"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 Dua Hari Tanpa Juna
Pukul 06.30 WIB. Cantik terbangun bukan karena alarm ponselnya, melainkan karena kebiasaan biologis yang terbentuk selama sebulan terakhir.
Biasanya, pada jam ini, ia akan mendengar derit pagar rumahnya yang dibuka pelan, disusul suara langkah sepatu kets yang berusaha mengendap-endap, lalu bunyi kresek plastik yang tersangkut di tiang lampu jalan depan rumah.
Cantik tersenyum tipis di balik selimutnya. Ia membayangkan pagi ini akan ada Caramel Macchiato dengan pesan konyol lagi.
Mungkin isinya: "Jangan cemberut mulu, nanti keriputnya nambah satu mili. – Juna, Calon Suami yang Sabar."
Ia melangkah menuju jendela, menyibak tirai dengan semangat yang tertahan. Namun, yang ia dapati hanyalah aspal jalanan yang kering dan sepi. Pagar rumahnya tertutup rapat. Tidak ada plastik kopi, tidak ada setangkai bunga matahari, tidak ada jejak sepatu kets.
"Oh, oke. Beneran merajuk," gumam Cantik sambil mencibir. "Baguslah. Akhirnya gue bisa minum kopi buatan sendiri tanpa harus baca gombalan garing."
Namun, kopi buatan mesin otomatisnya terasa hambar. Biasanya, rasa manis kopi kiriman Juna terasa pas karena ada bumbu "perhatian" di dalamnya.
Cantik mencoba menyibukkan diri. Ia berdandan lebih lama, memakai parfum paling mahal, dan mengenakan setelan kantor yang paling powerfull.
Ia ingin membuktikan pada dunia—dan pada dirinya sendiri—bahwa tanpa "bocah" itu, hidupnya tetap berjalan sempurna.
Sepanjang perjalanan menuju kantor dengan taksi online, Cantik berkali-kali melirik kaca spion belakang. Setiap kali ada motor sport hitam yang menyalip, jantungnya melonjak kecil, hanya untuk jatuh kembali ke dasar perut saat melihat pengendara di baliknya bukan pria berjaket denim dengan sorot mata nakal itu.
Di kantor, suasana terasa asing. Rekan-rekan kerjanya yang biasanya menggoda tentang "jemputan brondong" mulai bertanya-tanya.
"Loh, Cantik? Kok sendiri? Mana ksatria berbajunya yang ugal-ugalan itu?" tanya Mira, teman semeja kerjanya.
"Lagi sibuk kali, Mir. Lagian dia kan punya kehidupan sendiri, bukan supir pribadi gue," jawab Cantik ketus.
Malam harinya, rumah Cantik terasa dua kali lebih luas dan sepuluh kali lebih dingin. Ia duduk di ruang tamu, menatap ponselnya yang bisu.
Tidak ada pesan WhatsApp "Sudah makan belum, Sayang?" yang biasanya langsung ia balas dengan "Gue bukan adik lu ya, Jun!".
Cantik mencoba menonton film, tapi pikirannya melayang pada kejadian di lobi kantor. Ia terus teringat bagaimana Juna pasang badan di depan Adrian, dan bagaimana ia justru tertawa saat Juna disebut "bocah asuhan".
"Gue emang keterlaluan ya?" bisik Cantik pada kegelapan. Ia segera menggeleng.
"Enggak. Dia yang harusnya sadar posisi. Dia cuma adik."
Hari kedua dimulai dengan kesunyian yang jauh lebih menyakitkan. Pukul 07.00 WIB, dan Cantik masih mematung di depan pagarnya. Ia menunggu. Menit demi menit berlalu, tapi suara raungan mesin Ninja hitam itu tetap tidak terdengar.
Cantik mulai merasa gelisah. Ia membuka profil WhatsApp Juna. Terakhir dilihat: Kemarin pukul 18.00. Foto profilnya yang dulu menampilkan Juna sedang tersenyum lebar sambil memegang bola basket, kini berganti menjadi foto hitam putih sebuah mesin motor yang sedang dibongkar total. Dingin. Jauh. Tanpa nyawa.
"Cuma dua hari, Cantik. Masa lu selemah ini?" ia memarahi dirinya sendiri.
Namun, kehilangan itu terasa nyata saat ia makan siang sendirian. Tidak ada Juna yang tiba-tiba muncul di kantin kantor membawa martabak atau cokelat.
Tidak ada Juna yang mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan konyol tentang masa depan.
Cantik menyadari bahwa selama sebulan ini, Juna telah menjadi pengalihan isu terbaik dari rasa sakit akibat Satria.
Dan sekarang, saat Juna menarik diri, rasa sepi itu menghantamnya dua kali lipat lebih keras.
Puncaknya adalah sore hari saat hujan turun membasahi Jakarta. Cantik berdiri di lobi kantor, menunggu taksi yang tak kunjung datang karena lonjakan pesanan.
Di sampingnya, beberapa rekan kantor dijemput suami atau kekasih mereka.
Cantik teringat saat hujan minggu lalu. Juna datang menembus badai hanya untuk membawakannya jas hujan plastik dan memaksa Cantik pulang bersamanya.
"Gue nggak mau bidadari gue luntur kena air hujan, nanti cantik lu ilang separo," begitu kata Juna waktu itu sambil tertawa, padahal bajunya sendiri basah kuyup.
Saat itu Cantik menganggapnya berlebihan dan norak. Tapi sekarang, saat ia sendirian di lobi yang dingin, ia merindukan kenorakan itu.
Ia merindukan tangan besar Juna yang memasangkan helm di kepalanya. Ia merindukan aroma parfum maskulin Juna yang bercampur bau hujan.
Ia mencoba menelepon Juna. Satu kali, dialihkan. Dua kali, tidak diangkat. Pesan singkatnya hanya dibaca tanpa balasan. Cantik merasakan perih yang aneh di dadanya. Ini bukan lagi soal Satria. Ini soal Juna.
"Gue beneran kehilangan dia ya?"
Cantik menyadari satu hal yang selama ini ia tutup-tutupi dengan dalih "perbedaan umur" dan "status keluarga".
Juna bukan hanya sekadar pelarian. Juna adalah pria pertama yang benar-benar melihat harganya sebagai seorang wanita, bukan sebagai objek yang bisa dikhianati atau dibandingkan.
Dan bodohnya, Cantik justru menghancurkan harga diri pria itu demi menjaga image di depan pria seperti Adrian yang bahkan tidak peduli apakah ia sudah makan atau belum.
Gengsi Cantik yang setinggi langit perlahan runtuh, mencair bersama air hujan. Ia tidak peduli lagi soal netizen. Ia tidak peduli lagi soal Satria. Ia hanya ingin melihat Juna yang tengil itu kembali di depannya.
Pukul 20.00 WIB. Cantik tidak pulang ke rumah. Ia memutar arah mobilnya menuju kawasan industri kecil di pinggiran kota. Ia tahu di mana bengkel modifikasi Juna berada—Juna pernah memberitahunya dengan bangga meskipun saat itu Cantik hanya menanggapinya dengan anggukan malas.
Sesampainya di sana, ia melihat sebuah bangunan besar dengan lampu neon putih yang masih menyala terang di tengah kegelapan.
Di dalam, ia melihat siluet seorang pria yang sedang sibuk di bawah kolong sebuah motor besar. Keringat membasahi kaos hitamnya yang ketat, memperlihatkan otot punggung yang bergerak dinamis.
Cantik berdiri di ambang pintu bengkel yang penuh oli dan aroma bensin. Ia melihat sisi lain dari Juna. Bukan Juna si brondong ugal-ugalan yang suka gombal, melainkan Juna seorang pria pekerja keras yang sedang membangun dunianya sendiri.
"Jun..." panggil Cantik, suaranya parau, hampir hilang ditelan suara bising mesin gerinda di kejauhan.
Pria itu berhenti bekerja. Ia perlahan keluar dari kolong motor, mengelap tangannya yang penuh oli hitam dengan kain lap kumal. Ia berdiri tegak, menatap Cantik dengan tatapan yang datar, dingin, namun penuh luka yang masih basah.
Pemandangan di dalam bengkel itu seolah membeku. Juna berdiri dengan kaus hitam yang lembap oleh keringat, noda oli menghiasi lengan kekarnya, dan napasnya yang masih sedikit memburu karena kerja keras.
Ia menatap Cantik dengan sorot mata yang berusaha keras untuk tetap dingin, seolah-olah ia sedang membangun benteng terakhir untuk melindungi sisa-sisa harga dirinya yang sempat hancur di lobi kantor dua hari lalu.
Namun, pertahanan Juna yang ia bangun dengan susah payah selama empat puluh delapan jam itu runtuh dalam hitungan detik.
Cantik masih berdiri di ambang pintu bengkel yang pengap. Cahaya lampu neon putih di atasnya seolah mempertegas betapa rapuhnya dia saat ini.
Gaun kantornya yang elegan tampak sangat kontras dengan lantai semen yang penuh ceceran pelumas. Dan yang paling menghancurkan hati Juna adalah saat ia melihat bahu Cantik mulai bergetar.
Satu tetes air mata jatuh, membelah riasan tipis di pipi Cantik. Disusul tetesan berikutnya yang lebih deras. Cantik tidak berteriak, tidak memaki, ia hanya menangis dalam diam yang sangat menyesakkan.
Suara isakannya yang tertahan jauh lebih menyayat hati Juna daripada raungan mesin motor paling bising sekalipun.
"Jun... gue..." suara Cantik terputus oleh isak tangis.
Juna tertegun. Gengsi yang tadi ia agung-agungkan, rasa marah yang ia simpan rapat-rapat, dan niatnya untuk bersikap cuek, menguap begitu saja tertiup angin malam.
Ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak pernah bisa melihat wanita ini terluka, apalagi jika penyebabnya adalah dirinya sendiri atau kesunyian yang ia ciptakan.
Tanpa berkata-kata, Juna melempar kain lap olinya ke atas meja kerja. Ia melangkah lebar, mengabaikan jarak dan noda hitam yang memenuhi sekujur tubuhnya. Dalam satu gerakan mantap, Juna menarik Cantik ke dalam pelukannya.
Grep.
Cantik menyembunyikan wajahnya di dada bidang Juna. Ia tidak peduli lagi jika gaun mahalnya akan ternoda oli hitam.
Ia tidak peduli jika aroma bensin dan keringat Juna memenuhi indra penciumannya. Yang ia pedulikan hanyalah rasa hangat dan aman yang tiba-tiba merayap kembali ke hatinya.
"Udah, Kak... jangan nangis. Gue di sini," bisik Juna. Suaranya yang tadi dingin kini berubah menjadi sangat lembut, penuh dengan penyesalan yang dalam.
Juna memeluk Cantik sangat erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Cantik akan hilang ditelan kegelapan malam.
Ia mengusap punggung Cantik dengan telapak tangannya yang kasar, mencoba menyalurkan ketenangan.
"Gue minta maaf, Jun... gue beneran minta maaf," isak Cantik di balik dada Juna. "Gue jahat banget ya? Gue ngetawain lu di depan pria itu... gue bilang lu cuma bocah... gue takut dibilang aneh-aneh sama orang-orang..."
Juna memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan air mata Cantik yang hangat menembus kaus tipisnya.
"Sshh... udah. Gue yang salah. Gue yang terlalu kekanak-kanakan karena ngilang gitu aja. Gue cuma... gue cuma nggak tahu gimana caranya nunjukin ke lu kalau gue serius, Kak. Gue takut lu emang beneran nganggep gue nggak ada artinya."
"Enggak, Jun! Lu berarti banget buat gue!" Cantik mendongak, matanya merah dan sembap, menatap Juna dengan tatapan yang benar-benar jujur untuk pertama kalinya.
"Dua hari ini... dua hari ini rasanya kayak neraka. Gue baru sadar kalau gue nggak bisa denger suara pagar dibuka tanpa ada lu di sana. Gue nggak bisa minum kopi kalau bukan kiriman lu. Gue... gue butuh lu, Juna."
Mendengar pengakuan itu, jantung Juna berdegup dua kali lebih kencang. Ia mengusap air mata di pipi Cantik menggunakan ibu jarinya yang bersih dari noda, meskipun tangannya yang lain masih penuh oli.
"Beneran? Lu nggak malu punya calon suami yang tangannya penuh oli kayak gini? Yang nggak pake jas perlente kayak Mas Adrian itu?" tanya Juna dengan senyum tipis yang mulai kembali, meski sorot matanya masih sangat tulus.
Cantik menggeleng kuat-kuat. Ia meraih tangan Juna yang kotor dan menggenggamnya erat, tidak peduli tangannya ikut menghitam.
"Persetan sama jas. Persetan sama netizen. Gue mau pria yang berani pasang badan buat gue, bukan pria yang cuma bisa pamer kemapanan semu. Maafin gue ya, Jun?"
Juna tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia justru mengecup puncak kepala Cantik dengan lembut.
"Gue nggak bisa marah lama-lama sama bidadari stroberi gue. Tapi janji ya, jangan ketawain gue lagi kalau gue lagi serius. Gue emang lebih muda, tapi cinta gue ke lu jauh lebih tua dari umur gue sendiri."
Cantik akhirnya tersenyum di balik tangisnya, ia memukul dada Juna pelan.
"Iya, Janji. Lu emang ugal-ugalan banget ya cara bikin gue jatuh cinta."
"Kalau nggak ugal-ugalan, bukan Juna namanya, Kak," Juna tertawa renyah, tawa yang selama dua hari ini sangat dirindukan Cantik.
Malam itu, di tengah bengkel yang sunyi, disaksikan oleh mesin-mesin tua dan aroma bensin, tembok brotherzone itu benar-benar runtuh.
Bukan karena paksaan, tapi karena sebuah pelukan yang membuktikan bahwa kedewasaan tidak diukur dari angka, melainkan dari seberapa besar keberanian seseorang untuk merangkul luka orang yang ia cintai.
"Jun?"
"Ya, Sayang?"
"Panggil 'sayang' sekali lagi... gue nggak akan marah," bisik Cantik sambil menyandarkan kepalanya kembali di bahu Juna.
Juna menyeringai lebar, mendekatkan bibirnya ke telinga Cantik. "Siap, Sayangku. Calon Makmumku. Bidadariku."