NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:757
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Mata yang Tidak Berkedip

Raka berdiri di tengah kegelapan itu.

Tidak ada lantai yang benar-benar terasa, namun ia tetap bisa berdiri. Tidak ada langit, tidak ada arah. Hanya ruang tanpa batas… dan mata.

Ratusan.

Mungkin ribuan.

Mengambang di sekelilingnya.

Tidak berkedip.

Tidak bergerak.

Hanya menatap.

Dingin.

Namun anehnya—Raka tidak merasa takut.

Jantungnya memang berdetak cepat, napasnya masih belum sepenuhnya stabil… tapi rasa itu bukan lagi ketakutan.

Ini sesuatu yang lain.

Kewaspadaan.

Kesadaran.

“Jadi… ini yang kalian sembunyikan?” bisiknya pelan.

Tidak ada suara yang menjawab.

Namun salah satu mata—yang paling dekat—bergerak.

Perlahan.

Mendekat.

Raka tidak mundur.

Ia justru sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, memperhatikan lebih jelas.

Mata itu tidak memiliki kelopak.

Tidak ada warna putih.

Hanya hitam pekat… dengan titik kecil di tengahnya yang berdenyut pelan, seperti jantung.

Dan saat jarak mereka tinggal

sejengkal—

Sebuah kilatan muncul.

Tiba-tiba.

Cepat.

Seperti potongan ingatan.

Raka tersentak.

Ia melihat sesuatu.

Sebuah ruangan.

Gelap.

Seorang anak kecil duduk di pojok, memeluk lututnya.

Menangis.

Pelan.

Ketakutan.

Raka mengernyit.

“Itu…”

Kilatan itu hilang.

Mata di hadapannya kembali diam.

Namun kini—Raka mengerti.

“Itu ingatan?” tanyanya.

Tidak ada suara.

Tapi beberapa mata lain mulai bergerak.

Satu per satu.

Mendekat.

Raka menarik napas panjang.

“Kalau aku melihat… aku akan tahu semuanya, ya?”

Sunyi.

Namun kali ini, sunyi itu terasa seperti jawaban.

Ia menatap mata pertama tadi.

Lalu—

Ia melangkah lebih dekat.

Dan tanpa ragu—

Ia membiarkan dirinya melihat.

Kilatan kedua datang.

Lebih kuat.

Lebih jelas.

Ia melihat dirinya sendiri.

Lebih muda.

Berdiri di depan cermin.

Menatap bayangan yang… tidak mengikuti gerakannya.

Jantung Raka berdegup lebih cepat.

“Itu malam pertama…”

Suara napasnya sendiri terdengar berat.

Ia mencoba mengingat—

Tapi selama ini, ingatan itu terasa kabur.

Seperti sengaja dilupakan.

Dan sekarang—

Ia melihatnya kembali.

Dengan jelas.

Dengan detail.

Dengan rasa.

Rasa takut itu kembali muncul.

Namun tidak menguasai.

Tidak seperti dulu.

Raka mengepalkan tangan.

“Ini yang kalian makan, ya… rasa takut?”

Salah satu mata berkedip.

Satu-satunya.

Dan itu cukup untuk menjawab.

Raka mengangguk pelan.

“Masuk akal.”

Ia menatap ke sekeliling.

“Jadi semua ini… kumpulan dari apa yang pernah aku rasakan?”

Lebih banyak mata bergerak.

Mengelilinginya.

Namun bukan untuk mengancam.

Lebih seperti… menawarkan.

Menunjukkan.

Mengajak.

Raka menghembuskan napas.

“Baiklah.”

Ia menutup mata sejenak.

Lalu membukanya kembali.

Tatapannya kini berbeda.

Lebih siap.

“Kalau aku harus melihat semuanya… aku akan lihat.”

Dan seketika—

Semua mata itu menyala.

Bersamaan.

Kilatan demi kilatan menyerangnya.

Tanpa jeda.

Tanpa henti.

Ia melihat—

Ketika ia pertama kali merasa diawasi saat sendirian.

Ketika ia mendengar suara langkah di belakangnya, padahal tidak ada siapa-siapa.

Ketika ia bermimpi tentang lorong panjang yang tidak pernah berujung.

Ketika ia bangun… dan melihat sosok berdiri di sudut kamar.

Semua itu—

Nyata.

Bukan imajinasi.

Bukan halusinasi.

Tapi… bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Raka terhuyung.

Namun ia tidak jatuh.

Ia bertahan.

Ia menggertakkan gigi.

“Aku… tidak akan lari.”

Kilatan semakin kuat.

Semakin dalam.

Kini bukan hanya ingatannya.

Ia melihat hal lain.

Orang lain.

Seorang pria tua yang duduk sendirian di rumah kosong.

Seorang wanita yang menatap kosong ke cermin setiap malam.

Seorang anak kecil yang selalu berbicara dengan “teman” yang tidak terlihat.

Raka terengah.

“Itu… bukan aku…”

Suara itu kembali.

Tenang.

Dekat.

“Kau tidak sendiri.”

Raka menoleh cepat.

Sosok itu ada di sana lagi.

Dirinya.

Versi lain.

Yang tersenyum.

“Semua yang melihat… terhubung.”

Raka menggeleng.

“Tidak… ini terlalu banyak…”

“Kau memilih.”

Kalimat itu menghentikannya.

Raka menutup mata sejenak.

Mencoba mengatur napasnya.

Lalu perlahan—

Ia membuka mata kembali.

“Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini?”

Sosok itu mendekat.

“Kendalikan.”

“Bagaimana?”

“Kau sudah mulai.”

Raka mengernyit.

“Mulai apa?”

Sosok itu menunjuk ke arah mata-mata yang mengelilinginya.

“Lihat.”

Raka mengikuti arah itu.

Dan untuk pertama kalinya—

Ia menyadari sesuatu.

Mata-mata itu… tidak lagi bergerak liar.

Mereka diam.

Menunggu.

Seperti… tunduk.

Raka terdiam.

“Ini karena… aku tidak takut?”

Sosok itu tersenyum.

“Ini karena kau menerima.”

Kalimat itu terasa berbeda.

Lebih dalam.

Lebih… benar.

Raka menelan ludah.

“Menerima…”

Ia melihat ke sekeliling.

Semua yang ia lihat.

Semua yang ia rasakan.

Semua yang selama ini ia hindari.

Dan perlahan—

Ia mengangguk.

“Aku mengerti sekarang.”

Ia mengangkat tangannya.

Dan untuk pertama kalinya—

Salah satu mata itu mendekat tanpa ragu.

Berhenti tepat di depan telapak tangannya.

Raka tidak menarik diri.

Ia menyentuhnya.

Dingin.

Namun tidak menyakitkan.

Dan saat itu—

Semua mata di sekelilingnya meredup.

Satu per satu.

Hingga hanya tersisa kegelapan.

Sunyi.

Tenang.

Raka menarik napas panjang.

Lalu menghembuskannya perlahan.

“Ini belum selesai… kan?”

Suara itu menjawab.

“Belum.”

Raka tersenyum tipis.

“Bagus.”

Ia membuka matanya—

Dan dunia kembali.

Kamar.

Jendela.

Cahaya pagi.

Namun ada satu hal yang berbeda.

Pantulan di kaca jendela.

Bukan hanya dirinya.

Di sana—

Sosok itu masih berdiri.

Tersenyum.

Dan kali ini—

Raka membalas senyumnya.

Namun perjalanan Raka… baru saja benar-benar dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!