Charlotte, gadis yatim piatu ini tiba-tiba ditemukan oleh keluarganya dan dibawa pulang ke kerajaan Matahari, tempat kelahirannya. Alih-alih bahagia setelah ditemukan oleh keluarganya, gadis empat belas tahun justru mengalami kehidupan yang menyedihkan dibandingkan kehidupannya sebelumnya, sebagai tuna wisma di kerajaan cosmos dimana dia tinggal sebelumnya karena tak memiliki kekuatan dalam tubuhnya sehingga dianggap sampah dan aib bagi keluarganya.
Untungnya, ketika tengah berada diambang maut, ia tak sengaja bertemu dengan penyihir Beatrix yang juga mengalami nasib sama sepertinya.
Penyihir Beatrix yang tak ingin meninggal sia-sia dan ingin ada yang membalaskan dendamnya, memilih Charlotte sebagai orang yang dia warisi semua kekuatan hebat didalam tubuhnya.
Setelah diwarisi kekuatan dari penyihir Beatrix, bagaimana kehidupan Charlotte selanjutnya?
Apakah ia mampu mengubah garis takdirnya?
Ikuti semua kisahnya dalam cerita ini
Happy Reading...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDATANGAN TAMU
Saintess Immora masuk kesebuah ruangan dengan ukuran yang sangat besar.Ruangan dimana para penyihir Menara Suci berkumpul setiap harinya untuk menyampaikan laporan pekerjaan mereka masing-masing di hari sebelumnya.
Kedatangan Saintess Immora dengan wajah yang terlihat serius membuat semua orang yang ada dalam ruangan merasakan firasat buruk.
Begitu berada didepan penyihir Lexis, Saintess Immora membungkukkan badan kepada sang ketua dan yang hadir dalam ruangan tersebut sebagai salam penghormatan.
Saintess Immora meminta atensi dari semua penyihir yang hadir karena ia membutuhkan beberapa penyihir untuk membantunya pergi ke Kediaman de Fleur.
“Seorang bangsawan dari Keluarga de Fleur datang dan menceritakan masalahnya pada saya, maka dari itu saya memerlukan dua orang untuk menemani saya dan membantu misi ini. Mohon kerjasamanya", ucap Saintess Immora menjelaskan maksud tujuannya datang kedalam ruang rapat tersebut.
“Ini pertama kalinya penyihir dari Menara Suci mendengar jika anggota Keluarga de Fleur meminta bantuan pada Menara Suci",ucap Bram dengan senyuman miring.
Ia dan semua penyihir Menara Suci tahu jika Keluarga de Fleur tak pernah ingin terlibat atau menggunakan jasa para penyihir Menara Suci karena mereka merasa mampu mengatasinya sendiri.
Ketua Lexis dan kedua anggotanya datang ke Kediaman de Fleur beberapa waktu terakhir juga karena undangan dari istana dimana setiap anggota keluarga bangsawan yang sudah cukup umur untuk membangkitkan kekuatan dalam tubuh mereka akan langsung diperiksa oleh penyihir dari Menara Suci sehingga meski ada beberapa bangsawan yang merasa keberatan, dengan keputusan sang Raja, mereka juga tak bisa berbuat apa-apa, termasuk Keluarga de Fleur saat itu.
"Masalah apa yang sedang mereka hadapi saat ini sampai harus meminta bantuan dari Menara Suci?", tanya Iliana dengan rasa penasaran tinggi.
"Anak terakhir mereka yaitu Nona Charlotte de Fleur yang sudah sempat kita tes tapi tak memiliki kekuatan dalam tubuhnya, kini mengalami perubahan secara drastis dan Tuan Muda Yohanes de Fleur curiga bahwa ada jiwa lain yang masuk ke dalam tubuh adiknya itu", jawab Saintess Immora dengan tenang.
Iliana dan Marcus saling bertatapan. Ketua Lexis juga merasa jika tampaknya masalah yang menimpa pada Charlotte de Fleur ini tak biasa sehingga iapun berusaha untuk mengambil alih.
“Karena masalah ini tampaknya berkaitan dengan sosok penyihir Beatrix yang hingga kini masih belum ditemukan jejaknya maka biar Iliana dan Marcus yang pergi ke Kediaman de Fleur”, ucap Ketua Lexis final.
Saintess Immora merasa kesal dalam hati karena pundi-pundi uang yang sudah berada dalam genggamannya tiba-tiba saja lenyap, membuat hatinya merasa tidak nyaman.
Tapi ia juga tak berani membantah ketua Lexis, karena masalah penyihir Betarix menjadi prioritas penting di Menara Suci dan pihak yang menanganinya adalah Ilina serta Marcus.
“Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan ketua. Saya undur diri sekarang”, ucap Saintess Immora yang segera berbalik dan berjalan keluar ruangan diikuti oleh Iliana dan Marcus yang sudah tak sabar ingin segera pergi ke Kediaman de Fleur karena mereka memiliki firasat kuat jika semua ini ada kaitannya dengan penyihir Beatrix.
Marcus yang sempat merasakan aura penyihir Beatrix meski hanya sesaat, merasa jika mungkin saja target yang mereka cari ada di Kediaman de Fleur.
Begitu juga dengan Iliana yang tiba-tiba mengingat gadis muda yang menggagalkan upayanya dalam menelusuri jiwa Gabriela Vers, malam itu.
Jika dilihat sekilas, sosok gadis yang membuatnya gagal menjalankan rencananya itu memang hampir mirip dengan Charlotte de Fleur yang pernah ia temui sebelumnya. Dan kali ini ia akan benar-benar memastikannya sendiri.
Di sisi lain saat ini Charlotte de Fleur telah sampai di rumah saat matahari sudah mau tenggelam dan menyisakan sinarnya yang berwarna jingga.
Saat hendak masuk kedalam Kediaman de Fleur, tiba-tiba ada seorang lelaki paruh baya menghampiri gadis itu.
Tuan Silvester tersenyum lebar melihat kedatangan Charlotte de Fleur. Tadinya ia ingin masuk ke dalam Kediaman de Fleur dan menunggu Charlotte de Fleur didalam, tapi niat itu ia urungkan dan memilih menunggu diluar berharap ia bisa bertemu gadis itu didepan pintu gerbang kediamanannya.
"Selamat sore Nona Muda Charlotte. Apakah Anda masih ingat dengan saya?", tanya Tuan Silvester dengan nada ramah dan akrab.
Charlotte de Fluer menaikkan satu alisnya heran akan kedatangan Tuan Silvester secara tiba-tiba di kediamanannya itu.
Melihat ekpresi Charlotte de Fleur, Tuan Silvester yang tak ingin ada kesalah pahaman pun berusaha untuk menjelaskan.
“Maaf jika saya lancang langsung datang tanpa memberikan surat pemberitahuan kedatangan terlebih dahulu”, ucap Tuan Silvester memohon pengertian Charlotte de Fleur atas sikapnya yang gegabah tersebut.
“Kedatangan saya kesini adalah untuk meminta maaf atas sikap dan perkataan istri saya tempo hari yang mungkin menyinggung perasaan Nona muda Charlotte de Fleur”, ucap Tuan Silvester lagi.
Charlotte de Fleur terkekeh sinis, “Meminta maaf, bukankah ini sedikit terlambat Tuan Silvester”.
Tuan Silvester tahu jika dia salah pun hanya tersenyum kikuk. Charlote de Fleur yang sudah bisa menebak maksud kedatangan pria itupun langsung menembaknya ditempat karena ia sama sekali tak ingin membuang waktu dengan orang yang tidak penting itu disini karena masih banyak hal yang perlu ia lakukan sebentar lagi.
“Jika kedatangan Tuan Silvester untuk meminta maaf kepada saya, saya tidak bisa menerimanya karena disini yang bersalah adalah istri Anda. Seharusnya istri Andalah yang datang sendiri untuk meminta maaf”, ucap Charlotte de Fleur dengan nada sedikit ketus dan dingin.
Melihat sikap Charlotte de Fleur yang tak bersahabat, hati Tuan Silvester semakin gelisah sehingga iapun berusaha untuk menjelaskan maksud tujuan kedatangannya yang sebenarnya.
“Nanti pasti saya akan mengajak istri saya untuk meminta maaf kepada Anda secara langsung, Nona. Tapi, bagaimana dengan kerjasama kita? apakah....”
"ssttt....", Charlotte de Fleur menaruh jari telunjuk di bibirnya yang menandakan jika Tuan Silvester harus diam sejenak.
“Seperti yang saya bilang sebelumnya, kerjasama kita batal, begitupula dengan masa depan, tak akan ada lagi kerjasama seperti yang pernah saya tawarkan sebelumnya. Seseorang yang tak bisa menghargai orang lain tak layak untuk saya hargai”
Setelah mengatakan hal tersebut, Charlotte de Fleur pun segera menyuruh para pengawal yang tadi mengawalnya keluar untuk mengusir Tuan Silvester dan memerintahkan untuk tak lagi membukakan pintu bagi lelaki itu dan keluarganya jika mereka nekat datang berkunjung kembali.
Melihat sikap tegas Charlotte de Fleur, Tuan Silvester yang tak ingin semakin mempermalukan dirinya pun segera pergi dengan hati sedih dan kesal.
Ia benar-benar kesal dan marah karena ini semua terjadi akibat sikap istrinya itu.Tapi ia lebih marah terhadap Tuan Thonsom karena dianggap sebagai orang yang merebut keberuntungannya.
Jika saja toko obat milik Tuan Thonsom tak berdiri di dekat toko obat miliknya, mungkin para pelanggannya tak akan lari ke toko obat saingannya itu dan ia tetap bisa menjalankan bisnisnya dengan stabil.
Tuan Silvester yang tak bisa memarahi Charlotte de Fleur dan istrinya pun melampiaskan seluruh kekesalan hatinya kepada Tuan Thonsom dan keluarganya sehingga iapun berencana untuk memberikan pelajaran kepada toko obat kecil itu karena sudah terang-terangan dan berani mengibarkan bendera perang terhadap dirinya.
lanjutkan trus y kk karya nya