiliki dunianya sendiri. Ia merasa seperti seorang asing di rumahnya sendiri, di paviliun yang ia bangun, di samping wanita yang secara hukum adalah miliknya, namun secara jiwa telah melarikan diri darinya.

Malam itu, Matthew tidak tidur di kamar utama. Ia menghabiskan waktu di ruang kerjanya, menatap kotak kayu kecil berisi pita hitam itu. Ia hampir saja membuang pita itu ke perapian, namun ia berhenti. Pita itu adalah pengingat akan kesalahannya. Dan sekarang, ia takut ia sedang membuat kesalahan baru dengan membiarkan Daisy menjauh.

Di sisi lain paviliun, di studionya, Daisy duduk di depan keyboard. Jemarinya menekan tuts-tuts dengan emosi yang meledak. Ia menciptakan sebuah melodi yang sangat sedih namun megah.

Siapa kau sebenarnya, Matthew. Apakah kau hanyalah pria yang terjebak dalam masa lalumu sendirian? Batin Daisy.

Ia mengambil ponselnya, mematikan notifikasi dari suaminya, dan kembali tenggelam dalam dunianya. Dunia di mana ia tidak perlu menjadi pajangan bagi siapa pun.

1
Nia Nara
Pernikahan itu panjang, nanti 10 atau 20 tahun lagi, tiba2 maira kembali, terlalu beresiko.
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!